Lebaran Terakhirku

Jumat malam lalu sepulang dari Kelapa Gading menuju rumah di Harapan Indah, Bekasi, aku mengamati kemacetan yang dipenuhi pemudik bermotor. Jalur Jl. Raya Bekasi  dan Jl. Raya Kalimalang sudah pasti dipenuhi pemudik bermotor. Bahkan persimpangan masuk gerbang komplek rumah dipasangi tanda “Jalur Pantura”.

Para pemudik itu dapat dikenali dengan khas: membawa tas besar atau kardus yang diikat di jok belakang dan memakai jaket tertutup rapat. Beragam tujuan mulai dari seputar Jawa Barat sampai Jawa Timur.  Seorang office girl di kantor Si Ayah juga termasuk pemudik bermotor berboncengan dengan seorang temannya yang juga perempuan.

Berbagai cara dilakukan para pemudik untuk bisa sekadar berkumpul bersama orang-orang terkasih. Berebut tiket, berebut tempat duduk di angkutan umum, berdesak-desak, bermacet-total-ria. Tidak sedikit biaya yang harus disisihkan. Harga tiket yang melangit dan kemacetan luar biasa memakan bahan bakar berlipat ganda. Tapi semua tak ada artinya dengan kegembiraan berada di tengah keluarga.

Kegiatan rutin tahunan itu – dengan segala dinamikanya – mengingatkan pada Lebaran terakhirku delapan tahun silam, tahun 2001. Meskipun tidak pernah mudik karena semua keluarga Mama ada di Jakarta, setidaknya momen Lebaran menjadi satu-satunya ajang berkumpul bersama para sepupu.

Biasanya, setelah sholat Ied aku, Mama, dan Abang serta Alm. Papa ketika masih hidup “sungkem”. Selesai sungkem, aku dan Abang mendapat “salam tempel” dari Mama. Kemudian kami makan ketupat, opor, rendang, gulai sayur labu atau pepaya. Selesai makan, kami berkeliling ke rumah tetangga. Alternatif lainnya, selesai makan kami ke makam dulu untuk nyekar baru ke rumah tetangga.

Ketika Alm. Opung dan Alm. Nenek masih hidup, seluruh Om, Tante, dan sepupu berkumpul di rumah karena Opung dan Nenek tinggal di dekat rumah. Sepeninggal Opung dan Nenek, kami berkumpul di rumah Tulang tertua. Keluarga Mama memang antik. Sehari-hari kedekatan mereka dipenuhi dengan keributan, bahkan di Hari Lebaran. Tidak heran ketika para keponakan mulai dewasa, keributan para Om dan Tante menjadi bulan-bulanan sendiri. Tidak sampai 30 menit setelah saling bermaafan, suara-suara bervolume keras dan berintonasi tinggi pun saling bersahutan. Kesempatan ini dimanfaatkan sebaik-baiknya bagi para keponakan untuk berbuat “nakal”. Pergi ke warung dan merokok! Jaman itu aku belum berani terang-terangan karena ada Abang. Hehehe…

Menjelang sore, rombongan keluarga besar Mama bersama-sama ke rumah Opung dan Nenek lain yang masih Kakak atau Adik dari Opung dan Nenek. Duh, silsilahnya ribet deh, aku juga gak tau persis. Yang aku tau pasti, di rumah Nenek Setiabudi – karena dulu tinggalnya di Setiabudi dan memiliki seekor burung kakatua – selalu ada tape ketan yang paling nikmat di dunia! Rumah itu menjadi persinggahan favoritku. Seluruh “safari” berakhir malam hari. Badan pegal-pegal, letih, penat, dan… kenyang!!

Rasanya ada yang janggal ya… Aku  nyaris tidak pernah berlebaran ke keluarga Papa meskipun Papa masih hidup. Yah, itulah dinamika rumah tangga Papa-Mama. Itulah bentuk egoisme Mama. Itulah bentuk pengorbanan Papa. Keluarga Papa – Nenek dan semua Bou (adik-adik perempuan Papa) – ada di Medan dan Panyabungan. Agak sukar mengingat kapan terakhir kali aku telepon Nenek mengucapkan selamat Lebaran. Mungkin Papa telepon sembunyi-sembunyi. Mudik ke Panyabungan? Hohoho… tidak pernah!! Mama mengijinkan tapi “ditakut-takuti” bahwa di sana mandi di kali. Tentu di benakku adalah kali super duper jorok seperti di Jakarta. Tidak pernah bisa membayangkan kali jernih yang bisa untuk mandi. Abang pernah mudik ke Panyabungan sekali, karena kebetulan waktu itu dia sudah SMP, aku masih SD. Sepulang dari sana, ceritanya juga membosankan. Maklumlah, kami kan anak kota, membayangkan kampung yang sepi rasanya seperti penyiksaan.

Baru sekian puluh tahun kemudian ketika pertama kali mudik ke Purbalingga merayakan Natal bersama keluarga Si Ayah, aku merasakan serunya mudik dan indahnya tinggal di kampung. Itu tidak serta merta menjadikan “sudah terlambat” untuk mudik ke Panyabungan. Kendala jarak dan ongkos yang tidak murah membuatku tak kunjung mudik ke sana. Panyabungan adalah sebuah kota kecil yang berada di tengah-tengah antara Medan dan Padang. Jaraknya 10 jam bermobil dari Medan, dan entah berapa jam bermobil dari Padang. Jika dari Jakarta naik pesawat ke Medan, lalu harus sewa mobil ke Panyabungan. Belum lagi medan Sumatera yang jauh berbeda dengan Jawa dan tidak kami kenal. Pffhhh… banyak betul tantangannya!

Sebetulnya, setelah Lebaran terakhirku, aku masih rutin berlebaran di rumah Mama membawa anak-anak. Suasananya tentu saja jauh berbeda. Kali itu aku bukan lagi ikut merayakan, tapi sebatas menemani Mama merayakan.

Lebaran terakhirku memang tidak menyenangkan. Setelah delapan tahun kemudian, aku ingin sekali untuk pertama kalinya merayakan Lebaran di kampung bersama Nenek, Bou, sepupu, dan beberapa keponakanku yang tak satupun kukenal. Merasakan seperti  orang kebanyakan yang rela untuk mudik ke kampungnya dengan segala risiko termasuk kehilangan harta benda bahkan nyawa. Menikmati hidangan Lebaran yang menunya mirip-mirip di seantero Indonesia, tapi dengan rasa dan sensasi yang berbeda.

Tuhan, tolong jaga semua keluargaku di manapun mereka berada. Terutama Nenek dan semua saudara di Panyabungan dan Medan sana. Sampaikan pada mereka bahwa aku kangen. Sampaikan peluk-cium dari kami sekeluarga dan ucapan “Selamat Idul Fitri. Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon maaf lahir batin”. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih, Bapa.

Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , , ,

This entry was posted on Monday, September 21st, 2009 at 5:20 pm and is filed under Lebaran Terakhirku. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

15 Responses to “Lebaran Terakhirku”

  1. mercy sitanggang
    11:25 pm on September 21st, 2009

    Aku kenal lini, dia masih muslim, lama tidak bersua,ternyata lini sdh sama agamanya dengan aku.. Aku kawan baik lini, seorang lini yang memang dari dulu penuh dg kejutan.. Sampai sekarang, lini yang selalu berada di luar lingkaran utk selalu membuktikan kecerdasannya, akhir kata.. Akhrnya kita natalan bersama.. Tuhan Memberkati..amin..

  2. Lini
    7:23 am on September 22nd, 2009

    @ Mercy: matur tengkiyu Ci. GBU full :)

  3. Frans Indroyono
    10:46 am on September 22nd, 2009

    Ketika kita melihat kehidupan kita di masa lalu…

    Kebijaksanaan apa yang bisa dibagikan, Lini?

  4. Lini
    10:54 am on September 22nd, 2009

    @ Frans: berada di tengah “keluarga” ga ada bandingannya di dunia! :)

  5. Ronaldo Rozalino
    1:44 pm on September 24th, 2009

    Keluarga Besar Ronaldo Rozalino mengucapkan: Minal Aidin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir Batin Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H

  6. Lini
    2:37 pm on September 24th, 2009

    @ Ronaldo: Sugeng Lebaran. Mohon maaf lahir batin :)

  7. Lini
    3:26 pm on September 24th, 2009

    lupa ditambahin.
    yang ga kalah menarik adalah pemudik bajaj
    dengan bendera merah putih berukuran cukup besar dikibarkan di bagian bajaj-nya
    bermuatan penuh penumpang dan dus berisi segala macam
    kemana gerangan tujuan pemudik bajaj itu?

    kan lumayan juga lho, sampe kampung rada budeg n gemeteran, hihihi…

  8. ahmad salim
    5:23 pm on September 27th, 2009

    salam kenal kk

  9. Lini
    8:01 am on September 28th, 2009

    @ Ahmad: salam kenal juga :)

  10. DV
    8:29 am on September 28th, 2009

    Wohh.. aku baru tau ternyata kamu itu ‘mualaf’ ya?
    Salut! Butuh keberanian yang super duper besar untuk mengakui hal seperti ini.

    Lini, meski aku bukan ‘mualaf’ tapi barangkali agak sedikit sama denganmu, keluarga besarku juga datang dari latar belakang yang berbeda terutama dari garis agama.

    Selamat libur Lebaran meski terlambat, dan selamat menyambut Natal.

    Berkah Dalem :)

  11. Lini
    8:42 am on September 28th, 2009

    @ DV: matur tengkiyu Don… jangan lupa ngabari nek DV Jr. lairan yes? :D

  12. Grace
    1:23 pm on September 30th, 2009

    seru ya kl punya kampung dan keluarga untuk pulang . . .

  13. Lini
    1:55 pm on September 30th, 2009

    @ Grace: jajalin cie… :D

  14. Gie Nan
    7:02 pm on September 30th, 2009

    Pantesan Mba Lini nama belakangnya “Hanafiah.itu yana membuatku tidak percaya kalo Mba lini seorang………. sama Mba,dulu juga Ibuku seorang Budha.

  15. Lini
    7:07 pm on September 30th, 2009

    @ Gie: oh ya? salam buat Ibundanya Gie :)

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>