Hujan di Yogya
Yogya basah
Hujan, bukan gerimis
Tetesnya tidak mampu mengalahkan tangis
Yang kering dan basah menjadi siklus
Tak mampu membasuh luka
Yang justru makin lebar menganga
Tawa yang harusnya di sini
Menjadi lara sendiri
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Curhat, Luka Batin, Puisi
This entry was posted on Wednesday, November 18th, 2009 at 9:34 pm and is filed under Hujan di Yogya. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.









10:15 pm on November 18th, 2009
You are strong !
Go on everything best for you.
JBU always
7:32 am on November 19th, 2009
Sebuah ziarah tanpa mengalami padang gurun akan kurang bermakna. Kegersangan rasa adalah wadah atas mana setetes embun menjadi bernilai. Hidup ini indah, nikmatilah apa aja yang ada… entah tawa entah lara… Be Strong…!
8:56 am on November 19th, 2009
Aku mau bilang apa Lin, wong aku jg sering mengalami hal seperti itu. Hanya saja setiap kali suntuk, jalan yg terbaik adalah berbincang denganNya dan berbincang dgn tulisan. Setiap kali aku merasa terluka, aku selalu ingat bahwa Iapun telah mencintaiku sampai berdarah-darah, sampai mati. Jd apalah arti lukaku ini dibandingkan lukaNya?
Be strong….jalannya masih panjang….masih jauh…..!
Ojo sampe ilang di Jogya,ya? GBU
2:05 pm on November 23rd, 2009
@ Intan, Maxi, Tina: matur tengkiyu sanget… GBU full