Menjadi Imam: Panggilan Penuh Tantangan

Artikel ini awalnya dibuat untuk Buletin Refleksi Tahun Imam KAJ.  Artikel tambahannya adalah Romo Paroki: Gembala di Tengah Kawanannya.
Karena satu dan lain hal, hasil editnya tidak sesuai lagi dengan maksud awal penulis. Maka versi aseli-nya saya muat di sini. Dibuang sayang…

Hidup selalu penuh tantangan sekecil apapun itu. Di manapun, kapanpun, dalam hal apapun, tantangan menghiasi setiap jalan yang kita lalui seperti bunga-bunga bermekaran di tepi jalan sekaligus kerikil tajam. Menjadi bunga-bunga bermekaran ketika siapapun yang melintas di situ bisa menikmati tantangan itu sebagai sebuah keindahan. Menjadi kerikil ketika tantangan itu membuat yang melintasinya tersandung lalu jatuh. Manusia tentu tersandung kerikil, bukan gunung batu, karena kecil dan sering luput dari perhatian. Meskipun jatuh, pertanyaan berikutnya adalah bangun lagi dan meneruskan perjalanan atau tetap di situ?

Secara khusus, persoalan yang dihadapi oleh para Imam yang menjadi Romo Paroki tentu berbeda dengan Romo yang tidak berada di Paroki. Untuk persoalan yang umum terjadi di Paroki akan diulas kemudian (lihat: Romo Paroki: Gembala Di Tengah Kawanannya). Narasumber kali ini adalah beberapa Imam Provinsial, yaitu Rm. Yohanis Mangkey, MSC, Rm. Felix Kadek Sunartha, SVD, Rm. Adrianus Sunarko, OFM, Rm. Robertus Bellarminus Riyo Mursanto, SJ, serta Rm. Sapto Dwi Handoko, SCJ. Apa saja yang secara umum menjadi tantangan para Imam?

Dialog
Tantangan terbesar menurut kelima narasumber adalah kemampuan Imam untuk berdialog dengan umat. Dengan keberagaman latar belakang umat Keuskupan Agung Jakarta, tentu “tuntutan” kemampuan berdialog menjadi lebih tinggi. Umat Keuskupan Agung Jakarta cenderung lebih kompleks maka persoalan yang ada juga lebih variatif. Mencari jalan keluar lewat dialog dengan umat mungkin juga lebih sulit. Dialog juga tidak hanya melulu untuk mencari jalan keluar atas satu masalah. Dialog diperlukan juga untuk menjadi dekat dengan umat, apapun latar belakangnya tanpa pandang bulu.

Kemampuan Pendampingan
Dengan persoalan yang kompleks, kemampuan para Imam untuk bisa mengimbangi dalam pendampingan juga menjadi tantangan. Bagaimana membantu umatnya melewati masa sulit sebagai wakil sosok Kristus yang hadir di dunia. Bagaimanapun, umat yang mengalami masalah tentu butuh sahabat yang bisa dijadikan tempat bersandar selain Imam yang mampu memberikan penguatan spiritual.

Gaya Hidup
Jakarta dan sekitarnya menawarkan kehidupan yang metropolis. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi para Imam untuk tetap setia dengan kaul kekalnya. Berbagai fasilitas yang bersifat hiburan mulai dari internet sampai model ponsel terbaru, sungguh menggoda sebagai “pelarian” dari kejenuhan dan stres. Para Imam bisa saja terpeleset dan terlena ke dalam kondisi yang nyaman, manja, mapan, merasa tidak cukup bahkan sampai mencari ketenaran, kuasa dan harta.

Ini sangat bertolak belakang dengan kesucian hidup Imam. Seberapa tingkat ketergantungannya akan berbeda-beda pada masing-masing pribadi. Maka tantangan ini menjadi unik karena berbeda satu dengan lainnya.

Membasuh Kaki
Di tengah gaya hidup metropolis seperti ini, muncul dilema antara melayani dan ingin dilayani. Tidak dapat dipungkiri bahwa tingkat ekonomi umat Keuskupan Agung Jakarta sangat banyak yang di atas rata-rata. Maka “fasilitas” yang diberikan kepada Imamnya sebagai tanda kasih bisa menjadi bumerang. Yesus sendiri membasuh kaki para rasulnya pada Malam Perjamuan Terakhir. Semangat ini seyogianya juga dimiliki oleh para Imam. Melayani dengan rendah hati, bukan dilayani.

Pengorbanan
Menjadi seorang Imam tentu menyangkal diri, meninggalkan hal-hal duniawi dan mengorbankan kepentingan pribadinya termasuk ego. Seperti halnya Kristus yang mengorbankan diriNya di kayu salib, begitu juga para Imam mengorbankan dirinya untuk gereja. Pada prakteknya, pengorbanan yang dilakukan memang terlihat sepele, seperti hobi. Hobi pada umumnya dilakukan pada waktu senggang, bukan menjadi prioritas hidup. Maka ketika pelayanan berhadapan dengan kebutuhan pribadi duniawi, para Imam diharapkan untuk mengutamakan pelayanan.

Imam untuk umat dan Gereja
Imam bukan hanya untuk Gereja atau hanya untuk umat. Imam menjadi pelayan keduanya. Kedekatan dengan umat bisa dijadikan tolok ukur bagaimana Imam melayani umatnya tanpa pilih kasih. Imam diharapkan menjadi gembala di tengah kawanannya, bukan di luar. Gembala yang baik tentu berada di antara dombanya, menjaga agar kawanannya tetap teguh, bersatu dan tidak hilang seekor pun.

Kolaborasi
Imam juga diharapkan untuk memiliki komitmen untuk bekerja sama tidak hanya dengan umat tapi juga gereja lokal berdasarkan kebijakan gereja lokal. Imam-imam misionaris dan diosesan harus dapat bekerja sama dengan baik. Dengan kolaborasi yang baik di antara para Imam ini, tentu membuat umat juga semakin gembira menjalani kehidupannya.

Menggembalakan umat yang sekian banyaknya dengan pribadi yang beraneka ragam dan persoalan yang kompleks tentu membuat para Imam butuh melepaskan penatnya. Jika kepenatan itu dilepaskan dengan datang kepada Kristus, kesucian Imam akan tetap terjaga. Ada beberapa hal yang diharapkan untuk dilaksanakan para Imam.

  • Bertumbuh dalam spiritualitas. Doa dan meditasi bisa menjadi media yang efektif untuk melepaskan stres.
  • Mengembangkan rohani dan kepribadian. Dengan rohani dan kepribadian yang terus tumbuh dan berkembang, umat akan merasa lebih aman dan damai hidup bersama gembalanya.
  • Belajar setia pada Kristus. Menjadi Imam adalah panggilan untuk menjadi sosok Kristus di dunia. Kesetiaan pada panggilan dan kaul Imamat tidak akan habis untuk terus dipelajari.
  • Menjaga cinta yang total. Cinta yang total pada Kristus tidak akan terkikis oleh cinta pada urusan pribadi dan duniawi. Hal-hal di luar Kristus seperti lawan jenis dan hobi akan luruh dengan sendirinya melalui kesetiaan.
  • Menghidupi kesucian hidup Imam. Menjadi seorang Imam adalah menjalani pola hidup yang suci. Sebagai manusia, Imam juga bisa sesekali jatuh. Dengan kesadaran hidup suci itu, tentu pertobatan yang sungguh bisa mengembalikan kesucian hidup Imam.
  • Mengenali Iman pokok Kristiani. Pemahaman dengan penuh kesadaran akan Iman pokok Kristiani juga akan menjaga Imam dari berbagai godaan dan membantu melalui tantangan yang ada.

Itu semua hanya sebagian kecil dari sekian banyak tantangan yang selalu ada dalam dinamika perjalanan hidup para Imam. Ketika tantangan diubah menjadi peluang, tentu kehidupan para Imam akan tumbuh dan berkembang dengan lebih kokoh. Dengan kasih Kristus, kerikil yang berserakan di sepanjang jalan berubah menjadi bunga-bunga bermekaran, indah dipandang, dan harum mewangi. Yesus jatuh tiga kali ketika memanggul salib ke Golgota, manusia jatuh ribuan kali. Yesus terus bangkit dan meneruskan perjalanannya, begitu pula kita seharusnya.

Hidup menjadi Imam tentu tidak dapat dijalani oleh sembarang orang. Hanya yang terpanggil dan terpilih yang berjalan berdampingan dengan Kristus. Menjadi sangat indah di tengah kehidupan duniawi yang semakin tidak jelas arahnya. Memberikan hidupnya sebagai persembahan pada Kristus di AltarNya yang suci tentu tak sebanding dengan apapun yang ada di dunia ini. Justru dalam kelemahanmu, kuasaKu menjadi nyata (2Kor 12:9).

Tertarik dengan yang ini?

Tags: ,

This entry was posted on Monday, September 7th, 2009 at 9:29 pm and is filed under Menjadi Imam: Panggilan Penuh Tantangan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

6 Responses to “Menjadi Imam: Panggilan Penuh Tantangan”

  1. Romo Paroki: Gembala di Tengah Kawanannya
    6:36 pm on September 8th, 2009

    [...] awalnya dibuat untuk sebuah media rohani dalam rangka Tahun Imam 2009.  Artikel  utamanya adalah Menjadi Imam: Panggilan Penuh Tantangan. Karena satu dan lain hal tidak jadi dimuat maka saya muat di sini. Dibuang [...]

  2. Yuk Nulis! » Blog Archive » Romo Paroki: Gembala di Tengah Kawanannya
    6:46 pm on September 8th, 2009

    [...] awalnya dibuat untuk sebuah media rohani dalam rangka Tahun Imam 2009.  Artikel  utamanya adalah Menjadi Imam: Panggilan Penuh Tantangan. Karena satu dan lain hal tidak jadi dimuat maka saya muat di sini. Dibuang sayang… Ada banyak [...]

  3. panjikristo
    2:28 pm on September 16th, 2009

    sayang ya ga bisa di muat
    tapi mungkin harus ada yang harus diberi tabir agar citra seseorang tidak meluntur ya

  4. Lini
    4:06 pm on September 16th, 2009

    gpp Mas,
    belum jodoh aja kali
    banyak yang bilang ini sudah terlalu halus, mau dihalusin apa lagi?
    Versi edited mungkin sudah “sesuai” :)

  5. shasa
    8:54 am on October 31st, 2009

    menurutku emg masih “kasar” tulisannya.
    apalagi jika artikel ini dimuat di buletin refleksi.
    tipe essay spt ini terkesan bernada persuasive.
    bukan tipe essay informative yg netral nadanya.
    essay ini kurang baik dibaca oleh pembaca yg ‘pengetahuannya’ kurang dlm ttg agama katolik/kehidupan beriman.
    kita sebagai umat beragama katholik kok kesannya juga jadi kurang menerima imam kita ya. istilahnya, masih bagus ada yg mau mimpin umat. tp kok dikritik dan dibandingkan dgn Yesus. Yesus itu bukan utk dibandingkan, tp utk patokan.

    artikel inipun bila dipakai, masih kurang matang(need more development). masih banyak tanda tanya saat aku membaca artikel ini.

  6. Lini
    11:25 pm on October 31st, 2009

    @ Shasa: Matur tengkiyu komentarnya

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>



5 + = thirteen