Aksi Konkret: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
Kedengarannya muluk ya? Sama sekali tidak! Apakah satu-dua orang kawan atau kerabat kita bukan bagian dari bangsa? Tentu saja! Apalagi ketika aku menerima tawaran mengajar kelas menulis bagi para bapak-ibu guru. Wow! Bangga dong! Inilah kesempatanku. Ini saatnya membayar jasa para pahlawan tanpa tanda jasa itu.
Tawaran itu datang dari seorang sahabat. Kebetulan ia berhalangan. Jatuhlah rejeki itu padaku. Ketika aku mengabarkan pada kedua anakku, mereka bertanya, “Ibu ngajar bapak-ibu guru? Jadi, Ibu gurunya guru? Kok guru masih belajar? Emang guru bisa jadi murid?” Pertanyaan sangat menarik di saat yang tidak kalah seru.
“Nak, manusia itu harusnya belajar seumur hidup. Ayah sama Ibu juga belajar sampai sekarang.”
“Belajar apa?”
“Ayah belajar masak. Ibu belajar masak. Belajar kan bisa apa aja.” Mereka manggut-manggut, mencoba memahami perkataanku di benak kecil mereka.
Aku sampai di lokasi, terlambat. Setidaknya, 10 menit acara sudah dimulai. Ah, seandainya tidak ada acara nabrak motor dan ribut di tengah jalan… Sudahlah. Ngapain disesali? Untung panitia mengisi waktu sementara aku bersiap-siap. Baru ini aku gugup mau ngajar. Gimana gak, sekitar 70 bapak-ibu guru siap belajar. Bukan soal gampang memberi wawasan berbeda pada bapak-ibu guru.
Showtime!
Mengenakan jins magenta gelap, kemeja beludru hitam, sepatu kets kesayangan—Converse All Stars low cut warna krem—aku maju ke depan ruangan. Tentulah bapak-ibu guru yang usianya rata-rata jauh di atasku itu penuh tanda tanya. Layak gak sih ngajar mereka? Aku cuma ingin jadi diri sendiri. Aku gak perlu berpura-pura untuk berdandan dengan gaya yang tidak aku suka hanya sekadar untuk dipandang “layak”. Don’t judge a book by its cover and it’s not a role play! Untuk meyakinkan, kuperkenalkan diri dengan menekankan bahwa aku ibu beranak dua dengan profesi penulis dan jurnalis, kedua anakku tidak sekolah. Setidaknya cara ini cukup ampuh meskipun itu hanya penilaianku sendiri hehe…
Tentu bapak-ibu guru ini harus dicairkan dulu suasananya. Aku ingin mereka kreatif, imajinatif, dan riang gembira. Ternyata tidak terlalu sulit. Tidak butuh upaya keras untuk membuat mereka berperan sebagai murid yang bersenang-senang dengan materi pelajaran. Seperti biasa saat aku mengajar, diskusi berlangsung penuh. Aku tidak tahan dengan model komunikasi satu arah dan sesi tanya-jawab yang terbatas.
Ada banyak, buanyaaakk… hal yang kubagi dengan mereka dan semua itu tentu hal baru. Aku sangat yakin karena mereka semua guru sekolah negeri (SD-SMP-SMA) yang hidup dengan pola konvensional dan taat sistem.
Sebut saja saat aku menjelaskan bahwa membuat kerangka tulisan itu bukan seperti jaman aku SD dulu yang kerangka berdasarkan paragraf atau judul ditentukan di awal. Bertolak belakang. Menulis tidak harus runut begitu. Menulis bisa dimulai dari yang mudah atau terlintas di benak, judul bisa dibuat belakangan, yang penting unsur 5W1H (who , (do) what, when, where, why, how) terpenuhi . Kontan saja ini menjadi diskusi yang seru. Saking serunya, tanpa sadar emosi mulai naik. Yah, namanya juga hal baru dan asing, wajar aja kalau ditentang kan? Kubiarkan mereka mengendapkan, syukur-syukur berani untuk mencoba dan membuktikan bahwa metode yang biasa kupakai itu memang salah. Memberi label “salah” pada apa yang belum pernah dibuktikan tentu merupakan tindakan gegabah yang harusnya tidak dilakukan oleh para cendekiawan.
Sejak awal memulai kelas, aku sama sekali tidak tahu mata pelajaran apa yang dipegang bapak-ibu guru itu. Sampai suatu ketika—berkaitan dengan bagaimana menyunting artikel—aku bertanya, “Siapa yang mengajar Bahasa Indonesia?” Beberapa orang menjawab, “Kami semua!” Ah, ya ampun! Aku terhenyak. Bagaimana tidak, dari awal sampai akhir, pertanyaan mereka menunjukkan mereka awam dengan penulisan. Yang selama ini ada di otakku adalah penulisan merupakan salah satu hasil dari kemampuan berbahasa. Bahkan, ada seorang bapak yang bertanya, “Idealnya, dalam 1 kalimat terdiri dari berapa anak kalimat?” Saya geleng-geleng dalam hati. Untuk menutupi perasaan, kulempar guyonan, “Boleh percaya atau tidak, Bapak-Ibu. Nilai Bahasa Indonesia saya jaman sekolah selalu 6, tidak lebih dari 7. Entah kenapa saya sekarang jadi penulis dan bisa menyunting naskah.” Demikian parahnya sistem pendidikan kita? Para guru Bahasa Indonesia malah awam dengan penulisan? Selain bobroknya kemampuan berbahasa yang baik pada banyak orang, ternyata hal ini merangsek keprihatinan utamaku.
Petualangan seru menemukan bayi kucing tempo hari kujadikan contoh inspirasi. Dari hal kecil pun bisa jadi bahan belajar dan permenungan untuk kemudian ditulis dan dibaca banyak orang. Kisah petualangannya akan kuceritakan di artikel lain.
Kelas yang berlangsung hampir 3 jam itu rasanya terlalu cepat berlalu. Wajah-wajah mereka yang sangat antusias memintaku untuk berjanji, “Mbak Lini, nanti surelnya dibalas ya!” Tentu saja membuatku cengengesan. Sambil menunjukkan ponsel, kukatakan, “Hp saya sampai penuh. Ada email, twitter, facebook, semua di sini. Pasti dibalas kok.” Seandainya saja mereka tahu kalau aku hidup di dunia maya.
Setelah menutup kelas dan mengucapkan terima kasih, mereka sibuk untuk meminta materi presentasiku dan… berfoto! Hahaha… bapak-ibu guru ini ternyata narsis juga lho. Mungkin ada sekitar 15 kali aku difoto. Ahaayy… serasa jadi selebritas. Malah ada seorang ibu guru yang menyalamiku pamit sambil berkata, “Cantik, makasih ya…” Oh, mai gat!
Aku yakin kelas itu berkesan buat mereka. Terbukti ada beberapa orang ibu guru yang menanyakan komunitas untuk anaknya yang suka menulis atau sekadar curhat karena cerpen suaminya ditolak sebuah harian paling ngetop di negeri ini.
Aku berkemas. Berjalan kaki menikmati petang yang sejuk dengan berjalan kaki menuju halte Trans Jakarta (halte busway? Sejak kapan jalanan punya halte?). Mengenang wajah-wajah sumringah pada guru di kelas itu. Begitu seharusnya mereka mengajar murid di kelas masing-masing. Membuat muridnya belajar dengan senang.
Aku berjalan lambat-lambat sambil berbisik pada-Nya, “Tuhan, jadikan para bapak-ibu guru itu mempu menulis dengan baik dan mengajar dengan menyenangkan. Temani mereka agar mampu membuat murid-muridnya pandai.”
Pengalaman ini tentu tak akan dilupakan oleh kedua anakku. Mereka boleh tidak sekolah tapi Ibu mengajar para guru. Doa yang sering diucapkan ketika aku kecil “semoga berguna bagi nusa dan bangsa” terwujud hari ini. Hebat kan?
Hari ini adalah Hari Kemerdekaan kita. Hari ini aku menunaikan tugas mencerdaskan kehidupan bangsa. Bapak-ibu guru itu tentu bagian dari bangsa Indonesia yang memegang peranan penting sebagai pengajar. Semoga mereka dan seluruh muridnya bisa menulis dengan merdeka.
Merdeka!
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Harapan, Hari Merdeka, Pendidikan, Prihatin
This entry was posted on Wednesday, August 17th, 2011 at 10:00 am and is filed under Aksi Konkret: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.









3:54 pm on August 17th, 2011
Pengalaman yang menarik!
6:06 am on August 18th, 2011
Hohohoho….
Tahu tidak, sempat ada pertanyaan, Mau tidak Ibu Lini mengisi acara ini tanpa dibayar? Ahoy.. tampaknya si ibu ridho..
NExt time moga2 masih berkenan mengisi acara karitatif seperti ini lagi. Jangan lupa ya, saya punya ruang bernama http://www.penuliscilik.com tempat para murid, anak-anak, remaja, dll mengirimkan naskahnya. Free dan tanpa seleksi alias pasti dimuat. Sampaikan ke para guru ya…
2:04 am on August 19th, 2011
@ Mbak Moi: matur tengkiyu sanget mbak ^^
2:05 am on August 19th, 2011
@ Mas Anang: hohoho… begitu toh? siaapp… nanti aku sampaikan pada bapak-ibu guru ^^
8:23 pm on August 19th, 2011
Suka dengan tulisan ini. Mencerdaskan kehidupan bangsa bukan hal muluk, karena kawan & kerabat kita adalah bagian dari bangsa -cara melihat yang sangat menarik dan semoga banyak yang bisa melihatnya seperti itu-
7:24 am on August 23rd, 2011
d tgu mbak Lini follow up selanjutnya pokokna…. rasanya klo bljr teori saja mcam kmrin hny omong kosong biar jdi meaningful learning harus practice…. mbak lini FBnya gx bisa d add…?
9:16 pm on September 4th, 2011
@Lala: matur tengkiyu mbak Lala ^^
9:17 pm on September 4th, 2011
@ Fajri: saya tunggu undangannya. ga bisa add fb kenapa?