Ibu, Inilah Anakmu

Dimuat di Majalah Kuasa Doa Vol. 4, No. 8, Oktober 2009

Sudah lama aku tidak merasakan kehangatan seorang Ibu. Sudah tujuh tahun sejak aku meninggalkan rumah Mama. Di mulai ketika aku pindah keyakinan dan memilih jodohku sendiri sehingga aku harus meninggalkan rumah. Kangen? Tidak juga. Aku memang anak yang tidak baik dan tidak berbakti sampai aku tidak merasa kehilangan Mama. Sudah belasan tahun sejak mulai remaja aku kehilangan sosok seorang Ibu. Ibu yang dekat dengan anaknya bukan hanya memikirkan karir dan keinginannya semata.

Setiap Hari Ibu, aku justru kangen dengan Ibu Baptis, Ibu Pembina Katekumenku, dan Ibu Mertuaku.  Dalam diri mereka aku menemui sosok seorang Ibu sejati. Ibu Maria yang menjelma dalam diri manusia. Ingatanku kembali pada masa katekumen. Masa di mana aku dikenalkan pada seorang Ibu yang luar biasa. Ibu Tuhanku Yesus. Ibu yang sederhana, sabar, penuh kasih. Tidak cukup kata menggambarkannya.

Setiap sebelum dan sesudah Misa aku selalu mengadu pada Ibu Maria seperti layaknya anak kecil yang mengadu pada ibunya. Aku menangis, bercerita, memohon agar ia menyampaikan keinginanku pada putranya, semuanya.  Pada Ibu Maria, aku merasa didengarkan, dipahami, dan dikasihi. Dengan teladannya, aku berusaha sekuat tenaga untuk menjadi seperti dirinya. Menjalani hidup yang baru, sendirian, sungguh bukan hal yang mudah. Belajar bagaimana menjadi seorang Ibu tanpa bimbingan sosok Ibu. Semua dijalani dengan insting. Dengan penuh keyakinan bahwa Hawa pada masanya juga tidak memiliki Ibu dan bisa menjalaninya.

Beruntung aku memiliki Ibu Maria yang demikian hebat. Bukan, bukan hebat. Kata “hebat” saja tidak cukup. Ibu Maria lebih dari hebat. Aku merasa tidak ada kata yang cocok untuk mengungkapkannya.  Mulai dari ketika Ibu Maria mendapat kabar dari Malaikat Gabriel bahwa ia akan mengandung Putra Allah sampai menyaksikan anaknya disalibkan, tak terhitung pengorbanan dan ketabahannya.

Pada jamannya, gadis mana yang kuat menanggung beban bahwa ia akan dicemooh karena hamil di luar nikah, mengandung dari Roh Kudus. Meyakinkan Yusuf bahwa ia menerima Sabda Tuhan. Dalam keadaan hamil tua harus pergi ke Betlehem untuk mengikuti sensus yang diadakan oleh Kaisar Agustus. Melahirkan anaknya di kandang domba yang jauh dari layak. Sempat kehilangan Yesus kecil yang terpisah dari rombongan pada perayaan Paskah dan sibuk mencari ke sana- sini. Puncaknya, Ibu Maria harus menyaksikan bagaimana Yesus didera dan wafat di kayu salib.

Dari semua yang dialami Ibu Maria, masih kurangkah penderitaannya? Mengalami satu dari sekian bebannya saja aku belum tentu mampu, apalagi sebagian bahkan semua? Sudah layak dan sepantasnya jika aku menganggap Ibu Maria adalah Ibu yang paling segalanya di antara semua Ibu, lebih dari sekadar seseorang yang sungguh suci.

Aku sungguh beruntung ketika Yesus menjelang ajalnya menyatakan, “Ibu inilah anakmu.” Dan berkata kepada para Rasulnya, “Inilah Ibumu.”

Terima kasih, Tuhan. Engkau berikan untukku seorang Ibu yang luar biasa. Dengan senang hati aku menerima Ibu Maria sebagai Ibuku.

Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , , , ,

This entry was posted on Tuesday, September 29th, 2009 at 12:19 pm and is filed under Ibu Inilah Anakmu. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

14 Responses to “Ibu, Inilah Anakmu”

  1. Andre
    1:48 pm on September 29th, 2009

    Pengalaman pribadi yang sangat mendalam. Salut untuk kamu, Lin.

  2. Lini
    1:55 pm on September 29th, 2009

    @ Ter Andre: matur tengkiyu Ter. ingetin klo ke Jakarta kukasi bukuku ya :)

  3. Kristiadi
    1:59 pm on September 29th, 2009

    Maria yang disebut sebagai Bunda…ketika berbicara dengan doa, sangat terasa hangat pelukannya…

  4. Lini
    2:53 pm on September 29th, 2009

    @ Kristiadi: ya betul! :)

  5. shinta miranda
    3:45 pm on September 29th, 2009

    ga tau mesti ngomong apa…ceritanya mirip dgn anakku..haru, bangga,..”terjadilah padaku menurut perkataanmu” – !!bravo, Lini- luv u !!

  6. Lini
    5:11 pm on September 29th, 2009

    @ Shinta: matur tengkiyu mbak :D

  7. mercy sitanggang
    5:30 pm on September 29th, 2009

    kebalikannya dengan kisah seorang lini. kisah yang aku alami adlah sempat pergi dan terlepas dari ibu. tapi bukan ibu kalau tidak berdoa demi kepulangan anaknya. maka sekarang aku kembali dan bersimpuh di kaki suciMU.. biarkan aku mencintaiMU ibu. sekarang dan selamanya.. mari kita berdua mencintai Ibu Maria..

  8. Lini
    5:33 pm on September 29th, 2009

    @ Mercy: mau masuk bulan Maria. jadi inget jaman lo bawa2 rosario ke kampus buat asesoris :-p

  9. Fonny
    5:38 pm on September 29th, 2009

    Mother Mary loves you, more…Lin…:)

  10. Lini
    8:23 pm on September 29th, 2009

    @ Fonny: Mother Mary love you too, Fon :D

  11. Lini
    8:29 pm on September 29th, 2009

    tiba2 inget lagu the Beatles – Let It Be

    When I find myself in times of trouble, mother Mary comes to me,
    speaking words of wisdom, let it be.
    And in my hour of darkness she is standing right in front of me,
    speaking words of wisdom, let it be.

    Let it be, let it be, let it be, let it be.
    Whisper words of wisdom, let it be.

    And when the broken hearted people living in the world agree,
    there will be an answer, let it be.
    For though they may be parted there is still a chance that they will see,
    there will be an answer. let it be.

    Let it be, let it be, …..

    And when the night is cloudy, there is still a light, that shines on me,
    shine until tomorrow, let it be.
    I wake up to the sound of music, mother Mary comes to me,
    speaking words of wisdom, let it be.

    Let it be, let it be, …..

  12. martina
    12:46 pm on September 30th, 2009

    Lini…..yg kuingat lagunya cuman….Let it be….(diulang-ulang sampe kesel….hehehe)

  13. Angel Li
    12:55 pm on September 30th, 2009

    Ibu Maria? Kok ibumu sama ama ibuku ya? berarti kita sodara dunk? hehehe… Nice story frend :-)

  14. Lini
    1:54 pm on September 30th, 2009

    @ Tina: diulang2 sampe kesel n ngeselin orang wekekek
    @ Angel: jangan2 kita kembar? berpelukaaaannn…

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>