Aku Marah di Hadapan Altar-Nya

Setelah bertahun-tahun tidak lagi rutin ke gereja, hari Minggu kemarin aku ke gereja. Aku bukan orang yang bisa menyambut Ekaristi dalam keadaan marah dan benci. Aku marah, aku benci, aku terluka. Urusan domestik yang tak kunjung terselesaikan selama empat tahun terakhir sungguh mengganggu stabilitas mental dan jiwa yang akhirnya berpengaruh pada ketahanan fisikku. Sakit-sakitan, lebih kurus dari biasanya yang memang sudah kurus, sulit berkonsentrasi.

Si Ayah bukan orang yang religius, jadi tak perlu berharap diajak ke gereja. Setidaknya, ini salah satu bukti bahwa aku migrasi karena “mengikut suami”. Ikut ke mana, wong pergi sendiri? Mungkin memang seharusnya aku pergi sendiri kalau dia tak mau ikut. Biar dia dan anak-anak main di rumah. Berhubung Si Lini ini idealis, ke gereja ya harusnya komplit, akhirnya “mengalah” dan kompak semuanya tinggal di rumah.

Salah satu tujuan ke gereja kemarin adalah dia ingin melakukan sakramen tobat yang rasanya terakhir kali dilakukan tiga tahun lalu. Anak-anak tidak mau ikut, toh mereka sudah bisa ditinggal di rumah. Sepanjang perjalanan aku diam. Mulut yang tak punya rem ini seperti digembok dan kuncinya hilang. Sudah jam 8.50. terlambat, selama belum bacaan Injil masih okelah. Aku tak bisa ikut misa kalau bacaan Injil sudah dimulai. Rasanya kok kayak makan nasi tanpa lauk, apa enaknya? Ternyata – saking lamanya aku tak ke gereja – sudah sejak 1 Agustus jadwal misa di gereja situ berubah menjadi jam 9.00. justru belum dimulai. Keajaiban pertama yang terjadi? Mungkin juga.

Tak lama menunggu, petugas tata tertib menawarkan dua tempat duduk di tengah. Keajaiban kedua? Mari kita hitung terus. Kami duduk dan berdoa.

Tuhan, maaf ya aku lamaaa sekali tak datang ke rumah-Mu. Kenapa ya? Tak perlu cari-cari alasan, sia-sia bohong pada-Mu. Engkau tahu apa yang terjadi kan? Sekarang aku duduk manis di sini. Menunggu uluran tangan kasih-Mu. Menanti apa yang akan terjadi selepas misa nanti dan sepanjang hari ini. Terjadilah padaku sesuai kehendak-Mu. Amin.

Bagi banyak orang yang “taat”, caraku berdoa mungkin tidak lazim. Aku bukan pendaras berbagai doa Katolik yang baik. Aku tidak paham doa-doa tertentu yang didaraskan sepanjang misa. Aku berdoa dengan caraku, bagaimana aku bisa intim dengan-Nya.

Selama misa mulutku masih kehilangan kuncinya. Terkatup rapat sekali. Tanpa sadar, tubuhku juga didominasi dengan sikap tubuh yang sama: diam sambil sedakep. Pikiran yang melayang-layang beradu dengan liturgi yang berusaha masuk ke otakku. Bahkan aku tidak mengeluarkan suara yang seharusnya untuk bernyanyi atau mengucapkan “Saya mengaku…” misalnya. Cukup dalam hati saja.

Ketika  Ekaristi, perayaan Perjamuan Agung, aku sempat marah pada Tuhan. Hatiku bagai diselubung selimut api.

Aku marah Tuhan! Aku marah karena segala konflik ini tak kunjung usai! Aku marah karena Engkau tidak membantunya untuk membenahi semua konflik ini! Aku marah karena Engkau tidak ada ketika kami saling berteriak dan memaki! Kemana Engkau ketika kami tidak lagi bisa ngobrol yang nyambung? Kami seperti rel kereta api yang berjajar tapi tak pernah berada di titik yang sama. Apakah aku sudah tidak layak lagi ditemani-Mu? Aku memang berdosa, maka aku tidak layak menyambut tubuh dan darah-Mu. Aku akan tetap duduk di sini.

Pada bagian di mana Imam melafalkan, “Terimalah dan makanlah! Inilah tubuh-Ku yang dikurbankan bagimu…” Mendadak Tuhan meneteskan setitik air dan seketika api di hatiku padam. Nyess… Kulihat  Yesus di melayang di atas Altar tersenyum jenaka melihat wajahku yang takjub. Aku makin tak bisa konsentrasi. Aku merinding.

Belum cukup itu saja. Pada bagian di mana umat melafalkan salah satu bagian kesukaanku, “Ya Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.” Mendadak aku tak punya alasan untuk tidak ikut berbaris menuju prodiakon yang membagikan komuni. Aku merasakan ada bisikan, “Jangan mencobai Tuhan Allahmu!”

Duh, ampun Tuhan! Aku tadi memang marah dan mutung. Sekarang aku akan dengan manis berbaris menerima tubuh-Mu dan berhenti merengek.

Setelah menerima komuni dan kembali ke tempat duduk, aku berdoa lagi.

Tuhan, maaf ya aku nakal. Marahku tidak lebih dewasa dari kemarahan anak-anakku. Terima kasih sudah melembutkan hatiku, memadamkan api yang gak mutu itu. Tapi aku masih butuh bantuanmu. Menanti akhir dari semua konflik panjang ini. Beri kami satu lagi keajaiban ya. Amin.

Seumur hidup aku mengikuti misa, baru kemarin itu pengumumannya hanya satu menit karena hanya satu pengumuman. Usai berkat tutup, aku berdoa lagi.

Tuhan, jangan tinggalkan kami lagi ketika kami saling berteriak dan memaki. Jangan biarkan kami begitu lagi. Sudah cukup anak-anakku melihat Ayah-Ibunya bicara hanya ketika marah. Kasihanilah kami semua ya, Tuhan. Sekarang aku akan pulang. Tinggal dalam damai kasih-Mu lagi. Antar aku minggu depan ke sini lagi ya. Amin.

Kami langsung bergegas ke Sakristi mencegat Romo supaya Si Ayah bisa melakukan sakramen tobatnya. Agak lama memang.

“Yuk, kita disuruh nunggu di sekretariat,” Si Ayah mengagetkan karena aku asyik melihat-lihat Buletin Refleksi Tahun Imam yang kami kerjakan tapi baru detik itu kupegang dan kumiliki. Kirain sih yang ngerjain dapat jatah, ternyata beli sendiri, hehehe…

Kami berjalan menuju sekretariat. Berhenti sejenak di depan “kantin” yang memang buka hanya selama jadwal misa.

“Kamu jajan buat anak-anak aja dulu, aku ke sana duluan,” katanya lagi.

Setelah memesan bakso yang akan dibawa pulang, aku masih celingak-celinguk.

“Halo…” Ada suara yang tak asing bagiku. Kucari asalnya. Ah itu dia! Seorang Bapak pemilik sebuah Majalah Rohani.

“Lho, ngapain Pak? Pake celana pendek lagi inspeksi pangan?”

“Kamu ngapain? Kok bingung?”

“Nunggu bojo-ku lagi mau ketemu Romo. Yuk, dak kenalin.” Aku dan Bapak itu menuju sekretariat.

“Dan, ini Bapak yang punya Majalah itu lho. Pak, iki bojo-ku, Danny.”

Mereka bersalaman dan ngobrol hangat. Agak lama sampai Romo datang.

“Romo, kenalkan ini Lini. Penulis di majalah saya. Ini suaminya mau ketemu Romo.” Wah, promosinya kelewatan nih!

“Penulis juga?” Tanya Romo pada Si Ayah.

“Bukan, Mo. Saya yang layout aja.”

“Wah cocok kalo gitu! Saya akan banyak minta tolong nanti.” Lalu Romo sibuk mencatat nomor telepon kami.

“Nih, saya taro biar berdekatan, supaya tidak cerai ya!” Waks! Nusuknya dalem lho, Mo!

Ada seorang Ibu yang “antri” mau ketemu Romo. “Sebentar, saya ketemu orang penting nih!” Katanya.

“Tuh kan, gara-gara Bapak kita mendadak jadi orang penting,” aku meledek si Bapak pemilik Majalah.

“Lho, kan biar menabur garam di mana-mana…”

Hm… menabur garam di mana-mana. Bahkan ketika aku merasa ditinggalkan Tuhan, aku gak sadar masih boleh menabur garam selama ini. Maaf ya Tuhan…

“Silakan, Romo. Sudah banyak yang mau ketemu,” Bapak pemilik Majalah mengingatkan.

“Ayo, ayo!” Romo, Si Ayah, dan beberapa orang lainnya bersama-sama masuk ke dalam. Aku di luar gedung sekretariat lebih baik mencari minum bersama Bapak pemilik Majalah.

Usai melepas dahaga, kami kembali ke gedung sekretariat. Tak lama, Si Ayah keluar.

“Sudah?” Tanya Bapak pemilik Majalah.

“Sudah. Lega…” Si Ayah tersenyum lebar. Hm.. ya mungkin bebannya sudah hilang dibuang ke laut. Seperti lagu sekolah minggu, “Yesus angkat dosaku dan buang ke laut…”

“Duluan ya, Pak. Sampai ketemu lagi.”

Kami bersalaman pamit.

Di mobil, Si Ayah cerita. “Tadi yang masuk duluan Ibu yang baju putih itu tadi, terus aku. Yang lain suruh antri.”

“Bukan karena Romo ada butuhnya?” Dalam hati, Terima kasih Tuhan. Satu lagi uluran kasih-Mu untuk kami.

“Katanya nanti mau di-SMS kalau ada program pembaruan perkawinan atau yang sejenisnya, Marriage Encounter, Tulang Rusuk atau apa aja.” Wah, rejeki besar! Sampai Romo mau kirim SMS segala!

Tuhan, ketika aku minta ditunjukkan jalan, Engkau malah mengantarkan. Ketika aku mengira Engkau tidak ada, nyatanya Engkau tidak ke mana-mana. Memang hanya banyak helper tapi satu savior di dunia. Hanya Engkau yang mau mengasihi kami yang nakal luar biasa ini. Tidak sekali-kali lagi aku marah di hadapan Altar-Mu. Ampun!



Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , , , , , , ,

This entry was posted on Monday, October 19th, 2009 at 9:27 am and is filed under Aku Marah di Hadapan Altar-Nya. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

58 Responses to “Aku Marah di Hadapan Altar-Nya”

  1. Anie
    11:18 am on October 19th, 2009

    nice sharing, aku jg kl berdoa biasa aja, just like talking with my Father..

  2. Maria
    11:31 am on October 19th, 2009

    Mba..smp merinding bacanya…thanks sharingnya..
    boleh dicopy paste kan?? byk temenku yg pada malas kegereja..sapa tau bisa tersentuh hehe…

    thks b4,

  3. shinta miranda
    11:34 am on October 19th, 2009

    sering deh sepertinya …marah sama Tuhan,..datang ke gereja sekedar jalani kewajiban dan…blank..!!Kalau banyak orang pada saat senang lupa sama Tuhan, ada juga yang pada saat kesesakan mengabaikan Tuhan karena marah…Ceritanya secara pribadi mengetuk hati saya..banyak peristiwa yang terjadi, seharusnya menjadi jawaban Tuhan untuk kemarahan saya…thank you, Lini..!!

  4. Lini
    11:47 am on October 19th, 2009

    @ Anie: yep! emang enak begitu :)
    @ Maria: boleh, jgn lupa sumbernya ya :)
    @ Shinta: sama2 Mbak shinta :)

  5. Nancy Sofyan
    12:13 pm on October 19th, 2009

    Lini, sampe speechless. Aku sering kayak kamu…

  6. fekhi
    12:20 pm on October 19th, 2009

    Lini, yang jelas,
    Dia selalu berada di depan langkah kita tatkala kita mengira Ia sudah ketinggalan untuk mengejar langkah kita :) Itu yang sering kita lupa hiks…

  7. Lini
    12:30 pm on October 19th, 2009

    @ Nancy: hiks juga…
    @ Femi: masalahnya, lupanya hampir selalu ya, Fem

  8. indri
    1:07 pm on October 19th, 2009

    makasih sharingnya…..aku suka…beberapa mirippp

  9. Lini
    1:15 pm on October 19th, 2009

    @ Indri: kembali kasih :)
    boleh sharing klo merasa mirip

  10. Ratih
    1:24 pm on October 19th, 2009

    Lin,
    terima kasih ya sharingnya. seperti biasa aku selalu terharu membaca tulisanmu… hehehehehe…
    aku juga sering marah sama Tuhan nih hehehehehe ….
    anak nakal yaaa….
    tapi terasa sih memang kalo sudah boleh ngobrol sama Tuhan, selalu ada kelegaan … tapi kenapa nakalnya kok ya ga berhenti2 … mudah2an kadarnya sudah makin berkurang aja.
    Semoga berkat Tuhan menyertai kalian selalu yaaa….

  11. DK
    1:32 pm on October 19th, 2009

    >:D< … ga bs komen banyak, cuman mmg bener ada bagian noda hitam yg rasanya terangkat. Dan baru kmrn emang kebalikan, biasanya aku yg selalu bernyanyi dlm hati kok ya kmrn dgn pede bersuara meski yakin fales…

  12. A Gede Prabowo
    1:40 pm on October 19th, 2009

    Aku nggak paham atas marahmu pada Altar. Semoga ingat kembali masa Lalu untuk Tuhan yang Satu.

  13. Onggo lukito
    1:42 pm on October 19th, 2009

    hehehe….

    dalem banget sharingnya, minta ijin copas ke forum sebelah…

  14. Martina
    2:16 pm on October 19th, 2009

    Lini….aku tersungging…hiks…..! Belakangan ini aku bener2 absent jadi anak yg baik…ceritanya lagi mbalelo….lagi gondok…..so aku ke gereja jg karena anak2 antusias kalo diajak pergi ke gereja….! Nice sharing Lin…..mengingatkan untuk tdk ngambek terlalu lama…..GBU

  15. tin
    2:17 pm on October 19th, 2009

    aku jg baru 2 minggu ini ke greja lagi setelah bertahun2 gak ke greja…masih gamang apa aku sanggup sampai akhir nanti

  16. Hesty
    2:18 pm on October 19th, 2009

    Wah mbak Lini, aQ dulu sering bgt begitu. tp sungguh, kasih Tuhan itu nyata. ketika kita seringkali kesal n merasa Tuhan meninggalkan kita, ternyata Tuhan sebenarnya sdg bekerja utk kita. Tuhan sdg melakukan perkara2 besar untuk kita melalui cara-NYA, bukan cara kita. sejak dari situ, aQ benar2 belajar utk tidak mengeluh lg sama Tuhan, meskipun sesekali aQ jg masi suka mengeluh secara tdk sadar. stlh itu, aQ langsung mohon ampun, dan berusaha utk sabar n tdk mengeluh lg. lbh banyak bljr utk menerima keadaan n tetap berjuang utk hidupQ. puji Tuhan, pelan2 aQ mulai bs menerapkan indahnya kasih Tuhan itu ke dalam kehidupanQ dan Qtebarkan ke sesamaQ.

  17. Christian Yuliandi
    2:22 pm on October 19th, 2009

    Lini, makasih kesaksiannya. Aq sendiri merasa sedang mau ke arah situ (ngomong nggak nyambung dgn istri, nggerundel dlm hati, ada miskom, dll…). Dgn kesaksian ini aku dikuatkan lagi spy kembali pada-Nya supaya nggak berlarut2…

  18. damar wulan
    2:37 pm on October 19th, 2009

    keren nih tulisan dari mbak lini. Tapi, menurutku jika kita merasa bahwa Tuhan itu tidak memperhatikan itu salah besar. Tanpa kita berdoa pun, kita sudah diperhatikan dan disayangi oleh Tuhan. Kenyataan yang terjadi ialah bahwa kita merasa ditinggalkan karena tidak sadar bahwa Tuhan itu ada sebelah kita yang sedang menunggu. Kita saja tidak mau membuka hati kita untuk Tuhan. Hal yang dialami oleh mbak lini juga dialami oleh sebagian orang katolik. Semoga kita dapat menyadari kehadiran Tuhan di samping kita.
    AMIN

  19. Ronaldo Rozalino
    2:50 pm on October 19th, 2009

    Setiap Orang pernah mengalaminya …kembali kepad personalnya menyikapinya secara bijak!!!

  20. Ronaldo Rozalino
    3:01 pm on October 19th, 2009

    Setiap Orang Pernah mengalami hal yang sama!!!

  21. Nofa
    3:38 pm on October 19th, 2009

    Hmm banyak miripnya nih…

    Terima kasih buat penguatannya dengan sharing ini.

    Salam buat keluarga

  22. yuni
    3:44 pm on October 19th, 2009

    nice sharing lin..
    kl ada info retret tulang rusuk, kasih tau ya :D

  23. frans
    4:02 pm on October 19th, 2009

    mba lini,
    seneng bacanya karena rasanya seperti menemukan teman senasib hanya beda permasalahan. seneng karena rasanya seperti mendapat afirmasi dari tindakan malas ke gereja, menemui Tuhan.
    padahal sih ini rasa seneng yang keliru ya…?
    well, kemarahan seperti apapun tidak akan menyelesaikan permasalahan. berdoa seperti apapun hanya ada 3 jawaban: ya, tidak, tunggu.
    so…?

  24. Alexander Laksmono
    4:04 pm on October 19th, 2009

    Bu , saya punya problem yg sama dalam hidup saya .
    Sampai saya lari dan menghindari kesini .
    Supaya saya tidak melakukan dosa yg lebih besar .
    Memukul atau memarahi dia .
    Kalo ribut , saya sudah hindari , kecuali kalo sudah tidak tahan lagi .
    Disini Misa selalu dalam bahasa Belanda .
    Kecuali Misa2 khusus untuk masyarakat tertentu ,
    Indonesia , Spanyol , Italy , Perancis , Jerman , dsb.
    Tapi bacaan injilnya tersedia dalam beberapa bahasa .
    Selama hampir setahun saya disini .
    Saya belum pernah mendapat Sakramen Tobat .
    Yg terakhirpun saya lupa kapan . Hebat khan ????
    Saya coba temui Pastor di kapel “Bunda Segala Bangsa “,
    Mereka dari ordo Keluarga Maria .
    Saya tanyakan apa saya bisa mendapat mengaku dosa dengan bahasa Inggris . Jawabannya sangat melegakan :Tentu saja bisa , semua Pastor disini lancar berbahasa Inggris .
    Thank GOD .
    Terus saya terima Sakramen Tobat .
    Doa penitesinya cuma 1 ,
    Doa ‘Sacretion to Mary ‘ , diberi dalam bahasa Inggris lagi .
    Thank GOD .
    Waktu doa itu , baru 2 baris ,
    Saya sudah tidak bisa tahan lagi .
    Menangis dan menangis , sampai Misa sudah Bacaan Injil masih nangis terus .
    Selesai rasanya plong deh .
    Ini cuma sharing saja .
    Semoga berguna bagi saudara – saudari sekalian .

  25. Fonny
    4:18 pm on October 19th, 2009

    Sebaik-baiknya satu hubungan, pasti pernah marah dan berantem juga. Begitu juga dengan Sang Pencipta, bisa jadi punya perasaan seperti Lini juga. Namun, akhirnya selalu ada ruang untuk mengerti kembali bahwa kita yang keliru… Dan berbaikan kembali dengan-Nya. Berpelukannnn:)
    Gw jg pernah tuh kayak gitu, be te ama Tuhan and marah-marah juga, sampe akhirnya sadar sendiri kalo gw yang salah …
    Tuhan mungkin mengelus dada, anak-Ku koq bandel2 yaa…Untung Dia Pengasih banget…Kalo nggak? Hmm…hehe…

  26. Raja Pantun Elgaol
    5:27 pm on October 19th, 2009

    Semoga air yang menetes di hatimu, menjadi telaga yang indah dan tenang. Kamu berdua pebuh kedamaian asyik mandi di sana, sedang anak-anakmu bersukacita bermain bersama belalang dan kupu-kupu di pinggir telaga

  27. Lini
    6:00 pm on October 19th, 2009

    @ Ratih:iya nih kita nakal ya hehehe… berkat Tuhan juga buat kluarga lo

    @ DK: aku sama sekali ga mudeng kalo kamu nyanyi apalagi fales ;-)

    @ Gede: ga perlu dimengerti. biar aja itu jadi kenakalanku pada-Nya :)

    @ Itok: ke mana? pingin ngintip juga nih. hehehe

    @ Tina: hiks juga… GBU full

    @ Tin: sanggup pasti. yuk bareng2!

    @ Hesty: :)

    @ Christ: lanjutin di japri aja ya :)

    @ DW: Amin

    @ Ronaldo: thx. tumben tanda serunya banyak!!! kayak lagi teriak2 hehehe

    @ Nofa: kyknya aku perlu ngobrol sama Anna ya? hehehe

    @ Yuni: paling juga ku taro di fb :D

    @ Frans: so?

    @ Alex: senang bisa baca sharingnya

    @ Fonny: mudah2an gue ga bete2 lagi ya Fon wkwkwk

  28. Lini
    6:03 pm on October 19th, 2009

    @ Raja: semoga. indah ya… :)

  29. Kusnady Dharmawan
    6:09 pm on October 19th, 2009

    Bagus sekali

  30. Lini
    6:14 pm on October 19th, 2009

    @ Kusnady: matur tengkiyu :)

  31. Si Toing
    6:21 pm on October 19th, 2009

    Emang nape lagi say ???? uda gag pernah crita nij ma gw … tong sampah gw blom penuh koq … ;)

    Hmmmm …. u know what happened to me 2 years ago … huehuehue …. ;) jadi gag usah diceritain lagi yah …. Yg gw mau bilang, -satu- kalo lo uda berdamai dengan diri sendiri, maka berdamai dengan siapapun, termasuk dengan Dia, akan jadi lebih mudah.

    -dua- ketika lo dan Dny saling berteriak, ya jelas aja suara Dia yang nyuruh elo pada diem gag kedengeran, jadi Dia berusaha nutupin kuping Yla & Vyel dg earphone lagu rohani, sambil berharap elu or Dny mau ‘nengok’ ke Dia.

    -tiga- kalo ikut misa, jangan mikir siapa romonya, siapa koornya, tatibnya dll, tapi fokus sama 1 hal, bahwa gw mau ketemu Dia, mau ‘kencan’ ma Dia. Jadi sekalipun ketika brangkat gw masih bete ma Tama yg ogah2an, atau my hubby yg selalu santai, tapi begitu berlutut di depan altar, meskipun misa blom mulai, gw uda doa tobat duluan n ngobrol ma Dia. Sehingga ketika misa mulai hati gw uda enteng bwt nyanyi, salam damai, n yg terpenting .. Komuni. Pastinya bwt sampe kelevel ini, amat gag gampang. 2thn gw berproses. berat banget!! Tapi begitu lo nyampe ke level itu, trust me, suenengnya bukan maen!!!

    -empat- sakramen rekonsiliasi alias tobat …. do it, n u’ll find it realllllly help !! dulu gw 20thn lebih gag pernah rekon, sekali rekon … duilah ….. leganya …. ;)

    -lima- emang buletin tahun imam bayar ? Di gw dibagiin gratis tuw ???

    -enam- telpon ya say ….. ;) luv ya ;)

  32. Leini
    6:51 pm on October 19th, 2009

    mbak Lini, ini bagus sekali, saya share ya? membantu menguatkan saudara kita yang lain, Gbu

  33. Lini
    7:02 pm on October 19th, 2009

    @ Intan: yep, inget kok
    buletin tahun Imam: di imelnya si “mandor” disuruh bayar 2rb. tapi gue ga peduli, tserah deh ga penting banget
    wkwkwk

    @ Leini: monggo :)

  34. richard gunadi
    7:22 pm on October 19th, 2009

    bagus banget loh sharing nya oh ya aku maw tanya dong gimana sih caranya bikin website aku juga pingin bikin cuma gak taw caranya…
    tolong ya di kirimm lewat pesan ke facebook .thanks..

  35. Lini
    7:29 pm on October 19th, 2009

    @ Richard: matur tengkiyu

  36. Rini
    8:33 pm on October 19th, 2009

    Dear Lini,
    Matur nuwun sharingnya ya…saya jadi dapat ide unt materi renungan yg akan saya bawakan besuk lusa. Marah boleh…tapi hanya sebentar…biarlah selebihnya hari-harimu dipenuhiNya dengan damai sukacita ya…GBU

  37. David Jerry
    9:12 pm on October 19th, 2009

    Mbak Lini:

    Thank you very much. Your composition, this one, is so profound that hearts of everybody can’t help but pray so that this blessed moments in one’s marriage will not only belong to you, but to everyone. Amen.

  38. Lini
    10:24 pm on October 19th, 2009

    @ Rini: GBU full
    @ David: U’re welcome. Amen.

  39. Vincentius kurniawan
    11:41 pm on October 19th, 2009

    Thnk atas sharingnya bu Lini, aku bisa merasakan roh kudus turun pada waktu imam pengucapkan Terimalah dan makanlah! Inilah tubuh-Ku yang dikurbankan bagimuilah Tuhan pasti akan menolong hambanya amin

  40. FX. Margono
    1:56 am on October 20th, 2009

    Bagus sharingnya. Semoga menjadi contoh dan menggugah Saudara-saudara lain yang lupa ke gereja untuk bertemu Tuhan dan sesama. Bersyukurlah mbak Lini karena mempunyai gereja, karena banyak Gereja yang sulit memperoleh izin mendirikan gedung gereja. Termasuk saya yang sudah 19 tahun mempunyai paroki tapi tidak punya gereja. Tuhan memberkati.

  41. Jus Soekidjo
    7:16 am on October 20th, 2009

    Apakah waktu kita temuan, marahnya sudah padam?Kita kan cekakaan. Wah, memang hebat kau Lini. Bisa membuat cerita apa saja. Produktif, kreatif, dan ….tif-tif lainnya. Kalau menarik, akan kupakai untuk KD juga. Karena inspiratif, biar orang makin sadar, menerima Tubuh Yesus, tidak hanya nyosor saja. Heeeeee.
    God bless and love you full.-

  42. Lini
    8:43 am on October 20th, 2009

    @ V. Kurniawan: matur tengkiyu. amin!

    @ FX. Margono: itu juga bukan parokiku, paroki tetangga yang aku betah ada di situ
    :)

    @ Jus: padam sih hehehe… senang sekali klo mo dipake di KD. nyosor ya, kayak orang pacaran hehehe… GBU full

  43. Julius Andi
    10:10 am on October 20th, 2009

    nice story mbak .. semoga bisa menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan, soalnya kadang kita lupa bahwa kasih-Nya akan selalu menyertai perjalanan hidup kita.

  44. Lini
    10:54 am on October 20th, 2009

    @ J. Andi: matur tengkiyu. GBU full :)

  45. Siska
    11:13 am on October 20th, 2009

    Lini, thanks ya ceritanya bagus, sangat menyentuh, meski dengan permasalahan yang berbeda, tapi aku merasakan kevakuman setiap kali misa, karena biasanya malah sibuk urusin anak-anak yang merengek minta ini itu, ya meski itu kemauanku untuk biasakan anak-anak ke gereja, tapi akibatnya memang sedikit repot, jadinya misa hanya sekedar formalitas aja deh….

  46. Lini
    11:54 am on October 20th, 2009

    @ Siska: serupa tapi tak sama ya hehehe

  47. Levina
    12:21 pm on October 20th, 2009

    jadi inget saat2 aku merasa sangat gak pantes menyambut Komuni. Akhirnya cuma bisa duduk diem, pegangin kepala pura2 pusing, biar ga ditanya2 sama yg barengan ke gereja. Dulu pernah dimarahin romo gara2 belum ngaku dosa uda komuni.
    Apa sebenarnya Yesus selalu seperti itu ya, mengundang kita ke hadiratNya tanpa pretensi apa pun?

  48. damar wulan
    1:00 pm on October 20th, 2009

    just info
    mbak lini, damar wulan itu a.k.a kelik hariyanto
    hehe

  49. helga
    1:46 pm on October 20th, 2009

    ini perkara hebat, cara sederhana utk berkata hal besar…….thx Sist!

  50. Lini
    2:06 pm on October 20th, 2009

    @ Levina: aku ga sekali ga mau trima komuni karna merasa “tidak layak dan tidak pantas”. trus klo diomelin, “terima aja!” paling cuman senyum karna brarti yg omong gitu ga menghayati Imannya. aku yakin emang tanpa pretensi apapun kok :)

    @ Kelik: aku tau. kupanggil gitu karna kmu menyantumkannya begitu :D

    @ Helga: blm ada yang lebih hebat dari Dia. kembali kasih :)

  51. rachmat budi m
    9:20 pm on October 21st, 2009

    maaf sekali Lini, baru sempat nimbrung.

    marahlah kpd Tuhan…semarah-marahnya Lini. Krn saat kamu marah dan mencoba meninggalkan, maka sebenarnya kamu sedang membutuhkan DIA Lini. Lini, Dia adalah pemilik kasih sayang. Mana ada pembenci, pengumpat, pendusta, pengejek padaNYA, akan Dia murkai?
    Tidak,…mereka justru akan ditunjuki kasih sayangNYA. Krn Dia memang benar Tahu, bhw mereka itu sedang membutuhkanNYA.

  52. Lini
    8:13 am on October 22nd, 2009

    @ Rachmat: matur tengkiyu, Pak. bener banget! GBU full :)

  53. Yenny Agustin
    10:28 am on October 22nd, 2009

    Aku ngga pernah marah sama Tuhan. Tapi kalo nakal kayaknya sering deh .. hiks..
    Thanks sharingnya, Lin

  54. Lini
    11:08 am on October 22nd, 2009

    @ Yenny: hehehe… sama2 :)

  55. V. Edy Cahyanto
    5:33 pm on October 23rd, 2009

    sharing yang membangun, memang seharusnya kita menciptakan bentuk komunikasi yang tidak kaku dengan Allah agar apa yang kita sampaikan sesuai dengan apa yang kita inginkan, tidak ada rasa takut, tidak ada batas sehingga benar-benar kita akrab.. amin

  56. Lini
    5:38 pm on October 23rd, 2009

    @ Edy: matur tengkiyu. Amiinn. GBU full :)

  57. thilio christine
    3:28 pm on December 7th, 2009

    lini, duuhh kesodok deh ak baca ini… yg ga mau ke gereja di rumah kan aku…

  58. Lini
    3:52 pm on December 7th, 2009

    @ Thilio: waks!

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>