Dua, Dua, Tiga, Satu

Sebetulnya saya berhutang cerita ini pada Fonny empat hari. Maaf ya, Fon :D

Dua tahun. Kalau manusia, umur dua tahun itu lagi cerewet-cerewetnya karena baru lancar ngomong bahkan baru bisa jika sedikit terlambat seperti Si Sulung. Ulang tahun pertama memang tidak dirayakan karena tulisannya juga tidak terlalu banyak apalagi penghuninya. Belum apa-apa. Belum layak dirayakan.

Ulang tahun ke dua, penghuninya sudah 32 Nuliser sangat aktif, 81 Nuliser aktif, dan 247 member milis (termasuk 113 Nuliser tadi di dalamnya). Sudah banyak Nuliser yang mumpuni bahkan Femi dan Fonny sudah punya fans page sendiri—Femi dengan Femi on the Blog dan Fonny dengan Chapters of Fonny’s Life. Kerja keras mereka sudah layak membuahkan hasil, keringat mereka sendiri, mandiri. Via Lattea tentu turut bangga. Ini perlu dirayakan!

“Syukuran Ulang Tahun Yuk Nulis! ke dua. Sabtu, 20 Maret 2010 jam 15.00 @ Coffee Tree Mall of Indonesia, Kelapa Gading. Acara: sof launching buku “Kamu Bagian dari Hidupku”, “Cinta Itu (Tidak) Merah Jambu”, dan “Bingkisan Kata”.” Begitu undangan yang kukirim lewat milis. Bukan gak mau ngundang teman-teman tapi memang ini acara sederhana dan baru segelintir yang pernah bertatap muka. Pinginnya biar saling akrab dulu. Biar saling kenal dan bisa saling sayang. Kan tak kenal maka tak sayang?

Sebetulnya, aku sudah kurang sehat sejak ulang tahunku dan flu itu masih cukup setia menemani. Paling gak, suara belum nyaring seperti sedia kala. Malah nambah teman baru, sudah tiga malam muntah-muntah. Sebetulnya malas ke dokter, toh bayar dokter hanya untuk dengar kata-kata, “Ibu butuh istirahat. Saya beri vitamin ya.” Tetap saja, the show must go on! Betapa keras kepalanya si Lini.

Cie Grace sudah memesan tempat, Angel sudah memesan kue, Femi sudah siap dengan bukunya “Bingkisan Kata”, aku sudah siap dengan kaos, buku “Kamu Bagian dari Hidupku” dan “Cinta Itu (Tidak) Merah Jambu”. Nun di Batam sana, hari itu juga Imelda dan Henny yang sedang perjalanan dinas juga akan “syukuran”. Entah kenapa Tina tidak ikutan. Sayang di Surabaya Olyvia tidak mendapatkan partner.

Dalam perjalanan berangkat, aku mampir dulu di tepi jalan Pegangsaan Dua untuk muntah. Duh, sudah cantik masih muntah juga. Luntur deh lipstiknya! Sampai lokasi, harus terlihat sehat. Kan sudah menata wajah, teorinya sih gak ada yang sadar hehehe….

Satu per satu teman-teman Nuliser berdatangan, Femi dan keluarga, Felicia, Ratna, Grace, Angel, Anita, Vero, Hanna dan keluarga, Levi, aku, dan Yla sebagai Nuliser termuda. Angel mempersembahkan kue tart tebal berbentuk buku yang manis secara denotatif dan konotatif. Cie Hanna yang punya warung burger ikut mempersembahkan mini burger dan sandwich ala Hanna.
“Ya ampun, Ngel! Ini kue tebel amat?” aku masih terpana.
“Kan buat 30 orang.”
“Tapi kan biasanya lebar bukan tebel. Ini sih judulnya Yuk Nulis is An Open Book….”
Ada betulnya juga bentuknya tebal karena Nuliser yang buanyak membuat Yuk Nulis! penuh dengan tulisan setiap hari.

Makanan digelar, minuman digelar, tiga buku dan kaos juga ikut digelar: “Cinta Itu (Tidak) Merah Jambu” dan “Kamu Bagian dari Hidupku”—keduanya karya rame-rame—dan “Bingkisan Kata” karya Femikhirana serta kaos limited edition, merchandise sebagai media promosi buku “Kamu Bagian dari Hidupku” yang akan segera diterbitkan dalam bentuk buku. “Cinta Itu (Tidak) Merah Jambu” sudah diterbitkan lebih dulu dalam bentuk e-book.

Seketika, semua Nuliser malah sibuk nyomot buku dan membaca. Kok jadi kayak di perpustakaan ya? Ini acara ulang tahun atau membaca bersama?

“Ayo, dimulai! Semua ganti baju!” Semua Nuliser sibuk memilih kaos lalu antri ke kamar kecil untuk ganti. Angel, Anita, Femi, Grace, Hanna mengenakan kaos sesuai “milik” masing-masing. Cie Grace sibuk jadi kasir.
“Ayo, Lin. Ganti!”
“Iya, gue pake kaos siapa? Bingung nih! Pake yang gak dateng aja deh.” Akhirnya, Fonny diwakilkan Yla, Dede diwakilkan aku.

Lilin berangka dua itu dipasang.
“Ayo doa dulu!”
“Foto dulu!” Cie Grace sudah siap dengan kaosnya.
Mbak Ratna dengan senyumannya menyahut, “Berdoa sesuai kecepatan masing-masing….”
“Amin!!” aku lantang betul.
Klik!
Jadilah foto keluarga Yuk Nulis!
Oh ya ampun! Tina lupa diwakilkan. Maaf ya, Mbak Tina….

Lilin berangka dua itu dinyalakan.
“Kita nyanyi yuk!”
Panjang umurnya… panjang umurnya… panjang umurnya serta mulia… serta mulia… serta mulia….
“Tiup lilinya! Yang tertua dan termuda yang tiup!” Cie Grace mesem-mesem mengambil posisi di samping Yla.

Tiup lilinnya… tiup lilinnya… tiup lilinnya sekarang juga… sekarang juga… sekarang juga….
“Potong kuenya!”
Potong kuenya… potong kuenya… potong kuenya sekarang juga… sekarang juga… sekarang juga….
Kue tart tebal berbentuk buku yang manis secara denotatif dan konotatif itu pun dipotong.

“Sekarang, tanda tangan!”
Ternyata, acara melanjutkan membaca dan tanda tangan jauh lebih menarik.

Suasana makin kacau. Buku mana yang harus ditanda tangan, mana yang sudah, mana yang belum.
“Lin, gue tanda tangan yang mana aja?” entah siapa yang bertanya, aku bingung harus ngapain.
“Merasa nulis bukunya yang mana aja?” Sangat tidak nyambung. Pertanyaan dijawab pertanyaan. Maaf ya, hehehe….

Ratna yang duluan meninggalkan tempat. Pepe, anaknya Femi, makin rewel. Yang lain ikutan ingin pulang. Urusan penandatanganan makin kacau. “Absensi” Fonny memang sudah disiapkan dalam bentuk stempel sehingga pasti “hadir”. Sangat kecil kemungkinan datang dari Vietnam. Mungkin lain kali, Tina dan Imelda juga sebaiknya begitu supaya tidak datang jauh dari Batam.

Cie Grace alih profesi sebagai “tukang pos”, mencap semua buku dengan tanda tangan Fonny. Saking asyiknya, sebuah gelas besar berisi kopi tumpah dan membanjiri piring kentang goreng.

“Ini gara-gara Fonny nih. Paling enak disalahin karena orangnya gak ada.” Hahahaa….
“Lini, besok lagi tanda tangan gue dibikin kayak Fonny aja ah, gak capek,” cie Grace mulai kewalahan tanda tangan.
“Terus nanti kopinya yang tumpah juga dua dong?”

Akhirnya, kelar juga urusan tanda tangan dan transaksi buku serta kaos. Satu per satu para Nuliser mulai beranjak pergi. Membawa oleh-oleh kaos dan sepaket buku. Jam di tanganku menunjukkan angka enam.

Terakhir tinggal Angel, Cie Grace, Lenny (seorang kawan baik YN!), dan aku. Hitung sisa kaos, beresin sisa buku, bungkus.

“Kacau nih acaranya! Lain kali musti diatur,” cie Grace ngomel, “Ngel, urusan jualan si Lini payah nih. Udah Lini diem aja biar kita ya?”
“Kan yang jadi EO AWOL (absence without leave-pergi tanpa pamit). Yah kebeneran jadi beban berkurang.”

Dalam perjalanan pulang, aku sempat mampir lagi di tepi jalan dekat RS menuju Pegangsaan Dua situ. Tidak lama, Mbak Henny dan Imelda telepon.

“Masih rame ya?” mbak Henny yang duluan bicara.
“Gak, udah pada bubar. Gue juga udah di jalan. Di mana nih?”
“Di UGD, posnya Imel. Gue pasang status di FB ‘menunggu di UGD RS Awal Bros Batam’ dikira orang lagi nungguin orang sakit.”
Aku sempat berbincang singkat dengan Imelda.
“Nanti aja deh ditulis. Pokoknya, acara ulang tahun paling kacau deh!”

Sampai di rumah. Aku merasa janggal. Ada yang salah dengan acara tadi. Oh ya ampun! Kita semua lupa berdoa.

Tuhan, maaf ya tadi lupa berdoa. Terima kasih buat semuanya. Buat dua tahun yang werno-werno, buat para Nuliser yang werno-werno, buat semua fans yang setia. Buat dua penulis dengan fans page, tiga buku, satu kaos, buat semuanya deh!
Tuhan, jangan kapok berkati kami semua karena tadi kami lupa berdoa ya.
Kami masih butuh berkat-Mu untuk terus menulis buat orang banyak dan menerbitkan banyak buku.
Kami masih butuh kasih-Mu untuk mendampingi banyak Nuliser yang kadang bikin gemes.
Kami masih butuh damai-Mu untuk membuat “rumah” Yuk Nulis! ini tetap nyaman.
Kami masih butuh inspirasi-Mu untuk dibagikan pada semua fans setia.
Terima kasih, Tuhan.
Amin.

Silakan melihat foto lengkapnya di http://www.facebook.com/album.php?aid=155845&id=120261591784

Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , , ,

This entry was posted on Wednesday, March 24th, 2010 at 12:15 pm and is filed under Dua Dua Tiga Satu. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

5 Responses to “Dua, Dua, Tiga, Satu”

  1. Fonny
    2:24 pm on March 24th, 2010

    Ma kasih, Lin. Yang penting bu kos sehat dulu lah, telat dikit gpp. Puas gw bacanya haha… Emang enak kalo orangnya gak ada disalahin…Cie Graceeee, bikin cap tanda tangan juga donk:)

    Selamat ultah YN:) Lop u:)

  2. fekhi
    3:27 pm on March 24th, 2010

    kacau? hmmm tepatnya seruuuu
    namanya juga ultah nuliser, kayak gitu sih seru wakakakak
    kalau kita ABG nahhhh iya kacau hihihihi

  3. Lini
    3:50 pm on March 24th, 2010

    @ Fonny: kembali kasih, Fon :D
    @ Femi: kacau-seru-gimana gitu lah hehehe

  4. rachmat budi m
    8:25 pm on March 24th, 2010

    Pokoke SELAMAT ULTAH untuk YUK NULIS! Ikut bangga dan bergembira, 2 tahun tentu sdh bisa lari, meski belum kenceng dan kadang msh sering jatuh, tapi untuk YN semua jadi lain, karena si YN ini anak “ajaib”, bayangkan 2th sdh nglahirkan 32 penulis terampil dan puluhan lain nuliser aktif, prestasi hebat yg patut disyukuri dan sekaligus sbg tanggung jawab yg harus dipikul yaitu menularkan kecerdasan kepada bangsa ini. Semangat dan dedikasi inilah yg menjadikan YN selalu diberkati Tuhan, Dia tahu itu. Jd “lupa” doa saat berpesta mungkin dimaafkanNya….hehehehe…..karena Dia tahu gembira kalian sdh merupakan Doa, semoga !!
    Bravo YN, bravo semua….Lini, muach untukmu!

  5. Lini
    8:33 pm on March 24th, 2010

    @ Rachmat: matur tengkiyu sanget Mas. aku selalu terharu kalo diucapkan selamat olehmu ;-)
    muach muach, peluk erat

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>