Angka Tiga Itu Ada Dua

Ketika aku menulis ini, virus flu masih setia menemani. Semoga teman-temin tidak tertular :D

Ini sudah H+7 kalau mau memakai istilah acara seremonial macam mudik Lebaran. Sejak tgl 8 Maret jam 02.30 tengah malam buta, aku sudah sibuk membalasi segudang ucapan dan doa untukku. Detik ini, aku masih juga membalasi arus ucapan dan doa darimu semua, tetap ditemani virus flu yang setia dengan sesekali “uhuk-uhuk” dan suara yang lenyap. Setidaknya, ada 600 lebih ucapan dan doa yang kuterima dan harus kubalas baik lewat Facebook, pesan singkat, surat-e, dan layanan pesan instan. Wow!!

Sejak hari Sabtu, sebetulnya aku sudah mulai flu tapi apa daya, “tuntutan” untuk rapat dengan pihak sekolah disambung dengan mengangkat suara di Misa Syukur seorang kawan di Kanisius. Ajaib memang, meskipun sudah mulai flu dan sakit di tenggorokan (atau kerongkongan ya?) urusan tarik suara itu berjalan baik.

Hari Minggu, aku terkapar dengan sukses! Ritual doa malam menjelang ulang tahun pun terlewat begitu saja.

Senin, 8 Maret 2010 jam 02.30 tengah malam buta itulah aku terbangun dan terpana melihat ucapan selamat yang sudah ramai lancar di “dinding” Facebook-ku. Sambil menikmati kepala berat dan leher sakit, perjuangan membalas setiap ucapan dimulai. Padahal, pagi itu jam 6.30 aku harus ada di sekolah untuk pemotretan para guru. Alhasil, sampai jam 6 pagi itu aku tidak tidur lagi. Seorang sahabat yang berkirim pesan singkat jam 5 subuh sampai heran karena dikira aku sama sekali tidak tidur.

“Seharian aku tidur, kena flu,” pesan singkat itu kukirim ke ponselnya.

“Flu tapi sekarang malah sibuk balasin ucapan?”

“Mau apa lagi? Namanya juga perhatian dari teman-teman, harus dibalas dong.”

Kubayangkan dia yang geleng-geleng karena kepala-kerasku bukan sekadar keras kepala hehehe….

Mungkin ada yang bertanya-tanya, “Kok ya repot amat sih balasin ucapan satu-satu? Pasang aja di status. Beres!” Yep, memang beres dan mudah. Meskipun aku sudah memasang ucapan terima kasih di status, tetap saja rasanya “tidak adil”. Bayangkan, mereka yang menyisihkan waktunya sekian detik untuk meninggalkan ucapan dan doa dan menghasilkan ribuan bahkan jutaan detik untuk dibaca, tidak cukup adil jika hanya dibalas dengan lima detik ucapan yang “silakan lihat di status”.

Membaca tiap ucapan, buatku sama artinya dengan menerima tiap doa dan layak untuk dibalas satu per satu. Betapa banyak orang yang memberi perhatian padaku. Betapa banyak doa yang kuterima sekali dalam setahun ini. Untuk itulah semuanya layak mendapat balasan yang “cukup adil” meskipun balasannya sebatas “copy-paste”. Setidaknya, cukup adil bahwa aku juga meluangkan sekian detik untuk membalas setiap ucapan yang kuterima dan membutuhkan waktu tiga hari untuk membalasnya.

Capek? Banget! Masih untung harus membalas sekian banyak ucapan daripada malah cuma dapat hitungan jari? Sudah pasti aku misuh-misuh karena artinya setahun ini aku tidak cukup berbuat baik sampai hanya diingat segelintir orang saja.

33, tiga puluh tiga, XXXIII, ditulis dalam bentuk apapun tetap indah. Kalau mau sok religius, usia 33 tahun adalah saat Yesus wafat di Kayu Salib. Sementara, apa yang sudah kuperbuat selama hidup 33 tahun? Rasanya belum banyak. Jadi ibu ideal? Kayaknya gak juga. Jadi istri ideal? Whoaa… itu lagi! Jauuhh… bener! Jadi, apa dong yang bisa dibanggakan setelah hidup selama 33 tahun? Apa ya? Berbuat baik juga gak selalu, masih banyakan judes dan galaknya. Komentar seenak jidat dan tanpa sadar nyakitin orang lain. Kok kayaknya ngenes banget sih? Kalau pun dipaksa untuk bangga paling ya urusan berbuat baik itulah. Minimal jaraaannnggg… banget nyakitin orang. Beberapa kali ya pernah hehehe….

Begitu Si Sulung dan Si Bungsu bangun, aku disuguhi “kue” dari LEGO. “Selamat ulang tahun, Bu!!” Kedua anakku bersorak nyaring. “Ayo ditiup lilinnya!!”

“Kue” itu memang dilengkapi empat lilin di tiap sudut. Berhias garnish “buah-buahan” warna-warni. Ada “stroberi”, “ceri”, “jeruk”, dan “nenas”. Diberi tulisan “Ibu” di bagian bawahnya. Harusnya kue ini awet untuk bertahun-tahun, sayang akan dibongkar dalam beberapa hari untuk main hehehe….

Dalam perjalanan pulang dari sekolah, aku bertanya pada Tuhan, “Apa hadiah-Mu untukku?” Tidak butuh waktu lama ketika Dia menunjukkan padaku seorang laki-laki mengendarai sepeda motor sambil memegang kruk di tangan kirinya. “Ngapain itu orang bawa kruk sambil naik motor?” Aku heran. Ternyata, dia seorang penyandang cacat! Kaki kirinya hanya sebatas separuh paha, naik motor pula!

“Terima kasih, Tuhan.” Aku mesem sendiri. Kupandangi terus laki-laki bermotor itu sampai kami berpisah di bundaran. Bisa saja ia mangkal di persimpangan jalan dan menadahkan tangan menanti kebaikan orang-orang yang melintas di depannya untuk menjatuhkan beberapa koin. Rasanya gak mungkin. Wajahnya tidak pemurung seperti para pengemis cacat dan pura-pura cacat di persimpangan jalan. Wajahnya berseri, tenang. Malah sempat tersenyum kecut ketika sebuah mobil main belok seenaknya. Ia bisa saja memaki, nyatanya tidak.

Kapan terakhir kali aku tersenyum kecut ketika orang lain bertingkah seenaknya? Rasanya nyaris gak pernah. Mulut-tanpa-rem ini sudah pasti memuntahkan komentar pedas.

Seandainya, aku berbincang dengannya….
Bisa saja ia berkata, “Gue yang cacat aja gak ngumpat, lu yang sempurna kok ngumpat?” Aku berani bertaruh pasti dia tidak melakukannya!
Bisa saja ia berkata, “Ngapain mangkal di lampu merah nadahin tangan? Gak tahu malu! Gue masih bisa kerja kok!” Rasanya ini lebih mungkin terjadi.
Bisa saja ia berkata, “Hari gini motor otomatis itu banyak, kan enak gak susah kalau pergi dan bisa hemat daripada naik-turun angkot.” Ini juga lebih masuk akal untuk diucapkannya.

Seandainya, aku berbincang dengannya ….
Aku akan berkata, “Teman, ajari aku untuk menjadi sepertimu.”

Terima kasih, Tuhan
Untuk angka tiga yang ada dua
Untuk kehidupan yang begitu werno-werno
Untuk keluarga yang begitu semarak
Untuk semua orang yang ada di sekelilingku baik di dunia nyata maupun maya
Untuk semua untaian doa yang kuterima hari ini
Untuk mereka yang berbagi ulang tahun denganku
Untuk mereka yang tidak seberuntung aku
Semoga seluruh doa yang kuterima terjadi pula pada mereka
Amin

Matur tengkiyu sanget buat semua perhatian dan doanya. Banyak cinta dan doa untukmu. Berkah Dalem full. Muach muach muach!



Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , ,

This entry was posted on Monday, March 15th, 2010 at 4:52 pm and is filed under Angka Tiga Itu Ada Dua. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

8 Responses to “Angka Tiga Itu Ada Dua”

  1. Clementina Dewi
    9:35 pm on March 15th, 2010

    Ini dia si ungu muncul…hehehe…^___^
    Wah pastinya banyak banget yang ngucapin dan musti dibalesin one by one. Kalo yang itu aku jg setuju. Tapi liat juga kondisi badan kali, lini, kalo udah ga kuat banget, bo ya istirahat dulu…*haizzz* toh nantinya pasti dikau balas juga satu2.
    HIhihihi…Get Well Soon ya..

  2. Lini
    10:16 pm on March 15th, 2010

    @ Dewi:
    hehehe… daripada ditunda trus malah lupa :D
    tengkiyu yaa…

  3. Aichen
    6:15 am on March 16th, 2010

    sungguh pengalaman hidup yang sangat berharga dan berarti untuk dibagikan kesesama teman-teman. Semoga cepat sembuh ya fem.
    Tuhan, wanita yang membaca ini adalah wanita yang cantik, kuat dan sabar dan saya sangat menyayanginya. Tolong dan tingkatkan kehidupannya, Begitupun jika dia melangkah, selamatkanlah dia.

  4. Lini
    9:52 am on March 16th, 2010

    @ Aichen:
    halo Aichen,
    berhubung masih anget suasana ulang tahunnya, gpp deh aku dikira Femi (ato salah nulis?). kan udah jelas blognya judulnya Lini bukan Femi hehehe…

    matur tengkiyu sanget buat doanya :)

  5. susan
    7:24 pm on March 17th, 2010

    Happy birthday Lini.. Walopun telat.. Wish u all d very best.. Btw, nulis angka 33 pake romawinya kurang I satu tuh.. Baru 32 dongg…

  6. Lini
    8:11 pm on March 17th, 2010

    @ Susan:
    tengkiyu San. waks! okeh diralat hihihi

  7. rachmat budi m
    7:01 am on March 18th, 2010

    Lini…Lini…Kamu terlalu ramah, terlalu baik, terlalu familiar, tapi juga Galak ! Itu yg istimewa pada G Lini Hanafiah !!
    Sehat, bahagia, banyak karunia Ya !
    Hem..aku pengen spt kamu….hahahahaha….hatimu ada Tuhan !

  8. Lini
    9:12 am on March 18th, 2010

    @ Rachmat: matur tengkiyu Mas. peluk erat untukmu :)

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>