E-book Si Kaki Putih, Si Kaki Hitam, dan Si Cokelat

2 Comments »

November 7th, 2011 Posted 10:00 am

Si Kaki Putih, Si Kaki Hitam, dan Si Cokelat

G. Lini Hanafiah & Mikayla Karissa Denel
ISBN: 978-979-18815-5-5
Penerbit: Via Lattea Foundation
60 hal
18×18 cm

Untuk mengunduh, silakan klik di sini.

Stop Media Bullying!

7 Comments »

September 24th, 2011 Posted 8:16 am

http://bit.ly/oI8LlL

Saya alumni SMA 6, Mahakam, Jakarta. Saya (pernah jadi) jurnalis, penulis, pengajar lepas, dan mendidik anak saya di rumah bukan di sekolah. Saya orang yang melawan segala macam bullying dan plagiarisme.

Awalnya, saya tidak terlalu mengikuti pemberitaan seputar tawuran siswa SMA 6 dengan wartawan. Lama kelamaan, gatal juga ingin tahu, ada apa sih? Beberapa teman di Blackberry Messenger dan beberapa social media mulai mengganti foto profil dengan logo SMA 6. Rasa penasaran saya mulai mendominasi.

Saya buka situs pencarian. Seperti bisa ditebak, pemberitaan seputar tawuran itu membanjir. Saya buka beberapa situs berita yang menurut saya berkompeten. Hasilnya sungguh menyedihkan. Berita disajikan dengan jorok, berat sebelah, dan dibumbui opini (meskipun implisit).

Saya ingin menulis, entah kenapa saya tidak langsung menulis. Ini bukan kebiasaan saya ketika mulut mercon saya tidak bisa dikendalikan, mungkin karena ada hal yang lebih penting menyita perhatian saya.

Read the rest of this entry »

Aksi Konkret: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

8 Comments »

August 17th, 2011 Posted 10:00 am

Kedengarannya muluk ya? Sama sekali tidak! Apakah satu-dua orang kawan atau kerabat kita bukan bagian dari bangsa? Tentu saja! Apalagi ketika aku menerima tawaran mengajar kelas menulis bagi para bapak-ibu guru. Wow! Bangga dong! Inilah kesempatanku. Ini saatnya membayar jasa para pahlawan tanpa tanda jasa itu.

Tawaran itu datang dari seorang sahabat. Kebetulan ia berhalangan. Jatuhlah rejeki itu padaku. Ketika aku mengabarkan pada kedua anakku, mereka bertanya, “Ibu ngajar bapak-ibu guru? Jadi, Ibu gurunya guru? Kok guru masih belajar? Emang guru bisa jadi murid?” Pertanyaan sangat menarik di saat yang tidak kalah seru.

“Nak, manusia itu harusnya belajar seumur hidup. Ayah sama Ibu juga belajar sampai sekarang.”

“Belajar apa?”

“Ayah belajar masak. Ibu belajar masak. Belajar kan bisa apa aja.” Mereka manggut-manggut, mencoba memahami perkataanku di benak kecil mereka.

Read the rest of this entry »

Home Education: Sekali Merdeka Tetap Merdeka!

5 Comments »

August 17th, 2011 Posted 1:15 am

Tulisan ini dibuat oleh saya dan geng Brisik Lestari dalam rangka 17 Agustusan. Saya mengajak Anda untuk berpikir dan berdiskusi dengan pikiran terbuka. Jika Anda tidak membuka wawasan, disarankan untuk tidak membaca tulisan ini. Dalam tulisan ini, “sekolah berlabel homeschooling” berada di luar konteks karena lembaga itu bukan homeschool.

Homeschool. Entah mengapa satu kata itu menjadi monster mengerikan bagi yang awam. Tengok saja, dalam berbagai percakapan maupun artikel, salah satu yang paling ditakuti adalah soal sosialisasi. Istilah “anak homeschool itu kuper” sudah sangat familiar di telinga saya. Kicauan sumbang itu terdengar keras saat anak-anak pamit dari sekolah setahun lalu.

Dulu saya menanggapi , sekarang tidak. Itu bedanya. Buat apa buang-buang tenaga pada orang yang sudah antipati? Menjelaskan pada orang yang sudah ngotot atas pendapatnya  dan menutup segala bentuk informasi itu buang-buang waktu dan tenaga.

Read the rest of this entry »

Absolutely Not Desperate Housewives!

No Comments »

July 29th, 2011 Posted 8:58 am

Rasanya sudah berabad-abad aku tidak punya geng cewek. Geng cewek jaman SMA, tentu sekarang semua sudah berkeluarga. Seumur hidup, status nge-geng rasanya mulai karam setidaknya hampir 10 tahun lalu. Punya sahabat cewek? Tentu saja! Setidaknya Tuhan tidak kejam padaku dalam hal ini. Ada beberapa sahabat cewek, tapi bukan bergerombol. Sifatnya satu-lawan-satu. Selama ini aku senang berada di dekat mereka.

Bagaimana pun, bergerombol dan satu-lawan-satu tentu berbeda rasanya. Tentulah berbeda, berdua dan beramai-ramai kan tingkat kebisingannya beda. Beberapa pekan terakhir status situs jejaring sosialku penuh dengan tiga nama yang itu-itu saja. Topik sepele bisa melebar ke mana-mana hanya akibat ulah empat orang ibu! Mungkin ada saja yang merasa terusik. Siapa sih yang gak terusik kalau ada orang berisik? Untungnya, ada juga yang menikmati hingar-bingar itu.

Read the rest of this entry »

#indonesiajujur Ibu Siami: Potret Budaya “Sakit”

4 Comments »

June 19th, 2011 Posted 11:10 pm

Minggu ini, saya, beberapa teman, dan 4 remaja homeschooler dari kelas menulis saya akan mengkritisi kasus yang dialami Ibu Siami. Tidak ada batasan tertentu dalam setiap tulisan. Tulisan adalah bentuk kemerdekaan pendapat penulisnya. Tulisan ini juga akan ditautkan ke #indonesiajujur: Suarakan dukunganmu akan kejujuran!

Terus terang, sebetulnya saya bingung harus mulai dari mana. Terlalu parah kasus ini dan membuat saya sulit untuk “bermanis-manis” dalam menulis. Semangat mercon saya lebih kuat daripada semangat nrimo. Maka, demi menjadi guru yang baik bagi teman-teman menulis saya, inilah tulisan mercon apa yang ada di otak dan hati saya atas kasus Ibu Siami.

Budaya Menyontek

Satu kata sederhana yang tidak sesederhana itu ketika dipandang sebagai sebuah tindakan. Ada keruwetan yang pelik dan dilematis bagi sebagian orang.

Read the rest of this entry »

Mengajar = Menyemangati

2 Comments »

May 25th, 2011 Posted 11:29 am

Setelah mengadakan workshop di World Book Day 2011 lalu, akhirnya aku memberanikan diri untuk menerima kelas reguler. Kali ini pesertanya remaja berusia 14-16 tahun. Kelas mini berisi 4 remaja luar biasa.

Kakekku seorang guru, nenekku juga seorang guru. Tak heran kalau naluri mengajar selalu menggoda. Guruku banyak, ada di mana-mana. Anehnya, aku bahkan nyaris tidak pernah merasa aku adalah seorang guru!

Salah seorang guruku yang juga sahabatku, akhirnya “memaksaku” dengan berkata, “Sudah waktunya kamu berbagi.” Ah, betapa tidak adilnya aku! Selalu minta diajari tapi belum pernah sungguh-sungguh menjadi guru.

Akhirnya, aku mengajar 4 remaja itu dengan karakternya masing-masing. Ada yang masih malu-malu, ada yang sangat terlihat jelas jiwa pemberontaknya, wah seru deh!

Read the rest of this entry »

Tags: ,
Posted in catatan iseng

Pak Raden: Sang Pendongeng, Kakek Sejuta Cucu

4 Comments »

May 18th, 2011 Posted 7:43 pm

Siang itu, seharusnya aku sudah menyelesaikan presentasi untuk workshop menulis yang diadakan komunitasku Yuk Nulis! dalam rangka World Book Day 2011. Apa daya, rasa sentimentil yang menyergap sejak siang kemarinnya makin menggila. Akhirnya, menulislah aku di siang yang luar biasa terik itu.

Beberapa waktu lalu (ah, kenapa aku tidak catat tanggalnya ya?), aku membeli buku “Petruk jadi Raja” yang ditulis dan diilustrasi oleh Drs. Suyadi aka Pak Raden. Buku ini jadi kejutan buat Si Sulung dan Si Bungsu. Aku minta untuk dituliskan nama mereka di buku itu. Selang beberapa hari, buku itu tiba. Kedua anakku bingung, kenapa tiba-tiba Kakek yang masih juga kerap muncul di layar televisi dengan gaya yang sama dengan 25 tahun lalu itu mengirimi buku? Tahu alamat rumah dari mana? Tahu nama mereka dari mana? Dikasih tanda tangan pula!

Read the rest of this entry »

Kangeenn…

10 Comments »

March 16th, 2011 Posted 12:46 pm

matur tengkiyu sanget doa dan perhatiannya. kuenya dimakan ya...Haaiii…
Kangeenn…

Apa kabar? Lama banget ya, gak ketemu. Maaf ya, aku sibuk banget beberapa bulan ini.

Pertama, aku jadi trainer di sebuah tempat kursus robotika. Si Sulung dan Si Bungsu les di situ. Yang punya kenal sama aku dan mau buka cabang baru, jadi deh aku ngajar di situ. Kerennya sih Head Centre. Apalah judulnya, yang penting selama kerja di situ nyita waktu banget. Senengnya, bergaul sama anak-anak umur 4-15 tahun.

Kedua, urusan sekolah rumah emang gak main-main. Itu juga sebabnya aku ngundurin diri dari kursus robotika itu. Waktu buat anak-anak belajar jadi terampas. Jangankan nulis, ngangon Yuk Nulis! aja jadi kutinggalin hiks…

Read the rest of this entry »

Mo Met: Sahabat, Gembala, Endorser

13 Comments »

August 14th, 2010 Posted 2:29 am

Jumat, 13 Agustus 2010, jam 22.25.
Baru saja aku hendak mematikan komputer. Ini waktunya untuk tidur. Besok harus siap jam 6 pagi untuk menyiapkan Si Sulung berangkat ke Indonesian Robotics Olympiad (IRO) 2010. Tiba-tiba, ponselku berdering. Tertera “Ratih Tjandra”. Ada apa ya? Sudah lama Ratih tidak meneleponku.

“Ya, Tih?”
“Lin, Romo Slamet meninggal.”
“Hah?? Serius lo??”
“Iya! Ini lagi kroscek ke mana-mana.”
“Belum lama ya, Tih, lu bilang Mo Slamet diangkat jadi Ketua Komisi Kateketik Purwokerto. Belum lama juga gue ketemu dia di rumah duka waktu Tantenya Danny meninggal…”

Meluncurlah berbagai nostalgia kami dengan (alm) Rm. Slamet. Tidak lama, telepon ditutup.

Read the rest of this entry »

Kasmaran

2 Comments »

July 19th, 2010 Posted 8:54 am

Mari
Dekat sini

Bukan
Jangan di situ

Geser
Sedikit lagi

Nah, begitu
Di sebelahku

Akan kugenggam hatimu
Bolehkah?

Tags: ,
Posted in Kasmaran

Kidung Rindu

6 Comments »

July 9th, 2010 Posted 12:34 pm

Beri aku

Setitik kerlingan
Sekadar menikmati binar jenakamu

Seulas senyuman
Sekadar merasakan pesonamu

Sepercik sentuhan
Agar aku merasakan hangatmu

Bawalah aku

Dalam mimpimu
Dalam rengkuhmu

Seperti kamu
Selalu ada
Dalam fajar dan senjaku

Tags: , ,
Posted in Kidung Rindu

Na, Jaga Diri Lu (2)

5 Comments »

June 30th, 2010 Posted 7:26 pm

Sambungan dari Na, Jaga Diri Lu

Aku masih bengong di ruang medical check up sebuah rumah sakit mewah di barat Jakarta. Sudah dua jam berlalu. Kulirik jam tanganku, jam 1 siang. Pff… masih satu jam lagi diambil darah terakhir. Aku bukan sakit, mumpung dapat voucher gratis seharga satu juta, rugi kalau dilewatkan. Sekalian cari tahu kenapa aku makin kurus padahal makan tetap buanyak.

Enaknya ngapain ya? Main game di ponsel aja deh. Oaahhmm… mulai ngantuk. Mana lapar lagi. Hiks…. Tiba-tiba ada pesan singkat masuk.

“Lin, lagi di mana? Gue mau ngomong sama lu nih.”

Read the rest of this entry »

Ayo Taklukkan Gadget-mu!

5 Comments »

June 22nd, 2010 Posted 3:13 pm

Aku tidak punya blekberi. Aku tidak merasa perlu benda itu. Belum ada keperluan mendesak untuk memakai blekberi. Kalaupun harus punya telepon-pintar (smartphone), tentu aku memilih yang bergambar apel digigit.

Sudah cukup lama ketika beberapa Nuliser (penulis di Yuk Nulis!-red) mengeluh tidak bisa posting di blog dari blekberinya. Waktu itu aku gak punya bendanya, jadi ya gak bisa komen apa-apa selain, “Oh, gitu ya?” Kebetulan belum lama ini Si Ayah dapat undian, hadiahnya blekberi yang cukup canggih seharga 4,5 juta. Boleh laahh….

Read the rest of this entry »

“Apa kabar, Non?”

7 Comments »

June 17th, 2010 Posted 1:18 am

Siang tadi, seorang teman berbincang lewat layanan pesan instan. Tanpa sengaja ia menyebut namamu. Seketika konsentrasiku buyar. Kangenku menyeruak seenaknya. Tak kupandangi lagi layar monitorku. Aku lebih suka memandangi rintik hujan dari balik jendela. Gemericiknya mengingatkan pada renyah leluconmu.

Apa kabar kamu? Lama sekali kita tidak ngobrol. Genap enam minggu sejak terakhir kudengar suaramu. Aku kangen betul….

Beberapa kali kusapa kamu. Tak berbalas. Aku terus menunggu dalam diam. Ada apa? Semua baik-baik saja kah? Maaf kalau aku terlalu sibuk. Alasan paling klasik dan paling tak-terbantahkan abad ini.

Read the rest of this entry »

Review: Raup Untung Dengan Jual Diri

No Comments »

June 10th, 2010 Posted 4:14 pm

Judul Buku : Raup Untung dengan Jual Diri
Genre              : Pemasaran Praktis
Penulis           :
Femikhirana
Penerbit         : Kosa Kata Kita
ISBN                  : 978-602-96333-6-8
Tebal                : 122 Hal.
Harga                : Rp 40.000

Seminggu yang lalu—mungkin karena saya terlalu sibuk dan tidak memperhatikan—saya dikejutkan dengan datangnya buku terbaru FemikhiranaRaup Untung dengan Jual Diri”. Tentu saja saya senang sekali! Saya berusaha mengingat-ingat apakah saya memesannya? Anggap saja ini adalah bentuk perhatian Femi yang besar pada saya. Sampulnya berevolusi dari versi e-book yang berjudul “Smooth Marketing”.

Read the rest of this entry »

Butuh Jatuh Untuk Bangkit

13 Comments »

April 8th, 2010 Posted 9:02 am

Suatu hari, aku berbincang dengan seseorang yang cukup dekat denganku tapi lama sekali tidak ketemu. Terakhir kudengar kabarnya ia masuk bui.

“Apa kabar, Kak?” sapanya melalui layanan pesan instan malam itu.

“Hai! Apa kabar kamu?” tak terkira gembiranya aku mendapat kabar darinya lagi.

“Baik, Kak.” Mungkin ia di sana sedang tersipu malu.

“Di mana kamu?”

“Di rumah.”

“Ke mana aja? Kok ada kabar nggak sedap?”

Read the rest of this entry »