“Mudik” ke Borromeus: 2 Minggu

Selama 2 minggu kmaren aku “mudik” ke Borromeus. Ngapain? Nemenin Mama Mertua. Berangkat tgl 22 bertiga sama anak2, Si Ayah nyusul tgl 24 nunggu majalahnya kelar. Toh gak kelar juga, tapi karna surat cuti sudah di tangan ya tinggal aja…

Mama Mertua penderita diabetes, ada luka di kakinya. Awalnya sederhana, kakinya yang sering kapalan diguntingi padahal Si Emak punya penyakit diabetes. Karna diguntingi, artinya kan luka meskipun ga berdarah. Jadinya kulit telapak jempol kakinya bolong. Karena tidak berdarah dan tidak pedih, dianggapnya tidak luka. Dari luar memang bolong kecil, dalamnya siapa tahu?

Nah lukanya itu setahun lalu bengkak dan Emak sempat mondok sebentar di Borromeus, abis itu rawat jalan. Malah sempat pelesir ke Cina segala.. Memang sejak itu, Emak yang hidupnya di dapur harus memperban jempol kakinya supaya tidak masuk kotoran.

Ternyata pengobatannya memang tidak tuntas. Namanya juga manusia, kalau tidak mengancam jiwa kan tidak diobati serius, jadi perawatan gak diteruskan lagi. Tapi di lobang yang sudah kadung ada dan tidak rapat lagi itu ternyata sudah masuk bakteri yang cukup ganas.

Sabtu  29 November, Emak dipaksa ngungsi ke rumah Kakak Ipar di Bandung daripada di Purbalingga yang nggak ada orang ngerawat. Malamnya, Kakak Ipar telpon Si Ayah dengan nada sangat kuatir, “Emak gering (kurus) banget lho, turun 6kg.”

Besoknya, kami semua ke Bandung nengok Emak. Emak memang terlihat lebih tua karena bobotnya yang menyusut. Sebulan lalu, sakitnya luar biasa. Bobot Mama Mertua turun 6kg. Antibiotik dari dokter malah nyerang maagnya. Mulai terjadi lingkaran setan: minum antibiotik maag kena, maka gak bisa makan, maka gak ada asupan gizi, maka bobotnya turun, maka obatnya tidak bekerja dengan baik. Makan apapun langsung keluar, tak heran bobotnya turun banyak. Akhirnya, Mama Mertua “dipaksa” ke Bandung dari Purbalingga. Kebetulan ada sepupu yang mau ke Bandung. Hari itu kami tidak bisa menginap. Maka kami pulang ke Bekasi.

Senin 1 Desember, Emak konsul ke dokter langganan. Ternyata menurut dokter, Emak harus mondok. Sabtu-Minggu 6-7 Desember kami tidak sempat jenguk karena sudah janji ngasong buku. Senin 8 Desember juga tidak jenguk karena harus “setor muka” Lebaran Haji ke Nenek. Kamis 11 Desember Emak kembali di operasi kecil untuk membuang bakteri dan jaringan mati di telapak kakinya.

Mama Mertua itu org yang senang kumpul rame2. Mangan ora mangan sing penting ngumpul, kata Romo Mangun (alm). Jadi kami semua ya gak tega biarin Mama Mertua Natalan n tahun baruan di rumah sakit gitu. Biarpun Mama Mertua belum baptis, dalam hatinya pasti ikutan ngrayain Natal kok. Apalagi acara Natalan di Purbalingga kan kudu tetep jalan. Pasti dia juga sedih gak bisa kumpul sama sodara2nya yang lain. Ya kami perbuat aja apa yang bisa untuk menghibur Mama Mertua.

Gak cuma itu, ternyata tgl 22 itu Mama Mertua juga harus menghadapi kenyataan kelingking kakinya diamputasi karena sudah busuk. Lah kan yang luka awal jempol kakinya? Yang bolak-balik dioperasi kecil kan telapaknya? Kenyataannya gitu, ya apa boleh buat, diterima aja. Toh, punggung kaki dan atas mata kakinya juga sudah dibolong2. Pokoknya di mana ada titik nanahnya di situ dioperasi. Sempat juga kalau titik di mana ada nanahnya dilubangi lalu diurut nanahnya ngocor, bukan darah. Jadi tidak ada rasa pedih karena syaraf dan jaringannya juga mati. Kalau nanti sudah bersih, bisa pulih lagi seperti dulu. Good as new. Masalahnya, karena bakterinya ganas, pindah2nya cepat. Jadi dokter bedah harus balapan sama bakteri. Makanya sempat setiap hari masuk ruang OK (operasi kecil) meskipun termasuk operasi sedang. Jadi total sampai hari ini aku pulang ke Bekasi, Mama udah mondok 1bl 6 hr dan menjalani 11 kali operasi sedang. Biayanya? Wuiihh… jangan tanya! Kira2 sudah 2x lipat DP rumah mungilku yang cuma 90m2.

Kebetulan aku kenal dengan Mgr. Puja. Sejak pertama sowan ke rumahnya beberapa bulan lalu, Green House Jl. Jawa 26, aku kena “wajib lapor”. Jadi ya karena lagi bolak-balik ke Bandung – apalagi liburan panjang gini – ya aku jadi sering sowan ke sana, laporan perkembangan Mama Mertua. Hari-hari terakhir aku di sana – diinspirasi sama dokter bedah yang bilang mau kasih keringanan – aku ya ngobrol sama Mgr. Puja. Tanya dong, klo mau ngajuin dispensasi gitu ke mana, apa dan bagaimana. Beliau ga pernah tau, malah aku disuruh nghubungi Sr. Yosefine, CB yang ternyata Direktur Keperawatan.

Jadilah aku nghubungi Sr. Yosefine. Ternyata kami salah. Harusnya di Borromeus itu klo mau ngajuin keringanan sejak awal masuk.
“Selama ini pasien iya2 aja, kirain ya mampu. Klo sudah setengah jalan gini kita susah ngaturnya. Paling bisa biaya kamar aja. Klo untuk jasa dokter buat surat ke masing2 dokter.” Sr. Yosefine yang baik hati jelasin panjang lebar. Apalagi memang Mama Mertua sempat 3 minggu di kelas 2, lalu pindah ke kelas 3A. Sedikit lagi mentok di kelas 3B. Keduanya sama isi 6 ranjang pasien. Bedanya 3A dan 3B hanya soal kamar mandi luar dan dalam.
“Kita ga tau, Suster. Soalnya kan memang dibujetin sampe xx juta. Begitu lewat bujet ya baru kita pusing. Itu juga karena Dr. Andre (dokter bedah) mau kasi keringanan, baru kita kepikir.”
“Wah, ya itu. Kita jadi sulit, bukan ga mau nolong lho yaa…”
Wah ya iya lah… udah dibantu gini aja syukur banget kok…
“Paling bisa dilakuin ya jasa dokternya aja. Buat surat dari pihak keluarga ke masing2 dokter minta keringanan.”
“Untuk biaya perawatan gimana, Suster?”
“Harusnya waktu masuk langsung ngomong sama perawat di sini. Gak perlu lewat saya.”
“Emang ga pake surat dari lingkungan, paroki segala gitu?”
“Lho di sini kan gak pandang bulu, segala agama kita layani keringanan biayanya. Jadi ya ga pake surat2 gituan segala. Pokoknya sejak masuk keluarga pasien langsung ngomong sama perawat.”
Ha?? Gitu doang? Simpel amat?? Lah sapa yang ngira RS segede dan sebagus Borromeus kok sesimpel itu birokrasinya?
Apalagi karena di data memang menunjukkan perawatan Mama Mertua yang memang lama sampai turun ke kelas 3A, jadi semakin meyakinkan kalau kita sungguh butuh keringanan.

Aku segera minta Kakak Ipar untuk buat surat ke dokter masing2 (dokter internis, dokter bedah dan dokter anastesi) berdasarka penjelasan Sr. Yosefine. Sorenya aku SMS Sr. Yosefine menyatakan terima kasih. Lalu aku dikabari kalau cuma bisa memberi keringanan biaya kamar 10%, karena farmasi dan sebagainya sudah terlanjur diproyeksikan demikian. Lumayan lah ada keringanan sedikit. Tinggal kemurahan hati dokternya aja. Dokter bedah sudah menyatakan mau ngasi keringanan gratis jasa dokternya (entah terhitung sejak kapan, karena operasi sudah 11x kan?)

Eehh… lupa…
Natalan di Borromeus ya…
Sebenernya memang justru pas hari Natalnya aku ga seharian di RS. Kan Si Bungsu ulang tahun, tadinya mau ajak jalan2. Tapi karena anak2 lagi kesenengan dapet hadiah dari Sinterklas, jadi maunya main di rumah Braga aja.

Tahun baru, emang Mama Mertua lebih heboh untuk urusan ini. Acara nyalain kembang api yang biasanya di Purbalingga, pindah ke halaman rumah Braga. Anak2 dan ponakan2 kubuatin sosis panggang madu. Sayang saus buttermayo-nya gagal total karna kebanyakan lemon. Tapi ga papa, namanya juga anak2, ya tetep aja sosisnya ludes.  Jam 1 malam itu juga kita rame2 ke Borromeus. Seumur2 baru merasakan tahun baru di Bandung dan muaceett… di mana2!! Emang rejekinya Mama Mertua, satpam yang jaga yang emang baik. Liat kita berbondong2 tengah malam itu diem2 aja. Satu2 kami masuk ke kamar Mama Mertua kasi selamat. Masuk emang satu2, tapi bukan berarti gantian. Karena anak2ku pada ikut, jadi aku n Si Ayah gantian jaga anak2 di luar. Mama Mertua telepon ke Purbalingga, di sana rame banget pada rebutan mau ngomong di telepon. Kalau diladeni bisa2 sekampung gantian teleponan terus. Pulsanya sapa mau bayar? Heee…

Sadar diri ganggu tetangga ranjang sebelah, kita juga ga lama2. Lagian kan berisik karena Mama Mertua heboh di telepon. Malah kata kerabat yang di sana, “Mamahmu suarane wis cementeng! Wis arep mari!” Mamahmu suaranya sudah keras, sebentar lagi sembuh.

Kemarin, kebetulan semua yang mudik pada pulang ke kota masing2. Yang memang balik ke Bandung bareng sama yang ke Jakarta dan sekitarnya, mampir dulu ke Borromeus. Sore itu jadi kamar Mama Mertua rame banget.

Lah, ya pokoknya yang penting Mama Mertua senang. Natal dan Tahun Baru ga sendirian di rumah sakit. Mana enak? Apalagi selalu kumpul di kampung.

Sudah pernah Natalan di RS nglahirin, sudah pernah Natalan di RS nemenin yang sakit. Komplit…

Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , , , , , , , , ,

This entry was posted on Monday, January 5th, 2009 at 4:42 pm and is filed under Mudik ke Borromeus 2 Minggu. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

2 Responses to ““Mudik” ke Borromeus: 2 Minggu”

  1. Nancy Sofyan
    5:12 pm on November 6th, 2009

    Cerita ini kupakai sebagai tombo kangenku pada Bandung kampung halamanku… RS Borromeus, suasana sarat Katolik berlatar Bandung… Semoga tidak terlambat untuk bertanya apa kabarnya Emak saat ini? Semoga beliau sudah membaik…

  2. Lini
    6:27 pm on November 6th, 2009

    @ Nancy: kangen ya. seneng kalo bisa ngobatin kangenmu. beliau udah sehat, udah bisa ke Purbalingga sendiri. kemarin baru kirim mangga dan salak. makasih buat doanya :)

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>