Kasih Sayang Menang!
Mendengar kata “Ibu” yang terbersit di benakku adalah sosok perempuan yang hatinya bagai sungai kasih sayang, mengaliri kehidupan anak-anaknya tanpa kenal musim. Rela berkorban melakukan apa saja bahkan melupakan dirinya sendiri demi anak-anaknya sebagai representasi jiwanya.
Wah ideal betul sosok Ibu bagiku? Aku menitikberatkan pada kasih sayang, tak perlu menyebut para Ibu yang hobi ngomel, pelupa, kalau belanja lama sekali, masakannya tidak enak, cerewet, terlalu protektif, dan sebagainya. Menjadi cukup manusiawi kan?
Dalam konteks Ibu yang penuh kasih, mengingatkan aku pada sosok 4 Ibu yang menjadi bagian penting dalam hidupku. Siapa itu?
Bunda Maria
Ibu sempurna. Tidak cukup kata menjabarkannya. Dari sosoknya yang kukenal, jauh lebih banyak duka atas pengorbanannya ketimbang kesenangannya. Aku sok tau sekali?
Mulai dari Maria mendapat kabar dari Gabriel akan mengandung Yesus – jika dimensi waktunya dipindah ke jaman sekarang –perempuan mana yang berani membela Tuhannya dan menanggung aib? Itu bukan perkara mudah. Tidak ada orang yang berani membela kebenaran hatinya dan mau mengambil risiko dikucilkan orang. Dianggap berbuat amoral hamil di luar nikah. Tetapi Maria memiliki Yusuf yang setia di sisinya. Dengan suka cita Maria melahirkan di kandang ternak.
Sampai akhirnya ketika Maria harus rela menyaksikan anaknya didera dan dicerca sedemikian rupa. Mungkin Maria menangis, tapi keteguhan dan ketabahan hatinya membuat ia terus kuat mendampingi Yesus sepanjang perjalanan menuju Golgota yang jaraknya pasti jauh, sampai Yesus disalibkan dan wafat. Jaman sekarang, berapa banyak Ibu yang kuat melihat penderitaan anaknya yang maha dahsyat itu? Seandainya mungkin, bisa jadi Maria ingin menggantikan posisi Yesus agar penderitaan anaknya selesai. “Bunuh saja aku, jangan bunuh anakku” kira-kira begitu.
Maria memilih untuk meyakini bahwa ia sungguh menjadi Bunda Allah dan menanggung segala risikonya selama 33 tahun, karena terbukti tidaknya Maria betul menjadi Bunda Allah adalah ketika Yesus bangkit.
Tante, Ibu Baptisku
Tante adalah adik bungsu Mama yang menjadi Ibu Baptisku. Sejak aku hengkang dari rumah 7 tahun lalu, Tante kuanggap sebagap sebagai pengganti Mama. Tante mendampingiku di saat sedih dan senang. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, ia selalu ada untukku. Pada semua peristiwa penting dalam hidupku – baptisan, pernikahan, kelahiran Si Sulung dan Si Bungsu – Tante selalu hadir. Ia juga yang meminjamkan telinganya untukku mendengarkan keluh kesahku.
Tante juga yang sering memberi wejangan dan menegurku ketika aku salah. Tak bosan-bosannya ia menegurku dengan sabar. Mungkin di hampir setiap foto pada acara penting, ia selalu menangis entah sedih maupun bahagia. Tante memang royal air mata, dan itu membuatnya manusiawi di mataku.
Mungkin Tante bukan Ibu ideal, tapi layak kusebut sebagai Ibu terbaik.
Mama Mertua
Mama Mertua justru jauh dari sosok ideal. Ia senang mengkritik – bahkan Mama Mertua menyebut diringa “tukang cela” – tapi itu merupakan sisi manusiawinya. Hatinya sungguh besar, perhatiannya pada semua orang membuat Mama Mertua yang galak dan keras disayang semua orang. Hanya butuh waktu 2 tahun bagi Mama Mertua untuk menerimaku sebagai menantu. Waktu yang singkat mengingat usia perkawinan yang seyogianya seumur hidup. Sebagai baktiku, aku hanya bisa menemaninya di rumah sakit selama seminggu. Tidak banyak dibandingkan perawatannya yang hampir sebulan. Setidaknya, itu kesempatanku.
Di balik kata-katanya yang sering mencela, Mama Mertua adalah orang yang sangat positif, optimis dan melihat dari sisi baiknya. Ibu terbaik dan manusiawi.
Ibu Pembimbing Katekumen
Sebagai Ibu Pembimbing Katekumen, ia kuanggap sebagai Ibu Angkatku. Dalam beberapa peristiwa penting ia juga hadir – pernikahanku, kelahiran kedua anakku, dan menjadi Ibu Baptis kedua anakku, serta menyempatkan hadir jauh-jauh ke pemberkatan rumahku membonceng sepeda motor.
Ibu Pembimbing Katekumen sangat rendah hati dan sederhana. Cukup menjadi inspirasiku menjadi seorang Ibu.
Mamaku tidak termasuk?
Sulit menjabarkan kasih sayang Mama diukur dari kaca matanya saja, bukan anaknya. Memang berbagai tindakan yang kuanggap sepele, tidak penting bahkan kuanggap tidak baik, tetapi itu adalah bentuk kasih sayangnya padaku. Aku tidak pernah menyangkal Mama tidak sayang padaku, tapi ungkapannya yang ganjil di mataku. Ketika Mama tidak melibatkanku pada masalah domestik sebagai ungkapan agar aku tidak pusing, itu ganjil menurutku. Ketika Mama merasa sudah bekerja keras agar bisa memberiku berbagai materi, itu ganjil menurutku. Bahkan ketika momen yang tadinya direncanakan sebagai ajang “muntahkan unek-unekmu” tapi itu hanya berlaku bagi Mama dan tidak kusepakati maka batal, itu juga ganjil menurutku.
Peran “mentang-mentang Ibu” sering digunakan karena posisi memungkinkan. “Karena aku Mamamu maka kamu harus menurut” terlalu sering kudengar. Dengan berbagai keganjilan kasih sayang Mama, aku dengan subyektif tidak dapat menyebut Mama sebagai Ibu Terbaik.
Bagi segelintir sahabatku yang merasakan memiliki Ibu yang “antik” kami jadi lebih saling mendukung. Tidak sering orang yang lalu menasehatiku agar tidak berbuat begitu pada Mama. Karena mereka tidak tahu rasanya memeluk seekor landak, padahal banyak cara untuk bisa menyayangi landak. Bagi mereka, aku bukan anak yang baik karena tidak berbakti pada Mama. Dan faktanya jelas memang begitu jika diukur dari baktiku pada Mama berupa sikap patuh dan taat. Tetapi ukuran itu kan relatif dan jika ingin obyektif maka harus mencakup seluruh sisi. Bundar seperti bola, bahkan bukan bulat seperti lingkaran. Tidak perlu kuumbar segala doaku untuk Mama. Doa seyogianya menjadi rahasia intim antara kita dan Tuhan. Lalu semuanya akan menjadi luar biasa indah.
Aku tidak pernah habis pikir, mengapa prinsip “berbaktilah dan patuhilah Ibumu” sungguh ditelan bulat-bulat. Seakan bagi kami yang memiliki Ibu yang sulit juga harus sama dengan mereka yang memiliki Ibu yang mudah. Aku pernah bertanya pada beberapa teman – dari berbagai keyakinan – “Jika Ibumu mengajarkan segala hal yang tidak baik – membenci orang, membunuh, menjauhi saudara, berbohong, menghalangimu beribadah – apakah kamu juga harus dan akan menuruti segala apa yang diucapkannya?”
Tidak satupun berhasil menjawab. Mereka hanya terdiam.
Yang jelas, aku bersyukur dibesarkan oleh Mama dengan segala kekurangannya. Jika aku dibesarkan oleh Ibu lain, pasti aku tidak akan seperti ini. Orang boleh berkata aku belum memaafkan Mama hanya karena tidak melupakan luka itu. Padahal tidak mungkin orang bisa melupakan luka selama 25 tahun kecuali amnesia. Boleh saja orang bilang aku tidak bersyukur memiliki Mama hanya karena aku tidak akrab dengannya. Karena itu menjadi rahasiaku dan Tuhan, lalu semuanya menjadi indah.
Dengan cara yang jauh berbeda, 4 Ibu dan Mama membentuk dan menjadi inspirasiku. 4 Ibu itu menunjukkan “the Dos of being a Mom” sementara Mama menunjukkan “the Don’ts of being a Mom”. Belajar dari kelebihan orang memang baik, tapi lebih baik lagi jika belajar dari kekurangan orang.
Pada 4 Ibu itu aku mencurahkan perhatian dan kasih sayangku, karena mereka mengasihiku. Kasih sayang tidak mengenal pertalian darah. Kasih sayang hidup di mana saja. Kasih sayang bersayap, membuat kita terbang ke mana saja. Kasih sayang seperti angin berhembus tak kenal musim.
Dan ketika sengketa terjadi di tengah manusia, kasih sayang menang!
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Doa, Kasih, Mama Mertua, Sahabat, Si Bungsu, Si Sulung, Syukur
This entry was posted on Monday, December 22nd, 2008 at 6:57 pm and is filed under Kasih Sayang Menang!. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.








