Butuh Jatuh Untuk Bangkit

Suatu hari, aku berbincang dengan seseorang yang cukup dekat denganku tapi lama sekali tidak ketemu. Terakhir kudengar kabarnya ia masuk bui.

“Apa kabar, Kak?” sapanya melalui layanan pesan instan malam itu.

“Hai! Apa kabar kamu?” tak terkira gembiranya aku mendapat kabar darinya lagi.

“Baik, Kak.” Mungkin ia di sana sedang tersipu malu.

“Di mana kamu?”

“Di rumah.”

“Ke mana aja? Kok ada kabar nggak sedap?”

“Kakak dapat kabarnya gimana?”

“Masuk bui. Bener?”

“Gitu deh, Kak.”

“Kena pasal psikotropika ya?”

“Iya, hehe ….”

Perbincangan berikutnya adalah cerita singkat pokok masalah masuknya ia ke bui. Empat bulan ia mondok di sana.

“Tapi ada bagusnya, Kak,” lanjutnya lagi.

“Kok gitu?”

“Aku jadi kenal Tuhan.”

“Menarik nih, cerita dong.”

Si “adik” ini satu-satunya di keluarganya yang belum dibaptis. Pergi ke gereja juga paling malas. Paling nakal. Paling antik. Bertemu Tuhan di bui? Ini menarik sekali!

“Setiap orang kan ada pendamping rohaninya gitu, Kak. Nah, Pendetaku ini bilang, ‘Emang kamu pikir Tuhan mau lihat kamu jatuh dan diam gitu aja?’ Aku bingung. Terus dia lanjutin lagi, ‘Tuhan mau lihat kamu bangkit, bukan berdiam diri seperti ini. Mungkin Tuhan juga mau kalau kamu bangkit dari dalam bui.’ Habis itu aku pikir iya juga ya. Masa Tuhan mau lihat aku jatuh dan diam aja? Pasti Tuhan mau aku bangkit. Sejak itu aku jadi rajin doa dan kebaktian. Sekarang aku sudah kenal Tuhan. Tuhan itu baik, Kak.”

Aku terdiam. Seseorang ini aku kenal betul. Hidup seenaknya, manja, tidak punya tanggung jawab, dan hal-hal lain seputar itulah. Padahal, ia bukan anak bungsu, seharusnya tidak begitu. Memang ia anak yang paling disayang oleh Mamanya di antara tiga saudaranya yang lain.

Aku masih tidak percaya. Kalimatnya yang tersusun rapi dan terlihat dewasa sungguh bukan ia yang kukenal! Tak sadar, mataku sedikit becek.

“Bahasamu lain sekarang?”

“Iya lah, Kak. Kan udah beda. Sudah tahu hidup ini mau ngapain.”

“Gitu ya?”

“Iya lah. Sudah kenal Tuhan masa masih sama aja kayak dulu? Kan sudah diampuni Tuhan.”

“Jadi, seandainya kamu nggak masuk bui, belum tentu kenal Tuhan dan belum tentu bangkit?”

“Iya.” Jawaban yang pasti dan mantap dari seseorang yang sudah melewati titik balik dalam hidupnya. Aku takjub.

Aku jadi teringat pada pengakuan dosaku beberapa waktu lalu.

Saat itu, aku mengakui sebuah dosa yang menurutku besar sekali. Tapi Romo Sahabat yang memimpin Sakramen itu hanya berkata pendek, “Berdoalah Bapa Kami dan Salam Maria.” Sudah? Hanya itu? Ringan sekali!

Usai Doa Tobat dan berdoa sendiri, kudapati ia sedang membaca beberapa surat.

Aku bertanya, “Mo, kok penitensinya ringan banget?”

“Mau yang berat?” aku diliriknya sekilas.

“Ya nggak lah … cuma heran aja.”

“Lho, Yesus itu sudah menebus dosamu di Kayu Salib, bukan buat dia lho, buat semua orang. Masa Romo malah ngasih penitensi yang berat?”

“Gitu ya?” aku manggut-manggut.

“Paling juga Dia bilang pergilah dan jangan berbuat dosa lagi. Kalau kamu berbuat dosa lagi berarti kamu belum bangkit. Waktu Yesus manggul salib juga Dia jatuh kan? Lalu Dia bangkit.”

Aku terkekeh.

“Kalau nggak jatuh, nggak bangkit ya, Mo?”

“Begitulah Jalan Salib Kehidupan.”

Ya, jalan Tuhan memang “antik” tapi secara logika memang benar. Bagaimana kita bisa bangkit kalau tidak pernah jatuh? Aku mengingat kembali beberapa teman yang hidupnya “datar-datar saja”. Nyaris tidak jatuh. Apakah tidak bangkit? Aku tidak mau gegabah menyebut begitu. Yang jelas, kehidupan spiritualnya dijalani “ala kadarnya”. Tidak ada sebuah titik yang membuat kehidupan spiritualnya meningkat apalagi berubah drastis.

Butuh jatuh untuk bangkit karena dengan jatuh dan kita menyadari bahwa Tuhan menunggu kita bangkit. Dengan kasih-Nya ia menebus dosa kita bahkan orang yang tidak mengenal-Nya sekalipun. Manusia mana yang sudi mengorbankan dirinya sampai tetes darah penghabisan bagi orang yang tidak dikenalnya? Untuk sahabat sendiri pun kadang masih pikir-pikir.

Tidak perlu dipikir-pikir lagi. Mari bangkit. Selamat Paskah!

Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , ,

This entry was posted on Thursday, April 8th, 2010 at 9:02 am and is filed under Butuh Jatuh Untuk Bangkit. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

13 Responses to “Butuh Jatuh Untuk Bangkit”

  1. pam
    10:17 am on April 8th, 2010

    Non, tulisanmu memang tidak pernah berhenti menginspirasi orang lain. Selamat Paskah.

  2. pam
    5:07 pm on April 8th, 2010

    selalu. tulisanmu mampu menginspirasi orang lain. setidaknya aku. selamat paskah non ….

  3. Lini
    5:31 pm on April 8th, 2010

    @ pam: selalu, kamu nemenin aku. selamat paskah mas!

  4. Udo
    12:21 am on April 9th, 2010

    @pam: kamu tinggal di Cibinong yak? Aku di Citeurep loh.. mari mampir..

  5. Lini
    10:56 pm on April 9th, 2010

    @ Udo: whoaa… mas Pam anaknya udah SMA Doo… ;-)

  6. fekhi
    4:18 am on April 12th, 2010

    selamat paskahhhh *telat* hehehe

  7. Lini
    12:14 pm on April 12th, 2010

    @ Femi: selamat paskah juga! *lebih telat ;-) *

  8. rachmat budi m
    8:47 am on April 23rd, 2010

    Ketika Tuhan menghembuskan ruh dalam jiwa kita sbg manusia, Tuhan selalu menemani kita dng kasih sayangnya; baik dalam senang maupun duka. Tinggal kita, ingin selalu bersamaNYA atau justru menjauh dariNYa. Tuhan selalu sayang, membebaskan pilihan kita, tentu dengan segala konsekuensinya. Maka, selain hati kita dibekali akal sbg alat penakar baik dan buruk. Itulah kelebihan manusia dr ciptaan lainnya. Kita manusia, mempunyai AKAL ! Ayo, gunakan dng baik.

  9. Max
    9:06 am on April 23rd, 2010

    Lini, wow, keren sekali refleksimu. Benarlah apa yang kamu katakan. Memang manusia perlu cobaan untuk membaharui atw meningkatkan hidup spiritualnya. Maka saya kira, pertanyaan kaum kurang percaya, “di mana Tuhan ketika saya jatuh, sakit, dalam penderitaan, dst.” terjawab dalam refleksi singkat seperti ini. Tapi syaratnya adalah harus percaya bahwa Tuhan selalu ada dan tidak akan meninggalkan kita dan cobaan tidak dilihat sebagai absen-nya Tuhan dari perjalanan hidup kita…

  10. Lini
    2:01 pm on April 23rd, 2010

    @ Rachmat: oohh… dirimu selalu setia untuk membaca tulisan2ku. jadi terharu. makasi ya mas :)

  11. Lini
    2:03 pm on April 23rd, 2010

    @ Max: sepakat! :)

  12. Emelia Agustina Lusy
    4:59 pm on April 24th, 2010

    wah, Lini hebat.ceritanya sangat menyentuh sekali, salut buat Lini.hm…aku juga pernah bertanya dalam diri ku sendiri, mengapa setiap setelah mengaku dosa, Romo hanya memberi penintensi Bapa Kami, Salam Maria dan Doa Tobat, maksudnya hanya segitu aja.pikir, mungkin dikasih yg berat2 gitu. tapi setelah membaca kisah ini, aku jadi tahu, mengapa bisa demikian (karena ga berani mau tanya dg Romo nya, hehehehe….),terimakasih Lini.tetap terus berkarya.GBU

  13. Lini
    7:24 pm on April 25th, 2010

    @ Emelia: matur tengkiyu sangeeettt :) berkah dalem full

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>