Kemping Ulang Tahun
“Unity in Diversity” bersama Bp. Uskup
Orang Muda Katolik Sarimawartoba
(Sumbersari, Margahayu, Waringin, Moh. Toha, Buah Batu)
Ranca Upas, Ciwidey, Bandung
7-9 Maret 2009
Tambah Usia – KLA Project – Klasik
Bertambah satu usiamu
Oh semoga penuh warna
Semakin indah hatimu
Berikan cinta tuk semuaKau telah tercipta
Sebagai insan istimewa
Tumbuh dalam jiwa
Terus bahagia dan raih citaSyukur tuk Yang Kuasa
Atas beragam anugerah
Kusertakan doa
Panjang umur kasih berlimpahIkuti hidup yang mengalir
Dan reguklah hingga akhir
Karena dunia terus berubah
Jangan kau terlena dan goyah(Tambah Usia, KLa Project)
Setahun lalu pada ulang tahunku, Tuhan berkenan memberi kesempatan aku mempublikasikan buku “My Life is An Open Book” yang saat itu berupa e-book dan kubagi gratis. Ulang tahunku kali ini, Tuhan berkenan memberi kesempatan aku untuk menikmati indahnya hutan dan gunung bersama orang-orang terkasih dan teman-teman. Di tengah 400 orang peserta dan panitia dari 5 paroki sekeuskupan Bandung: Sumbersari, Margahayu, Waringin, Moh. Toha dan Buah Batu. Termasuk Bp. Uskup Bandung Mgr. Pujasumarta, Fr. Haryanto dan Pastor Wahyu. Di udara yang dingin menggigit, di ketinggian sekitar 2000m, menikmati bintang yang bersinar pada jam 5 pagi dan kabut tebal yang masih ada hingga jam 6.30.
Sabtu dini hari 7 Maret 2009, aku meluncur ke Bandung bersama Si Ayah, Si Bungsu dan Si Sulung. Pagi itu aku ada janji bertemu dengan Ibu Pud di kediaman Mgr. Puja untuk merayakan Ekaristi harian. Ibu Pud adalah seorang pembacaku yang hidupnya dramatis, akan kuceritakan lain kali. Singkatnya, Ibu Pud demikian terinspirasinya sampai hidupnya yang mati suri selama sekitar 2 tahun kini kembali “hidup”.
Seusai misa pagi jam 6, kami – Mgr. Puja, Rm. Anton, Rm. Eddy, Simbok eyangnya Diah, Ibu Pud, Diah dan aku – sarapan sambil menceritakan dramatisnya hidup Ibu Pud. Perbincangan berlangsung hingga jam 10.30.
Kemudian aku sekeluarga berburu kaos hangat. Fr. Haryanto sudah wanti-wanti dari jauh hari bahwa di sana dingin. Begitu dapat yang dicari, sekitar jam 3 sore kami meluncur ke Ciwidey. Misa pembukaan dijadwalkan jam 5 sore dipimpin langsung oleh Mgr. Puja. Apa daya, aku sangat terlambat. Karena berbagai halangan, baru bisa tiba di lokasi perkemahan jam 7 malam. Itupun dengan segala kenekatan karena kami tidak tahu persis lokasinya. “Terus saja sampai ujung. Kalau sudah banyak pohon, artinya sudah sampai,” kata seorang ibu penjaga warung ketika kutanya.
Di tengah kegelapan malam, begitu kulihat hanya pohon sejauh mata memandang, aku bernapas lega akhirnya sampai juga. Kedua anakku makin gegap gempita. “Asyiik… kemping di hutan…”
Sampai di sana, aku segera mencari panitia yang kukenal. Tengok kanan-kiri, aku menuju ke tenda panitia. “Tendanya itu Kak, yang hijau.” Kulihat sebuah tenda dome mungil berwarna hijau. Di sebelahnya berderet-deret dua tenda merah yang lebih mungil dan sebuah tenda hijau mirip tendaku. Setelah beberes seadanya, aku disuguhi nasi bungkus sederhana sebagai menu makan malam. Hmm… lapaar…
Tak lama, sesi yang dibawakan Mgr. Puja dimulai. Mgr. Puja bercerita tentang Pelangi dan Kupu-kupu. Memotivasi teman-teman OMK untuk bisa hidup berdampingan dengan perbedaan dan bermetamorfosa seperti kupu-kupu.
Sesi itu selesai sekitar jam 9 malam. Selebihnya acara bebas. Kudengar pemberitahuan dari panitia bahwa peserta harus sudah tidur jam 10 malam. Niat hati ingin menikmati malam, apa daya udara dingin menggigit dan kelelahan meraja. Kantuk tak tertahankan. Si Sulung dan Si Bungsu langsung lelap dalam sleeping bag di atas kasur. Tak ketinggalan selimut kesayangan juga digelar. Semua serba berlapis, dari pakaian sampai selimut.
Entah jam berapa, aku dibangunkan Si Ayah. “Happy birthday, hun.” Tentunya satu paket dengan kecupan manis dong… Kebiasaan doa ulang tahun tengah malam ternyata pupus dingin yang luar biasa. Antara sadar dan tidak, aku langsung tertidur lagi.
Aku terbangun jam 4.30, mau ke WC tapi gak punya senter. Kulihat tak seorang panitiapun melintas. Duh, gimana ini?
“Yah, temenin ke WC dong.”
“Nanti kalau anak-anak bangun gimana? Coba jalan pelan-pelan.”
Walah, kan melewati beberapa jembatan kecil? Gelap begini lagi… kalau aku terperosok ke parit gimana?
Sayup-sayup kudengar suara Mgr. Puja yang tendanya tepat di sebelahku. Tapi begitu aku keluar kok tidak ada? Rasanya semakin kebelet buang air nih. Haduuhh… Tuhan, aku mau pipis. Gimana ini?
Sedetik kemudian, seorang panitia menyorotkan senternya ke arahku.
“Selamat pagi. Bisa antar aku ke WC?”
“Kak Lini ya? Sini saya antar.”
Di ambang pintu WC umum itu aku berpapasan dengan Mgr. Puja.
“Lha, sudah bangun to, Mo? Pantes tadi aku dengar suaranya. Tapi kok gak ada orangnya?”
“Anak-anak mana?”
“Masih tidur, Mo.”
“Hayo, saya juga mau tidur lagi.”
Iya laahh… dingin begitu, enak kemulan selimut di tenda.
Ternyata aku tak bisa tidur lagi. Jam 5 suara para panitia mengusik keheningan malam. Aku keluar lagi dari tenda.
“Lini.”
Aku celingak-celinguk. Itu suara Mgr. Puja. Mana orangnya? Di dalam tendakah?
“Iya, Mo.”
“Selamat ulang tahun ya!”
“Makasih, Mo. Di mana sih?”
“Di dalam sini,” sambil membuka tendanya.
Mimpi apa diberi selamat oleh Bapa Uskup subuh-subuh begini?
Tak lama beberapa panitia dan peserta juga menyalami aku. Menikmati bintang yang tampak besar dan terang. Semalam tidak terlihat karena mendung. Matahari mulai muncul, belum tampak jelas tapi semburatnya mulai terlihat di ufuk timur. Bintang-bintangku sirna perlahan.
“Ayo, Kak. Senam pagi.”
“Iya, duluan deh. Pesertanya juga belum kumpul.”
Tiga lapis pakaianku masih kurang menahan udara dingin.
“Ayo, Kak. Jalan-jalan biar hangat.”
Aku juga tahu, tapi malas.
Para peserta mulai berkumpul. Bernyanyi sambil bergoyang-goyang lucu. Menghiburku yang kedinginan ini.
Pak Ronald, narasumber lainnya yang Humas Perhutani, mengajak ke Kawah Putih. Para peserta bersiap untuk sarapan kemudian hiking. Mgr. Puja, Mas Chris sopir, Pak Ronald, Pak Oni Udi, dan aku sekeluarga naik mobil ke Kawah Putih.
Di sana, sepasang pengantin sedang melangsungkan akad nikah. Di kawah? Iya! Seru ya? Mgr. Puja langsung membidikkan kameranya.
“Ayo, kamu juga memperbaharui Janji Perkawinan,” ujarnya.
“Pastor mana yang mau diajak ke sini? Mgr mau?” Senyum lebarnya yang khas terkembang.
Kemudian kami semua sibuk berfoto. Menikmati indahnya pagi di alam yang luar biasa ini. What a wonderful world!
“Mbak Lini, mau ikut menyusuri Kawah?” ajak Pak Ronald.
“Saya di sini saja. Anak-anak biar main. Silakan, temani Mgr.”
Rasanya cukup lama juga kami di sana. Seingatku, matahari kian menyilaukan sinarnya. Saatnya kembali ke tenda. Sarapan.
Para peserta mulai berangkat hiking per kelompok. Fr. Haryanto dan Rm. Wahyu sempat menemani kami sarapan di depan tenda. Ternyata tenda merah yang di ujung itu tendanya Fr. Haryanto. Tak lama, Fr. Haryanto dan Rm. Wahyu menemani teman-teman OMK hiking.
Setelah beberapa saat, ponselku berdering. Di sana, tidak ada provider ponsel yang bisa meneruskan sinyal kecuali 1 provider, kebetulan yang aku pakai.
“Ngopo, Ter?”
“Lin, aku mau buka tenda di sini. Aku ada di surga.”
“Di Gunung Tabor ya?” Tawanya yang khas terdengar cukup keras.
“Ter, ini Mgr mau pamit lho.” Kemudian ponselku kuberikan ke Mgr. Puja. Kudengar Mgr. Puja pamit lewat telepon.
Jam 10, Mgr. Puja diantar Mas Chris pulang ke Green House, Jl. Jawa. Aku tidak tega dengan menu nasi bungkus yang dimakan kedua anakku. Kami memutuskan untuk turun ke kota mencari makan siang.
Dalam perjalanan turun, kulihat antrian panjang menuju Kawah Putih. Lokasi Ranca Upas memang lebih di atas dari Kawah Putih. Puas makan dan bermain, jam 1 siang kami kembali ke kemah. Antrian lebih panjang dari sebelumnya. Mobil tidak bergerak. Jam 3 sore, tepat di depan resor Patuha, aku memutuskan untuk jalan kaki pelan-pelan. Sedianya, jam 2 siang aku harus memberi sesi sharing. Tapi Fr. Haryanto yang kuhubungi mengatakan kalau teman-teman OMK kehujanan ketika hiking, maka acara diundur. Tapi ini sudah jam 3 sore. Kebetulan Si Sulung mau buang air. Kami berjalan mencari semak yang cukup memungkinkan untuk Si Sulung buang air. Cukup jauh juga kami berjalan meniti tepi aspal yang menanjak. Si Bungsu juga mau ikut. Maka keduanya kupakaikan jas hujan. Gerimis menemani kami sepanjang jalan sambil bernyanyi “Srengenge Nyunar”
SRENGENGE NYUNAR – G. Djaduk Ferianto
srengenge nyunar kanthi mulyo
angine midid klawan rena
manuk’e ngoceh ono ing wit-witan
Kewane nyrenggut ono ing pasuketankabeh podho muji Allah kang mulyo
kabeh podho muji Allah kang mulyo
Akhirnya, Tuhan memberi kami semak yang cukup rimbun dengan jalan yang landai. Usai buang air, kami istirahat di sebuah batu besar.
“Udah sampe mana, Yah?”
“Udah lewat bus mogok.”
“Oh ya, brarti abis belokan kamu liat aku.”
Benar saja, sesaat kemudian mobil Katana putihku terlihat.
“Dik, mau cokelat?” Aku tersentak. Ada seorang perempuan muda bersama keluarganya menawarkan sebatang besar cokelat.
“Makasih, Tante.”
“Gak pa-pa kok.” Perempuan ini terus membujuk. Mungkin ia kasihan melihat kedua anakku yang terduduk lemas di batu besar itu.
“Mau ke mana, Mbak?”
“Saya kemping di Ranca Upas, ini mau pulang ke kemah.” Ternyata mereka mau berwisata ke Kawah Putih. Jika aku jadi dia, mungkin aku sudah memutar mobil dan berbalik pulang. Tapi aku kan justru mau pulang ke kemah…
“Yuk, Yla sama Vyel ikut Ayah aja ya, naik mobil. Ibu mau jalan kaki ke kemah.”
“Kok gitu? Yla mau ikut.”
“Jangan. Masih jauh jalannya. Nanti ketemu Ibu ke kemah. Frater sudah nunggu di kemah. Ibu sudah terlambat isi acaranya, ya?”
Akhirnya mereka mau juga ikut Si Ayah. Dengan wajah sedih, mereka kembali naik mobil. Aku betul-betul salah kostum. Niat hati pergi makan, maka aku mengenakan hotpants. Dengan jaket seadanya dan mendengarkan mp3, aku meneruskan “hiking” setidaknya sepanjang 3km sampai ke kemah. Tak kuhiraukan siulan dan celotehan orang-orang. Siapa yang tidak menggoda perempuan mengenakan hotpants berjalan sendirian? Mungkin dipikirnya mereka sedang menggoda gadis, aku tertawa dalam hati.
Akhirnya, sekitar jam 4 aku berhasil tiba di kemah. Begitu melihat perkemahan, rasanya aku ingin rebahan sejenak, meluruskan badan dan mengatur napas. Dari kejauhan Pak Oni orang Paskhas sudah memberondong dengan berbagai pertanyaan dan pernyataan.
“Kok gak telpon? Kan bisa dijemput naik motor.”
“Sudah gak terpikir, Pak. Yang terpikir cuma “aku terlambat”. Wong aku aja sempet mikir “tendaku dikunci ga ya? Udah ngawur deh.”
“Lha itu tadi jalan dari mana?”
“Dari Patuha.”
“Jauh dong? Itu 3km lebih lho.”
Tiba-tiba Fr. Haryanto menghampiri. “Piye?”
“Duh sori telat, Ter. Aku tadi jalan dari Patuha. Nih, kakiku kotor meyakinkan kan?”
“Nggo hotpants lagi.” Ujarnya sambil memandangi kakiku yang “bertato” lumpur.
“Piye? Wis mulai?”
“Siap? Ya wis, kalo siap anak-anak aku suruh ke atas kandang rusa itu ya. Sesimu di atas situ aja.” Wah, urung deh keinginanku. Si Ayah pasti masih di tengah macet. Sejenak memandang lokasi perkemahan sudah mulai berlumpur. Berpikir-pikir, sempat gak ya ganti celana supaya lebih pantas? Dingin lagi. Tapi berlumpur gitu?
“Hayo! Malah melongo!” Aku kaget.
“Iya, Ter. Lagi mikir mau ganti celana.” Ah, sudahlah. Cuci kaki aja yang bersih.
“Lin, itu pondok sudah disewa teman-teman. Cuci kaki di sana aja biar gak kotor lagi,” ujar Pak Oni.
Betul juga ya. Bergegas membersihkan kaki seadanya, teman-teman sudah menunggu di atas kandang penangkaran rusa itu.
Mungkin saat itu sekitar jam 4.00 sore. Sesi sharing di atas kandang rusa dimulai. Tidak ada kursi, maka peserta kupersilakan untuk berdiri atau duduk sekehendak hati mereka. Begitu aku bersiap membuka mulut, seorang panitia menghampiri dan berbisik, “Kak, maaf. Peserta yang mau ikut masih banyak. Tapi kita kuatir ambruk kalau semua jadi satu. Kalau 2 sesi gimana, Kak?”
Aku terhenyak. Semua? 2 sesi? Demikian besarkah antusiasme teman-teman OMK ini?
“Ya, ya. Boleh. Dari pada nasib ktia semua seperti Titanic yang karam di laut.” Aku melihat berkeliling. Mungkin 100 orang lebih, mengingat seluruh peserta berjumlah 341 orang. Banyak betul! Tuhan, temani aku ya.
Teman-teman OMK sangat antusias berbagi cerita pengalaman hidup. Format yang paling kusukai dan selalu kupakai: ngobrol bareng. Ini kali kedua aku bicara di depan teman-teman OMK, sedikit banyak sudah tahu bagaimana menyampaikan agar mereka lebih menyimak.
“Kalo saya pakai lo-gue, lebih nyaman gak?”
“Iyaaa…!!” Dengan heboh mereka menyahut.
Kuberi mereka kesempatan untuk mengenalku dulu. Orang akan lebih nyaman jika mengenal lawan bicara, kan? Kuawali kisahku dengan betapa kelamnya masa laluku.
“Gue adalah orang yang bejat, nista. Gue pernah freesex, drugs. Coba sebutin, apa yang gue belum pernah?” Harapanku supaya mereka tidak merasa sungkan bahwa aku orang yang suci dan lebih leluasa mencurahkan segala uneg-unegnya.
Pergantian sesi 1 dan 2 berjalan sangat singkat. Demikian singkatnya hingga aku tak sempat mengambil minum atau melakukan apapun.
Di balik mudanya usia mereka (rata-rata peserta kemping SMA sampai kuliah tahun awal, berarti sekitar 16-20 tahun), pemikiran mereka mulai memperlihatkan kematangannya. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan terkadang di luar dugaanku.
“Kak, kalau tidak berbuat salah, maka tidak akan maju. Kalau sudah tahu itu salah, tapi dilakukan, apakah juga bisa maju?”
“Ketika kita tau, kalau itu racun dan bisa bikin kita mati, apa kita akan maju? Kalo udah mati, gimana mau maju?”
“Kakak melakukan yang udah tau salah, tapi bisa maju.”
“Gue maju setelah gue ninggalin yang salah itu. Belajar dari yang salah, maka gue jadi maju.”
“Kak, bagaimana bersahabat dengan Tuhan?”
“Gak perlu jadi pendaras doa yang tekun untuk bersahabat dengan Tuhan. Mulai aja dari yang mudah dulu. Kalau gue tanya “siapa yang kalau curhat ke temen gak pernah dikomentarin dan bikin bete?” Tidak ada yang mengacungkan tangan.
“Curhat sama Tuhan, lo gak akan dikomentarin. Dia tetap diam apapun yang lo ceritain. Kalo perlu, lo duduk diam aja. Rasain klo Tuhan itu ada di sebelah lo, duduk nemenin lo. Ikut ngerasain yang lo rasain. Dia akan bekerja begitu lo selesai curhat. Kalo lo yakin Dia sungguh dengerin dan bekerja, Dia akan nunjukin kok.”
“Kak, bagaimana supaya berani mengambil keputusan?”
“Buat gue, ngambil keputusan itu yang pertama adalah tidak kriminal. Norma itu relatif. Abis itu, lo curhat deh sama Tuhan sahabat lo itu. Tanya sama Dia, pendapatnya apa. Yang penting juga, keputusan lo harus bikin lo nyaman. Kalo nyaman, lo akan berani jalanin semua risikonya.”
“Kak, pacaran yang sehat itu sejauh mana?” Aku mencari cara yang tepat untuk menjawabnya.
“Gue minta lo ngacung dalam hati ya? Siapa yang pacarannya lebih dari ciuman?” Kuperhatikan banyak juga yang terdiam.
“Gue cuman mau nekanin, tolong jangan freesex. Gue pernah ngelakuin dan itu banyakan gak enaknya. Selain ketagihan, penyakit, belum lagi risiko “tekdung”. Hidup lo akan berubah dalam sedetik.”
“Kak, gimana kalau keluarga gak setuju sama keputusan kita? Kakak aja kan ninggalin keluarga.” Wah, susah nih menyampaikannya…
“Yang paling penting, itu tidak melanggar keinginan Tuhan bahwa kita akan lebih baik. Anggap aja tidak melanggar 10 Perintah Allah. Bahwa keluarga tidak setuju, memang berat. Gue ga nyaranin lo untuk ninggalin keluarga lo gitu aja. Mungkin keluarga gak dukung, tapi kalo lo yakin Tuhan emang dukung, lo punya jauh lebih banyak kekuatan. Mungkin lo emang sendiri, tapi lo berdua sama Tuhan. Kurang apa? Berikutnya, lo buktiin kalo lo emang jadi lebih baik.”
Aku senang melihat generasi muda itu begitu antusias dengan perjalanan hidup mereka. Aku berusaha membuka mata mereka bahwa di usia seperti mereka, tidak seharusnya mereka stres karena hal-hal sepele seperti persoalan pacaran dan sebagainya. Mestinya mereka bisa lebih menikmati hidup dengan santai. Akan ada waktunya mereka harus menyikapi hidup dengan lebih serius dan bertanggung jawab, dan itu bukan sekarang.
Aku menanamkan prinsip “outside the box” keluar dari kotak, berani bersikap, berani tampil beda. Jika bisa menjadi trendsetter, kenapa harus ikut-ikutan?
“Seandainya kita berada di sungai yang deras. Kamu diminta untuk berjalan ke hulu. Kenapa harus berjalan melawan arus? Kenapa tidak meniti pinggiran sungai? Kalau perlu, naik dulu ke atas lalu berjalan ke hulu. Yang penting tiba di tujuan. Caranya bisa macam-macam.”
Kulihat mereka manggut-manggut. Entah paham atau tidak.
Di akhir sesi kedua, aku sempat dicegat seorang Frater SS.CC dari Seminari Damian, Fr. Agus. Menanyakan kemungkinan aku ngomong di sana, di depan para frater. Gak salah nih?? Nanti kalo fraternya pada sesat gimana?
Kelompok kecil itu masih semangat dengan konsep “outside the box”. Hujan turun cukup deras. Peserta dipanggil panitia untuk berkumpul. Seorang peserta menunggu kelompok kecil itu bubar, lalu menyapaku.
“Kak, boleh curhat?”
Lalu ia menceritakan bahwa hidupnya sama dengan masa kelamku. Bagaimana ia ingin keluar dari jeratan narkoba dan seks bebas.
“Umurmu berapa?”
“20, Kak.” Deg! Pada usia itu bahkan aku belum melakukan segala kenistaan itu. Sambil mendengarkannya bercerita, aku mengenang masa 12 tahun lalu. Aku hanya seorang perokok, tidak lebih. Sungguh kehidupan anak-anak muda ini membuatku pening.
Cukup lama kami berbincang. Akhirnya aku menutup pembicaraan.
“Tuhan bukan tidak mendengarkan doamu. Buktinya apa? Yang tadinya kamu rajin ke bar untuk mabuk, sekarang kalau diajak sebenarnya malas. Berarti sebenarnya kamu ada kemajuan. Karena dibujuk-bujuk akhirnya kamu kalah. Kalau kamu yakin Tuhan itu baik, kenapa kamu membela temanmu yang kamu tau tidak baik. Menurutmu , Tuhan sedih gak dinomorduakan? Seandainya kamu jadi Tuhan, apa rasanya?”
“Kesel, Kak. Orang kok gini amat!”
“Kita anggap saja Tuhan sedang merasa begitu saat ini. Masih mau bikin Tuhan sedih?”
Anak itu terdiam.
“Aku kasi kamu PR. Tugasnya: merasakan kebaikan Tuhan dan bersahabat sama Tuhan. Itu dulu. Nanti kamu hubungi aku ya?”
Kami turun dari atas kandang rusa itu. Dalam kegelapan kulihat anak itu berjalan di bawah hujan sambil termenung. Setidaknya, dia memikirkan pembicaraan kami.
Acara api unggun batal digelar. Hujan makin deras. Sejak siang, hujan hanya berhenti sore sekitar 2 jam. Area perkemahan sudah berubah menjadi kubangan lumpur. Panitia dan peserta kocar-kacir, panik. Tenda tidak lagi bisa dijadikan tempat untuk tidur. Fr. Haryanto dan Rm. Wahyu mulai mengevakuasi para peserta. Si Ayah menghampiriku. “Tenda kita sudah jadi lumpur. Selimut anak-anak kutinggal dulu karena berlumpur. Bajumu juga kotor semua.” Tak apalah. Sesi yang seharusnya kubawakan bersama Pak Perry juragan Factory Outlet juga mustahil diadakan dalam keadaan begini. Sedianya, sesi itu membicarakan seputar kehidupan berorgansisasi. Kulihat jip mewah Pak Perry berlalu. Berarti sesinya memang dibatalkan. Mau diadakan di mana yang menampung 350 orang?
Tadinya ada kamar di pondok untukku sekeluarga. Melihat keadaan, lebih baik aku tidur di mobil, kamar itu biar untuk para peserta.
“Mbak Lini, pindah ke resor Patuha gimana?” Pak Ronald menawarkan.
“Tapi sama peserta lain ya? Beramai-ramai. Aku gak mau tinggal di kamar sementara mereka di sini.”
“Ya, nanti akan ada peserta perempuan yang nyusul.”
Lalu aku sekeluarga, Pak Ronald dan Pak Oni Paskhas menuju resor Patuha. 2 bangsal berisi masing-masing 10 ranjang disiapkan. Kantuk menguasaiku. Tak sanggup lagi menunggu peserta yang datang.
Malam itu berlalu dengan penuh keprihatinan.
Paginya.
Aku terbangun. Lho, katanya yang mau datang peserta perempuan? Kok laki-laki semua? Mungkin ada sekitar 15 orang. Tak lama Pak Ronald datang.
“Selamat pagi!”
“Pagi, Pak. Pesanannya betina kok yang datang jantan semua?”
“Saya juga bingung, kok yang dikirim ke tempat enak malah yang jantan ya?”
Sempat ada seorang peserta berkata, “Kenapa ya, kemarin bangun ya langsung melek. Ini kok meleknya susah banget?” Hahaha… kena kasur nyaman, jadi malas bangun. Sebentar kemudian, mereka sudah dijemput untuk kembali ke kemah. Namanya juga evakuasi, ada saja beberapa peserta yang datang membawa sleeping bag tapi tidur di kasur empuk.
Setelah dijamu sarapan oleh Pak Ronald, kami semua kembali bergabung ke kemah. Suasana bertolak belakang dengan kemarin pagi. Hanya sebagian kecil panitia yang tidur di tenda. Bahkan panitia mengubah atas kandang rusa tempat sesiku kemarin menjadi “tenda” bagi peserta laki-laki. Dibuatkan dinding dari terpal untuk sedikit menghalau dingin. Wajah para peserta tidak lagi ceria. Kulihat Fr. Haryanto yang sudah tidak lagi mengenakan alas kaki.
“Pagi, Ter. Turu nangdi?”
“Pagi. Sudah sampai sini lagi. Tidur di tenda. Tendaku aman. Kering. Tendamu sama tenda Mgr yang banjir lumpur.” Lho kok bisa? Kan tenda kami bertiga bersebelahan? Mungkin itu anugerah buat kerja keras Fr. Haryanto.
Kulihat para peserta sudah sarapan dan bersiap untuk melanjutkan sesi team building. Niatku pulang pagi ditahan Rm. Wahyu. “Nanti aja, abis team building.”
“Tapi, aku ga ikut misa ya, Mo? Masih banyak urusan di Bandung nih.”
Ternyata sesi team building bukan saat itu. Masih ada acara kritik dan saran dari peserta. Aku, Fr. Haryanto dan Rm. Wahyu menyimak dari kejauhan. Tiba-tiba, tanganku digaet Fr. Haryanto. Kualihkan perhatian ke peserta yang sedang bicara di tengah.
“Sesi sharingnya seru!” Kudengar tak begitu jelas.
“Ter, kok tanganku digaet tadi knapa?”
“Sesimu itu lho, lagi diomongin.”
“Lho, emang sesinya Pak Ronald bukan sesi sharing?” Pak Ronald membawakan sesi petualangan. Dalam hati aku senang sekali ada respon positif dari peserta.
“Ter, kmaren itu yang ikut sesiku brapa orang sih, sampe ga muat jadi 2 kali gitu?”
“Ya, mbuh. Harusnya ya semua peserta. Wong tempatnya Pak Ronald aja kecil jadi dibikin 4 kali.”
Wah? Banyak sekali! Pantas saja atas kandang rusa itu terancam rubuh jika semua peserta naik ke sana!
Setelah acara kritik dan saran dilanjutkan dengan sesi team building, aku pamitan. Dicegah oleh Fr. Haryanto, Rm. Wahyu dan Vina sebagai Koord. Acara. Alasannya, harus makan siang dulu. Wah, niat pulang pagi, jadi pulang siang. Kulihat ada petugas catering yang menyiapkan meja dan hidangannya. Kemping kok penutupannya mewah betul? Kontras sekali dengan makanan 2 hari kemarin?
Usut punya usut, ternyata Gea salah satu panitisa merayakan sweet 17. Itu menjadi kejutan dari Mamanya. Tentu saja pakai acara tiup lilin, mencoreng muka dengan kue dan menceburkan Gea dan Arnold (Ketua Panitia) ke tepi situ (danau kecil).
Sudah kenyang, sudah menikmati pesta ulang tahun Gea. Waktunya aku pulang. Misa penutupan sedang dipersiapkan. Dipimpin oleh 4 imam: Pastor Wahyu (Moh. Toha), Pastor Thomas (Waringin), Pastor Primo (Buah Batu) dan Pastor Nugroho (Sumbersari) direncanakan pada jam 1.00 siang. Baik misa pembukaan dan penutupan diadakan di alam terbuka. Sungguh menarik. Lebih menarik lagi karena misa penutupan diikuti oleh para peserta dan panitia yang sudah berlumuran lumpur, termasuk Fr. Haryanto. Sayang, aku sudah kesiangan kembali ke Bandung.
Dalam perjalanan pulang ke Bandung, sebelum ke Bekasi, aku merenung. Aku bukan orang yang percaya pada kebetulan. Tapi apa memang kebetulan: rencana kemping bertepatan dengan ulang tahunku, aku diundang mengisi sesi, diadakan di hutan-gunung dengan pemandangan yang luar biasa, di tengah 400 orang dari 5 paroki sekeuskupan Bandung termasuk Bapa Uskup, memberi kesaksian tentang kebaikan Tuhan dan rasa syukur, merasakan serunya hujan yang mengubah perkemahan jadi kubangan lumpur. Mungkinkah kebetulan itu sedemikian banyak? Atau memang itu hadiah kejutan dari Tuhan untukku?
Sejak 7 tahun lalu, aku ingin sekali merayakan ulang tahun penuh kebahagiaan di tengah orang-orang terkasih. Tahun ini, Tuhan memberikan lebih dari yang kuminta. Mustahil jika hari itu aku tidak berkata di depan para peserta, “Tuhan sungguh baik. Bersahabatlah denganNya.”
Belum lagi sampai di rumah, kedua anakku berkata, “Bu, kapan lagi kempingnya? Ajak Fr. Haryanto sama Mgr. Puja, ya.”
Meskipun oleh-oleh berupa lumpur di pakaian yang belum tentu bisa bersih, justru itu kenangannya. Dulu noda lumpur ini ada karena kemping yang sangat seru itu…
Sungguh menyenangkan dan tak terlupakan kemping hari itu. Sampai ketemu lagi, teman!
Terima kasih buat Fr. Haryanto yang memberikan kesempatan kami sekeluarga untuk ikut kemping dan memberi aku kesempatan untuk menyemangati teman-teman OMK.
Silakan melihat foto-fotonya. Klik di sini dan sini.
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Bandung, Ngobrol Bareng, Perjalanan, Si Ayah, Si Bungsu, Si Sulung, Syukur, Ulang Tahun
This entry was posted on Monday, March 9th, 2009 at 8:22 pm and is filed under Kemping Ulang Tahun. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.










12:02 am on March 20th, 2009
Lini, g merasa beruntung ngebaca tulisan elo yg ini. Betapa sungguh g jg melihat perjuangan elo utk menulis, menerbitkan buku, di mana g jg terinspirasi dan g jg seneng banget bahwa elo gak pernah pelit ngasih info, semua dikasih:) Thank u banget.
Dan g rasa, elo bakal dipakai Tuhan lebih dan lebih lagi dgn tulisan2 elo di masa datang, dgn kesaksian elo bahwa Dia sungguh baik dalam hidup elo. Bahwa Dia sanggup ubahkan elo dari masa lalu yang kelam, jadi seperti hari ini.
Nice to know you! Biarpun blm pernah ketemu:) GBU in everything you do n hepi belated bday!