Green House, Rumahku

Green House, Jl. Jawa 26, Bandung

Green House, Jl. Jawa 26, Bandung

Dua minggu di kota ini, cukup membuatku kerasan meskipun tidak kunjung hapal jalan. Semua mirip-mirip. Banyak jalan satu arah. Rute yang aku tau hanya Borromeus-Braga dan sebaliknya, Green House-Braga dan sebaliknya, Borromeus-Green House. Jadi kalau dari Green House mau ke Borromeus terpaksa muter lewat Braga. Daripada sok tahu lalu nyasar?

Dalam dua minggu ini juga aku jadi “tamu tetap” Green House. Tempat hang out favorit selain warung kopi kaki lima di sekitar Borromeus. Saking seringnya – rasanya hampir tiap hari, kadang sehari beberapa kali – keluar masuk Green House, mulai dari Pak Penjaga Gerbang sampai Bibi Tukang Masak hapal wajah dan mobilku. Rasanya seperti pegang kartu pas. Datang pagi-pagi ikut Misa di Kapel Mungil pernah, pulang jam 9 malam juga pernah. Ikut sarapan, makan siang sampai makan malam juga pernah. Di sana ikutan sibuk beres-beres dari pagi, lalu sambung lagi sore menjelang malam sampai larut juga pernah. Alhasil, tidak perlu lagi lapor sana-sini, langsung saja nyelonong ke dapur lewat belakang dan tiba di ruang makan. Dari situ baru celingak-celinguk sapa tau ada romo yang nganggur. Memang sih, biasanya aku konfirmasi dulu ke Bapaknya, ada di rumah ga? Klo ada dan nganggur, aku main. Kasih laporan pandangan mata perkembangan Mama Mertua.

Green House, rumah berwarna hijau pastel dan pagar yang juga berwarna senada. Pagarnya rendah, menandakan pemiliknya yang ramah. Jam 6 pagi sampai 18.00 pagarnya selalu terbuka. Mempersilakan siapa saja masuk. Mulai jam 18.00 pagar harus dalam keadaan tertutup. Ini hanya bentuk dari kewaspadaan supaya yang datang lebih terkontrol.

Di tengah rumah ada Kapel Mungil, berukuran kurang lebih 3x5m. Lebih mirip ukuran kamar tidur anak. Karpetnya merah tua, separuh dinding dan langit-langitnya berlapis kayu berwarna coklat. Jika tertimpa lampu yang berwarna kuning semakin menunjukkan kehangatan. Di dekat Tabernakel ada sepasang replika patung malaikat berlutut yang ada di Gua Maria Kerep, Ambarawa. Sepasang patung itu dan Corpus Christi yang di atas Tabernakel diberi lampu sorot sehingga mirip lukisan 3D. Ada juga beberapa hiasan lainnya yang tidak kalah menarik.

Awalnya kupikir masuk Green House itu sesuatu yang rumit, penuh prosedur, hanya untuk kalangan tertentu. Tapi ternyata, selama yang berkepentingan ada di rumah, tidak ada tamu dan tidak sibuk, siapa saja boleh datang. Kapan saja. Bahkan hanya untuk mengantarkan penganan, sekadar menyapa atau tujuan seremeh apapun. Bapaknya malah waktu mau mudik Tahun Baru sempat minta aku untuk nengokin Green House. Lhaa?? Bukannya aku tamu?

Di salah satu pintu tertera tulisan, “Mohon untuk tidak mengganggu, sedang istirahat pk. 12.00-13.00”. Tapi aku pernah dapat kehormatan ikutan maksi (makan siang) di sana beberapa kali. Malah pernah sudah menghindar biar tidak ikutan makan, ya terpaksa ikut makan karena sudah ditunggu. Hukum yang berlaku di ruang makan Green House cuma satu: Silakan ambil semau-maunya sesuai dengan keyakinan masing-masing!

Di Green House, tamu yang memang sering mampir diperlakukan layaknya pemilik. Dititipi untuk dijaga. Sehingga Green House sungguh menjadi milik umat. Bukan hanya junjungannya. Green House sungguh terbuka untuk siapa saja. Bapaknya tidak perlu ditemui dengan serangkaian prosedur dan protokoler. Meskipun seorang Junjungan, tetap saja mudah ditemui jika memang tidak sibuk. Tak perlu mengatur janji khusus. Justru jika mengatur janji khusus artinya Anda sudah ditunggu tepat jam tersebut.

Hari Minggu lalu akhirnya aku harus meninggalkan Bandung karena Si Ayah ngantor dan Si Sulung sekolah. Siang itu aku mampir lagi ke Green House, pamit sama semua “abdi dalem”. Bapaknya ga ada, lagi ke Cimahi. Ada salah seorang Romo, ya dipamitin juga. Sedih juga meninggalkan Green House. Tapi aku akan lebih sering ke Bandung dari tahun2 sebelumnya. Apalagi Sinchia udah di depan mata. Dalam bulan ini akan ke Bandung lagi. Senangnya.

Kapan-kapan kalau ke Bandung, jangan cuma belanja di factory outlet atau jajan wisata lidah, mampir ke juga ke Green House. Bapaknya Green House senang lho diperhatikan umat. Jangan lupa bawa makanan lebih untuk para “abdi dalem” ya…

Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , , ,

This entry was posted on Sunday, January 4th, 2009 at 4:16 pm and is filed under Green House Rumahku. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>