Valentine dan Gereja

16 Comments »

February 5th, 2010 Posted 8:31 pm

Dimuat di Kuasa Doa Vol. 4, No. 12, Februari 2010

Gereja tidak merayakan Valentine secara khusus meskipun di banyak Paroki diadakan berbagai acara OMK, KKMK dan sebagainya. Biasanya bertema seputar urusan percintaan. Tapi, seberapa jauh peran Gereja dalam berbagi kasih sayang?

Sejak abad ke-14, perayaan atas wafatnya martir St. Valentinus tanpa sebab yang jelas berubah menjadi perayaan romantisme sepasang kekasih yang diwujudkan dengan saling mengirim pesan cinta. Sejak itu pula perayaan Valentine digambarkan dengan Cupid dan gambar hati.

Itu sebabnya kasih sayang dalam perayaan Valentine dimaknai secara dangkal sebatas percintaan muda-mudi yang cukup diwakilkan lewat sekotak cokelat, setangkai bunga dan sepucuk surat cinta. Nyaris tidak ada perwujudan kasih sayang yang konkret di situ. Padahal, kasih sayang jauh melebihi itu. Kasih sayang bukan monopoli sepasang kekasih. Kasih sayang juga milik pasangan suami-istri, orang tua terhadap anak, anak terhadap orang tua, sesama sahabat, Gereja pada umatnya bahkan bagi mereka yang kurang beruntung. Kasih sayang terbang tinggi menembus segala macam batasan termasuk batasan keyakinan. Kasih sayang adalah kata kerja, bukan kata sifat atau kata benda.

Read the rest of this entry »

Bu Guru, Belajar Dong! (3)

No Comments »

January 28th, 2010 Posted 5:45 pm

Lanjutan dari Bu Guru, Belajar Dong! (2). Setelah kasus main salon-salonan yang berakibat Si Sulung jadi sasaran Bu Guru dan membuat kami orang tuanya menghadap ke Suster Kepala SD, beberapa hari kemudian memang Bu Guru sedikit membaik sikapnya. Kami mengira Bu Guru sudah berubah. Ternyata tidak! Dua hari lalu, Si Sulung pulang dengan uring-uringan seperti sebelumnya. Apa [...]

Kepada Yth. Ibu Guru

No Comments »

January 25th, 2010 Posted 11:00 am

Ini adalah surat yang kami sampaikan pada Ibu Guru dalam artikel Bu Guru, Belajar Dong! (2). Surat ini sudah saya sunting. Kepada Yth. Ibu Guru Wali Kelas 1B Dengan hormat, Kami, orang tua Mikayla Karissa Denel kelas 1B, menyatakan keberatan atas tindakan Ibu Guru terhadap Mikayla kemarin siang. Tindakan Ibu Guru untuk “menanyai” Mikayla dengan cara tersebut sangat tidak [...]

Bu Guru, Belajar Dong! (2)

No Comments »

January 25th, 2010 Posted 8:00 am

Surat yang kami sampaikan pada Ibu Guru ada di Kepada Yth. Ibu Guru Setelah satu semester aku dan Si Ayah cukup bersabar dengan pola pendidikan Bu Guru di sekolah Si Sulung, akhirnya kesabaran kami menipis juga.  Sebetulnya, kemurkaan ini menjadi klimaks pada sebuah kejadian yang sangat tidak menyenangkan. Supaya lebih paham duduk perkaranya, aku akan menceritakannya [...]

Membuat Topi Natal bersama Ayah

No Comments »

January 12th, 2010 Posted 9:25 pm

Sambungan dari Merangkai Bunga bersama Ibu Hari Kegiatan Ayah dan Anak diadakan berbarengan dengan Pesta Natal, Sabtu 9 Januari 2010 di TKK Sang Timur. “Mau bikin apa, Nak?” Si Ayah kebingungan karena dapat surat dari sekolah baru hari Kamis. “Bikin topi Rudolf ya, Yah!” Si Bungsu semangat bener. Gimana caranya? Si Ayah cuma beli kertas kado motif, kertas kopi memang [...]

To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Kembali Waras, Kembali Cerdas)

15 Comments »

January 5th, 2010 Posted 4:52 am

(lanjutan dari To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif))

Kembali Waras, Kembali Cerdas

“I’ll be home for Christmas” itu harus dibuat monumentalnya. Tahap pertama, “nodong” Romo Pakdhe – seorang sahabat baikku – untuk Sakramen Tobat. Urusan mengakui dosa campur curhat itu membuatnya terkaget-kaget. Setidaknya, beberapa kali ia menunjukkan ekspresi terperangah dan geleng-geleng tak habis pikir. Dari obrolan itu, ada banyak hal menarik bagi Romo Pakdhe untuk dijadikan bahan renungan. Beberapa pertanyaan yang cukup “ajaib” ditujukan ke Si Ayah.

Misalnya, “Kamu kan berhak untuk melarang Lini pergi.”

“Kalau Lini saya larang, dia akan makin menjadi. Kalau dibiarkan, dia akan sadar sendiri.”

“Seandainya kamu dilarang pergi, bagaimana?” Kali ini pertanyaannya padaku.

“Gak apa-apa kalau dilarang asal detik itu juga kami pergi ke konseling atau apalah untuk menyelesaikan masalah ini.”

Read the rest of this entry »

To Infinity and Beyond… Vol. II (eps. Jahat, Bodoh, Primitif)

14 Comments »

January 4th, 2010 Posted 9:16 pm

Tuhan bekerja dengan berbagai macam cara, termasuk cara yang jauh di luar akal sehat kita. Dengan penuh keyakinan aku mengatakan, “Seandainya aku tidak mengalami segala kejahatan dan kebodohan ini, belum tentu segala yang indah ini kurasakan hari ini. Rasanya seperti melewati lubang jarum!”

Perkawinan, tentu saja tidak semudah dan seindah prosesi janji perkawinan yang diadakan pada hari bahagia itu. Ketika merencanakan hari pernikahan, semua bisa diatur dan direncanakan dengan “mudah” meskipun ada saja hal yang di luar dugaan. Sadarkah, ketika urusan pemilihan baju pengantin dan segala tetek-bengeknya terjadi perselisihan, itu adalah “replika” dari kehidupan perkawinan yang sesungguhnya. Persiapan hari pernikahan butuh tiga bulan, misalnya. Sementara dinamika yang sama akan dihadapi selama seumur hidup. Setidaknya, tidak ada orang yang ketika yakin untuk menikah lalu berkata pada kekasihnya, “Aku akan menikahimu selama tiga tahun,” atau, “Aku akan menikahimu sampai aku bosan,” atau “Aku akan menikahimu sampai menemukan yang lain lagi nanti.”

Read the rest of this entry »

Bandung, Pernikahan

5 Comments »

December 22nd, 2009 Posted 5:08 pm

Kamis, 17 Desember 2009. Anak-anak terima rapor. Libur telah tiba. Hore… hore… hore…

Ke Bandung sebenernya sudah tidak masuk kategori berlibur karena ada banyak tujuan. Mulai dari nengok Mama Mertua sampai jadi umat abangan di Keuskupan Bandung, semua bisa. Kalau lepas kangen sama teman-teman di Bandung termasuk liburan ya bisa juga. Yang jelas, sering ke Bandung karena Kakak Ipar di sini maka bebas dari “hotel penuh” dan “ongkos mahal”. Tujuan kali ini adalah undangan pemberkatan nikah kerabat di Gereja St. Laurentius Sukajadi.

Malam itu juga kami harus berangkat karena besok pagi-pagi Si Ayah harus antar Mama Mertua ke tempat syukuran untuk sediain makanan. Berangkat dari rumah jam 9 malam, masuk tol Bekasi Barat jam 9.30. Semua penumpang ngantuk jadi tidak paham betapa padat meratapnya perjalanan Bekasi-Bandung. Begitu bangun sudah di gerbang rumah Kakak Ipar di Viaduct dekat Braga.  Begitu buka mata lihat jam… jam 12!! Ampuunn… jadi perjalanan tadi 2,5 jam?? Katanya padat meratap sampai tol Sadang. Ini salah satu alasan malas berakhir pekan panjang di Bandung kalau bukan karena ada undangan. Sampai rumah, tidur dilanjutkan!

Read the rest of this entry »

Sahabatmu Bukan Sahabatku, atau Kamu Bukan Sahabatku?

24 Comments »

December 7th, 2009 Posted 2:42 pm

Beberapa waktu lagi aku baru saja “berantem” dengan seorang sahabat. Paling tidak, sampai detik berantem itu, aku masih menganggap kami bersahabat. Kenapa aku menggunakan kata “berantem”? Untuk menunjukkan bahwa yang diributkan memang kemudian jadi gak mutu. Urusan penghargaan sebagai sahabat jadi terkubur dengan prinsip “urusan masing-masing”.

Semua manusia pasti punya jejaring sahabat sendiri kan? Tidak mesti seorang sahabat mengenal sahabat lain dari sahabatnya itu. Seandainya si Sahabat adalah si X, lalu aku si Y, dan sahabatnya si Sahabat adalah si Z, maka aku sebagai si Y tidak mesti kenal dengan si Z meskipun ada banyak alasan untuk si Y kenal dengan si Z bahkan juga bersahabat. Karena “terminalnya” adalah si X, maka si X bersahabat dengan si Y dan si Z. Sudah cukup jelas kan, ya?

Read the rest of this entry »

Surat untuk Sahabat Pena (3)

6 Comments »

December 4th, 2009 Posted 12:17 pm

Duhai sahabat gue yang diberkati Tuhan,

Gue sangat berduka, sepeninggal pertemuan itu lu malah jatuh sakit. Lu bilang, waktu kita ketemu lu sudah gejala sakit. Kenapa gak bilang? Lu tau gak, rasanya blingsatan begitu beberapa hari kemudian  lu bilang kalo lu sakit. Suara lu lemah banget. Gue gak bisa bantu apa-apa. Gue gak bisa terbang ke sana. Gue gak bisa ke apotik beliin lu obat dan lu tinggal berbaring dengan manis di ranjang yang harus lu anggap nyaman itu. Manusia mana yang tega mengetahui sahabatnya sudah terlambat mengejar tenggat kerja dalam keadaan sakit dan gak punya uang? Mau cepet selesaiin kerja, tapi sakit. Mau sembuh biar cepet selesai, gak bisa beli obat. Jadi kayak bahas ayam sama telor. Mau mana duluan? Kerja dulu biar dapat uang untuk beli obat atau beli obat dulu biar sehat dan bisa cepet selesai kerja?

Read the rest of this entry »