Na, Jaga Diri Lu
Panggil saja dia Nana. Teman sebangkuku ketika duduk di kelas 3 SMP, 19 tahun lalu. Saat itu kami sama-sama tidak populer. Rumah kami tidak terlalu jauh tapi jarak rumah kami ke sekolah jauh. Aku tinggal di Menteng Pulo—yang mendadak populer karena Barry alias Obama kecil tinggal di sana—dan Nana tinggal di Menteng Dalam. Awalnya Nana selalu dijemput supirnya ketika pulang sekolah. Lama kelamaan Nana mulai belajar pulang naik bus kota bersamaku. Halte bus dekat rumah Nana akan dilalui lebih dulu, baru halte dekat rumahku sehingga Nana pasti turun duluan dan aku merasa aman. Sebenarnya heran juga melihat Nana kecil yang biasa naik mobil berpendingin ikut naik-turun bus dari terminal Blok M yang luar biasa panas itu. Maka sejak itulah persahabatan kami dimulai.
Nana berkulit putih, berwajah mirip orang Tionghoa, berambut panjang, bertubuh subur. Itu yang kuingat betul. Ternyata sampai saat ini tidak ada yang berubah, hanya rambut kami yang dulu sama-sama panjang dicukur sama pendek. Wah, sama terus ya?
Ada juga perbedaan kami. Nana memang tidak terlalu pintar di kelas. Kadang nilainya di bawahku. Tubuh Nana juga subur sementara aku gersang. Nana dibesarkan di keluarga yang sangat berkecukupan, jauh dari keuangan keluargaku yang memang juga tidak pas-pasan. Setahuku, Nana juga anak yang cukup disayang Papanya, meskipun Nana tidak terlalu akrab dengan Mamanya.
Selama setahun kami duduk sebangku, aku sering sekali main ke rumahnya. Kadang berenang di kolam renang kompleks situ tepat di depan rumahnya. Jadi kalau kami berenang tidak perlu bawa tas, cukup menyampirkan handuk, lalu kembali ke rumahnya dan bilas di sana.
Lulus dari SMP, Nana melanjutkan ke SMK (sekolah menengah kejuruan), aku melanjutkan ke SMA. Sejak itu frekuensi telepon dan ketemu jadi jauh berkurang meskipun sampai saat ini ucapan selamat pada momen khusus masih sering terucap.
Aku lupa kenapa Nana tidak datang ke pernikahanku. Aku datang ke pernikahannya di tahun 2003. Pernikahannya dan pernikahanku juga seperti langit dan bumi. Bagi anak seorang pensiunan pejabat BUMN, resepsi yang digelar di hotel seperti itu tentu cukup “sederhana”. Sayang, saat itu Papanya sudah tiada. Sebetulnya, kehidupannya jadi jauh berubah tapi Nana tidak pernah cerita. Meskipun begitu, resepsi pernikahan Nana tetap digelar untuk menjamu mantan kolega almarhun Papanya.
Setelah menikah, Nana tinggal di rumah mertuanya. Suaminya yang anak mama “bertingkah” luar biasa dan didukung oleh mamanya. Sampai akhirnya Nana tidak tahan lagi dan minta untuk mandiri.
Pindah ke rumah kontrakan mungil itu tidak membuat segalanya jadi baik. Nana yang sejak awal sendirian menjadi tulang punggung keluarga masih harus menanggung kekerasan. Tubuh suaminya yang lebih kecil dari Nana tidak menghalanginya untuk membanting Nana ke lantai. Awalnya Nana diam. Lama kelamaan, Nana berani melawan. Urusan kekerasan berubah menjadi ajang baku hantam.
Pada suatu hari—entah ronde ke berapa baku hantam itu—perut Nana ditendang. Puas menjadikan Nana “media berlatih”, suaminya pergi. Tidak perlu waktu lama untuk Nana menderita sakit yang amat. Nana mengalami pendarahan. Tetangga Nana membawanya ke rumah sakit. Vonisnya? Nana harus dikuret! Ya, Nana sedang hamil tiga bulan. Penantian selama bertahun-tahun di atas kekerasan yang diterimanya setiap hari. Saat suaminya datang ke rumah sakit, Nana sudah tidak bersama janinnya lagi dan terbaring lemah.
“Gue gak mau lihat mukanya, Lin…” mata Nana mulai becek, “gue buang muka. Gak sudi lihat mukanya.”
Aku hanya bisa diam. Bingung harus bilang apa.
“Kenapa waktu kejadian itu lu gak cerita sama gue, Na?”
“Gue gak mau lu tahu, Lin. Gue malu.”
“Na, mungkin gue bukan sahabat yang baik. Tapi kita temenan udah 19 tahun, Na. gak sebentar….”
Nana meraih tisu di kamar kosnya yang cukup rapi itu. Mengusap matanya pelan. Selama 19 tahun mengenal Nana, baru ini aku melihatnya menangis.
“Jadi, apa lagi yang belum lu ceritain?”
“Gue bukan anak bokap, Lin….”
“Anak siapa?”
“Gue manggil dia Ayah. Dia adiknya bokap. Dulu dia ga sanggup punya anak banyak. Sama bokap gue diminta. Jadilah gue tinggal di rumah bokap.”
“Lu udah pernah ketemu Ayah sejak lu tahu?”
“Udah. Sama kakak-kakak yang lain juga udah.”
“Tanggapannya?”
“Baik sih.”
“Jadi gak ada masalah dong?”
“Gak ada. Masalah gue bukan di situ.”
“Lah, terus?”
“Entah gimana, keluarga suami gue tahu kalau gue bukan anak kandung bokap. Terus disebarluaskan deh berita itu. Lu tahu Mama Mertua gue kan? Dia langsung nyuruh suami gue ceraiin gue.”
Mama Mertua Nana adalah tipe wanita penuh gengsi. Semua harus bermerek, semua harus dari Amerika. Konon kabarnya, Mama Mertua Nana bekerja di Amerika tapi melihat seringnya ia di Jakarta dan tidak super-sibuk, rasanya kok gak meyakinkan. Tidak hanya itu, Mama Mertua Nana pernah menanyakan soal jatah warisan dari Papa Nana. Kok jadi ngomongin warisan besan? Papa Mertua Nana sudah tiada jauh sebelum mereka pacaran.
Aku ingat ketika Nana keluar dari rumah mertuanya. Televisi layar datar—yang saat itu masih sangat mahal—hadiah dari kolega almarhum Papa Nana tidak boleh dibawa serta. Alasannya karena itu adalah hadiah perkawinan.
“Tapi di situ ditulis ‘untuk Nana’ berarti punya gue dong! Kok diminta mertua gue sih?”
“Anggap aja amal. Dia gak mampu beli, Na. Nanti juga lu mampu beli sendiri,” hiburku saat itu.
Kembali ke percakapan tadi.
“Nah, suami lu sendiri gimana?”
“Yah, sama aja sama mertua gue. Bedanya, dia berani gertak doang gak berani ngajuin gugatan ke Pengadilan Agama. Suami gue mau kawin sama gue ngarepin warisan, Lin.”
“Nyokap lu?”
“Waktu berita itu nyampe ke nyokap, dia bilang itu bohong tapi sikapnya cuek. Waktu ada bokap emang dia jadi cuek, nah ini lebih cuek lagi. Gak mau bilang gue anak siapa tapi sikapnya beneran nganggep gue anak tiri.”
“Hm….” aku menghela napas.
Aku mengingat wajah ketiga kakak Nana. Mereka semua mirip, Nana memang beda.
“Terus?” Aku menyeruput teh dingin untuk menenangkan diri.
“Ya gue bingung. Mertua kayak gitu, nyokap gak peduli sama gue. Kakak-kakak gue juga acuh gitu deh.”
Wah, beban yang harus dibawa sendiri ke mana-mana….
“Habis lu dikuret itu terus gimana?”
“Akhirnya keluarga gue setuju gue cerai.”
“Lah, kok lu minta persetujuan buat cerai? Itu KDRT, Na! Gak pake persetujuan kudunya ya lu cerai aja!”
“Kan suami gue bilang dia yang mau gugat tapi sampe lama gue tunggu ga ada panggilan. Akhirnya, ada om gue yang pengacara. Katanya tunggu aja sampe waktunya tepat biar sidangnya gak panjang urusan.”
“Kenapa suami lu gak gugat seperti yang dia gertak?”
“Gugat cerai kan pake duit, Lin. Mana mereka punya duit? Kalo mereka punya duit pasti udah dari dulu gue dicerai.”
“Selama itu lu tinggal di mana?”
“Pulang ke Kuningan.”
“Nyokap terima?”
“Diem aja sih.”
Hening. Aku ke kamar kecil untuk membiarkan Nana sendirian sejenak. Aku kembali duduk di tempat semula. Duduk berselonjor di samping kasur tak beranjang itu.
“Lu kenapa pindah ke sini?”
“Gue diusir.”
“Diusir??” Mataku nyaris copot.
“Iya. Kenapa lu kaget?”
“Alasannya? Ya gue bingung aja kenapa diusir.”
“Kan gue bukan anak dia. Udah waktunya mandiri. Gue disuruh pindah. Ya di sini lah gue sekarang.”
“Itu kerjaan yang ikut sodara lu baek kan?”
“Gue keluar, Lin….”
“Kenapa?”
“Sodara gue kan cuti hamil. Penggantinya orangnya nyebelin. Temen-temen gue jadi pada keluar.”
“Emang lu ada masalah sama orang itu?”
“Gak ada.”
“Ngapain keluar? Lu kan sodaranya yang punya, gak mungkin dia pecat lu!”
“Emang gak mungkin.”
“Lah ya, lu ngapain keluar kerja??” Gemas betul aku.
“Temen-temen gue kan udah pada gak ada….”
“Sekarang, mereka di mana? Kerja?”
“Kerja di tempat masing-masing.”
Bodoh! Ngapain lu keluar kerja sementara lu sendiri nganggur, Na!! Aku sibuk merutuki kebodohan Nana. Tampaknya Nana membaca gelagatku.
“Lu sendiri nganggur udah dua tahun….”
Nana menunduk terdiam.
“Na, paling gak harusnya lu punya serep dulu baru berenti kerja. Udah diterima di mana kek. Nah lu keluar kerja tapi nganggur. Ijazah SMK lu ga laku?”
“Anak perhotelan yang laku sekarang kan yang S1 minimal D3. Ijazah SMK gue ya gak laku.”
Kalaupun laku, Na, paling lu jadi staf rendahan. Mau dapet gaji berapa? Padahal keluarga tiri lu kaya, Na. Mana lu gak punya keahlian khusus lagi.
“Selama ini, yang nafkahin lu siapa?”
“Kakak gue.”
“Mau sampe kapan? Sekarang, rencana lu apa?”
“Nyari kerja.”
“Jadi dua tahun ini lu nganggur belum dapet kerjaan juga?”
Nana menghela napas.
Jengkel, gemas, marah, sedih, campur aduk tidak karuan. Tidak tahu harus berkata dan berbuat apa. Memberinya pekerjaan bukan hal mudah karena urusannya pendapatan.
“Na….”
Nana menoleh ke arahku.
“Tuhan mau lu jadi kepompong dulu, Na. Waktunya Tuhan beda sama waktunya kita jadi lu jangan tanya berapa lama lu harus jadi kepompong. Tuhan mau lu belajar sesuatu dari serentetan kejadian yang bikin gue mau pingsan ini. Gue gak tahu apa. Lu yang lebih tahu. Mungkin lu harus belajar tabah, mungkin belajar sabar, mungkin belajar tawakal dan pasrah. Gue yakin lu bisa cari tahu apa yang Tuhan mau dari lu.”
Nana menahan isak. Aku memeluknya. Selama 19 tahun, kami belum pernah berpelukan.
“Na, Lini kecil yang lu kenal udah sempet bejat tanpa setahu lu. Sekarang gue udah bisa khotbahin lu soal hidup dan percaya Tuhan. Biar orang bilang gue murtad tapi jalan gue bener, paling gak menurut gue. Orang bilang jalan gue salah. Siapa yang tahu jalan ke Surga lewat agama apa?”
“Gue lagi deket sama anak Pendeta, Lin.”
“Lu jangan ikut-ikutan gue migrasi. Lu harus ikut apa kata hati lu. Mau anak pendeta, mau mantan Frater, gue ga peduli. Lu sholat ya sholat. Biarpun gue udah gak sholat tapi gue yakin doa siapa aja tetep didenger Tuhan. Lu percaya Tuhan sayang sama kita, kan?”
Nana ragu-ragu.
“Kalo dia sayang sama kita, kenapa gue dikasi cobaan kayak gini?”
“Menurut lu, kalo Tuhan sayang harusnya lu dikasi senang terus? Kapan lu bisa tau susah kalo ga pernah ngerasain? Mungkin itu jawabannya, biar lu sadar kalo Tuhan sayang sama lu, Na. Buktinya, dua tahun lu nganggur masih bisa hidup, masih punya pulsa. Temen gue sampe jual cincin kawinnya demi beli beras. Lu inget tuh!”
Nana mengangguk pelan. Akhir perbincangan ini terasa tidak adil buatku. Kenapa aku jadi pengkhotbah?
“Na, gue pulang dulu. Udah malem. Lu istirahat deh. Lu renungin tuh omongan gue. Lu tanya ama Tuhan mau dia apa. Ya?”
“Ya….” nada suara Nana lemah.
“Jangan lagi lu sembunyiin sama gue. Hidup lu emang sendirian tapi lu gak sendiri. Lu punya Tuhan, punya gue. Bilang aja kalo butuh bantuan asal bukan duit. Soal itu gue sendiri masih prihatin gak bisa nolongin, sori.”
Nana mengantarku ke Si Putih jip butut kesayanganku. Aku memanaskan mesin.
“Makasih ya, Lin.”
“Sama-sama. Jaga diri lu, Na.”
“Daahh….”
“Daahh….” Nana melambai.
Dari kaca spion kulihat Nana masih terus terpaku menatap ke arah punggung mobilku dengan tatapan kosong.
Na, jaga diri lu. Bener ya? Janji!
Bersambung ke Na, Jaga Diri Lu (2)
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Kasih, Luka Batin, Sahabat, Syukur
This entry was posted on Friday, March 26th, 2010 at 10:42 am and is filed under Na Jaga Diri Lu. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.









12:56 pm on March 26th, 2010
tulisan yang bagus dan bikin gw menganga bengong sekaligus terharu…kasihan si Nana…Moga2 ada jalan keluar…
2:40 pm on March 26th, 2010
hikssss terharuuuuu
sama buat Na
3:51 pm on March 26th, 2010
@ Fonny: tengkiyu Fon, gue sampe sekarang juga masih menganga
@ Femi: hiks… hiks… tengkiyu Fem
4:55 pm on April 24th, 2010
terharuuu, smg nana diberi jalan keluar yang baik…
7:24 pm on April 25th, 2010
@ Indriati: matur tengkiyu yaa.. amiinn…
8:02 pm on May 21st, 2010
Gw br sempet baca, ini temen yg duluuuuuu pernah lu crita ma gw ya Lin ? ini kabar trakhirnya ? jadi dr 2 thn lalu itu lom ada perbaikan ? hmmm ….. lama jg ya proses belajarnya …. but she’ll be a beautiful butterfly soon, percaya deh ….
Salam sama Nana ya ….
1:00 pm on May 24th, 2010
@ Intan: hm… iya kah? kok lupa ya gw? sebenernya ini bukan kabar yang update banget sih tapi kira2 ya begitu lah. rasanya proses belajarnya dia masih jauh lebih lama lagi deh
7:26 pm on June 30th, 2010
[...] Sambungan dari Na, Jaga Diri Lu [...]