Mo Met: Sahabat, Gembala, Endorser

Jumat, 13 Agustus 2010, jam 22.25.
Baru saja aku hendak mematikan komputer. Ini waktunya untuk tidur. Besok harus siap jam 6 pagi untuk menyiapkan Si Sulung berangkat ke Indonesian Robotics Olympiad (IRO) 2010. Tiba-tiba, ponselku berdering. Tertera “Ratih Tjandra”. Ada apa ya? Sudah lama Ratih tidak meneleponku.

“Ya, Tih?”
“Lin, Romo Slamet meninggal.”
“Hah?? Serius lo??”
“Iya! Ini lagi kroscek ke mana-mana.”
“Belum lama ya, Tih, lu bilang Mo Slamet diangkat jadi Ketua Komisi Kateketik Purwokerto. Belum lama juga gue ketemu dia di rumah duka waktu Tantenya Danny meninggal…”

Meluncurlah berbagai nostalgia kami dengan (alm) Rm. Slamet. Tidak lama, telepon ditutup.

Kucoba kroscek ke Mgr. Pujasumarta. Telepon mati. Mungkin baru istirahat setelah pulang dari sidang KWI. Kucoba telepon Rm. Anton, Ekonom Keuskupan Bandung. Rm. Anton malah baru dengar kabar itu dariku

Aku masih melongo. Selang beberapa menit, datang pesan singkat ke ponselku, tertera “Rm. Indra Sanjaya”. Kutelepon Mo Indra.

“Ya, Pakde?”
“Lin, apa betul Rm. Slamet meninggal?”
“Kata Ratih begitu.”
“Padahal aku baru merencanakan proyek sama Romo Slamet…”

Sambil bertelepon, kubuka kedua akun Facebook Rm. Slamet. Sudah ada beberapa ucapan belasungkawa di dindingnya. Tidak salah lagi.

Kutelepon seorang Tante di Purbalingga. Ternyata Tanteku malah baru dengar juga kabarnya. Besok pagi ia akan langsung ke RS. Elisabeth. Sementara itu, ponselku berbunyi lagi. Tertera “Intan Amrin”. Ganti kutelepon Intan.

“Lin, Mo Slamet meninggal?”
“Tadi pertama Ratih yang telepon, katanya sih begitu. Barusan juga telepon Mo Indra, ”
“Padahal gue kepingin banget ketemu sama dia, selalu tertunda…”

Kemudian, aku diberitahu oleh beberapa teman lewat YM: Rm. Adam Soen, Imelda Wijaya, Yovita Wijaya, dan Anie.
Yovita bilang, “Lin, sedih gue… romo baikkk buangett sama gueee… “
Rm. Adam bilang, “Wahhhh Jerawati and Panuroto nggak berlanjut nichh…”

Di jendela sebelah, masuk surel dari Ratna Ariani. “Lini, Romo Slamet sudah pulang kerumah Bapa, gw sedih bangetttt”

Aku sampai detik ini masih merinding, terhenyak, kehabisan kata-kata, mendadak tak bisa tidur padahal besok harus bangun pagi.

Aku ingat ketika pertama kali bertemu dua tahun lalu. Ia baru saja selesai pertemuan (kalau tidak salah Karina-Caritas Indonesia). Kuantar ia ke kantornya Mbak Ibnurini di Jl. MT Haryono.

Aku ingat ketika ia mengirimkan komentar atas bukuku.
Review dari B. Slamet Lasmunadi, Kebumen

Lini, menurutku buku ini memiliki “makna belajar”:

1. Belajar untuk “menerima sejarah hidup” dengan suka dan dukanya.
Membaca tulisanmu itu mengasyikkan tapi sekaligus membuat jantungku berdebar karena baru kali ini aku membaca sebuah “kisah pengakuan sejarah hidup”: entah yang terang dan gelap, dikemas dalam sebuah buku “sejarah”. “Life is opened”, membutuhkan kerendahan hati, siap untuk diremehkan, siap untuk ditolak, bahkan siap untuk dinilai “buruk”. Keberanian untuk menyingkapkan “diri pribadi” itu, rasa rasaku itulah sebuah wujud “penyaliban diri” karena tidak ada gengsi yang dipertahankan, tidak ada lagi kesempatan untuk mencari “pujian” dan juga tidak lagi “ada kesempatan untuk dikatakan orang saleh”.

2. Dengan menulis “My life is open”, rasaku itu sebuah pengalaman untuk ‘belajar mati”. Mematikan diri, yakni tidak lagi mempertahankan dan mencari cari “segala yang istimewa”. Dengan tulisanmu, dirimu dinilai apa adanya, tidak butuuh lagi penilaian…alangkah indahnya, buku itu pun menjadi sebuah “kisah kasih bagi Tuhan” dalam hidup doamu.

3. Dengan menulis “kisah hidup” yang terang dan gelap itu, aku merasa tergerak untuk belajar “berlatih’ tidak perlu membela diriku dengan masa suramku…Itulah pelatihan yang membuat orang bisa “belajar realistis” dalam hidup: belajar untuk juga tidak mencari kesalahan orang lain, melainkan malah belajar “mencari kesalahan dalam diriku” agar aku tahu manakah yang harus kuubah.

4. Menulis “sejarah hidup’ akhirnya menjadi ungkapan iman penuh syukur kepada Tuhan, meski ada kegelapan dalam hidup ini, toh Sang Terang itu tetap bernyala, kecil api itu barangkali, namun tetap bisa membuat panasnya badan, agar bertahan dalam situasi dunia yang penuh ‘manusia dingin’, tidak bergairah untuk hidup.

5. Rasaku, siapapun yang terliibat dalam hidupmu, akan ikut bahagia, “aku menjadi bagian sejarah hidupmu”..ternyata “kegelapan pun bisa menjadi terang” bagi orang lain…bukumu yang “opened’ itu tentu akan memberi inspirasi banyak orang yang gagal, dan takut menerima diri.., dan tulisanmu menguatkan aku juga sebagai imam, hidup itu “belajar apa adanya’!

Lini. selamat ya…aku ikut bahagia…campur berdebar…dan campur terharu… karena …. aku…. (dalam batin…)

Blasius Slamet Lasmunadi, Pr
Kebumen, Jawa Tengah

Aku ingat ketika kami kerap chatting malam-malam.
Aku ingat ketika kami kerap berkirim pesan singkat.
Aku ingat ketika ia meneleponku untuk membantu Ratna Ariani membuat blognya.
Aku ingat ketika ia marah padaku tanpa alasan yang jelas. Mungkin saat itu asma atau asam uratnya sedang kambuh.
Aku ingat ketika ia bergabung dengan Yuk Nulis!

Aku ingat pernah marah padanya soal penyakit asam uratnya yang kerap kambuh setahun lalu. “Romo, kalau ada umat yang masakin pakai santan ya ditegor dong!”
“Lini, namanya umat sudah capek masak, ya diterima aja. Menghargai gitu.”
“Ya gak bisa! Kalau umat mau Romonya sehat harus tau Romonya pantang apa. Kalau mau Romonya sakit itu lain soal!”
Sejak itu, aku tak pernah bahas lagi soal asam uratnya.

Aku ingat ketika tahun lalu mudik Natal dan mengajaknya makan bakmi paling top se-Purwokerto, bakmi kegemarannya sejak kecil. Saat itu Rm. Slamet sudah pindah ke Purwokerto.

Aku ingat ketika akhir Juni lalu bertemu dengannya di rumah duka di Purbalingga saat pemakaman Tantenya Danny. Kami berbincang cukup lama. Kutanyakan lagi soal asam uratnya.

Aku ingat ketika mengirimkan naskah buku “Surat Cinta buat Gembala”.

Salah satu semangat hidup yang saya terima dari umat adalah pengakuan bahwa saya masih manusia yang berada dalam proses “menjadi” imam yag sejati. Buku ini rasanya memaparkan berbagai sisi hidup seorang imam dari kacamata umat, yang memandang imamnya “secara manusiawi”. Saya yakin buku ini sangat inspiratif dan tetap segar, agar dengan membaca buku ini, para imam pun tertantang untuk tetap memiliki harapan meski jatuh-bangun mengusahakan kesetiaan terhadap panggilannya. (Blasius Slamet Lasmunadi, Pr. Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Purwokerto)

Aku ingat, lebih dari ingat, kami—POLAR (Panjikristo, aku, Anang Yb, Rini Giri)—belum sempat mengirimkan buku “Surat Cinta buat Gembala” untuknya.

Romo Slamet,
Maaf aku pernah marah padamu.
Maaf aku pernah membuatmu marah padaku.
Maaf kami belum sempat mengirimkan buku untukmu.
Kami kehilangan wajah ceriamu.
Kami kehilangan semangat rendah hatimu.
Kami kehilangan serial Jerawati dan Panurata-mu.
Masih banyak dari kami yang ingin bertemu muka denganmu.
Masih banyak dari kami yang ingin berbuat sesuatu bersamamu.
Masih banyak dari kami yang ingin berdoa bersamamu.

Bagi para gembala yang telah mengabdikan hidupnya agi para domba hingga akhir hayat, rengkuhlah mereka dalam pelukan kudus-Mu di kehidupan kekal.
(Doa untuk Para Gembala, dari buku Surat Cinta buat Gembala oleh POLAR)

Rm. Blasius Slamet Lasmunadi, Pr. Meninggal hari ini, Jumat, 13 Agustus 2010 jam 21.30 di RS Elisabeth Purwokerto dalam usia . Misa requiem dilakukan hari Senin, 16 Agustus 2010 jam 10.00 di Katedral Purwokerto. Jenazah dimakamkan di Kaliori, Purwokerto.

Silakan membuka akun Facebook-nya: Blasius Full (Blasius Slamet Lasmunadi) dan Blasius Slamet Lasmunadi atau Multiply-nya Blasius Slamet Lasmunadi.

*menulis sambil diiringi Panis Angelicus*

Panis angelicus
fit panis hominum;
Dat panis coelicus
figuris terminum:
O res mirabilis!
Manducat Dominum
Pauper, servus et humilis

(The angelic bread
becomes the bread of men;
The heavenly bread
ends all prefigurations:
What wonder!
consumes the Lord
a poor and humble servant.)

Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , ,

This entry was posted on Saturday, August 14th, 2010 at 2:29 am and is filed under Mo Met: Sahabat Gembala Endorser. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

13 Responses to “Mo Met: Sahabat, Gembala, Endorser”

  1. trees
    6:15 am on August 14th, 2010

    Tulisanmu membuat aku semakin sedih lin, andai banyak pastor yang punya visi pastoral sebaik beliau , semoga tulisan2 beliau menginspirasi kita dalam pelayanan

  2. Agatha
    7:57 am on August 14th, 2010

    Selamat Pagi Mba’ lini….gimana caranya ya supaya sy bisa dapatkan buku “Surat Cinta Buat Gembala?”. saya ingin memiliki buku itu tetapi tidak tau bagaimana mengusahakannya. Terimakasih juga buat sharingnya selamat bersama Rm. Slamet. Saya juga cukup dekat dgn beliau, sudah seperti abang sendiri. saya juga merasa kehilangan beliau. Dan beliau adalah salah seorang Imam Terbaik yang pernah saya temui. Rm. slamet adalah Inspirasi saya.
    Terimakasih mba’ Lini…

  3. indra
    10:49 am on August 14th, 2010

    Trenyuh….
    Salah satu inspirator menulis yang luar biasa. Tulisan ini malah bikin ‘mbrebes mili’ mengenangnya.
    Semoga Romo tenang di Sana.

  4. Daesy
    11:18 am on August 14th, 2010

    Hikz, walau belum pernah ketemu dan kenalan, hikz, ikutan sedih baca tulisannya Lini.
    Semoga dia tenang di sana…

  5. ratna pratomo
    8:30 pm on August 14th, 2010

    air mata kembali menetes stp membuka kembali FB romo Blas….
    Sugeng tindak Romo…..Berkah Dalem….

  6. Panjibudi
    8:44 am on August 15th, 2010

    “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.” (Yoh.6:37)

    Selamat jalan menuju kebahagiaan abadi dalam Kerajaan Surga, Romo Blasius. Selamat menikmati janji TUHAN, yang juga pas dengan kalender liturgi hari JUMAT, 13 Agustus 2010:

    “Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga…. [Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.]” (Mat. 19:12.[29])

    Terima kasih Romo atas segala perhatian Romo selama ini—tentu juga atas warisan yang Romo tinggalkan dalam bentuk tulisan renungan harian yang akan terbit 14 September 2010. http://www.facebook.com/photo.php?pid=4838782&id=61682362360&ref=fbx_album

  7. Lini
    5:34 pm on August 15th, 2010

    @ Trees: yuk kita lanjutin semangatnya Mo Met!
    @ Agatha: buku “Surat Cinta Buat Gembala” sudah ada di Gramedia. Berkah dalem full :)
    @ Indra: bar mewek, kita donga yo?
    @ Daesy: seandainya lu kenal pribadi Des, makin mewek deh
    @ Ratna: amiinn…
    @ Panjibudi: matur tengkiyu sanget sudah berbagi tautannya :)

  8. anie
    8:48 am on August 16th, 2010

    hiks..hiks..

  9. Winda
    12:23 pm on August 16th, 2010

    turut berbelasungkawa untuk Romo Blasius Slamet..
    smoga karya dan karsanya diterima oleh Yang Kuasa

    dunia benar2 sempit
    Siapa sangka ada beberapa nuliser yang kenal dengan Mo Met?

    Meski saya bukan umatnya dan tidak kenal dengannya, tapi saya lahir di Purwokerto.
    Tidak menutup kemungkinan juga beliau pernah memimpin misa bersama yang saya ikuti di jaman skolah dulu..

    (beberapa hari lalu saya menerima undangan menghadiri pemakaman seorang pastur dari almamater.. Kemudian juga terima undangan dari bu kos. Setelahnya baru sadar kalo itu adalah undangan untuk pemakaman orang yang sama..)

  10. Lini
    8:40 pm on August 16th, 2010

    @ Anie: hiks….

  11. Lini
    8:41 pm on August 16th, 2010

    @ Winda: whoaa… dunia memang sempit :(

  12. Mo Met: Sahabat, Gembala, Endorser « Paroki St. Arnoldus Janssen
    8:29 am on August 18th, 2010

    [...] Oleh G. Lini Hanafiah bagikan kabar gembira ini.. [...]

  13. Agar Agar
    12:49 am on January 22nd, 2011

    i am a HUGE fan of agar agar- I use it in all my ‘short’ cooking (like cookies) and it works very well…

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>