Berbeda
Saya indigo? Tidak jelas. Dan tidak perlu diperjelas. Toh, umumnya seorang indigo tulen tidak ingin dilabeli macam-macam dan mendapat perlakuan khusus yang umumnya dikonotasikan negatif. Bisa dimaklumi, karena orang indigo memang berbeda, unik, nyentrik, dsb.
Saya berbeda? Iya. Banyak orang yang heran, tidak setuju atau menganggap cara pikir saya lain – kalau tidak mau disebut aneh. Ada yang bilang saya ekstrim, nyeleneh, ngawur, terlalu cuek, tidak berperasaan, apalah…
Selama saya yakin tidak melanggar hukum dan tidak menyulitkan orang lain, kenapa tidak? Boleh kan orang mengungkapkan ketidaksetujuannya? Itu bagian dari HAM kan?
Dalam hal ini, mengutip istilah sahabat saya, kebenaran jadi relatif. Biru di antara banyak merah, biru jadi terasa “aneh”. Toh, kami yang berbeda atau mereka yang berbeda tidak jadi soal.
Apa salahnya dengan memandang sesuatu dari sudut pandang lain? Misalnya, untuk sebagian besar orang tua, prestasi akademik itu penting. Akan sangat membanggakan kalau anaknya masuk ranking 10 besar. Saya tidak. Apalagi, saya dan suami sama-sama sepakat kalau prestasi akademik tidak menjamin anak untuk sukses di kemudian hari. Saya jelas, prestasi akademik biasa aja. Tidak terlalu pandai, tapi tidak terlalu bodoh. Dapat nilai merah di rapor pernah, hampir tidak naik kelas pernah. Tapi, hampir mendapat PMDK (program masuk universitas negeri tanpa seleksi, hanya berdasarkan nilai rapor) juga pernah. Hanya selisih tipiii…sss sekali. Saya nyaris masuk Unversitas Diponegoro. Jika ada dunia paralel yang di sana saya berhasil masuk Undip, mungkin juga saya tidak akan menulis ini.
Apalagi dengan cita-cita Mikayla yang ingin jadi pelukis. Sejak umur 1 tahun minatnya pada dunia gambar sangat jelas. Sedangkan adiknya, Gavryel di umur 1 tahun juga sangat berminat pada dunia musik. Dengan kondisi seperti itu, untuk apa saya memaksakan supaya nilai matematika, kimia, fisika, biologi, dsb itu memuaskan? Puas itu kan relatif. Walaupun Mikayla masih TK A, rasanya saya cukup puas dingan nilai pas-pasan asal dia di sekolah dikenal guru dengan predikat rajin, toleran, sayang teman, dsb. Toh, saya lebih peduli dengan hal-hal seputar manner dan behavior. Jadi, tidak ada alasan untuk memaksakan kepandaian akademiknya. Untuk dipuji orang lain? Wah, kayaknya gak penting banget deh…
Terbukti, orang-orang yang well-mannered dan well-behaved jauh lebih bisa meningkat karirnya ketimbang orang-orang yang hanya pandai. Setidaknya, jaman di puncak karir saya dulu, saya lebih suka karyawan yang well-mannered dan well-behaved dari pada yang memang pintar dan jadi sok tahu. Seakan-akan orang itu ingin menyatakan, “Saya jauh lebih pintar dari Anda lho!” Terus kenapa? Kalau merasa lebih pintar dari bos, buat saja perusahaan sendiri, atur sendiri, jadi tidak akan ditekan atasan. Gimana?
Saya dan Mikayla berbeda. Tapi kami berusaha untuk tidak bersikap konyol. Hanya kadang energi dan emosi yang sulit terkendali itu yang mengganggu, baik diri sendiri maupun orang lain.
Yang pasti, kami akan terus memberikan pandangan dan pemikiran lain untuk menambah warna hidup kita semua.
Tertarik dengan yang ini?
This entry was posted on Sunday, August 12th, 2007 at 12:50 pm and is filed under Berbeda. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.








