Mengecil Di Antara Yang Membesar
Pak dan Bu Kasur. Tokoh lain yang selalu menginspirasi. Mereka konsisten untuk menjadi Guru TK, guru pertama bagi para siswanya. Mereka selalu ceria, mengajar bernyanyi dan bercerita. Kebetulan mereka adalah teman baik Opung dan Nenek.
Pak dan Bu Kasur, dua orang yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri di dunia pendidikan anak-anak. Kenapa anak TK, bukan anak SD? Itu menarik. Mengajar anak SD memiliki kebanggaan bahwa anak didiknya memiliki ilmu yang terukur dengan nilai. Anak TK tidak mengenal nilai dan rapor. Mengajar anak SD bisa memberi hukuman dan sanksi, mengajar anak TK tidak bisa menghukum dan memberi sanksi. Tetap saja pertanyaannya: kenapa anak TK?
Guru TK, selalu sama, mengajar menyanyi dan bercerita dengan gembira. Seluruh ilmu dan kemampuannya dikerahkan. Bayangkan jika Guru TK menyimpan sendiri ilmunya, apa yang terjadi pada anak didiknya? Anak TK masih polos dan lugu. Hanya satu hal yang perlu ditekankan bahwa dunia itu indah untuk mereka berkarya kelak. Menanamkan semangat belajar dan terus maju. Bahkan ketika seluruh murid Pak Kasur dan Bu Kasur sudah jadi orang terkenal dan mungkin saja pejabat atau direktur, pasangan Guru TK ini tetap jadi Guru TK. Tidak ada yang berubah.
Pak Kasur dengan gembira menciptakan lagu anak-anak yang bagi sebagian orang terasa usang dan kuno. Tidak bagiku. Lagu sederhana itu memiliki pesan moral yang besar, bermutu, berbobot. Jika ingin terlihat masa kini, bukan lagunya yang ditinggalkan tapi bisa saja diaransemen ulang agar sedikit terlihat modern. Aku yakin bagi Pak dan Bu Kasur akan tersenyum di Surga melihat lagu-lagunya diaransemen dengan lebih baik dan masih terus dinyanyikan selama sekian puluh tahun.
Menyaksikan banyak teman-teman Nuliser di “rumah” Yuk Nulis! Berkembang dengan pesat memberi kebahagiaan tersendiri. Semua tulisan mereka mendapat respon yang baik. Mereka bahkan memiliki fans masing-masing sesuai gayanya.
Kemarin, dua orang teman menulis dengan catatan terinspirasi olehku. Tapi pujian itu terlalu besar, terlalu berlebihan, terlalu berat. Semua kerja keras itu adalah keringat mereka, bukan keringatku. Sering aku heran, kenapa semua pujian ditujukan padaku? Harusnya pujian itu bukan untukku. Aku tidak berbuat banyak, hanya memberi wadah dan semangat. Hanya itu yang aku punya.
Teman, sungguh aku tidak layak menyandang semua pujianmu. Ketika Tuhan memberi talenta padaku, sudah layak dan sepantasnya aku tebarkan. Ketika benih itu tumbuh di tanahmu, itu adalah buahmu, bukan buahku. Makanlah buahnya. Baik juga jika benih dari pohonmu diberikan lagi ke tanah lainnya.
Teman, teruslah memupuk talentamu agar makin besar. Ajak juga semua yang kamu kenal untuk menikmati buahnya.
Aku makin mengecil di antara yang membesar. Aku semakin berada di barisan terbelakang di antara mereka yang maju ke depan. Tut wuri handayani, yang di belakang memberi dorongan.
Terima kasih Pak Kasur dan Bu Kasur. Kalian sungguh jadi inspirasiku. Semoga aku bisa terus menjadi Guru TK yang baik. Terus mengecil di antara yang membesar.
Ibu Guru kami pandai sekali
Pandai bercerita asyik sekali
Kami dibimbingnya dengan sepenuh hati
Jadi orang berguna di kemudian hari
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Kasih, Motivasi, Yuk Nulis!
This entry was posted on Wednesday, September 2nd, 2009 at 9:18 am and is filed under Mengecil Di Antara Yang Membesar. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.









12:40 pm on September 2nd, 2009
so sweet, kata desiderius erasmus : tidak seorangpun yang menghormati talenta yang disembunyikan
salam buat semua rekan
1:54 pm on September 2nd, 2009
Amazing soul of your composition!
2:31 pm on September 2nd, 2009
@ Tjahyana & Gus: I’m honored
6:17 am on September 3rd, 2009
Kadang memang kagok digituin, Lin.
Tapi kayaknya musti jadi sesuatu yang biasa hehehehe… soalnya kalau memang ada yang begitu berarti mereka mengganggap lu seperti Ibu Kasur buat mereka
Mengecil di antara yang membesar bagus tuh, biasanya kan jadi kelihatan sendiri
6:49 am on September 3rd, 2009
@ Femi: trus nanti karna kecil disuruh baris di depan
jadinya ing ngarso sung tulodo, bukan lagi tut wuri handayani
wekekek
thx fem, muah muah muah
4:43 pm on September 3rd, 2009
hmmmmm,… bagus banget, bangga banget bisa jadi anggota di YN, semoga aku bisa belajar dan berkembang terus bersama orang2 hebat disini. salut lin, GBU always.
8:12 pm on September 4th, 2009
@ Simon: I’m honored. GBU full!