Life is A Matter of Choosing
Sayang, orang tuanya tidak menyadari perkembangan jaman yang berubah. Dulu tidak seperti sekarang. Sifat “mentang-mentang orang tua”-nya kerap ditunjukkan. Bukan orang tua yang memahami anak, tapi seharusnya anak yang memahami orang tua. Mungkin bagi sebagian orang tua, itu adalah bentuk dari pengabdian anak pada orang tua. Ditambah lagi dengan usia orang tua yang sudah senja sementara si anak baru tumbuh dewasa, semakin memicu kesenjangan generasi.
Awalnya saya kagum pada kepatuhan si anak. Walaupun dengan sedikit kecemasan, semoga anak ini tidak memberontak di kemudian hari. Beberapa kali terdengar selentingan keburukan si anak. Tapi semua itu belum dapat terbukti dengan meyakinkan.
Semakin hari, semakin terlihat bahwa ada dualisme dalam diri si anak. Di hadapan orang tua, ia berusaha untuk menjadi anak yang baik walaupun tekanan terus diterimanya. Di luar rumah, si anak tumbuh menjadi sosok dewasa yang kurang ajeg. Karakter ini umumnya dimiliki oleh orang-orang yang tidak dekat dengan orang tuanya. Menjadi tidak ajeg karena mereka mencari role model di luar rumah, sehingga penyerapannya terlihat sedikit ini-sedikit itu.
Yang semakin mengkuatirkan, di luar rumah si anak semakin berani menunjukkan “jati dirinya” melalui simbol2 “anak gaul” seperti miras dan free-sex. Sayang si orang tua tetap menutup mata bahwa jaman sudah berubah. Bahwa pendekatan pada anak harus diubah.
Rasanya, jaman sekarang sulit untuk menekankan, “Jangan berbuat zinah!” Apalagi tanpa diimbuhi penjelasan sederhana dan logis atas resiko dan konsekuensi seks bebas. Penjelasan tidak perlu panjang-lebar. Jika penjelasan itu diikuti dengan diskusi panjang-lebar antara orang tua dan anak, itu akan menyempurnakan.
Orang tua mengatakan, “Jangan hancurkan masa depanmu!”
Saya mengatakan, “Jangan jadi pengecut. Hadapi segala resiko dari pilihanmu. Life is a matter of choosing. Kita memilih, berbuat, tentu siap dengan segala resiko yang sudah terpikir maupun tidak.”
Tuhan tidak mengatur hidup kita.
Tuhan hanya mengatur segala konsekuensi dari pilihan kita.
Untuk adikku AGP, whatever you choose, it changes your whole life forever! We are the architect of our lives…
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Pilihan
This entry was posted on Tuesday, August 21st, 2007 at 4:48 am and is filed under Life is A Matter of Choosing. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.









1:56 pm on December 1st, 2008
That’s what I feel right now.. I’m fighting with my father. But he never listed to my reason. Sucks@ and F**king fact. But, there’s still one thing that I’m afraid of, GOD… What will happen when kids put no respect for their parents but they feel that they still love them?