Lima Hari di Yogya
Hm… Sebetulnya gak banyak yang bisa diceritain selama di Yogya tanggal 17-21 November 2009 kemarin. Namanya juga mengasing. Tapi demi teman-teman tercinta, diupayakanlah penulisan laporan perjalanan ini, hehehe…
Aku naik kereta Senja Utama Solo jam 20.30 dari Stasiun Senen. Wah, berabad-abad ga naik kereta bisnis kok sekarang mirip kereta ekonomi? Kotor dan gak terawat. Ya udah, dinikmati aja. Kalau jalan jadi adem kena angin, kalau berenti jadi panas. Berentinya juga tidak seperti di lagu “Naik Kereta” yang liriknya, “Keretaku tak berhenti lama…” Oh ini berhentinya jangan diukur pake jam kalau ga mau darah tinggi! Makin darah tinggi karena pedagang yang hilir-mudik dengan gegap-gempita menjajakan dagangannya itu lho. Udah pura-pura tidur aja masih disodorin di depan muka, “Sale, Mbak. Sale!” Aarrgghh…!
Beda lokasi, beda yang dijajakan pedagang yang naik ke gerbong. Misalnya, di Cirebon dijajakan nasi ayam, di Purwokerto dijajakan getuk goreng, dan sebagainya. Tapi ada satu kesamaan sepanjang Stasiun Senen-Stasiun Tugu. Para pedagang menjajakan, “Mijon… Mijon… Mijon…!!”
Pagi pertama, Selasa.
Turun dari kereta jam 6.00. Melongo di Stasiun Tugu nunggu seorang Sahabat yang jemput. Ternyata dia diare jadi terlambat nyaris satu jam. Habis itu cari sarapan. Keliling sana-sini cari penginapan. Berjalan kaki. Sahabatku ini pejalan kaki sejati. Untung bawaanku kelewat minimalis jadi ga masalah digembol sana-sini. Mampir ke rumah seorang kawan di kawasan Dagen, dapat sarapan lagi hehehe… Akhirnya diketahuilah lokasi penginapan yang murah-meriah di dekat situ.
Menuju lokasi penginapan. Harganya luar biasa ekonomis, hanya 60 ribu ++/malam, kamar mandi di luar. Waahh… kayak kamar kos. Namanya juga mengasingkan diri, ya memang prihatin. Apalagi masih akan 4 hari 3 malam. Ternyata gak cukup itu, dikatakan si mbak resepsionis kalau besok malamnya di-booking orang entah sampai kapan. Kalau ingat Doa Bapa Kami, “Berilah kami rejeki pada hari ini,” cocok banget kan? Rejeki hari itu di Penginapan itu, besok ya cari penginapan lain. Kegiatan hari itu hanya ngobrol dengan sahabatku itu.
Sudah malam, lapar. Kami keluar cari makan dan bubar karena dia harus meneruskan pekerjaannya. Aku “ngantor” di warnet. Memberitahukan keberadaanku. Maklumlah, aku kan bukan kaum socialite yang bisa nenteng smartphone dan netbook plus notebook (hanya orang dungu yang punya keduanya dan dibawa bersamaan, sama seperti pakai celana jins dobel). Dilalah, seorang Romo Sahabat yang sudah seperti keluarga negur di aplikasi YM. Romo Sahabat memang berkarya di Yogya.
“Nangdi, Lin?” “Nang Malioboro, Pakde.” “Malioboro kene?” “Emang ono Maliboro liyane?” “Kamu ke sini.” “Bokek. Pakde ke sini.” “Kamu di sebelah mana?” “Pajeksan. Di warnet.” “Kamu diem-diem di situ. Tau toko buku Sari Ilmu?” “Tokonya Pak Yo? Tau. Di situ ya. Aku kelarin dulu ini.” “Ya.”
Sekitar lima menit kemudian, Si Sahabat tiba-tiba muncul. Jelas saja dia tau aku di mana, kan dia yang mengantar ke warnet ini. “Lho, ngapain?” Oh, sapaan yang buruk! “Nemenin lu. Kan lu jauh-jauh merantau ke Yogya, masa gak gue temenin?” Dia melongo. Merasa ada yang salah. “Lah, kata lu mau kerja. Gue udah ada janji sama temen-temen. Ikut aja lah ya?” Dia mengangguk. Rencananya, manusia ini hendak ngelarin kerjaannya supaya besok bisa nemenin aku. Entah apa dasar hukumnya sampai dia berubah pikiran.
Tidak sampai sepuluh menit setelahnya, aku hengkang dari warnet itu. Berjalan menembus malam. Malioboro tidak terlalu ramai oleh wisatawan. Ini kan hari Selasa dan bukan musim liburan. Jarak warnet dan toko buku Sari Ilmu hanya sekitar 500 meter. Hanya butuh waktu lima menit untuk tiba di sana. Letaknya yang berada dekat Kimia Farma membuatnya mudah dicari.
Maka terjadilah pertemuan dadakan itu. Saling berkenalan. Pasutri pemilik toko buku Sari Ilmu mungkin kenal dengan Romo Sahabatku. Aku baru saja berkenalan juga dengan Sahabatku. Pak Yo pemilik toko buku Sari Ilmu juga gak kalah kagetnya. “Lho, Mbak Lini? Romo gak cerita kalau janjian dengan Anda.” “Surprise!” Aku cengengesan. Akhirnya kita ngobrol di situ ramai-ramai. Usai dari sana, Romo Sahabat, Si Sahabat dan aku jalan-jalan cari penganan hangat. Di kedai itu obrolan dilanjutkan sampai cukup larut. Romo Sahabat mengantarku ke penginapan. Sempat juga ditengoknya kamar sederhanaku. Romo Sahabat pulang. Si Sahabat juga pulang. Aku mendekam sendirian di kamar pada malam pertama di Yogya.
Pagi kedua, Rabu.
Aku bangun kesiangan. Niat misa pagi buyar sudah. Tante ternyata ada di Yogya juga. Teleponku berdering. “Kamu di mana?” “Di Yogya.” “Sama siapa?” “Sendiri.” “Ngapain?” “Cari oksigen. Kok tau?” “Adik kasih tau, dia liat status Facebook-mu trus kasih nomor ini.” “Tante ngapain ke Yogya?” “Adik sakit cacar. Sekarang di rumah Om Ton di Taman Cemara dekat ring road utara. Mau ketemu?” “Boleh. Di mana?” “De Britto? Tante mau ketemu Fraternya dulu.” “Boleh.”
Aku pindah penginapan pagi itu. Kuatir kalau siang nanti tidak kebagian kamar. Penginapan kedua ini masih di jalan yang sama, justru lebih ke depan arah Malioboro. Kali ini kamar mandinya di dalam. Harganya 70 ribu/malam. Selisih empat ribu perak karena penginapan pertama ditotal harganya jadi 66 ribu! Setelah dirasa aman, aku cari sarapan lalu berangkat menuju De Britto, sekolah Adik. Teleponku berdering lagi.
“Di mana?” “Masih di jalan. Abis makan. Di mana, Tan?” “Sudah selesai. Mau ke Malioboro beli tiket untuk pulang besok. Kamu tunggu situ, kita ketemu di Mal.” “Di toko buku Sari Ilmu aja, depan Mal. Itu toko temenku.” “Ya.”
Sepuluh menit kemudian, kami bertemu di toko itu. Kukenalkan Tante pada Pasutri pemilik toko buku Sari Ilmu. Ngobrol beberapa jenak (kalau sejenak itu kan sebentar banget, lha ini lumayan lama lah). Hari makin siang. “Yuk, pamit dulu.” Tante pamit. “Aku nemenin Tante dulu ya, Pak. Jangan bosen kalau tokonya kujadikan meeting point.” Aku terkekeh. Tante dan aku ke mal. Mencari tempat yang nyaman untuk ngobrol. Berakhir di sebuah restoran yang memang tidak spesialis menjual kopi. Niatnya kan mau minum jus. Apa daya, akhirnya malah pesan cappuccino dan cafe latte. Padahal di depan restoran itu kopinya wangi sekali…
Akhirnya pembicaraan antara Ibu Angkat dan Anak Angkat terjadi panjang-lebar. Gak perlu detail lah ya? Hehehe… Namanya juga Ibu, pasti petuahnya banyak dan gak abis-abis. Perbincangan ini berhenti karena capek ngoceh dan keabisan ide. “Kamu mau ke mana?” “Harusnya janjian sama temen di MonJaLi. Tapi gak ada kabar. Biar aja. Tante mau ke mana?” “Pasar Beringharjo. Ikut?” “Ya.”
Maka petualangan berikutnya adalah ngubek-ngubek pasar dari jam 12 sampai jam 4 sore. Capek? Hohoho… pasti! Betis pegal. Tentengan banyak. Mulai dari belanja baju batik buat Om dan Adik-Adik sampai berburu jamu gendong yang dijual botolan dan camilan buat oleh-oleh. Diselingi minum dawet tentunya dong.
Agenda berikutnya? Ngaso di kamarku. Hujan rintik dan tentengan banyak bukan ide bagus untuk jalan kaki. Akhirnya, “Becak, Mas!” “Dagen, nggih?” “Nggih!” Setelah tawar-menawar, si Mas pengemudi becak mengayuh becaknya ke Dagen. Di kamar, pembicaraan Ibu Angkat-Anak Angkat itu berlanjut lagi. Menjelang malam, bubarlah kami. Tante harus kembali ke rumah Om Ton. Aku mendekam di kamar. Tidur. Agak malam, aku keluar beli bolpen yang habis dan roti karena lapar, setelah itu ke warnet, “ngantor” bentar. Menembus rintik hujan malam. Itu rencananya, ternyata aku nongkrong di warnet agak lama. Si Sulung kangen Ibunya. Curhat soal EHB Bahasa Inggris untuk besok. “Kan Ibu lebih pinter dari Ayah.” Wah… coba EHB Bahasa Inggrisnya sepulangku dari Yogya. Kenapa bukan Matematika dulu sih? Itu kan bidang Si Ayah? “Ayah suruh buka kamus. Di situ ada cara bacanya.” Sudah terbayang, lidah Jawa Si Ayah tentu sulit sekali melafalkan doa “Our Father” yang harus dibacakan besok. Alhasil, berakhir sampai larut malam. Jaket yang tidak tebal dan lembab terpaksa kupakai terus karena kipas angin di warnet yang menderu ke arahku. Ini sih ngeringin jaket di badan… Roti yang harusnya dimakan sejak tadi malah terdampar di dalam plastiknya. Bahkan setiba di kamar, kantuk lebih dominan dari lapar. Lalu tertidurlah si Lini dengan pasrah.
Pagi Ketiga, Kamis.
Bangun kesiangan (lagi!). Kenapa sih di Yogya ini misa pagi itu “subuh”? jam 5.30 di Bekasi (Jakarta) itu masih subuh. Padahal di Yogya memang matahari sudah tinggi, sudah terang. Hari ini gak ada rencana ke mana-mana. Artinya aku bisa tidur seharian. Hehehe… Kalau di rumah, mana bisa tidur seharian begini? Kebetulan gak ada seorangpun yang ngajak janjian. Aseeekk…
Hari ketiga jadi ga istimewa untuk diceritain karena isinya emang hanya tidur, nulis, baca, makan, nulis, baca, mandi, nulis, baca, ke warnet. Jadi dominan nulis dan baca. Kan tujuan mengasingkan diri itu mau cari oksigen, bukan wisata sana-sini. Yang jelas, sudah sejak hari Rabu, tiap sore kira-kira jam 3, Yogya diguyur hujan.
Pagi keempat, Jumat.
Berhubung kemarin tidak keluarin energi yang berarti, maka energi hari ini sudah penuh. Akhirnya bisa bangun (ke)pagi(an), jam 4 pagi. Sempet tertidur lagi beberapa menit. Jam 5 siap-siap berangkat misa. Sisa hujan semalam membuat Yogya dingin (atau Bekasi yang terlalu panas?). Si Sahabat yang berjanji mau misa bareng dan tak kunjung terlaksana ternyata masih lelap di depan komputernya. Gereja terdekat adalah Gereja Kemetiran. Bermodal petunjuk dari Si Sahabat yang ingatan geografisnya buruk, aku yang petualang yakin pasti sampai meskipun entah di mana. Asal jangan sampai di Gereja ketika berkat tutup.

Langit sangat terang seperti sudah siang. Terlambat sedikit, Imam baru saja membacakan bacaan Injil. Jam di tanganku menunjukkan jam 5.35. Tidak ada yang istimewa. Usai misa, aku kembali mendekam di kamar. Menjelang siang, aku berjanji temu dengan seorang teman. Seperti biasa, meeting point ada di toko buku Sari Ilmu.
Gadis temanku ini mengajak makan siang di dekat Kampus Sadhar. Dua perempuan kurus ini makan cukup banyak. Ngobrol ngalor-ngidul tentang banyak hal. Tak terasa, menjelang sore. Diantarnya aku pulang ke kamar. Kutunjukkan kamarku yang sederhana. Sempat juga membuka kemungkinan besoknya bertemu lagi. Menyenangkan sekali ngobrol dengannya.
Kembali aku melanjutkan aktifitas utama: tidur, nulis, baca, makan, nulis, baca, mandi, nulis, baca, tanpa ke warnet. Malamnya, aku berjanji dengan Romo Sahabat untuk bertemu. Kebetulan ia ada acara di Gereja Kemetiran. Kujemput ia di sana dengan berjalan kaki menyusuri jalan yang dingin dan becek. Kalau saja hujan tak berhenti, aku yang minta dijemput. Sampai di Gereja, kulihat mobilnya terparkir. Berarti belum selesai. Menunggu sambil melamun. Tak terasa akhirnya bubar juga acaranya.
“Piye, Lin?” “Wis to, Pakde?” “Sik yo.” “Ho oh.”
Romo Sahabat masuk lagi ke ruangan itu. Banyak mata memandangku heran. Akhirnya seorang ibu paruh baya bertanya, “Keponakannya Romo, Mbak?” “Iya, Bu.” Senyumku dibikin manis dong! Kalau mau dirunut, panggilan Pakde itu kan salah. Harusnya Paklik kalau ia adik ortu. Pakde itu karena anak-anakku memanggilnya begitu. Tapi ya biar aja.
“Wis, Lin?” “Wis. Pakde?” “Yo, mudun.” Aku mengekor. “Sik, arep nang pastoran.” Lalu kami bertemu Romo Paroki. Berbincang sejenak. Mungkin Romo Paroki heran, ini anak siapa kelayapan? Gayanya anak Jakarta banget dengan rambut pirang sebagian!
“Mangan, Lin?” “Ho oh, laper.” “Mangan opo?” “Mbuh. Terserah.”
Akhirnya meluncurlah ke sebuah tempat makan dengan masakan Thailand. Hm.. aku membayangkan tom yam di malam dingin begini…
“Kowe mangan sing akeh, ben lemu!” “Pakde kayak gak tau aja. Wis mangan akeh yo ora tau lemu!”
Hidangan yang dipesan cukup banyak itu akhirnya datang. Menurut postur tubuh, orang pasti mengira perempuan bertubuh tipis ini akan makan dua-tiga sendok saja. Selebihnya akan dihabiskan laki-laki bertubuh subur itu. Hohoho… Anda salah, Kawan! Hampir seperempat bubur dimakan si perempuan bertubuh tipis ini, selebihnya dimakan oleh pemesannya. Rata-rata seperempat dari seluruh hidangan di meja yaitu tom yam, ayam panggang merah dan kentang goreng memang dikonsumsi laki-laki bertubuh subur itu. Sisanya? Dihabiskan oleh prempuan bertubuh tipis ini.
“Bingung, Pakde? Manganku akeh kan? Yo ora lemu ki kepiye?” Kulirik Romo Sahabat. Wajahnya sedikit heran. “Ho oh’e. Manganmu akeh… “ “Wong dah dibilangi, aku mau periksa ke dokter.” “Periksa ya!”
Malam mulai larut. Aku diantar kembali ke kamar. “Kamarku yang ini lebih manusiawi, Pakde. Kamar mandinya di dalam.” Aku cengengesan. “Yo, wis. Aku mulih yo.” “Sisan pamit yo, Pakde. Sesuk Pakde lunga kan?” “Sampe ketemu di Bekasi. Ati-ati. Kamu pulang jangan naik kereta bisnis lagi. Naik eksekutif aja ya!” “Sip!” Malam itu berakhir dengan tidur nyenyak karena kekenyangan.
Pagi kelima, Sabtu.
Kali ini aku bangun cukup pagi. Sayang tidak ada misa Sabtu pagi. Akhirnya aku jalan-jalan ke stasiun. Lihat-lihat jadwal kereta. Bingung. Pulang kapan ya? Nanti malam? Kan mau misa sore dulu. Jadwal yang lebih malam gak ada. Besok pagi? Okelah, besok pagi. Nanti siangan aku kembali untuk beli tiket. Pagi begini belum buka loketnya.
Menjelang siang, aku kembali ke stasiun. “Semua tiket untuk hari Minggu habis.” Wah? Masa pulang sore ini? Akhirnya iseng-iseng cari tiket pesawat. Paling murah untuk hari Minggu itu hampir 600 ribu. Hampir sinting dengarnya. Akhirnya aku kembali ke stasiun, siap bernegosiasi dengan para calo yang berkeliaran. Begitu nomor antrian dipanggil, ternyata ada kereta Gajayana yang berangkat jam 23.30 malam ini. Horee…!! Bisa misa sore dulu, besok pagi tiba di rumah. Mungkin tiga kali aku melewati para pedagang di Malioboro membuat mereka mangkel karena jalanku yang cepat dan ga melirik dagangan mereka sebanyak tiga kali bolak-balik. Untung tidak perlu yang keempat kali.
Sisa hari kuhabiskan berkeliling cuci mata di Malioboro. Setidaknya, masa ga ada oleh-oleh buat keluarga? Menjelang sore, Si Sahabat sudah bisa meluangkan waktunya. Ngobrol sebentar, lalu pergi misa di Gereja Kidul Loji. Sabtu sore begini, Malioboro hiruk-pikuk. Tiba di Gereja lebih awal. Manusia macam Si Sahabat bisa misuh-misuh kalau terlambat misa. Akhirnya, bisa juga misa sore di Yogya. Gereja cenderung sepi. Mungkin karena habis hujan? Entahlah. Yang memberi homili seorang Frater. Entah aku yang lelah setelah bolak-balik ke stasiun atau memang membosankan, aku ngantuk sekali. Rasanya homili Frater ini ngalor-ngidul tak tentu arah. Akhirnya ditutup dengan sebuah cerita (yang seharusnya) lucu.
Ada seorang anak kecil. Ditanya oleh gurunya, “Cita-citamu apa?” Anak itu menjawab, “Jadi pemalas.” Lalu, bruk! Anak itu jatuh. Gurunya bilang, “Gak boleh cita-cita pemalas. Ayo bangun.” Ditanya lagi oleh gurunya, “Cita-citamu apa?” Anak itu menjawab, “Jadi pemalas.” Lalu, bruk! Anak itu jatuh lagi. Yesus kan kalau bertanya tiga kali. Maka gurunya bertanya ketiga kali, “Cita-citamu apa?” Anak kecil itu tetap menjawab, “Jadi pemalas.” Lalu, bruk! Lagi-lagi anak itu jatuh.
Kemuliaan…
Lho? Sudah ceritanya? Kok tau-tau dia turun dari mimbar? Aku berpandangan dengan Si Sahabat. “Jangan tanya gue. Satu-satunya yang gue pahami dari homilinya hanya bagian Kemuliaan itu tadi.” Mendadak kantukku lenyap entah ke mana.
Usai misa – ketika duduk di bangku dan di Gua Maria – aku sempatkan berdoa dulu. Entah kenapa, kebiasaan berdoa khusus di Gereja yang baru pertama kali dikunjungi jadi semacam ritual. “Doakanlah kami, sekarang dan waktu kami mati…”
Gereja mulai sepi. Kami berjalan lagi melalui beberapa genangan air menuju toko buku Sari Ilmu untuk pamitan. Dari sana, kami kembali ke kamar mengambil tas yang sudah siap diangkat.
Aku check-out malam itu. Mengambil KTP yang “disandera”. Berjalan menuju stasiun (untuk keempat kalinya sepanjang hari ini) di bawah gerimis yang turun dengan malas. Malioboro sudah berganti wajah dengan pedagang malam yang didominasi oleh kuliner dan pertunjukan wayang. Ini malam minggu, cukup ramai juga. Sementara berpasang-pasang kekasih bermesraan di Yogya, aku malah bersiap pulang. Hm… kapan terakhir kali bermesraan seperti anak muda itu ya? Kok mendadak merasa tidak muda lagi?
Ranselku yang memang tidak besar jadi sesak dengan tambahan oleh-oleh. Belum lagi gambar yang kuangkut dari toko buku Sari Ilmu. Semoga tidak lecet di kereta. Masih ada waktu untuk makan di warung sebelum kelaparan di kereta.
Jam 23.00, waktunya memasuki stasiun. Stasiun Tugu sepi pengunjung. Mungkin memang jadi aneh ketika inilah waktunya bersenang-senang di pusat wisata, bukan di kereta.
Aku memilih tempat duduk untuk menunggu. Si Sahabat menemani. “Terima kasih ya, sudah menemani gue.” “Ya. Tapi gak bisa lama karena kesibukan gue.” “Cukup lah. Kan gue ke sini untuk mengasingkan diri.”
Gajayana, keretaku, datang. Tepat waktu. “Sampai ketemu.” “Sampai ketemu.” Aku melambai. Berlalu. Masuk ke gerbong. Mencari tempat duduk. Menata bagasi. Duduk. Lewat jendela kulihat ia masih berdiri di situ. Memegang-megang ponselnya. Kutelepon. “Ada apa?” Sapaan yang tak kalah buruk! “Gue lupa bilang.” “Apa?” “Take care.” “Ya.” Kulihat dia tersenyum. Memberangkatkan kereta.
Pagi keenam, Minggu.
Gajayana jurusan Malang-Stasiun Kota Jakarta memasuki stasiun terlambat satu jam, jam 8.30. Kenapa tidak terpikir untuk turun di Gambir? Sudah lah. Turun dari kereta, aku kebingungan. Bagaimana turun dari gerbong setinggi 50 cm ke lantai yang harus kujejak? Sedang sibuk celingak-celinguk, kudengar suara yang sangat kukenal memekik, “Ibuuu…!!” Si Sulung dan Si Bungsu berlari menghambur memeluk dan menciumku.
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Perjalanan, Yogya
This entry was posted on Friday, November 27th, 2009 at 6:34 pm and is filed under Lima Hari di Yogya. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.







7:35 pm on November 27th, 2009
Hmmm… ceritanya singkat dan padat. Udah semua?? Hihihi ;-p
7:53 pm on November 27th, 2009
Pengen banged jalan ke jogja walo cuma bentar.. kapan ya?
8:08 pm on November 27th, 2009
sayang sekali waktu Lini 5 hari di jogja, aku pas ada kesibukan yg tdk mungkin aku tinggalkan. Pada hal hari2 biasanya aku selalu punya waktu banyak, tapi kali kesibukanku ini kok ya waktunya pas waktu Lini di Jogja. Kepengen kenal dng Sang Penulis ini saja tujuanku. Karena terus terang aku kagum dng bagaimana dia menulis. Aku membayangkan klo dia nulis cerita atau apa saja, seperti kayak ngobrol saja. Tulisannya lancar, renyah, enak dan mudah difahami. Pasti Lini punya metode menulis yang beda. Salam damai Lini.
8:51 pm on November 27th, 2009
Ketemu orang ‘aneh’ gaya Jogja ngga Lin?
10:18 pm on November 27th, 2009
Cukup buat mendeskripsikan pengalaman dan penggambaran akan Yogya, Lin… Btw, gw komen di sini, FB gw ngadat lagi…Vietnam, Vietnam…wkwkwk…
10:18 pm on November 27th, 2009
Loh sudah??? hihihi
10:34 pm on November 27th, 2009
Sebetulnya cuman jurnal kegiatan selama beberapa hari, tapi sangat meyenangkan untuk dibaca. Favorit aku waktu “scene” makan di rumah makan thailand (plus sedikit iri karena makan sedikit pun pasti makanan itu akan menjadi daging di tubuhku, hehehe)
11:35 pm on November 27th, 2009
@ Angel:
Kan laporan? hehehe
@ Sasti: kapan hayo… kapan2 klo balik sana lagi kukasi tau deh
@ Rachmat: wah sayang banget ya, Pak. Yogyanya mana to? metode menulisnya ada di http://www.via-latea.org/e-book-yuk-nulis situ
@ Henny: ketemuuu…
@ Fonny: kan ga ada deskripsi Yogya kayak di fiksi Satu Tahun, Satu Bulan, Satu Hari itu hehehe
@ Femi:diudahin, wkwkwk
@ San San: ngiler ama makanannya yaaa…
11:39 pm on November 27th, 2009
kayannya blum da pengamennya nih..
*ode datang ke dalam gerbong membawa gitar dan kemudian mengamen*
jreng…jreng..jreng…
ke jakarta aku kan kembali…jreng…jreng…jreng…
“misi bu…jangan pura2 tidur dong…”
hehehe…..
11:45 pm on November 27th, 2009
semoga membawa oksigen baru ketika kembali ke jakarta. kangenku buat kamu …
11:46 pm on November 27th, 2009
Lini,
besok lagi maem di Phuket, ya
aku jg suka tom yam seafood di sana.
belum lagi roti cane, kangkung, phat thai. nyuuummmmm
11:59 pm on November 27th, 2009
@ Ode:
saya bantin ngamen mau ga?
@ Pam:
kangenku juga buatmu
@ Priskila:
itulah tempat makanku waktu malam itu
12:31 am on November 28th, 2009
ehmmm…
sudah mendapat oksigennya Lin?
semoga ya, aku naik juga Gajayana itu tahun lalu, lumayanlah telat sampai gambir jam 10 hehehehe …
dengan hati haru biru … masih inget ceritanya kan? mudah2an lupa… karena biarlah masa lalu berlalu.
kita jelang hari baru penuh harapan …
12:57 am on November 28th, 2009
Semua tempat yang disebut dalam cerita kukenal baik. Yogya, aku pribadi lebih mak nyusz menyebutnya Jogja memang tidak se-Jogja dulu, tapi tetaplah Yogya / Jogja dengan atau tanpa aku didalamnya. Senangnya membaca tulisannya, Mbak… Matur nuwun.
1:29 am on November 28th, 2009
Lengkap padat berisi…..yg pentingnya lagi…..akhirnya bisa kubaca…..
Maklum lin, kl bk pk hp banyak kurangnya…..
1:58 am on November 28th, 2009
Lin, gimana sih… lah orang pedagangnya kasi “sale” kok malah naik darah… pedagang-nya kan tau kalo ini udah mau akhir tahun, jadinya ikut2 “sale” hahaha…
4:53 am on November 28th, 2009
Iya, Jogja memang dari dulu tidak berubah, setiap yang menginap di hotel pasti KTP nya disandera. Ntar aku usul ke walikota ah supaya KTP gak usah disandera. Kan repot kalau mau untuk urusan registrasi di bank dll.
8:14 am on November 28th, 2009
Bisa dikembangan lagi dengan nuansa yang lebih lengkap, tatkala di kereta, di pasar, di kantin, di Malioboro, di Dagen, perjalanan stasiun ke Dagen, suasana malam di pengianapan yang berbeda, dll., Maliobro malam hari, di warnet, di Kemetiran (lingkungan sekitar dan fisik gerejawinya) sehingga lebih lengkap yang secara kondisional membangun imajinasi lebih lengkap dan lebih hidup. GBU.
8:33 am on November 28th, 2009
@ Ratih:
dapat kok. emang cerita soal haru biru? yang mana sih?
@ Nanang:
Si Sahabat malah menyebutnya “Jogjahanam” akibat kelakuan para pengendara motornya
@ Olyvia:
hehehe
@ Jo:
hahahaaa… beneeerr… midnight sale ya, Jo
@ Yohanes:
setuju, pak!
@ Kasdiharyanta:
itu sengaja buat versi fiksinya, Pak. bisa jadi buku sendiri hehehe… GBU full
11:03 am on November 28th, 2009
hahhaha… Lini, mengasingkan dirinya sepertinya jadi tidak mengasingkan diri… ternyata ada banyak kegiatan juga… Kamu lupa cerita apakah ketika pulang energimu dah penuh kembali…?
Romo yang kamu panggil Pakde itu Doktor Kitab Suci kan? tiap minggu ada di majalah hidup tuh, kl ga salah…
4:09 pm on November 28th, 2009
wuah cb pas aku jg ke solo ya mbak…
seru bgt cerita’y, jiwa petualang mb lini hebat juga, aku gak akan bisa bgtu tuh, sangat ketergantungan org lain…hehehe
7:58 pm on November 28th, 2009
Lini, seneng melihatmu kembali ke rumah dgn selamat…..harapku semua akan menjadi baik ya Lin…..my prayer for you….!
12:16 am on November 29th, 2009
Apik ceritanya Lin. Aq jadi kesengsem lagi sm Jogja. Aq 2x kali ke sana, ke kost adik iparku yg kuliah di Sadhar, dan tidak pernah bosan. Pernah malam2 naek bis dari terminal Giwangan dgn bojo. Tahun lalu satu hari bbrp kali bolak-balik nyetir mobil jl Veteran-kampus Sadhar waktu adik iparku wisuda, sampai badanku rasanya mau pecah…
Sayang sekarang dia sudah lulus & kerja di Jakarta, jadi rasanya aq bakal lama ga ke Jogja.
Viva Jogja, memorable & nice city….
And don’t forget it’s almost identical sister, Surakarta…
1:03 am on November 29th, 2009
@ Maxi:
Energinya cukup lah, ga terlalu redup lagi hehehe…
ya betul, Doktor Kitab Suci
@ Mekar:
hehehe…
@Tina:
amiinn…!!
@ Christian:
matur tengkiyu, Christ. kapan2 ke Surakarta deh
2:49 pm on November 29th, 2009
Wah hari ini baru bisa baca dgn santai . . . jadi kepingin juga mengasingkan diri ya . . maksudku jalan2 ke jogya . .hehehe
11:52 pm on November 29th, 2009
@ Grace: ada pintu satu lagi yang bisa diketuk paling ga sampe Feb. Bruderan FIC di Muntilan, sama Br. Petrus hehehe
11:33 pm on December 1st, 2009
mengasingkan dirinya jadi cerita yang menarik…Nice story, yup emang betulan deh..kalo di kamu cerita apa adanya jadi banyak adanya…Lin!
11:34 pm on December 1st, 2009
@ Onlee: apa adanya jadi banyak adanya dan ada-ada aja ya? hehehe… nanti versi imajinatifnya mau tak bikin jadi buku