Beri Satu Lagi “Nyawa”
Seorang Romo semalam menelepon. “Lin, ada kabar baik buatmu.”
“Apa itu, Romo?”
“Ada seseorang menghubungi saya, dia bilang Ibunya terkesan dengan tulisanmu. Ibunya mau ketemu kamu. Mereka tinggal di Bandung. “ Hmm… Bandung lagi ya…
“Tulisan yang mana, Mo?”
“Saya gak tau. Boleh saya berikan nomor hpmu?”
“Boleh sekali, Mo. Romo ada nomor hpnya orang itu, biar aku yang hubungi.”
“Wis, ndak pa-pa. Nanti biar mereka yang hubungi ya.”
Lalu aku segera membuka Facebook, kantorku. Ternyata di situ sudah ada permintaan teman dari orang yang dimaksud. Kutinggalkan pesan bahwa aku baru saja dihubungi Romo, mengatakan bahwa Ibunya ingin ketemu aku. Kulihat dia sedang online, langsung kusapa. Kuminta nomor teleponnya, supaya lebih leluasa berbincang lewat telepon.
Segera saja kutelepon. Di seberang sana perempuan itu riang gembira menerima teleponku. Berbasa-basi sejenak, lalu katanya, “Mbak, maaf nih, dari tadi Ibu udah ngeliatin terus gak sabar mau bicara.”
“Boleh, silakan.”
Lalu aku berkenalan dengan Ibu dua putri ini. Yang sulung hampir seumurku, mereka tinggal di Bandung. Yang bungsu dengan suaminya tinggal di Yogya.
Ibu ini mengatakan bahwa ia lebih parah dari Mama. Parah dalam hal apa akan dijelaskan dalam pertemuan nanti.
“Saya lebih parah dari Mamanya Mbak Lini. Saya mau ketemu Mbak Lini, kalau boleh. Katanya sering ke Bandung.”
“Boleh, Bu. Saya memang sering ke Bandung. Nanti tgl 7 sebelum saya ke Ranca Upas saya mampir dulu ke kota.”
Ibu ini demikian terkesannya dengan bukuku. Bahkan sampai mengatakan bahwa keinginannya untuk berubah timbul setelah membaca bukuku.
“Sekarang Ibu sudah berubah?”
“Baru mau.” Senang sekali mendengarnya.
“Tidak ada kata terlambat, Bu. Mungkin Ibu lebih parah dari Mama. Tapi Ibu lebih berani untuk berubah daripada Mama.”
Kurasakan ia seperti disemangati luar biasa. Rasanya ingin segera hari berganti menjadi tgl 7 Maret.
Kemudian aku berbincang dengan anaknya. Perempuan ini kuminta untuk melihat-lihat blogku, mudah-mudahan tulisan Doa Bapaku bisa sedikit menghibur Ibunya selama tiga minggu ini.
“Mbak, aku bingung, bukunya Mbak Lini apa sih? Soalnya aku gak boleh baca sama Ibu.”
“Kenapa begitu? Waktu itu beli di mana?” Aku bahkan tidak tahu bagaimana distribusi di Bandung karena diborong Frater Hary.
“Aku beli di kantor, di RS St. Yusup. Katanya buat nyumbang apa gitu. Aku beli dua. Kayaknya kok bagus bukunya. Di rumah dibaca Ibu sampai habis. Terus aku gak boleh baca. Katanya, ‘Pokoknya kamu gak boleh baca sampai Ibu ketemu Lini dulu’. Jadi aku ya gak tau itu buku isinya apa.”
“Oh ya, itu untuk nyumbang acara OMK mau kemping ke Ranca Upas bersama Bapa Uskup. Aku juga diundang. Makanya nanti sebelum ke Ranca Upas aku mampir dulu supaya bisa ngobrol sama Ibu.”
Bahkan pertanyaan “Buku itu isinya apa” menjadi retorik. Tak perlu penjelasan.
“Tapi memang sejak baca buku itu Ibu jadi lebih semangat, banyak berubah kok.”
Aku terharu.
“Syukur kalau Ibu bisa berubah. Karena justru Mama malah memutuskan hubungan setelah adanya buku itu.”
Ironis memang, beberapa orang sedemikian merasa terinspirasi oleh perjuanganku, sementara Mama malah memutuskan hubungan. Aku makin yakin, jika sesuatu yang tidak baik buahnya juga tidak manis. Setiap kubawakan dalam doa, buahnya semakin manis. Jika menurut Mama tidak baik, Tuhan memberkati buahnya sedemikian manis. Maka jadilah itu sesuatu yang baik.
Begitu telepon ditutup, aku merasakan kegembiraan keluarga itu. Kegembiraan atas sebuah semangat baru. Aku juga merasakan itu. Aku merasa semangat ketika merasa berguna dan dibutuhkan. Aku berhenti sejenak. Merenungi perasaan dibutuhkan itu. Mengapa perasaan sederhana itu sedemikian membuatku merasa hidup?
Aku ingat bertahun-tahun lalu ketika jaman sekolah. Ketika aku merasa sama sekali tidak berguna dan tidak dibutuhkan. Karena itu, aku merasa tidak bersalah untuk bergaul dengan alkolhol, shabu-shabu, ganja, dan seks bebas. Menghentikan kebiasaan itu tidak dramatis, hanya sebuah kesadaran yang datang tiba-tiba bahwa sejak aku pindah keyakinan, aku dibutuhkan untuk menjadi orang yang jauh lebih baik.
Ingatanku berikutnya ke sebuah kantor yayasan antinarkoba yang kuikuti. Perbincangan santai di tengah deadline majalah antinarkoba yang sedang dikerjakan itu cukup membekas di benakku. Bahwa orang cenderung terjerumus ke dalam jerat narkoba salah satunya karena merasa tidak dibutuhkan. Penyembuhan yang paling ampuh pun ketika keluarganya menerima kembali dan pecandu bisa merasa berguna, bukan klinik penyembuhan mana pun.
Kembali ingatanku melayang ke tempat lain. Seorang adik sahabat yang masih sangat muda, meninggal karena HIV/AIDS di usia sebelum usianya 30 tahun. Mungkin sekitar usia 27-29 tahun. Tertular HIV/AIDS lewat jarum suntik. Namun yang paling menyesakkan adalah kenyataan menjadi ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) datang ketika ia sudah pulih dari narkoba. Sampai ajalnya, kondisinya mengenaskan. Lagi-lagi penyebabnya karena merasa tidak dibutuhkan.
Kadang keluarga kecil kita tidak pandai mengungkapkan bahwa kita dibutuhkan. Tapi kesadaran bahwa “aku memang dibutuhkan” membuatku terus hidup lebih semangat. Saat ini, katakan pada semua orang bahwa mereka dibutuhkan. Anda akan memberi satu lagi “nyawa” bagi mereka.
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Buku My Life is An Open Book, Harapan, Pilihan
This entry was posted on Sunday, February 22nd, 2009 at 10:48 pm and is filed under Beri Satu Lagi Nyawa. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.









9:10 pm on October 8th, 2009
Kadang dalam keluarga memang lebih sulit untuk mengungkapkan cinta.. Ini kenyataan yg menyedihkan. Tp bagaimanapun kita tetap harus berusaha mengubah hal itu, mulai dari keluarga kecil kita sendiri… Keep the spirit, Friend! GBU
9:35 pm on October 8th, 2009
@ Angel: angin apa bongkar2 tulisan lama gw? wekekek
tengkiyu yes
3:36 am on January 7th, 2010
salam kenal mba….
ak adl orng yg ‘paling sering’ ingin bunuh diri, kenapa? jawabannya krn merasa tdk dibutuhkan. Itu ak lakukan dari usia smp sampai 28th, tp sampai skrg gak mati-mati, mungkin krn blm ajal ato dosanya msh banyak. Akhirnya ‘kebiasaan’ itu hilang sejak ak memiliki buah hati. Memang benar spt Mba bilang bhw perasaan dibutuhkan memberi semangat hidup. Ak skrg mjd org yg sangat takut mati krn kasihan dan takut anak2ku gak ada yg urus….
9:46 am on January 7th, 2010
@ Bianca: salam kenal juga Bianca. Syukur kalau sekarang sudah tidak berniat bunuh diri lagi
dulu aku paling berani kalau naik mobil malam2 sendrian. sekarang, nyupir di atas jam 10 malam suka was-was, apalagi kalau sama anak2. kuatir ada apa2 trus ga bisa pulang. GBU full