Menilai dan Penilaian
Lalu, ada orang yang pandai menilai sesuatu tanpa menelaah terlebih dahulu. belum apa-apa, tanpa ba-bi-bu langsung menilai, “Rumah ini perlu diperbaiki, hawanya panas! Semua orang seharusnya bersantai di ruang tengah!” Orang ini termasuk golongan tua. Bahkan si orang tua ini baru pertama kali menginjakkan kakinya apalagi berkeliling rumah. Orang tua ini belum merasakan ademnya rumah itu. Tentu ada alasan mengapa di rumah itu tidak dipasang AC. Mungkin karena iklimnya sejuk, jendela dibuat besar, langit-langit tinggi, dan semua penghuni tidak ada keluhan tentang itu. Ada juga alasan mengapa para dewasa lebih senang duduk-duduk di ruang tengah, kaum remaja lebih senang ngobrol di teras belakang, dan anak-anak bermain di kebun. Bagaimana jika seluruh penghuni berkumpul di ruang tengah setiap saat? Bukankah malah bising dan tidak teratur?
Semua bukan tanpa alasan dan semua berjalan baik atas nama kepentingan dan kesenangan bersama. Tapi sejak kedatangan si orang tua ini, ada sebagian orang yang justru merasa terganggu. “Beradaptasilah dulu. Anggap rumah ini rumahmu. Tinggallah dulu beberapa hari. Baru komentar!” Mungkin begitu kira-kira yang ada di pikiran sebagian kelompok ini.
Menilai memang tidak salah. Penilaian itu yang dapat salah.
Bagaimana kalau penilaian si orang tua itu justru adalah hal yang sudah pernah dilakukan dan tidak berhasil makanya ditinggalkan?
Bersyukur merupakan bagian dari penilaian. Penilaian dapat jauh berubah jika ada rasa syukur di dalamnya.
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Syukur
This entry was posted on Thursday, July 5th, 2007 at 1:05 pm and is filed under Menilai dan Penilaian. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.








