Di Balik “Satu Tahun Satu Bulan Satu Hari”
Fiksi Pertama Setelah 14 Tahun.
Beberapa saat mengamati para Nuliser di Yuk Nulis! yang mulai merambah ke fiksi, aku jadi tergoda juga. Bingung juga, mau tulis apa ya? Tiba-tiba ide itu muncul ketika Si Sulung yang senang mendengarkan lagu “I Will” The Beatles dari ponselku. Ah itu dia!
14 tahun tidak menulis fiksi, rasanya mulai dari awal lagi. Perlamunan dan pengamatan pun digelar. Diawali dengan mencari “bentuk” yang menarik dan beda. Fiksi memang fiksi, tapi apa gak bisa dibikin beda ya? Apa ya yang bikin beda…
Tiba-tiba aku ingat dengan beberapa sahabat dekat yang memang antik, lain dari yang lain. Karena antiknya itulah makanya kami sangat dekat. Seolah-olah kami diciptakan untuk jadi orang “aneh” karena berbeda. Itu dia! “Aneh” karena berbeda. Antik!
Mencari-cari karakter, setting, konflik. Hm… susah juga ya? Meskipun fiksi, kan harus terlihat logis, realistis, detil. Kayaknya menantang nih. Pengalaman berteater selama bertahun-tahun plus jadi sutradara teater selama 2 tahun rasanya kok gak cukup ya? Bagaimana caranya supaya imajinasi ini sungguh nyata?
Nama Riri kuambil dari nama Almarhumah Kakakku, Nieke Lisnafiari Putri (Riri) yang tak sempat kukenal karena hidupnya hanya sehari. Karakternya “mirip Lini”. Nama Ray kuambil dari film favoritku “Ray” yang dibintangi Jamie Foxx. Karakternya gabungan beberapa orang sahabatku. Berbagai properti diambil dari barang-barang kesukaanku dan semua orang terdekatku plus sedikit imajinasi liar (MacBook Pro berlapis titanium limited edition? Oh, plis…!).
Setting Yogya kuambil karena dari empat kota yang paling kukenal – Jakarta, Bandung, Purbalingga, Yogya – Yogya yang paling etnis dan cukup eksotis, ditambah kultur Jawa yang lebih kupahami ketimbang Betawi atau Sunda. Setting San Fransisco? Hm… itu kota yang unik buatku. Gak ada alasan khusus sih.
Beberapa kejadian diambil dari kejadian nyata yang tidak saling berhubungan dengan orang yang tidak saling kenal. Seperti potongan puzzle yang tidak berhubungan tapi dirajut jadi satu. Bagaimana caranya supaya tidak ada celah?
Membuat kisah cinta yang tidak picisan ternyata susah-susah gampang. Perlu pengamatan lebih lanjut pada beberapa sahabat dekat yang antik dan “norak jaya” itu tadi (baca: selera humornya agak aneh dan hanya bisa dipahami segelintir orang). Ungkapan-ungkapan cinta yang tidak lazim dan jauh dari romantisme. Sedikit banyak terbantu karena Si Ayah juga tidak romantis babar blas! Makasih, Hun…
Kayaknya kalau cuma cerita aja gak seru ya? Musti ditambahin apa yang asik? Hm… lagu! Kalau ada kabaret yang berperan sambil bernyanyi dan menari, tulisan juga bisa begitu kan? Apa namanya? Aku kurang tau (duh, kuper deh!). Yang jelas, lagu-lagu dari ponsel yang kujadikan ringtone harus ada di situ. Sedikit contek lirik di internet, dengarkan mp3-nya supaya suasananya kental.
Ternyata, menciptakan keutuhan cerita agar detil dan realistis sungguh menguras tenaga. Setiap selesai menulis sedikit bagian, tak urung napasku tersengal-sengal. Rasanya capek sekali.
Di sisi lain, rasanya tak ingin berhenti mengembangkan detil deskripsi dan konflik. Bisa-bisa jadi novel sendiri nih. Sejauh ini, aku sangat puas dengan fiksi “Satu Tahun Satu Bulan Satu Hari” meskipun gatal untuk mengembangkannya terus.
Belum terpikir untuk membuat fiksi berikutnya. Entah apakah masih sanggup membiarkan imajinasiku liar tak berbatas lagi. Seorang sobatku dengan “terpaksa” memberi label “Lini memang liar, tapi imajinasinya liar luar biasa!” (oh noo…!!). Yang jelas, aku mendadak jadi perempuan Jawa betulan!
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Fiksi, Purbalingga
This entry was posted on Wednesday, September 9th, 2009 at 9:09 pm and is filed under Di Balik “Satu Tahun Satu Bulan Satu Hari”. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.









2:16 pm on September 10th, 2009
oh begitu toh latar belakangnya.
2:45 pm on September 10th, 2009
[...] *Untuk (Alm.) Nieke Lisnafiari Putri (Riri). Fiksi pertama setelah 14 tahun. Silakan bernyanyi sambil membaca. Inspirasinya dari lagu “I Will” The Beatles yang sering didengarkan Si Sulung dari ponselku dan sering mengagetkan karena kukira ada telepon masuk. Semua lagu yang ada di cerita ini menjadi ringtone di ponselku. Sangat menguras tenaga. Entah apakah masih sanggup membuat fiksi lainnya. Selengkapnya baca Di Balik “Satu Tahun Satu Bulan Satu Hari”. [...]
3:19 pm on September 10th, 2009
Nggak popo….emang mirip kok……..!
3:26 pm on September 10th, 2009
Hohoho….bingung aku mba! piye to iki cerita ne opo? tapi apeik sih!!!
4:11 pm on September 10th, 2009
@ Frans: ho-oh
@ Tina: hihihi
@ Frido: ini cerita dibalik penulisan fiksi “Satu Tahun Satu Bulan Satu Hari” silakan klik link di atas
9:10 pm on September 17th, 2009
Do like it so much, Lini.
9:41 pm on September 17th, 2009
@ Nancy: matur tengkiyu…