Menulis, Membaca, Bersahabat
Waktu kecil, aku tak pernah bercita-cita jadi penulis, meskipun beberapa orang bilang, “Lini nanti besar bisa jadi wartawan seperti Opungnya.” Padahal, setahuku Opung dari Mama adalah seorang guru, bukan wartawan. Opung dari Papa juga guru. Justru ketika aku jadi guru di sebuah lembaga kursus Bahasa Inggris aku ditegur karena “nyeleneh”. Keluar dari pakem mwngajar yang ada di sana.
Menulis, sejak SMP memang hobi. Apa daya, tidak percaya diri, tidak didukung apalagi diakomodasi Mama, pelajaran Bahasa Indonesia yang selalu pas-pasan membuatku mengonsumsi tulisan sendiri.
Ibarat ketemu dengan “jodohnya”, pengalaman pertama jadi jurnalis sungguh berkesan dan membuatku pandai seketika. Bukan segala mata kuliah dan silabus di kampus. Aku memang bukan wartawan kampus, tapi aku wartawan majalah nasional. Itu dulu, 12 tahun lalu.
Sepertinya ramalan kerabat tentang “aku jadi wartawan” mulai menunjukkan tanda-tanda kebenaran. Lagi-lagi aku diminta mengelola sebuah majalah yang baru mau dibidani. Itu 8 tahun lalu. Perusahannya collapse, kantornya bubar, majalahnya tutup. Masih berlanjut lagi, tidak sampai setahun kemudian tawaran mengelola majalah yang baru mau diterbitkan datang lagi. Lumayan, berjalan sampai sekarang meskipun napasnya Senin-Kamis.
Banyak orang bilang aku penulis yang kuper. Penulis yang bahan bacaannya tidak ratusan seperti kebayakan orang yang mengaku dirinya penulis. Ya, aku memang kuper.
Sekarang, aku masih menulis dan membaca. Aku menulis bersama orang-orang yang tidak pernah merasa diri mereka penulis tapi memiliki bakat terpendam yang luar biasa. Aku membaca karya-karya mereka yang jauh lebih menarik dan menginspirasi. Bahkan, aku bersahabat dengan mereka.
Sejak kecil, aku tidak pernah terpikir untuk bersahabat dengan penulis, apalagi jadi penulis. Aku selalu percaya pada kesempatan kedua, cinta pada pandangan kedua.
Manusia butuh kesempatan, jika itu bisa kuberikan, kenapa tidak? Tidak mudah memang, bertemu para “penulis berbakat” secara tidak sengaja. Mendorong mereka yang tidak percaya diri untuk yakin bahwa tulisannya layak dikonsumsi orang lain. Memberi pengertian bahwa “sebuah karya sah saja dinilai seperti apapun dan tidak perlu diambil pusing apapun komentar miringnya”. Meyakinkan mereka bahwa kritik bisa ditanggapi dengan senyum sekaligus mengurangi kritik yang tidak perlu. Bahwa ajang menulis bukan untuk adu jago tapi ekspresi jiwa. Perasaan tidak ada benar dan salah, sebuah karya juga begitu.
Aku hanya ingin membangun rumah yang nyaman bagi semua orang, baik untuk numpang curhat maupun numpang baca. Rumah yang membuat siapa saja betah dan boleh untuk singgah, datang, dan pergi. Rumah yang tidak kaku dengan banyaknya aturan. Rumah yang bisa dirawat dan direnovasi bersama. Rumah yang berfungsi sesuai kebutuhan masing-masing penghuninya, tanpa ada yang merasa kebutuhannya “tidak terpenuhi”.
Bagi semua sahabat penulisku, terima kasih karena kalian telah jadi inspirasi bagi banyak orang. Terima kasih karena telah membuat rumah kita berwarna dan meriah. Terutama, terima kasih telah menjadi sahabatku.
To write well, you have to write what you know (Never Been Kissed, 1999)
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Sahabat, Yuk Nulis!
This entry was posted on Thursday, June 18th, 2009 at 6:21 pm and is filed under Menulis Membaca Bersahabat. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.









8:44 pm on June 18th, 2009
terpuji bgt niat kamu Lini… keep on the spirit…
9:54 am on June 19th, 2009
makasih udah bisa tinggal di rumahnya hehehhee