Dari Ibu Rumah Tangga Jadi Pembantu

Sebenarnya tadi pagi waktu nyiapin anak-anak berpakaian mau berangkat ke sekolah sambil nonton berita pagi sudah terpikir mau nulis. Keliling-keliling dulu, malamnya sakit kepala. Eehh… keburu Femi nulis di blognya soal yang sama. Kena getaran yang sama? Gak tau hehehe…

Tadi pagi itu, di berita pagi sebuah tivi swasta, narasumbernya adalah seorang penyalur PRT dan Moza Pramita. Lupa persisnya, tapi inget banget Moza bilang, “Dari ibu rumah tangga jadi pembantu.” Sampai akhir tayangan ga ada penjelasannya – apakah Moza ngeledek temen-temennya di facebook atau pernyataan dia, atau apa lah – justru malah tertawa. Kalau tidak salah, Moza malah sempat ngomong sambil ketawa, “Saya nyapu berantakan…” Apa maksudnya? Yang jelas, pernyataan itu bikin aku marah! Emosi jiwa, jek! Dari ibu rumah tangga jadi pembantu? Merasa hina gitu?

Kita mundur dikit deh, yuk. Ibu rumah tangga. Apa sih job desc-nya? Pertama, sudah pasti ngurus keluarga yaitu suami, anak dan diri sendiri. Ngurus pembantu? Wah kayaknya belum pernah dengar ada nyonya ngurus pembantunya. Bukan justru pembantu yang ngurus nyonya? Kedua, sudah pasti ngurus rumah. Entah itu jadi mandor alias manajer operasional atau jadi eksekutornya. Mulai dari keuangan rumah tangga (direktur keuangan) sampai yang remeh-temeh urusan nyapu-ngepel-cuci-setrika. Ketiga… hm… ketiga apa ya? Rasanya dua aja udah ga berhenti, gimana mau tiga?

Jadi, seandainya ketika menjelang pernikahan ada tanda tangan kontrak antara suami dan istri apa saja job desc mereka, harusnya sudah jelas apa yang akan dikerjakan. Termasuk kalau aku tanda tangan kontrak, aku minta klausul yang berbunyi, “PRT akan dicoba untuk digunakan jasanya, tetapi tidak mutlak.” Penjelasannya adalah bahwa suami harus kooperatif karena rumah tangga bukan tanggung jawab PRT tetapi tanggung jawab tuan dan nyonya. Sejauh mana tingkat kerja samanya? Jika karena satu dan lain hal PRT tidak dapat diandalkan (mudik lebaran atau istrinya bisa sakit kepala karena tidak bisa pakai jasa PRT dan memutuskan untuk ngurus sendiri), maka suami mutlak untuk bekerja sama. Konkritnya, ya disesuaikan aja dengan kondisi masing-masing. Mutlak bekerja sama bukan berarti mutlak nyapu-ngepel-cuci-setrika.

Sebetulnya, jika tuan dan nyonya sungguh menjalankan job desc-nya dalam rumah tangga, tentu tidak ada panic attack ketika PRT mudik. Yang lebih penting lagi, tidak ada downgrade karena harus turun ke lapangan untuk ngurus rumah.

Kenapa banyak tuan dan nyonya merasa dirinya downgrade ketika turun ke lapangan? Orang-orang macam ini sungguh patut dikasihani. Mereka terkungkung dalam pikirannya bahwa tuan dan nyonya adalah atasan dan harus memiliki bawahan. Pasutri ini tidak tahu – atau tidak mau tahu – bahwa pada akhirnya ada saatnya mereka harus turun ke lapangan. Bahkan yang lebih ekstrim, pasutri ini merasa bahwa turun ke lapangan rumah tangga adalah pekerjaan “babu” dan “kacung” yang hina. Aku jadi curiga, jangan-jangan konsep pernikahannya adalah bos dan staf? “Ketika menikah nanti, saya akan punya staf yang bisa saya perintah” begitu kah? Jika iya, tidak aneh ketika PRT mudik kemudian panic attack, siapa yang akan nyapu-ngepel-cuci-setrika?

Omku seorang Direktur Keuangan menjelang pensiun di sebuah BUMN. Gajinya berapa? Kira-kira aja sendiri. Sudah sekitar tiga-empat tahun ini sejak kepulangan PRT-nya yang terakhir dan tidak menemukan lagi PRT sebaik yang terakhir itu, Tanteku tidak berniat untuk menggunakan jasa PRT dalam. Ada seorang asisten yang datang pagi, cuci-setrika-nyapu-ngepel, siang atau sore pulang. Masak? Dimasakin tetangganya. Selebihnya? Sendiri aja. Sesekali Omku ini masih turun ke lapangan juga, nyapu-ngepel. Bayangkan, Bapak Direktur Keuangan nyapu-ngepel rumahnya!

Ada contoh lain lagi. Bapak Angkatku pensiunan Direktur Keuangan sebuah bank milik BUMN lain. Setelah pensiun kerjanya apa? Ngurus cucu! Nyuapin, mandiin, nemenin tidur siang, ngepel ompolnya, semuanya! Fasih? Fasih!

Kesamaan kedua Bapak ini adalah sama-sama dibesarkan di keluarga mandiri tanpa pembantu. Bapak Angkatku besar di kampung, Omku besar di kota, tapi ditinggal Bapaknya pergi ke Surga sejak kecil. Bisa karena biasa. Tentu saja!

Sekarang giliran para ibu. Tanteku tadinya anak manja sejak kecil. Tidak jelas apakah Nenek dulu punya PRT. Yang jelas hidupnya tidak sederhana seperti Omku. Ibu Angkatku dibesarkan lebih mirip dengan Bapak, keluarga mandiri dan sederhana. Kalau Ibu Angkatku sudah biasa sejak kecil, Tanteku justru baru belajar tahun-tahun belakangan ini.

Kira-kira, apa pendapat para tamu kalau berkunjung dan pasutri ini asyik turun ke lapangan dengan PDL-nya (Pakaian Dinas Lapangan)? Mereka justru bangga dengan emansipasi prianya. Emansipasi pria? Gak salah?

Tidak salah! Emansipasi pria. Duluuu… RA Kartini sudah merintis emansipasi wanita. Lihatlah sekarang, para tuan  juga tak mau kalah dalam mengurus anak-anak dan rumah. Artinya? Para tuan  juga mau menjadi aktif dalam urusan rumah tangga, bukan hanya pasif dan pasrah diatur oleh para nyonya. Makan disediakan, baju disediakan, tinggal tidur, tinggal makan. Suka tidak suka, harus terima. Itu duluuu… Sudah basi… Sekarang jamannya lain. Para tuan bisa protes. Caranya? Ikut masak, ikut belanja, ikut bersih-bersih. Cuma protes tapi gak mau ngerjain itu lebih jadoel lagi. Nanti dikomentari “gayanya OrBa” hehehe…

Kembali ke soal emosi jiwa dan PRT tadi. Kalau dua orang Bapak yang aku segani dan hormati itu aja mau turun ke lapangan, kenapa para nyonya jadi merasa downgrade? Kalau dua orang bapak dan masih banyak bapak lainnya juga turun ke lapangan, sebelah mana letak hinanya?Bukankah melayani itu juga salah satu bentuk bahasa kasih?

Liburan Lebaran ini, Si Ayah membayar semua hutangnya dalam urusan rumah tangga dengan menu utama: membereskan “gudang” dan cat pagar. Hasilnya? Aku bisa cat kuku setelah ngecat pagar! Hebat kan Si Ayah?

Menurut pendapatku yang “aneh” ini, para nyonya yang merasa downgrade memang butuh upgrade. Bukan karena apa yang dikerjakan – ke salon atau ngepel, ke mal atau masak – tapi konsep dirinya tentang menjadi seorang nyonya yang seharusnya menjadi ratu rumah tangga. Seorang ratu tidak terpengaruh apakah dayangnya ada atau tidak, karena PRT bukan perdana menteri. Kecuali jika para nyonya itu berpendapat bahwa ketidakhadiran seorang PRT memang bisa mempengaruhi stabilitas domestik rumah tangga…

Kapan terakhir kali makan masakan suami Anda? Aku baru kemarin, hari Minggu pagi. Dadar telur plus sosis sebagai sarapan. Hmm… Mau?



Tertarik dengan yang ini?

Tags: , ,

This entry was posted on Tuesday, September 29th, 2009 at 1:29 am and is filed under Dari Ibu Rumah Tangga Jadi Pembantu. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

25 Responses to “Dari Ibu Rumah Tangga Jadi Pembantu”

  1. fekhi
    4:31 am on September 29th, 2009

    Frekuensinya lagi sama, Lin.
    Sudah seminggu yang lalu pengen bahas ini, tapi baru bisa ditulis hehehehe…

    Iya sangat disayangkan kalau ada yang merasa aneh ngerjain tugas rumah lalu menganggap dirinya lebih layak ngerjain yang lain daripada urusan rumah. Padahal, apa enak hidup selalu tergantung sama PRT? Dan PRT juga kan pengen berkembang kariernya hehehe

  2. shinta miranda
    6:58 am on September 29th, 2009

    Setuju-setuju…sejak anak2 msh kecil, sy jg membiasakan anak2 utk tdk semen-mena memperlakukan pembantu rt. Apa yg bisa dikerjakan sendiri, ya hrs sendiri, ga sebentar2, bi…., bi….
    Jadi, saat pembantu tdk ada, kami ga pernah panik. Semua dilakukan tanpa hrs menekuk muka, menggantungkan pekerjaan ke anggota keluarga yang lain….Mari kita kerja sama , kerja sama , kerja sama…(itu lagu yang selalu kami nyanyikan, kalau ga ada pembantu, he he..).

  3. tya
    7:38 am on September 29th, 2009

    hai mbak lini,
    gatel ah kalo ga komen :)
    dr awal nikah aku sama suami juga ga pake ‘mbak’.
    dulu ada yg nyuci n strikain,tp semenjak pindah ke BSD, semuanya kami kerjain sendiri.
    untungnya suamiku bukan tipe suami yang ‘semena2′.
    tiap wiken dia selalu rela nyapu n ngepel rumah kami.
    bahkan pas aku tinggal rekoleksi sama murid2ku 2 hari, dia nyuci, masak dan ga ketinggalan tugas rutinnya, nyapu n ngepel.

    jadi memang ga pernah ada pikiran bahwa melakukan pekerjaan rumah tangga itu adalah suatu yang jelek buat laki2.
    dan setuju banged sama mbak lini, dalam suatu perkawinan memang dibutuhkan kerjasama.
    dalam semua hal :)

  4. Riris E
    7:40 am on September 29th, 2009

    sejak kecil ibuku membiasakan kami untuk mandiri. Kata ibu,”Namanya juga Pembantu, tugasnya cuma bantu-bantu. Jadi jangan berharap si Mbak harus mengerjakan semua pekerjaan rumah dari A sampai Z”

    Jadi sekarang, biarpun sudah berumah tangga dan memiliki pembantu, kami suami istri tetap turun tangan untuk hal-hal yang tidak bisa dikerjakan oleh pembantu.

  5. Lini
    8:26 am on September 29th, 2009

    @ all: matur tengkiyu. tapi sejauh ini yg komen baru para ratu rumah tangga. para “majikan” apa kabar? wekekek…

    @ Femi: gelombang brp? :D

  6. Ratih
    9:26 am on September 29th, 2009

    Sebenernya mungkin masalah kerelaan hati… hehehehe… 10 tahun yg lalu aku ga menggunakan jasa asisten, tapi kemudian karena anak 3 kecil2 mau ga mau aku menerima bantuan. Setelah itu keenakan mungkin yaaa… tinggal perintah, dan rasanya sekitar lebaran tuh menderita banget.
    Tapi entah mengapa, tahun ini aku mencoba untuk menerima bhw menjadi wanita itu luar biasa … rasanya sangat enjoy ketika para asisten berlibur, dalam hati sih .. inginnya mereka tidak usah balik lagi hehehehe… tapi kok ya badan yg makin renta ini berteriak protes hehehehe … tapi setidaknya kupikir, aku sekarang malah merasa menjadi ratu di rumahku sendiri, ketika bisa merencanakan semua kegiatan di rumah. Bahkan masak yg dulu selalu jadi momok bagiku, sekarang kok ya rasanya gampang aja hehehehehe ….. dan yang paling bahagia, memandang mata anak2ku yg bersinar bahagia, karena mama lebih banyak waktu bagi mereka.

  7. Fonny
    9:44 am on September 29th, 2009

    setuju ama Lini dgn ungkapan: harus berani upgrade diri.. Aku juga dulunya gak biasa, secara di Indo juga gak ada pengalaman urus rumah, urus anak, dll maklum anak kost… tapi setelah terbiasa, enak juga gak pake si Mbak walaupun capek sih…Punya si Mbak terkadang malah ribet juga. Karena kadang dikasih hati si Mbak jadi besar kepala karena merasa dibutuhkan. Kalo gak dibaikin gak betah, lalu cari majikan lain…Banyak temen juga pusing pake pembantu yang suka bohong lah, yang pinjam uang terus lah,yang mencuri lah, dsb. Walaupun banyak juga yang betah bertahun2 seperti si Mbak setia di rumah keluargaku yang sudah kerja dari aku kelas 5 SD, so… udah lebih dari 20 tahun…nah yang kayak gini, gak mudah dicari:)
    good reminder buat gak berpikir bahwa melakukan tugas2 Ibu Rt menjadikan diri downgrade…karena berpikir seorang nyonya harusnya ke salon, arisan, kerja, ato apa aja yang ‘lebih’…

  8. Martina
    10:06 am on September 29th, 2009

    Walah Lin…..aku punya pembantu gak punya pembantu ya ttp hrs hard working…! that’s why aku lebih suka pembantu yg pulang hari. Pagi datang…sore pulang…! jadi anak2ku gak ada yg jadi anak pembantu. Kerjaan yg bisa dikerjakan ya dikerjakan aja….kadang suami pun turun tangan nyuci piring ato nidurin anak yg lagi rewel….! Tinggal gimana komunikasinyalah….! Pembantu kan jg manusia…perlu libur…perlu istirahat…(pembantuku pasti libur kalo tgl. merah). Emang knp sih kalo jd pembantu di rumah sendiri? Cita2 terbesarku malah jd ibu full time di rumah…biarpun saat ini blum kesampean…..hihihi..

  9. martina
    10:18 am on September 29th, 2009

    Aku lebih suka pembantu yg pulang hari. Pagi datang..sore pulang. Jadi anak2 gak ada yg jadi anak pembantu. Aku & suami betul2 ngurus mereka dan beres2 rumah mulai sore sampai pagi. Ngerti sendiri kan, biarpun rumah bersih waktu ada pembantu ya ttp saja balik jd kapal pecah kalau anak2 dah bangun. Pembantu kan jg manusia…perlu istirahat…perlu libur..(pembantuku pasti libur kalo tgl. merah). Lagipula….itu kan rumah kita sendiri…ngapain merasa jd pembantu kalo kerja utk rumah sendiri & utk keluarga sendiri…..aneh…!!

  10. Muhidin Roy
    10:20 am on September 29th, 2009

    ikut comment dikit ya Lin.
    pada dasarnya yg namanya PRT tu kan cuma membantu jadi jika tidak adapun tidak perlu panik. byk memang para pria yg memang merasa pekerjaan rumah tangga itu urusan wanita. tp jika mengkaji lebih dalam tentang arti rumah tangga itu sbenarnya adalah kerjasama antara suami dan istri dalam berbagai hal termasuk urusan bersih2 dan urusan rumah tangga lainnya. masih byk kaum adam beranggapan semua pekerjaan rmh tangga itu urusan istri, dan lebih parahnya menganggap jika pekerjaan rumah tangga di kerjakan suami mereka malu dan dianggap suami yg takut istri atau derajad mereka menjadi turun bahkan sperti terinjak2. mungkin hal itu juga yang menyebabkan para istri menjadi panik ketika PRT mudik. padahal dalam agama Islam tidak diajarkan seperti itu.memang jika mampu maka suami harus menyediakan jasa pembantu dalam rumah tangga tapi jika tidak atau ada halangan lain maka si suami jg harus bertanggung jawab dan turun tangan dalam menangani urusan rumah tangga.
    Zaman sekarang dimana byk istri yg berkarier memang byk yg melupakan tugas2nya dirumah dan menjadikan pekerjan rumah tangga adalah sesuatu yg berat. Padaha jika mereka sadar, menurut gw hal tersebut adalah memang bagian dari tanggung jawab dalam kehidupan rumah tangga sehari2 baik karier atau tidak. jadi tidak ada istilah keberatan. apalagi menganggap diri sebagai PRT. toh semua jg adalah ibadah jika dilakukan dengan sadar dan ikhlas. mkin mereka yg merasa keberatan dengan pekerjaan rumah tangga (suami/istri) tidak sadar arti ibadah itu sendiri padahal baru selesai puasa…he..he..

  11. Lini
    12:12 pm on September 29th, 2009

    @ Femi: karir pembantu puncaknya jadi apa ya, Fem? :-p
    @ Shinta: ajarin lagunya dunks :D
    @ Tya: ini dia penganten baru… keep up the good work sampe aki-nini yaa…
    @ Riris: itu dia, pembantu ya membantu :D
    @ Ratih: salah satu inspirasinya perjuangan lo nyuguhin es teh manis buat anak2 gw. hehehe
    @ Fonny: jadi yg downgrade yg nyuci piring apa nyalon? wekekek
    @ Tina: cita2mu luhur mulia, nduk wekekek
    @ Muhidin: salah satu kriteria milih suami dulu ya yg mau ngurusin rumah hehehe…

    jadi inget salah satu episode “Masihkah Kau Mencintaiku” di RCTI beberapa waktu lalu. pasutri nyaris cerai hanya karena istri yang tidak kerja kantoran ga mau ngurus rumah dan anak2. jadi waktu pembantu mudik yg ngerjain justru suaminya. emang sih, dandanan istrinya model nyonya salon ;p

  12. Becherra
    1:33 pm on September 29th, 2009

    (Dear Lini, ikutan komen yah….)

    Segitunya ya pemikiran downgrade…. hehe… saya justru semangat sekali menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, mumpung pembantu ga ada, jadi bisa total berfungsi di rumah, dan juga mumpung lagi libur kantor…

    Memang pekerjaan rumah tangga itu melelahkan, dan rasanya tidak ada hentinya… kadang timbul angan-angan sewaktu mengerjakan tugas-tugas rumah, “andaikan setoran dana segar dari suami saya selancar cucian pakaian kotor yang dia sediakan buat saya, yang tiada henti-hentinya mengalir”…. hihi…. tapi paling tidak cucian itu membuat saya kian semangat menyelesaikannya sebelum sore tiba…

    Kadang pula, karena demikian niatnya saya mengerjakannya, saya tidak mau diganggu oleh jadwal jalan-jalan anak bungsu saya. Dan akhirnya si bungsu pergi berdua dengan papanya ke mal terdekat. Tapi lebih sering saya ajak si bungsu beredar di sekitar tempat saya menyetrika, atau ikut duduk di lantai sementara saya menyiapkan masakan, sambil mengobrol atau bertukar cerita….

    Saya bahkan tidak terlalu memikirkan atau menuntut kapan pembantu saya bisa kembali bekerja. Sampai hari ini, saya berstatus ibu rumah tangga plus-plus : ibu rumah tangga dan karyawan kantor (karena ngarep gaji… hehe… akibat paling menyenangkan adalah : si bungsu ikut “ngantor” sepulang sekolah.

    Memang melelahkan, tapi juga menyenangkan, karena barang-barang yang sempat “hilang” sewaktu ditangani pembantu, justru bisa ditemukan kembali laksana harta karun terpendam….hihi….

  13. Lini
    1:44 pm on September 29th, 2009

    @ Ira: iya bener Cie. kalo anak2 kehilangan barang2, aku bisa bilang, “Penghuni rumah ini cuma kita ber-4, jadi ga mungkin ada yang ambil ato sembunyiin wekekek
    anak2 juga suka ikut miting ;p

  14. si Toing
    4:57 pm on September 29th, 2009

    Liniiii … komen gw udah di blognya Fekhi … hehehe ….. ;)

  15. Lini
    5:11 pm on September 29th, 2009

    @ Intan: meluncuuurrr…

  16. Ronaldo Rozalino
    5:53 pm on October 1st, 2009

    Cerita yang mengandung Arti

  17. Lini
    6:02 pm on October 1st, 2009

    @ Ronaldo: matur tengkiyu :)

  18. Aimee
    7:29 pm on October 1st, 2009

    Lin, aku setuju banget. Kita kan sama2 Ibu RT yang udah lama gak punya pembantu. And feel proud that we could manage with the help from our kids. Pembantu kan hanya membantu tugas2 kita yg gak sempeet kita kerjain.

  19. Lini
    7:33 pm on October 1st, 2009

    @ Aimee: yep setuju. itu job desc PRT yg bener :D

  20. wahyu scj
    10:47 pm on October 1st, 2009

    wah terkadang ga terbayangkan memang ketika masih muda, pacaran belum “memanggul” si anak bahwa akan berepot-repot mengatur banyak hal di dalam rumahnya. tetapi ketika masuk asyik juga ya…

  21. Lini
    7:49 am on October 2nd, 2009

    @ Wahyu: iya mo hehehe

  22. Angel Li
    8:54 am on October 2nd, 2009

    waaaa, uda banyak yg komen. Aku mah setuju banget, Lin. Ada yg menganggap derajat turun bila harus nyapu, ngepel, nyuci… Aku malah senang acara bersih2, sekalian bisa bersihin stress…hehehe. Keluarga suamiku sering nanya, di indo gaji PRT kecil begitu, kok gak pke PRT? Aku jawab: belum butuh. Soalnya spt Danny, si misua pun suka ngebantu, malah dalam kerja sosial di rumah itu, hub kita jd lebih dekat, dia jd bisa ikut ngerasain suka duka wanita sbg Ibu RT. Lagi belum tentu loh Istri yg punya banyak pembantu itu lebih maju dr Istri yg gak punya pembantu :-)

  23. Lini
    12:09 pm on October 2nd, 2009

    @ Angel: tinggal job desc ngurus anak ya Ngel. tenang aja… ntar juga kbagian wkwkwk

  24. ayu
    5:42 pm on December 18th, 2009

    Salam kenal,
    Kalau aku juga tidak setuju dg istilah down grade.Toh kalau di luar negri semua sendiri.Sayangnya dulu cara pandang suamiku agak primitif.Dia nggak ikhlas kalo sesekali msh hrs urus anak,cucu piring gitu.Dianggapnya aku jauh dari sempurna kalau dia masih harus turun tangan.Anehnya dia dari keluarga tidak mampu yg ibunya selalu meladeni ini itu dan aku dari keluar sangat mampu namun orgtuaku bergaya hidup modern. Lebih pedih lagi saat kami masih tinggal di rumah org tuaku.kami memiliki 2 anak,1babysit,1pembantu krn rumahnya terlalu besar.Jadilah diriku tiada harganya di mata suamiku.Pdhal memanage para helper itu kan tidak mudah,mumuet liat tingkah lakunya.blm lagi ribut antara org belakang,God help me!
    Dan suamiku memang kurang menghargai kerja otak,arti kerja untuk dia adalah handyjob

    Lalu kami pindah ke rmh kecil.Saya menolak utk punya helper.Karena saya enggan ada org luar di rmh sekecil ini.Saya kerjakan semua sendiri plus 2anak batita.Tp tetap saja suami saya tdk menghargai krn dia msh hrs turun tangan.Cape juga dong kita membabu lahir batin..masih mending babu bergaji.

    Akhirnya melalui proses yg panjang,Ayah saya berbicara dg suami saya mengenai urusan rumah tangga.Plus saya beri info mengenai kewajiban suami istri dalam islam.
    Ayah saya seorang direktur yg blm mau pensiun,tiap pagi masih menyiapkan sarapan untuk adik saya.Menyapu saat melihat ada sedikit debu tanpa memanggil pembantunya.Saat kami msh kecil,beliau yg memandikan kami,mengantar dan menjemput sekolah bergantian dg ibu saya.Semua itu atas dasar CINTA.Bahkan pernah saat mampir ke rumah saya untuk melihat cucu2,dg perpakaian rapih,berdasi,berkaos kaki,beliau menyapu dan mengepel rumah dan halaman saya tanpa bicara apapun.Love u dad!

    U know what girls skrg?Suamiku sebelum kerja sdh membereskan rumah,kadang2ngasih mkn anak juga,(tp tetep nyuci nyetrika jatah dirikiu hahaha),dan semua itu dg IKHLAS.Bahkan sdh tdk menuntutku utk msh tiap hari.Bakhan kadang dia sdh membeli mknan di warteg atau dmn gitu utk ku..Love my hubby..

    So,semua itu ada pada cara pandang dan pengetahuan yg dipunya.baik itu pria maupun wanita.Prinsip yg salah jgn dipertahankan,cari tau yg benar bgmn..
    Semoga kisah td bisa jd inspirasi siapapun itu..;)

  25. Lini
    11:12 pm on December 18th, 2009

    @ Ayu:
    makasi untuk sharingnya :)

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>