Doa? Duh, Lupa!
Semakin hari, aku semakin terlihat seperti orang kantoran. Lho, katanya kerja dari rumah, kantornya di mana? Di dunia maya. Bahkan Facebook jadi salah satu lobi kantorku. Lobi lainnya ada di YM. Mulai dari yang minat beli buku sampai curhat, semua ada. Karena di dunia maya itulah makanya kantorku buka nonstop, meskipun yang melayaninya juga butuh istirahat. Enaknya, aku bisa atur waktu sangat fleksibel. Waktunya jemput Si Sulung, ya tinggal aja. Kan kantornya gak pergi ke mana-mana. Gak enaknya, banyak orang bilang aku ketergantungan internet dan kurang kerjaan. Senangnya chatting. Seandainya mereka lihat daftar kerjaan di secarik kertas yang kutempelkan di dinding samping “ruang kerja”ku.
Ruang kerjaku ya cuma sebuah meja komputer beserta isinya yang rasanya sudah hampir kelebihan muatan. Isinya ya macam-macam: berbagai cd data kerja Si Ayah, cd software, sampai cd games kedua anakku, ada juga berbagai kertas hasil cetak segala macam disain Si Ayah. Berantakan? Pasti. Kantor mana yang bisa selalu teratur?
Kuperhatikan, semakin hari catatan pekerjaanku semakin panjang, tapi yang tertanda centang tak kunjung bertambah. Rasanya waktu yang 24 jam sehari 7 hari seminggu tak kunjung cukup. Klise memang. Hari gini, mana ada pekerja yang merasa waktunya cukup? Ditambah gangguan sana-sini, lengkaplah rasanya kesulitan untuk bisa segera selesai. “Apa aja sih yang dikerjakan sampai sedemikian sibuk?” Begitu selalu pertanyaan teman-teman setiap kali mau chatting dan kutolak karena aku sibuk. Jualan buku, ngurusin website dan blogku, bantu teman buat blog, menjalin relasi dengan teman dan pembaca. Kelihatannya sederhana ya?
Saking kuanggap sederhana itulah, kadang begitu menyalakan komputer, pikiranku langsung sibuk ke sana- sini. Rasanya apa yang mau dikerjakan rebutan porsi terbesar konsentrasiku. Sejak pagi sampai tengah malam, rasanya isi kepalaku berdesak-desak mau keluar. Demikian hebohnya, sampai diajak ngomong aja suka gak nyambung.
Suatu hari, aku sedang membantu Keuskupan Jayapura membuatkan website sederhana. Namanya juga bantuin, ya aku memang bukan tenaga webmaster profesional. Sedang asyik-asyiknya utak-utik, tiba-tiba ada masalah teknis. Waduh, gimana ini? Coba sana-sini gak juga ketemu. Bahkan waktu itu sampai 2 hari 2 malam masalahnya gak ketemu. Udah tanya kanan-kiri ya sama aja, karena mereka kan harus bongkar isi masalahnya dulu supaya tau. Tapi, berapa orang sih yang mau direcoki begitu? Kan punya kesibukan masing-masing.
Sempat juga aku sms Pater kalau aku sedang ada kendala teknis yang aku belum tau apanya. Lama-lama jengkel juga, masa urusan bikin web aja sampai bikin sakit kepala 2 hari 2 malam? Ada yang gak beres nih! Seketika aku duduk diam, masih di depan monitor. Sejenak menyapa Dia. Memejamkan mata, merasakan kehadiranNya di sebelahku.
“Halo, Tuhan. Apa kabar? Maaf ya, beberapa hari ini aku gak sempat nyapa. Padahal cuma butuh 1-2 menit ya? Aku lagi suntuk nih, ada CSS yang aku gak ngerti. Tuhan tau gak? Gimana ya benerin CSS-nya? Makasi ya, Tuhan selalu temenin, ga cuma waktu aku kerja.”
Begitu kubuka mataku… sim salabim! Tiba-tiba segala apa yang membuat kerjaanku mandeg terurai begitu saja. Langsung kukerjakan dengan mulus.
Gak sampai 15 menit kemudian aku telpon Pater, “Pater, masalahnya selesai.”
“Lho, kok bisa? Kan sudah 2 hari kamu ga nemu masalahnya?”
“Pater tau masalahnya di mana?”
“Di mana?” Mungkin Pater akan mengira dijelaskan segala urusan teknis yang njelimet.
“Masalahnya: karna aku lupa berdoa…” Kataku sambil ngakak.
“Lho, kok begitu?” Pater heran campur bingung.
“Setelah aku doa minta dibantuin, langsung aku tau masalahnya. Sekarang sudah bisa jalan. Pater coba liat ya website-nya.” Aku gegap gempita.
“Ya, ya. Jadi masalahnya karena lupa berdoa ya?”
“Iya, Pater. Apalagi buatin website gereja, kok ya ga doa dulu?” Aku nyengir, tentu tidak terlihat lewat telpon.
Beberapa waktu lalu, kejadian yang sama berulang. Tiba-tiba apa yang kukerjakan berantakan tanpa sebab. Mana dikejar deadline. Sempat beberapa saat aku masih sibuk utak-utik. Gak juga ketemu. Nyerah deh! Tiba-tiba aku ingat kejadian sebelumnya. Oh iya doa! Duh, lupa! Setelah doa – yang lebih senang kusebut ngobrol denganNya – kembali benang kusutnya terurai begitu saja. Masalahnya juga selesai. Lega rasanya.
Hari ini, kesekian kalinya hal yang sama terjadi. Masalahnya entah di mana dan aku gak tau gimana cara ngatasinnya. Dari pada sakit kepala, mending doa dulu deh. Memang ajaib, setelah itu aku seperti dituntun untuk melakukan segala sesuatunya. Voila! Selesai!
It’s magic, but it’s no magic! Seperti sulap, tapi Tuhan bukan tukang sulap. Seperti sihir tapi Tuhan bukan tukang sihir. Cuma gara-gara lupa doa, tiba-tiba masalah seperti tak terselesaikan. Cuma dengan menyisihkan waktu 1 menit ngobrol denganNya, kok ya terurai begitu saja. Mudah-mudahan besok gak ada lagi “Doa? Duh lupa!”
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Doa
This entry was posted on Wednesday, March 4th, 2009 at 4:13 pm and is filed under Doa? Duh Lupa!. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.








