Macet Bukan Karena Si Komo Lewat

Pagi ini, sebagai bagian dari rutinitas, aku berangkat menuju sekolah anak-anak. Di sebuah bundaran sebelum gerbang besar kompleks, para pengendara terlihat semrawut tak karuan. Bingung mau ambil jalan yang mana. Ternyata, ada sebuah acara bernuansa keagamaan di klub olah raga situ. Aku berusaha mengikuti petunjuk dari petugas yang ada. Bukan marka jalan yang dipasang, malah beberapa petugas di tiap persimpangan atau belokan yang dipasang. Pagar betis? Gak tau juga. Makin lama aku mulai disorientasi. Ini jalannya lewat mana sih? Bisa runyam urusannya nih. Terlambat sampai sekolah, siap-siap diperenguti Si Bungsu deh!

Tuh, bener kan! Baru mbatin langsung kejadian. Maceee…ttt! Tapi bukan karena Si Komo lewat. Siap-siap diperenguti sampe sekolah kalau begini urusannya. Kulihat jam tanganku, jam 9.15. Mana mungkin dalam 15 menit bisa menempuh jarak 3 km dalam keadaan kayak gini?

Dalam keadaan macet, biasanya yang terjadi pada penumpang adalah bertelepon, tidur, membaca, menonton tivi, bernyanyi, memaki, dan berdoa. Sementara emosi jiwa yang sama diderita pada pengemudi hanya bisa bertelepon, bernyanyi, memaki, dan berdoa. Untuk membaca, agak sulit kecuali memang kecepatannya 5 km/jam. Untuk tidur, kalau bukan dalam kemacetan seperti arus mudik rasanya mustahil. Bisa-bisa kaca mobil digedor orang karena enak tidur di tengah “padat meratap” itu. Aku sempat memaki juga, seandainya punya netbook pasti gak akan mati gaya kayak gini! Akhirnya mengamati aja apa yang terjadi di sekeliling.

Hm… ternyata biang kerok kemacetan ini ada dua: penyelenggara acara abangan yang gak becus dan primitifnya manusia pengemudi mobil dan pengendara motor itu. Baiklah aku urai dulu tuduhanku itu.

Penyelenggara acara abangan memiliki kontribusi kesalahan karena tidak mengantisipasi arus lalu lintas jalan utama menuju banyak kompleks di situ. Mulai dari motor, mobil, angkot sampai truk tanah semua lewat situ. Kami semua disuruh melalui jalan berbatu sementara jalan aspal yang memiliki jalur empat mobil digunakan seluruhnya untuk para kontingen peserta acara. Emang gak bisa makan satu lajur mobil? Dikasih batas apa gitu? Toh nyatanya para pejalan kaki itu berbaris dua-dua, memakan hanya setengah lajur mobil. Mubazir sekali tiga setengah lajur mobil lainnya.

Tiba di suatu titik ketika aku menoleh ke kiri, lho kok sudah banyak mobil dan motor di situ? Tadi gak boleh? Sekarang boleh? Itu satu lagi bukti abangan-nya. Melihat kemacetan tak terkendali lalu improvisasi membuka tiga lajur mobil. Jalur kiri yang beraspal dan jalur kanan yang berbatu dipisahkan oleh sebuah sungai selebar 5 m. Seandainya hanya dipisahkan pembatas jalan seperti pembatas jalur busway, sudah pasti mobil berjenis jip akan nyeberang dengan senang hati dan diikuti oleh mobil niaga/minivan disusul kenekatan pengemudi sedan. Baiklah, mari kita nikmati drama ini.

Tiba di titik persimpangan, para petugas bingung mau mengarahkan berbagai kendaraan ini ke mana. Leher botol. Ini dia akar kemacetannya! Coba diberi petunjuk yang jelas, tentu tidak akan begini. Belum lagi mobil dan motor yang parkir tak beraturan di situ. Pasti kendaraan milik para pejalan kaki itu tadi. Duh, semrawut gak karuan! Lepas dari leher botol itu baru sedikit bisa bernapas lega dan langsung tancap gas menebus 30 menit yang terbuang sia-sia.

Sekarang urusan primitifnya para pengendara dan pengemudi. Lebar jalan beraspal dan berbatu besarnya sama. Sehingga tiga lajur mobil masih cukup menyisakan ruang bagi kendaraan dari arah sebaliknya. Makin lama, lajur itu bertambah jadi empat. Lho? Nanti kalau dari arah lawan ada kendaraan sulit lewat pasti makin macet! Ternyata itu masih kurang. Sebelum berada di posisi leher botol itu – ketika aku berkhayal menulis ini – tiba-tiba kulihat ada sebuah jip mewah berbodi besar yang nyelip di antara aku dan sebuah minivan. Rasanya aku mau turun dan menguliahi supir jip mewah itu. Kamu pikir mobilmu itu imut-imut? Gak bisa antri apa? Tapi kok malas ya? Ngapain juga over-acting? Cukup dipelototi aja sambil tak sedikit pun memberi ruang bagi dia untuk nyalip. Dari semuanya, baik supir angkot, supir truk tanah maupun supir jip mewah itu tak kenal yang namanya antri. Kok gak malu ya sama bebek yang bisa antri? Coba kalau antri dengan sabar, semua lancar.

Akibat primitifnya orang-orang itu, berapa liter bensin dan solar terbuang? Berapa waktu terbuang? Mesin menyala dalam waktu yang tidak sebentar, gak kasian sama mesinnya? Bahwa ada sedikit yang punya waktu untuk berdoa, itu bagus. Jadi punya waktu untuk bertobat. Penyelenggara abangan itu tak perlu dilibatkan karena aku hampir yakin kalau mereka tidak memperhitungkan kerugian penderita “padat meratap” di dalam mobil dan di atas motor.

Kupikir sudah cukup omelan panjangku soal kemacetan ini. Eh, ada lagi. Para peserta ternyata tidak kalah primitifnya. Sampah berserakan di mana-mana. Botol dan gelas air minum kemasan, dus bekas makan, berbagai plastik dan kertas. Ampun! Dipikir mereka yang menggaji tukang sapu jalan? Apa sih susahnya mengumpulkan sampah masing-masing dan dibuang di satu tempat kalau memang tak ada tempat sampah? Memang di jalan itu tak ada tempat sampah karena jalan itu diasumsikan untuk kendaraan, bukan pejalan kaki. Buang sampah sembarangan, kalau banjir nyalahin pemerintah. Sudah bagus pemerintah gak balik ngomel, “Lu sendiri nyampah sembarangan!”

Dari omelan panjang ini, paling tidak aku dapat sedikit hiburan dari serombongan drum band berkostum merah muda. Pasukan drum band bermain musik sambil berjalan. Pasti susah kalau drum major tanpa baton itu harus berjalan mundur demi mengomandoi pasukannya. Si drum major berjalan memimpin pasukannya dengan penuh percaya diri, itu penilaian sekilas. Penilaian lebih lanjut, gerakan komando ketukan dari si drum major kok lebih mirip dia asik berjoget ketimbang memimpin ya? Ada yang gak sinkron karena pasukannya asik sendiri tak sesuai komando.

Jangan-jangan pasukannya berpikir, “Ah, kan komendan gak liat…”



Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , ,

This entry was posted on Thursday, October 15th, 2009 at 12:24 am and is filed under Macet Bukan Karena Si Komo Lewat. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

8 Responses to “Macet Bukan Karena Si Komo Lewat”

  1. fekhi
    1:10 am on October 15th, 2009

    Soundtrack tulisan ini cocoknya lagu dari Project P tuh ;)

    Macet gara-gara bottle neck = leher botol = penyempitan jalan sampe si Komo juga gak bisa jalan :p

  2. ida ...
    4:49 am on October 15th, 2009

    hihihi …. lin, gw jg ngalamin nasib yg sama kaya lo … setengah jam terjebak sambil berdoa mudah2an anak gw bisa di-handle ama gurunya … :(

  3. Lini
    9:19 am on October 15th, 2009

    @ Ida: macet di mana?

  4. Lini
    9:21 am on October 15th, 2009

    @ Femi: lagunya yg mana sih? :D

  5. fekhi
    12:39 pm on October 15th, 2009

    Yang ini nih :
    Lirik Lagu ” Macet “
    Artis ” Project Pop “

    Lagu ini Buat Yang Lagi Macet
    Buat Yang Mobilnya Lagi Kegencet
    Pengennya Lancar Tapi Nggak Bisa Cepet
    Padahal Waktu Janjinya Udah Mepet

    Reff
    Pengennya Marah2
    Cari2 Gara2
    Kalo Di Jalan Semua Orang Salah
    Gua Yang Bener

    Pengennya marah2
    Cari2 Gara2
    Kalo Di Jalan Semua Orang Salah
    Gua Yang Bener

    Dasar Pelit Lu
    Gua Kagak Dikasi Jalan
    ini Pasti Cewek Bawanya Pelan2
    Emangnya Jalanan Punya Bapak Loe
    Namanya Jalan Tol Tapi Kok Bisa Macet??

    Reff

    Sabarlah
    Tenanglah
    Amarahmu Redakanlah
    Tiada Guna
    Kau Memaki
    Dinginkan Hatimu

    Isi Kebun Binatang Semua Diucapkan
    Caci Maki Sumpah Serapah Diteriakkan
    Kalo Ada Yang Gua Jawab
    “ape Loe Liat2??”
    Kalo Ada Yang Mepet
    “heh Pake Mata Loe”

    ke Reff

  6. Lini
    1:04 pm on October 15th, 2009

    @ Femi: berburu nh kyk apa lagunya :D

  7. fekhi
    1:50 pm on October 15th, 2009

    download aja mp3-nya banyak kok…
    lagu lama, lucu hehehe

  8. Lini
    2:13 pm on October 15th, 2009

    udah dengerin nemu nih

    Macet – Project Pop

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>