Bandung, Pernikahan
Kamis, 17 Desember 2009. Anak-anak terima rapor. Libur telah tiba. Hore… hore… hore…
Ke Bandung sebenernya sudah tidak masuk kategori berlibur karena ada banyak tujuan. Mulai dari nengok Mama Mertua sampai jadi umat abangan di Keuskupan Bandung, semua bisa. Kalau lepas kangen sama teman-teman di Bandung termasuk liburan ya bisa juga. Yang jelas, sering ke Bandung karena Kakak Ipar di sini maka bebas dari “hotel penuh” dan “ongkos mahal”. Tujuan kali ini adalah undangan pemberkatan nikah kerabat di Gereja St. Laurentius Sukajadi.
Malam itu juga kami harus berangkat karena besok pagi-pagi Si Ayah harus antar Mama Mertua ke tempat syukuran untuk sediain makanan. Berangkat dari rumah jam 9 malam, masuk tol Bekasi Barat jam 9.30. Semua penumpang ngantuk jadi tidak paham betapa padat meratapnya perjalanan Bekasi-Bandung. Begitu bangun sudah di gerbang rumah Kakak Ipar di Viaduct dekat Braga. Begitu buka mata lihat jam… jam 12!! Ampuunn… jadi perjalanan tadi 2,5 jam?? Katanya padat meratap sampai tol Sadang. Ini salah satu alasan malas berakhir pekan panjang di Bandung kalau bukan karena ada undangan. Sampai rumah, tidur dilanjutkan!
Jumat, 18 Desember 2009. Bangun pagi. Seperti kebiasaanku kalau lagi di Bandung, lokasi rumah yang sangat dekat dengan Gereja membuatku selalu menyempatkan Misa Pagi. Pagi itu kebetulan Romo Sahabatku mimpin Misa di Katedral. Habis misa, “nodong” Sakramen Tobat plus sedikit curhat urusan domestik hehehe… Setelah kejadian besar kemarin itu (wah, sori dori mori, kejadian besarnya gak bisa diceritain di sini), kayaknya si Janji Nikah perlu dimutakhirkan nih.
“Mbok kamu memperbarui Janji Nikah?”
“Mau sih, Mo. Tapi kapan ya?”
“Di sini aja. Tanggal 26 nanti ya? Biasa, jam 6 pagi. Kamu ke sini lagi kapan?”
Wah, mendadak banget?
“Tanggal 24 sih aku udah di sini lagi, Misa Malam Natal di sini. Tanggal 26 ke Purbalingga karena tanggal 27 ada resepsi yang pagi ini pemberkatan.”
“Ya sudah, tanggal 26 ya?”
Aku dan Si Ayah celingukan. Yakin nih?
“Oke deh.”
Topik selanjutnya soal pembakaran gereja di stasiku. Duh, namanya umat kuper jadi gak tau. Wong waktu kejadian jam 22.45 kan jelas aku lagi di ruas tertentu tol Cipularang.
Kelar semuanya, udah telat untuk antar Mama Mertua ke tempat syukuran. Bergegas pulang sebelum diperenguti Mama Mertua dan langsung berangkat. Jam 10 Misa Pemberkatan Nikah dimulai.
Gereja Laurentius Sukajadi. Baru pernah nih. Hm.. bagus, imut, cukup mewah. Terlihat baru direnovasi. Kalau koor biasanya diiringi organ, ini diiringi chamber orchestra. Ada violin, cello, bass, flute, terus ada lagi di bagian brass section, entah apa (rasanya sih saxophoe) karena duduknya di bagian belakang jadi gak terlihat jelas. Akustik gereja yang baik bikin suara koor dan chamber orchestra itu terdengar bulat. Apalagi ada Christopher Abimanyu yang solo waktu nyanyi Ave Maria. Whoaa… baru pernah liat yang live gitu. Kereeennn… Kan aseli ga pake microphone.
Waktu lagi homili, Pastornya sempet kasih pertanyaan “sederhana” yang jawabannya jadi rumit. “Sebutkan empat alasan kamu mau menikahi calon suamimu?” Nah lho! Kedengerannya aja gampang. Aku yang duduk di bangku umat sambil menyimak juga berusaha menjawab dalam hati. Empat ya? Gak bisa dua? Tiga deehh… Nawar nih… Sepupu yang nikah juga gelagapan. Nyaris mentok di nomor tiga. Untung akhirnya nemu satu alasan lagi jadi terbebaslah dia dari “siksaan” itu.
Tiba di bagian janji pernikahan, mata ini sempet banjir juga. Bukan karena si Sepupu yang melepas masa lajang. Gimana gak, mengingat sakralnya janji yang “setia dalam untung dan malang sampai seumur hidup” tapi pelaksanaannya kan setengah mati dan banyak banget yang kawin cerai. Kalau cerai lalu kawin lagi masih bisa dimaklumi. Kalau sampe pernikahan ketiga kayaknya itu sih di luar kewajaran deh. Apa yang dicari coba? Ketauan aja single parent gitu. Terutama ya inget janji nikahku tujuh tahun lalu lah. Apa kabar janji nikahku? Rasanya sungguhan perlu pemutakhiran nih.
Balik ke pengantin yang berikrar di depan Altar itu, mengucapkannya indah banget, berbunga-bunga. Siapapun gak akan menyangka bahwa memenuhi si janji itu jadi pekerjaan yang sungguh menuntut mencintai sampai sakit. Wah, pokoknya sama sekali tidak seperti di lagu-lagu dan film-fim yang biasa diputar kalau Valentine. Harusnya perlu juga ada lagu dan film untuk Valentine yang menunjukkan bahwa perkawinan itu perjuangannya lebih dari melepaskan diri dari penjajahan 350 tahun. Istilah “welcome to the jungle” sungguh harfiah dalam hal ini. Menjelajah rimba perkawinan. Berpetualang seru. Apalagi mereka yang dihadiri lengkap oleh kedua orang tua dan keluarga, rasanya kok ngenes kalau enak aja cerai hanya karena urusan sepele. Gimana aku yang cuma dihadiri Tante? Syukur banget Mama Mertua dan Kakak Ipar datang. Jadi sungkemnya ke mereka. Dari keluargaku cuma dua orang Tante. Ya sungkem lah ke dua Tante itu. Apa justru karena itu makanya aku harus memeras otak sampai tak bersisa untuk cerai?
Selebihnya, selayaknya pesta pernikahan, ada beberapa “acara” supaya tidak seperti pernikahanku yang selesai Misa langsung mempersilakan tamu untuk pulang dan makan di rumah masing-masing. Masih ada acara foto-foto dengan berbagai adegan lucu. Bagus juga supaya lima tahun lagi ketika urat leher mulai nyaris varises karena adu volume suara, bisa bercermin pada dokumentasi itu. Aku sendiri masih suka memandangi foto ketika memberkati persembahan Ekaristi. Pengantin naik ke Altar? Bisa dihitung dengan jari kan?
Sayang, ga sempat doa di Gua Marianya. Aku punya ritual untuk berdoa khusus di Gereja dan Gua Maria yang baru pernah kudatangi. Acara selanjutnya syukuran di sebuah guest house.
Malamnya, janjian sama San San. Ini dia! San San iseng jadi fans Yuk Nulis! di Facebook. Waktu San San buka blog the De.N.eL.s, dia lihat Si Ayah, “Ini kayak temen SMA gue?” Lalu dikirimilah pesan ke Si Ayah. Dan akhirnya San San resmi jadi Nuliser, penghuni kost Yuk Nulis!. Janjian di Paskal Hyper Square selepas Toko Berkat (tokonya San San di Kalipah Apo) tutup. Anak-anak dan suami dibawa serta. Maksud hati anak-anak “dititip” di tempat bermain, apa daya hujan sementara tempat bermainnya di ruang terbuka. Alhasil Si Sulung, Si Bungsu dan Chris (anak bungsunya San San, 3 tahun) main kejar-kejaran. Lucky anak sulungnya San San merasa dirinya sudah besar, jadi lebih sibuk makan ayam goreng pesanan ketimbang main.
“Lucky, Tante Lini ini penulis, yang punya Yuk Nulis! itu, ibu kosnya Mama.” Aku ngakak melihat wajah Lucky yang terperangah.
Kukeluarkan majalah Kuasa Doa yang memuat tulisan San San. “Lucky, buka deh. Ada tulisan Mama di situ lho.” Dengan sigap khas anak laki-laki, dibukanya majalah itu. Dicarinya tulisan Mamanya. Kubantu membuka halaman tersebut. Wajahnya makin terperangah. “Ini tulisan Mama?”

“Iya! Ini tulisan Mama. Ada tulisan SS di situ kan? Besok di sekolah bilang sama temen-temen ya, Mamaku penulis lho!” San San tersipu-sipu, cengengesan. Lucky masih sibuk dengan ketakjubannya. Chandra, suami San San diam-diam kagum sama istrinya. Biasa begitu, San. Para suami suka gengsi menunjukkan rasa bangganya. Terjadi juga transaksi penandatanganan buku My Life is An Open Book. Sudah datang dari jauh masa ga ada transaksi buku hehehe…
Karena hubungan antarteman sekolah dan Ibu Kos-Nuliser, maka obrolan ramai lancar. Tak terasa hari makin malam, hujan makin deras. Cukup larut juga bubarnya acara. Itupun terpaksa bubar karena Si Bungsu bajunya basah akibat main di sebuah meja kosong yang banyak airnya. Seandainya aku bawa baju ganti, pasti masih lanjut sampai entah jam berapa. Suka tidak suka, harus selesai dulu. Toh aku sering ke Bandung, kan bisa lanjut lagi kapan-kapan. Akhirnya San San pulang membawa oleh-oleh buku My Life is An Open Book.
Sabtu pagi, 19 Desember 2009. Waktunya bertemu teman-teman baru! Siang ini jam 11 ada tiga janji yang kujadikan satu: Timoty, Andi dan Margareth. Biar gampang, di Braga Citywalk aja, aku bisa jalan kaki. Timoty mendadak memajukan jam pertemuan jadi jam 10. Wah belum ganti baju, untung sudah mandi!
Singkatnya, bertemulah dengan Timoty yang ternyata adalah “klien”-nya San San. “San San itu supplierku,” kata Timo. Ia buka kedai Kuotie di Jalan Rama, namanya ya Kuotie Rama.Topiknya macam-macam mulai dari urusah kesibukan masing-masing sampai urusan kesehatan. Obrolan itu harus selesai jam 11 lewat karena ia harus memenuhi janji lainnya jam 12. Senang ketemu kamu, Timo. Sayang kita gak foto ya…
Lepas saling melambaikan tangan dengan Timo, aku sempat melongo sebentar. Mana ya Andi dan Margareth? Mereka memang tidak saling kenal tapi tidak ada salahnya punya teman baru kan? Gak terlalu lama sampai akhirnya Andi datang.
Andi, anak kampus STDI jurusan Disain Interior semester tiga ini juga hobi nulis. Sebetulnya Andi beli buku My Life is An Open Book itu di Gereja Gandarusa, Sumbersari, tapi bukan waktu aku ngasong dulu. Sayang, ga ketemu dulu itu. Dibawanya buku yang belum tertanda tangan itu. Kutanda tangan dan kuserahkan lagi padanya.
Lalu datang Margareth, anak psikologi yang juga punya luka dengan Mamanya. Akhirnya kami ngobrol bertiga. Obrolan yang makin seru karena mulai merambah ke urusan psikologi luka batin sesuai buku yang sedang ditulis Mar. Tak terasa perut keroncongan. Sudah jam 2 siang dan tidak satu orangpun makan siang. Pesan makanan dan obrolan berlanjut terus sampai jam 3.30 sore.
Anak-anakku datang menjemput minta diajak ke tempat bermain. Mar juga harus ke acara Natalan. Pertemuan itu bubar dengan menyenangkan. Mar juga pulang membawa oleh-oleh bukuku. Setelah dihitung, aku duduk di kursi itu selama hampir 6 jam! Tambah teman, tambah ilmu, tambah cerita. Sabtu malam kuhabiskan bersama anak-anak. Malam ini harus tidur cepat karena besok mau Misa di Gereja Karmel Lembang.
Minggu pagi, 20 Desember 2009, bangun jam 5 bersiap berangkat ke Gereja Karmel Lembang. Aku diajak Romo Sahabatku Misa di sana. Ada acara ulang tahun Gereja Karmel Lembang. Daripada diperenguti karena terlambat, lebih baik bangun pagi-pagi. Misa jam 8, jam 6 aku sudah siap di dalam mobil. Pompa ban dan isi bensin dulu. Wah, gak sempat berangkat bareng. Berangkat masing-masing aja lah.

Karena jalanan sepi masih pagi betul, jam 6.45 sudah sampai. Mobil Romo Sahabatku sudah nangkring di situ. Masih ada waktu sejam lebih untuk melihat-lihat dan berdoa. Aku sempat dikenalkan pada Romo Paroki situ.
Ketika Misa, aku tiba-tiba ingat janjiku pada seorang sahabat untuk mendaraskan doa rosario bagi keluarga-keluarga yang bermasalah. Walah… masalahku aja baru kelar, kapan mau doainnya? Aku punya kebiasaan untuk berdoa khusus di Gereja atau Gua Maria yang baru pernah kudatangi. Daripada utang rosario entah kapan dibayarnya, aku kasi bonus dulu aja deh. Kudoakan teman-teman dan semua orang yang memiliki keluarga bermasalah. Kemarin ingat janji pernikahan, sekarang ingat keluarga bermasalah. Ada apa ya?
Usai misa, ada Pemberkatan gedung pastoral di situ. Aku ikut saja. Itu dia kenapa aku harus ikut Pemberkatan segala. Romo Sahabatku mengenalkan pada seorang perempuan yang ternyata bermasalah dengan suaminya. “Ini Lini, teman dari Jakarta. Kamu bisa cerita padanya. Nasibnya juga mirip denganmu. Siapa tahu kalian bisa berbagi, nangis bareng,” Si Romo Sahabat terkekeh. Lho? Apaan nih? Kayaknya ada yang kelewat deh! Kulihat mereka saling mengirim isyarat mata.
Berkenalanlah aku dengan Si Mbak Beranak Tiga ini. Karena sibuk ngobrol, ketinggalan ambil makan jadi kebagian gado-gado (atau lotek?) aja. Sayur-mayur, sehat nonkolesterol. Yang penting juga: kenyang. Cerita yang cukup membuatku geleng-geleng kepala itu masih mengalir ketika Romo Sahabatku pamit. “Saya pulang dulu, ya.” Tatapannya bahagia betul melihat aku bisa berlatih jadi tempat sampah orang lain. Agak lama kemudian obrolanku dengan Si Mbak Beranak Tiga ini berakhir juga. Tak banyak yang kukatakan karena memang aku berlatih mendengarkan. Aku cukup dihadapkan pada polemik rumah tangga yang rumit.
Eits, hampir lupa. Jalan Salib dulu dong! Udah sampai di sini kok malah lupa. Saking gak abis pikir sama polemik rumah tangga yang baru aja kudengar.
Aku kembali ke Bandung, membereskan tas untuk pulang ke Bekasi. Kusempatkan mampir ke tempat Romo Sahabatku.
“Mo, sebetulnya aku utang doa rosario untuk keluarga-keluarga bermasalah ke temenku. Aku janji sama dia. Tadi waktu di Lembang aku ingat itu. Daripada utang terus, kudoakan aja dulu di situ.”
“Oh ya?”
“Mo, kenapa tadi Romo “kirim” dia ke aku? Kok bicara begitu ke Mbak Beranak Tiga?”
Dijawabnya begini, “Coba kamu kontak Bu Psikolog. Siapa tau kamu bisa ngobrol.”
“Ngobrol apa? Kan masalahku sama Danny baru kelar?” Wah, gak nyambung nih!
“Aku gak suruh kamu cerita. Aku suruh kamu melatih dua telingamu itu untuk jadi tempat sampah.” Ia tertawa.
Oh ya ampun! Jadi itu persoalannya? Urusan melatih telingaku untuk jadi tempat sampah? Oke deh!
“Sampai ketemu beberapa hari lagi ya, Mo.”
“Tanggal 26, jam 6 ya! Kamu jadi saksinya nanti,” katanya pada Si Sulung. Si Sulung masih asyik dengan gambarnya. Ia melambai.
Kami semua melambai. Tentu saja anak-anak sambil berteriak-teriak, “Dadah, Pakdeee…!!”
Sesampai di rumah, di kotak suratku sudah ada satu pesan dari seorang sahabat. Menceritakan persoalan rumah tangganya yang juga tak kalah pelik. Malam itu aku merenung. Merenungkan utang doa rosario pada seorang sahabat disusul dengan datangnya keluarga-keluarga bermasalah padaku sementara masalahku sendiri baru saja usai. Boro-boro mau nasehatin, nanti jadi jarkoni – isa ngajar ora isa nglakoni (bisa ngajar gak bisa menjalani). Merenungkan janji pernikahanku yang tinggal janji dan tak kunjung terpenuhi. Menjelang Natal ini, perjalanan ke Bandung penuh dengan hal-hal berbau “keluarga”.
Lusa aku ke Bandung lagi. Misa Malam Natal di Gereja Margahayu, tempat seorang Sahabat yang baru ditahbiskan mimpin Misa. Bayar utang karena waktu Misa Perdananya kemarin aku gak bisa hadir. Tanggal 26 jadi “pengantin” lagi. Semoga kali ini Janji Nikahku tidak sekadar janji. Semoga Natal kali ini kembali istimewa. Semoga Natal kali ini banyak keluarga yang serupa dengan Keluarga Kudus dari Nazaret. Semoga kita semua boleh hidup bersatu dengan rukun sesuai dengan kehendak-Nya. Amin.
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Bandung, Buku My Life is An Open Book, Doa, Gereja, Harapan, Keluarga, Natal, Perjalanan, Purbalingga, the De.N.eL.s, To Infinity and Beyond, Yuk Nulis!
This entry was posted on Tuesday, December 22nd, 2009 at 5:08 pm and is filed under Bandung Pernikahan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.










5:46 pm on December 22nd, 2009
Nahhhhhhhhhhh…
perjalanan ini terasa sangat menyenangkan (irama Ebiet G. Ade, lirik diganti hehehe)
7:59 pm on December 22nd, 2009
Selamat berjanji lagi….Dan saling setia lagi…GBU and family…
9:35 pm on December 22nd, 2009
@ Femi: genjreng… genjreng…
@ Fonny: tengkiyu, Fon. lagi ya? wkwkwk berkah dalem full
10:30 am on December 26th, 2009
Kesan-kesan ketemu “manusia” Lini yang antik ini buat pertama kali:
Gampang akrab, apa adanya, “talking machine” sama kaya gue, dan anehnya berasa kaya udah kenal lama. Mungkin karena udah akrab sama tulisan2 & comment2 nya di facebook kali ya? Hehehe…
Yang jelas pertemuan malam itu asyik banget, anak-anakku juga rajin nanyain kapan ketemu lagi sama keluarganya “Tante yang punya Yuk Ngetik!”
Malam itu juga mengenal lagi Danny sebagai teman SMA yang hampir terlupakan (abis dia tuh dulu pendiem banget sih, hahaha…)
Seneng juga karena ternyata suami-suami pun bisa “nyambung”, dan anak-anak pun langsung “nempel”. Jadi kepikir ide buat bikin reuni nuliser se-indonesia, komplit sama keluarganya. Lini bilang,” Itu sih perlu outdoor gathering dengan acara-acara khusus dong!” Gue sih cengengesan aja, terserah sapa yang mau jadi EO, yang penting aku di-invite ya
3:23 pm on January 2nd, 2010
@ San San: hehehe… rame ya
ntar diatur deh kapan ya