Adiksi Kasih

Manusia senang sekali disayang. Orang tua pada anaknya, antarsahabat, antarpasangan. Lalu ketika kasih sayang itu hilang, orang itu akan berubah jadi pemarah, pemurung, merasa tidak berguna dan sebagainya. Lihat saja para remaja yang sedang kasmaran lalu putus cinta, siapa yang tidak patah hati? Mengurung diri di kamar, tidak enak makan, tidak bisa tidur, tidak ada semangat.
“Mengapa oh mengapa…”

Lihat juga orang-orang yang uring-uringan karena sahabatnya tidak lagi memperhatikannya. Karena kesibukan atau mendapat sahabat baru, sahabat lama dibuang sayang. Tidak ada lagi ke bioskop bareng, telepon haha-hihi, tempat curhat yang menyenangkan. Lalu pihak yang “ditinggalkan” akan mencari kompensasi lain.

Orang tua yang asyik dengan pekerjaannya dan melupakan anak-anaknya juga begitu. Hanya output dari anak-anak terhadap orang tuanya tentu berbeda dari pasangan yang sedang kasmaran dan antarsahabat. Anak-anak dalam usia berapapun akan bertingkah macam-macam sesuai dengan kemampuannya mengolah emosi. Balita akan mengalami temper tantrum (emosi yang tak terkendali), remaja akan lebih asyik melakukan apa saja di luar rumah.

Kalau begitu, manusia ketergantungan pada kasih?
Menurutku: iya! Kasih itu adiktif! Maka berhati-hatilah. Seperti bola salju, bergulir terus dan membesar. Berawal dari perhatian kecil yang hangat, sekecil apapun percikannya jika cukup hangat, terus bergulir dan membesar. Menjadi candu. Jika tidak dikendalikan akan mengendalikan kita. Kemudian Egois alias Cemburu bisa bersembunyi di balik Kasih. Menghilangkan akal manusia, menghalalkan segala cara.

Berada di sekelilingi keluarga yang selalu berseteru dan nyaris tanpa rasa kasih membuatku sangat tidak nyaman. Mungkin orang lain tahan, aku sih tidak. Dan akhirnya aku lebih suka menjauh dan dianggap macam-macam ketimbang melawan rasa panas yang selalu ada. Aku bukan saviour yang menyelamatkan orang lain. Yang sedemikian hebat mampu menyuburkan padang tandus. Menularkan kegembiraan para satu orang yang selalu bersungut-sungut saja setengah mati, apalagi sekelompok bahkan semua?

Mungkin kita pernah bertemu seseorang, lalu merasa nyaman seperti layaknya sahabat lama. Lalu ketika hilang kontak, rasanya seperti ada yang kurang. Semua jadi serba salah. Ketika kontak kembali terjalin, rasanya lega karena yang kurang sudah bertambah, yang hilang sudah ketemu. Bersamanya hidup terasa penuh. Saling menyemangati, saling meminjamkan telinga, saling mengulurkan tangan. Itu adalah tanda kita menjadi penderita adiksi kasih. Jika tidak dikendalikan, bisa berubah menjadi kasih yang egois dan cemburu. Seolah-olah orang tersebut hanya miliknya.

Dalam konteks pernikahan sangat bisa dipahami jika dibumbui sedikit cemburu dan egois. Dalam konteks persahabatan – ini membuatku tidak habis pikir – mengapa menjadi egois dan cemburu? Entah kenapa, banyak sekali para istri yang cemburu karena suaminya bersahabat denganku meskipun usia persahabatanku jauh lebih lama daripada usia pernikahannya. Mengatasnamakan keutuhan rumah tangga, maka aku dengan senang hati menjauh. Terkadang para suami itu yang merasa terbatasi ruang geraknya karena kehilangan satu sahabat anehnya – aku. Apa boleh buat, daripada dianggap merusak rumah tangga orang? Miris memang…

Begitu juga pada kedua sahabatku: seorang pesohor dan seorang romo. Aku kembali dicemburui. Orang-orang di sekitar mereka tidak mau kalah, justru berlomba-lomba untuk menarik perhatiannya. Seperti lagunya Dee, “aku yang jadi juaranya…”
Apakah itu salah satu bentuk kasih? Aku tidak yakin.

Di tengah pusat perhatian orang banyak terus menerus, para pemuka dan pesohor mungkin kesepian. Ia “dituntut” untuk menjadi sempurna dan ideal. Sementara ia juga butuh dianggap manusia biasa, disejajarkan dengan kita, yang juga bisa murung dan butuh sahabat. Mungkin karena mereka lebih nyaman bersamaku dengan menanggalkan segala atribut jabatan dan predikat itu yang membuat orang lain cemburu.

Seorang sahabatku pernah berkata, “Seseorang menjadi sahabatmu ketika kamu bisa dengan bebas kentut di depannya.”
Memang betul. Ketika kita bebas menjadi diri kita tanpa basa-basi sedikit pun, artinya kita sudah mulai bersahabat. Bebas berbuat salah, saling merasa nyaman dengan kekurangan masing-masing. Tidak perlu menjadi manusia sempurna, tanggalkan saja semua predikat dan jabatanmu. Lelucon paling tidak lucu pun bisa berubah jadi gelak tawa. Tak perlu ragu-ragu, jika ingin tidur usir saja sahabatmu. Tentu sahabatmu tak mungkin marah.

Seorang sahabat pernah bercerita padaku. Ia merasa bingung karena seperti lebih “klik” dengan sahabatnya ketimbang pasangannya. Seorang sahabat lain pernah bercerita bahwa ia bersahabat dengan seorang romo, tapi merasa “melakukan hal kriminal karena saling mengungkapkan kasih” padahal tidak mengganggu keutuhan rumah tangganya.

Duluuu… ada sahabatku yang bertanya, “Bagaimana membedakan antara bersahabat dan menjalin romansa dengan temanmu? Karena temanmu kan laki-laki semua.”

Bedanya? Dengan sahabatku, aku tidak ingin memiliki. Kasihku membuatnya bebas pergi kemana ia suka. Mendorong apapun yang ia kerjakan.
Dengan kekasihku, tentu aku hanya ingin ia seorang milikku. Tentu aku tidak rela ia memusatkan segala rasa, pikir dan tenaganya untuk perempuan lain. Ketika aku sungguh jatuh cinta, cintaku sungguh egois. Aku tidak mau dimadu. Karena Tuhan menciptakan sepasang manusia, bukan 1 laki-laki untuk 2 perempuan. Selebihnya, kasihku menuntut pasanganku untuk mengutamakan keluarganya di atas apapun di dunia ini.

Maka, Si Ayah tidak pernah kuatir aku semesra dan sedekat apapun dengan laki-laki manapun. Karena ia tahu, aku masih mengutamakan keluargaku. Yang terpenting, Si Ayah yakin tidak akan kehilanganku, “Karena kamu rugi, susah cari barang langka seperti aku…” Hahaha…
Memang iya, cari suami di mana yang tidak cemburuan seperti Si Ayah? Saking tidak pernah cemburu, kadang aku ragu kadar cintanya. Loh kok malah mengkotak-kotakkan diri begini…?

Kasih itu biasanya tidak sendirian. Kasih sering kali bersamaan dengan kedekatan fisik. Itu sebabnya kenapa kita sering merasa kangen, ingin selalu dekat. Tidak cukup hanya memandangi fotonya. Tidak cukup hanya mendaraskan doa untuknya. Tidak cukup sebatas berkirim email dan SMS. Ingin kembali merasakan keintiman ketika menghabiskan waktu bersama.

Kasih antarsahabat berlainan jenis memang sering disalahtafsirkan. Dipisahkan oleh sehelai rambut. Mudah sekali berpindah sisi dari romansa ke persahabatan penuh. Kata-kata “kangen” menjadi sangat ambigu. Atau manusia yang terlalu mengkotak-kotakkan diri? Mengapa manusia senang sekali hidup di dalam kotak-kotak? Lepaskan saja. Kenapa rasa kangen, peluk dan cium hangat antara dua sahabat berlainan jenis menjadi sesuatu yang tabu?

Kasih tidak perlu disangkal. Kasih datang penuh kebaikan. Manusia dilengkapi perangkat keras bernama otak dan hati serta perangkat lunak bernama rasa dan pikir, maka sudah seharusnya perangkat otak, hati, rasa, dan pikir memproses data bernama kasih agar berjalan dengan baik. Teknis ungkapan kasih – kontak fisik, kata-kata mesra dan sebagainya – hanya merupakan output dari hasil proses data kasih. Tidak ada aturan negara yang mengatur ungkapan kasih sebagai hal kriminal. Jika kasih itu berasal dari yang baik, bagaimana mungkin bisa merusak tatanan yang sudah ada?

Sahabat, kasihmu adiktif! Dan aku tak ingin sembuh!

Kasih pasti lemah lembut
Kasih pasti memaafkan
Kasih pasti murah hati

Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , ,

This entry was posted on Sunday, January 4th, 2009 at 4:42 pm and is filed under Adiksi Kasih. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

4 Responses to “Adiksi Kasih”

  1. anie
    2:10 pm on January 24th, 2009

    wow… Adiksi kasih..
    keren b gt..

    Thanks Lini untuk share-nya..
    I think i’ve become one of ur fans.

  2. Lini
    5:13 am on January 25th, 2009

    anie,
    seneng sekali kmu suka tulisannya
    semoga menginspirasi ya…

  3. panah hujan
    2:24 pm on March 29th, 2009

    numpang nimbrung, “Via Lactea” atau “Via Lattea” ya, Madam?

    :)

    salam kenal.

  4. Lini
    9:17 pm on April 17th, 2009

    salam kenal juga
    kok terpikirnya Via Lactea?
    rasanya saya tidak salah ketik di nama web saya
    Via Lattea = Milky Way :)

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>