Antara Pilihan dan Titik Balik
Penilaian saya gugur begitu saya berbincang akrab dengan bapak penjual gorengan ini di pertemuan terakhir saya. Saya terhenyak. Ternyata, berjualan gorengan itu berhasil membawa ketiga anaknya duduk di bangku kuliah. Luar biasa! Ia bukan saja mengubah hidupnya tapi juga seluruh keluarganya. Dinilai dari luar ia memang pedagang penganan gorengan biasa, siapa nyana ia mampu menyekolahkan ketiga anaknya sampai tinggi dan tidak pernah berhutang.
***
Tetapi begitu bersinggungan dengan pertanyaan “Apa dan siapa kamu?” umumnya jawaban yang keluar juga seputar identitas tersebut di atas. Jarang orang menjawab pertanyaan tersebut dengan keterangan seputar karakter dan personaliti.
Bicara soal sosok pribadi seseorang tentu tidak lepas dengan konteks perubahan. Semua orang berubah, sesedikit apapun itu. Hampir tidak mungkin orang tidak berubah. Orang berubah seiring dengan segala informasi yang didapat, kejadian-kejadian yang terjadi di sekitarnya, kondisi keluarga atau orang-orang di sekelilingnya, kultur, dan respon intuitif atas semua itu.
Seseorang yang berasal dari Sumatera dan lama tinggal di tanah Jawa sedikit banyak akan mempengaruhi selera rasa makanan, tutur kata, gerak-gerik, dan sebagainya. Faktanya, kemampuan masing-masing orang untuk berhadapan dengan suatu kondisi yang kompleks itu berbeda-beda. Ada yang dengan cepat beradaptasi, ada yang lambat.
Bicara tentang perubahan hidup biasanya kita bicara tentang nasib. Bagi sebagian orang, nasib itu sudah suratan takdir, tidak bisa diubah jadi ya terima saja. Jika hidupnya melarat, rasanya mustahil akan bisa jadi kaya raya.
Orang-orang macam ini cenderung untuk pasif dan pesimis pada hidupnya. Mungkin mereka akan bersikeras menyatakan bahwa mereka sudah pontang-panting mengubah hidup tapi tetap saja tidak bisa. Jika ditelaah lebih jauh, tentu ada sebab kenapa seseorang yang merasa sudah berusaha tapi tidak berhasil. Sangat banyak contoh perjuangan orang-orang untuk mengubah hidupnya.
Ada seorang kawan yang mengeluh di usia tiga puluhnya ia belum juga menemukan jodoh. Beberapa kali ia berkeluh kesah tentang hidupnya pada saya. Saya hanya menjadi pendengar yang baik karena saya merasa tidak berkompeten memberikan nasehat atau wejangan. Setelah saya merasa cukup untuk dijadikan “tempat sampah” uneg-unegnya, saya lalu menyampaikan bahwa bagaimana dia akan mendapatkan jodoh sementara hidupnya dipenuhi dengan berbagai keluhan? Rasanya sulit mendekati seorang gadis yang wajahnya juga pas-pasan dan kepribadian yang gemar mengeluh. Mungkin saja para perjaka akan takut duluan sebelum mendekat akibat segala keluhannya itu.
Saya lalu menyarankan agar ia mengubah kebiasaan mengeluhnya. Pada dasarnya, setiap manusia mencari pasangan bukan semata penampilan fisik tetapi juga bagaimana kita membuat pasangan merasa nyaman menjadi dirinya sendiri.
***
Kelompok ini bukan ingin mengalahkan Kausa Prima, Yang Maha Kuasa. Mereka bukan ingin menjadi tukang sihir yang bisa mengubah segala sesuatu, bukan juga ingin jadi pahlawan super yang mengubah dunia. Mereka hanya yakin bahwa hidup juga patut diperjuangkan, bahwa Tuhan tidak begitu saja menentukan garis hidup semua orang apapun yang kita lakukan sejak lahir sampai tiba ajalnya. Mereka lebih aktif terhadap hidup. Tidak ada yang tidak mungkin. There is a will, there is a way. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Bahwa ada satu-dua hal yang tidak tercapai, itu bukan berarti bahwa mereka gagal lalu menyerah. Ora et labora, berdoa dan berusaha. Berdoa saja tidak cukup, dan sebaliknya. Itu sama saja artinya dengan memakai alas kaki hanya sebelah, bukan sepasang.
Perbedaan mendasar pada dua kelompok ini terletak pada semangat juang terhadap hidup, ketetapan hati, dan rasa syukur. Hidup selalu bersinggungan dengan ketidakpastian dan pilihan beserta resikonya. Apakah hanya menerima bahkan mengeluhkan saja apapun yang sedang terjadi atau bertekad untuk mengubah hidup ke arah yang lebih baik dan menjalani titik balik dalam hidupnya.
Life is a matter of choosing. Hidup adalah pilihan. Pilihan tidak lepas dari berbagai resiko yang mengikutinya, baik yang sudah dipertimbangkan maupun kendala yang terjadi kemudian. Kesiapan mental dan ketetapan hati sangat dibutuhkan untuk mengubah hidup.
Untuk mengubah hidup, biasanya akan terjadi pengambilan keputusan penting dalam hidupnya dan berpengaruh besar. Mungkin konteksnya bisa penting atau sepele, mulai dari menepati janji, melakukan diet, berhenti kebiasaan merokok sampai keinginan untuk hidup sejahtera.
Dengan diambilnya keputusan itu, lalu kita akan mulai melaksanakan sesuatu yang “baru”. Kebiasaan baru ini tentu sangat sulit untuk dijalankan. Itu sebabnya semangat juang sangat berperan. Orang yang semangat juangnya rendah mungkin akan menyerah dan kembali ke “zona nyaman” sebelumnya. Hidup di zona nyaman akan jauh lebih menyenangkan dan lebih mudah diterka. Menempati zona baru yang serba tidak pasti dan penuh resiko sangat menantang dan diperlukan keberanian besar. Kita harus siap dengan apapun segala resiko terburuk sekalipun.
Seberapa besar keberanian kita dipengaruhi oleh seberapa ingin kita mengubah hidup. Terkadang, dibutuhkan perubahan seketika. Dalam konteks menghentikan kebiasaan buruk misalnya – merokok, diet, narkoba – tidak ada istilah pelan-pelan atau sedikit demi sedikit. Begitu memutuskan untuk berhenti, tepatilah janji yang telah kita buat sendiri itu. Pernah ada lelucon “jika seseorang tidak mampu lagi menepati janji dengan orang lain, maka ia akan menepati janji pada dirinya sendiri”.
Tidak ada jalan menuju perubahan yang mulus-mulus saja. Pasti jalannya berliku, terjal, berbatu, membuat kita berkali-kali terjatuh dan bangkit. Bukan hanya beberapa, mungkin juga ratusan bahkan ribuan kali. Yang penting, bukan berapa kali kita jatuh tetapi berapa kali kita bangkit dan meneruskan hingga ke tujuan.
Proses ini juga menyediakan pilihan fight or fly, berjuang terus atau meninggalkannya begitu saja. Ketika kita meninggalkan segala yang kita miliki, itu bukan sesuatu yang salah, itu adalah pilihan. Hidup tidak mengenal kata “harus”. Tidak ada keharusan. Ketika kita “harus” rapat dengan bos yang menyebalkan, itu bukan sebuah keharusan tetapi kita memilih untuk meng-“harus”-kan diri kita.
Selain itu, rasa syukur akan memperingan perjalanan menuju perubahan tersebut. Jika terus menghitung berapa batu yang menghalangi ketimbang berapa berkah yang kita terima sepanjang perjalanan, tentu akan membuat perjalanan serasa tak berujung. Seperti halnya menghitung gelas yang sudah terisi separuh atau baru terisi separuh
Perubahan ibarat metamorfosa. Ketika kita menjadi seekor ulat yang sering membuat gatal dan kita memperjuangkan diri untuk menjadi seekor kupu-kupu yang cantik, masa menjadi kepompong adalah penantian panjang. Mungkin saja kita tidak sabar dan mengambil jalan pintas, maka yakinlah bahwa kupu-kupu yang cantik akan berubah tepat pada waktunya. Seseorang yang sudah menjalani titik baliknya, tidak akan pernah sama lagi.
Mengubah hidup bukan bicara termin waktu tetapi ketetapan hati dan semangat juang yang luar biasa. Bagaimana kita bersedia untuk memasuki area yang sama sekali baru dan tinggal di suasana jungkir-balik sampai tiba di tempat yang luar biasa mengagumkan.
Itu hanya sebuah pilihan. Pola pikir yang kita pegang teguh.
We are the architect of our lives…
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Doa, Luka Batin, Syukur
This entry was posted on Saturday, April 26th, 2008 at 3:19 pm and is filed under Antara Pilihan dan Titik Balik. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.








