Do I Know You?
Beberapa hari lalu, aku menerima sebuah lelucon di inbox-ku. Sebuah lelucon yang sebetulnya sungguh lucu. Mungkin karena aku sudah baca sebelumnya, jadi tidak terlalu lucu lagi buatku. Ditambah perasaan gundah gulana, marah, sakit hati dan segala rupa yang campur aduk jadi satu akibat menemukan dua tulisanku diobrak-abrik orang, sungguh aku tidak bisa tersenyum apalagi cengengesan seperti biasa. Tulisan yang kubuat dengan kesungguhan hati di tengah keributan Si Sulung dan Si Bungsu diubah begitu saja apalagi seolah-olah menjadi “miliknya”.
Seorang teman yang berniat menghibur malah aku tegur dengan kelayakan sebuah pengutipan, “Cantumkan sumbernya.” Sialnya, dari sekian banyak penerima pesan itu, tak satupun kukenal yang tentunya juga tidak kenal aku dong. Sontak mereka marah karena aku dianggap berlebihan, hiperbolik, lebay, merasa “sok ngetop” dan sebagainya.
Aku tidak kenal mereka, mereka tidak kenal aku. Itu bukan masalah. Masalahnya adalah ketika mereka mencap segala atribut dengan sesuka hati, itu menjadi masalah. Masalahnya adalah “Do I know you?”
Sungguh, aku sangat tidak peduli segala label negatif yang ditempelkan di jidatku. Aku bukan selebriti yang butuh dielu-elukan. Aku hanya orang biasa yang butuh teman di saat susah dan senang. Pun ketika seseorang yang tidak kenal tiba-tiba bersikap sedemikian rupa. Marah? Kecewa? Manusiawi kan?
Aku sampaikan pada temanku, “Mungkin sebaiknya jika membagi sesuatu dibatasi pada mereka yang saling kenal. Sehingga terhindar dari reaksi di luar dugaan seperti itu.” Aku dan temanku dalam posisi yang sama-sama tidak enak. Dia tidak enak karena merasa aku tersinggung, aku tidak enak karena hampir semua temannya di dalam pesan itu terkontaminasi sikapku dan jadi marah.
Menuntut memang lebih mudah daripada mengerti. “Hargai dong dia yang berniat menghibur lo,” atau “Lo lagi kena masalah, gw ga kenal lo jadi jangan bawa-bawa ke sini masalahnya,” atau “Bersikap dewasa dong!” Itu baru segelintir dari sekian banyak tuntutan kita pada orang lain.
Kamu memang tidak mengerti masalahku. Mungkin juga tidak akan pernah mengerti karena kamu tidak mau mengerti. Yang penting adalah aku tidak minta kamu untuk mengerti karena kita tidak saling kenal dan kamu tidak terlibat. Aku juga tidak akan mengatakan, “Seandainya kamu yang mengalami pasti sikapmu akan bertolak belakang.”
Maaf kalau aku makin tidak berminat berteman dengan orang macam itu. Manusia yang berteman, tidak akan sesuka hati memberi label negatif pada temannya. Tidak perlu dukungan yang menghebohkan, cukup katakan, “Aku turut simpati.” Itu lebih dari cukup. Atau diam saja, itu juga sudah cukup. Aku semakin yakin bahwa masih sangat banyak manusia yang sungguh ingin berteman dengan baik.
Teman saling menjaga, bukan saling menuntut. Teman menerima kita utuh apa adanya, dengan segala macam kekurangan yang kita punya. Ketika teman-temanku menjadikan kekuranganku sebagai guyonan, aku menganggap itulah bentuk perhatiannya padaku.
Bahkan ketika seorang teman pun melabeli macam-macam, aku hanya bisa menyanyikan lagu Saykoji, “So what gitu loh…”
Terima kasih Tuhan, Kau kirimkan teman yang luar biasa padaku.
Buat temanku yang kemarin menghiburku, terima kasih banyak. You are such a wonderful friend. Boleh aku perbaiki kesalahanku kah?
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Curhat, Kasih, Luka Batin, Maaf, Syukur
This entry was posted on Tuesday, August 11th, 2009 at 7:43 am and is filed under Do I Know You?. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.








1:53 am on September 6th, 2009
sesama teman malah mungkin sudah tak perlu dihambur kata;
“terima kasih” pun “maaf”…
Rasanya seperti hendak bilang,
“terima kasih” pada ORANG ASING di pinggir jalan saat pinjem korek untuk nyalakan rokok.
Rasanya juga seperti bilang,
“maaf” pada ORANG TAK DIKENAL yang tersenggol tak sengaja di terminan BLOK M
Nah, karena kita masih belum kenal dan harus nanya “Do I Know You?” Maka izinkan aku pakai kedua kata itu.
Terima kasih, tulisanmu asik juga.
Maaf, bila komentarku keluar topik
5:37 am on September 7th, 2009
@ Syam: sah-sah aja komentar keluar topik. saya juga suka gitu
salam kenal
12:20 pm on December 16th, 2009
menarik. sekilas aku melihat pribadi anda sangat menarik sebetulnya cara anda sangat dewasa, namun kotrol emosi yang mesih kurang. saya rasa, ujian kesabaran (bila anda juga meyakini bahwa hidup adalah ujian) itulah yang sangat berat. Bagi semua orang.
wah, rasanya bebrabu “plagiat dengan karya2 anda”. pantas saja saya tidak bisa meng-copy data tentang sahabat begitu saja.
okey, salam kenal. panggil saja saya Rishe. ^_^
3:43 pm on December 16th, 2009
@ Rishe: terima kasih atas nasehatnya.
bebrabu? apa itu?
salam kenal juga