Menjadi Besar

Segala sesuatu yang dikerjakan dengan kesungguhan hati pasti akan tumbuh besar. Ya karyanya, ya orangnya, ya semuanya. Tertiup angin yang juga makin kencang.

Duluuu… waktu baru kaget karena tulisanku banyak dibaca orang dan dikomentari macam-macam, aku sering mati gaya. Mulai dari yang muji setinggi langit sampai yang mencaci-maki semua ada. Akhirnya aku curhat pada seorang sahabat, Si Seleb. Aku telpon dia. Untung saat itu dia gak sibuk.

“Deeaarr… gw beteee…!” kata “halo”-nya kusambar begitu saja.
“Kenapa?”
“Capek. Banyak orang yang gue gak kenal tapi komennya miring…”
“Lin, tau gak tanda-tanda jadi Seleb?”
“Gak. Emang apa tandanya?” Mana kutahu tanda-tanda jadi Seleb? Ngerasain aja belum pernah.
“Tandanya, kalau lo ga kenal sama seseorang tapi dia bisa ngomongin yang jelek tentang lo. Selamat, lo udah jadi Seleb dan populer!” Tawa ngakaknya terdengar keras sekali.
“Kenapa begitu?”
“Ya iya lah, dear. Lo gak kenal dia, dia tau lo, malah bisa komen miring lagi. Berarti lo populer kan?”
Hm… bener juga…
Dari mana orang-orang itu tahu tulisan-tulisanku?
Kenapa dibaca? Pasti karena tertarik kan?
Hmm…

Beberapa waktu lalu, ada seorang teman yang tidak pernah aktif di komunitasku, diundang tidak pernah hadir, dikabari tidak pernah menjawab. Tiba-tiba, menjelang ultah komunitas itu dia muncul dengan berbagai usulan. Apa ini? Kok tiba-tiba aktif? Mau jadi panitia? Monggo. Tapi salah alamat kalo ngomong ke aku, harusnya kan ke mandornya sana. Aku kan cuma penjaga urusan online (beberapa teman memanggilku penjaga warnet karena menjaga banyak blog dan milis…).

Seorang kawan malam ini curhat. Kenapa dia selalu diberitakan miring oleh orang yang pernah sangat dekat dengannya. Kawan ini berusaha cuek, tapi orang itu terus saja mengganggunya.

Ketiga kejadian itu kutarik benang merahnya. Rasanya, Si Seleb ada benarnya. Sesuatu yang tumbuh besar, pasti kena angin yang makin kencang. Kadang membuat pohon menari. Pohon yang lebih kecil pasti kena anginnya juga tidak sekencang itu.

Katanya, sirik tanda tak mampu. Pertanyaannya: apa yang harus dilakukan yang mampu menghadapi yang tidak mampu?
Cuekin aja! Semakin diladeni, semakin jadi karena kita semakin menyisihkan perhatian buatnya. Bagaimanapun, orang yang senang memandang miring merasa menang karena mendapat perhatian dengan jalan apapun. Si Ayah bilang meladeni orang itu cukup 2 kali. Pernyataan ketiganya cuekin aja. Buang waktu, buang tenaga, bikin bete lagi. Semakin kita netral, semakin pihak ketiga mampu menilai siapa yang lebih perlu diperhitungkan.

Waktu kecil, aku sangat takut dengan anjing. Setelah terapi, sudah setahun ini aku memelihara anjing. Ternyata, kalau kita takut sama anjing, dia merasa lebih “berkuasa” dan berani maka semakin mendekatlah si anjing. Begitu aku merasa lebih “berkuasa” dan berani pada anjing, justru anjingku sekarang takut padaku. Tidak lagi mau dekat-dekat.

Tapi, susah kan? Memang! Siapa bilang gampang? Tidak ada yang sim salabim. Butuh kesabaran, ketabahan dan sedikit rasa cuek. Tuhan aja membuat dunia dan segala isinya selama 6 hari. Yang jelas, pohon yang ingin tumbuh besar pasti berusaha untuk tidak tercerabut. Begitu tercerabut, matilah pohon itu. Dengan akar yang kuat, si pohon bisa menikmati tarian angin topannya.

Berbahagialah semua sahabat, kawan, teman yang sering diomongi hal miring. Itu artinya kalian sudah populer dan layak menyandang gelar Seleb. Hati-hati besar kepala. Nanti seperti ikan teri pakai helm…

Tertarik dengan yang ini?

Tags: ,

This entry was posted on Saturday, July 18th, 2009 at 1:00 am and is filed under Menjadi Besar. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>