Natal, Selalu Istimewa

Dimuat di Kuasa Doa Vol. 4, No. 10, Desember 2009

Natal, selalu menjadi hal sentimentil buatku.

Natal pertamaku tahun 2002

Singkat cerita, saat itu aku baru saja dibaptis. Pengantin baru yang memiliki janin berusia tiga bulan di rahimku. Dengan kondisi mual-dan-muntah-selalu, tidak mungkin aku merasakan Misa Malam Natal. Sejak dulu memang aku suka sekali dengan suasana Natal yang dipenuhi anak-anak. Pilihannya jatuh pada Misa Natal Anak-anak jam 9.00.

Rasa gembiraku lebih mirip anak-anak ketimbang calon ibu. Rasanya kembali ke masa kecil. Melihat banyak sekali anak-anak berbaju merah dengan topi Santa Clause. Menyanyikan lagu Natal anak-anak. Mendengarkan koor anak-anak. Menyaksikan tablo Natal yang dibawakan anak-anak yang ceritanya “memang begitu”. Air mata haru dan senyum gembira jadi satu. Pasti aneh sekali wajahku saat itu dengan perut yang tidak terlalu buncit.

Lagu bernuansa Natal berkumandang ke manapun aku pergi sejak beberapa minggu sebelumnya. Lagu-lagu Natal yang kusukai sejak kecil, lampau sebelum berhak merayakan Natal. Tahun itu, aku berhak untuk menyanyikannya setiap hari menjelang Natal sampai Tahun Baru. Menyaksikan Misa Natal dari Vatikan jadi penuh nuansa baru. Tayangan yang juga kunikmati jauh sebelum itu. Dua dari sekian “tanda” yang kuyakini bahwa aku harus ikut merayakannya dengan layak dan sepantasnya.

Natal tahun 2005

Seminggu sebelum Natal, Minggu Advent keempat. Kali ini aku hamil tua. Dokter sudah menyatakan untuk siap mengambil tindakan jika minggu depan tidak juga lahir. Berdasarkan perkiraan, seharusnya anakku lahir pada tanggal 28 Desember. Kehamilan minggu ke-40 kurang hitungan hari. Janin di dalam perut membuatku sesak sekali.

Pagi  menjelang Natal, aku ngompol sedikit-sedikit. Saking sedikitnya, justru kuabaikan. Sorenya, aku masih sempat naik motor ke hypermarket bersama Si Ayah dan Si Sulung. Menyiapkan stok bahan makanan selama libur Natal. Tidak ada tanda-tanda kelahiran. Sejak jauh hari, seorang Romo sahabatku sudah menyatakan, “Anakmu nanti lahir pas hari Natal.” Saat itu aku cuma bisa nyengir lewat fasilitas pesan instan. Antara gembira dan gelisah mendengarnya. Merasakan seperti Bunda Maria, melahirkan di saat yang sama, rasanya terlalu istimewa buatku. Ulang tahunnya akan selalu penuh kidung pujian dan dirayakan seluruh dunia. Irit karena hadiah ulang tahun dan hadiah Natal cukup satu atau justru tetap harus dua?

Sepulang dari hypermarket, “ompol” yang tak kunjung berhenti itu makin nyata. Aku mengirim pesan singkat pada dokter. “Oh, itu ketubannya sudah mulai rembes. Segera ke rumah sakit.” Begitu balas pesan singkatnya.

Malam Natal itu pukul 20.30 ketika semua orang berangkat ke gereja, kami – aku, Si Ayah, dan Si Sulung -  berangkat ke rumah sakit. Jalanan lengang. Hanya perlu waktu 30-45 menit untuk sampai di rumah sakit. Kami tidak mengatakan pada pak sopir kalau aku akan bersalin. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, sopir taksi kadang panik atau grogi sehingga tidak menyupir dengan baik.

Aku langsung masuk ruang bersalin. Dokterku belum datang. Suster mengabari Dokter tentang statusku. Tak lama kemudian suster mengatakan bahwa aku harus diinduksi. Aku menolak. Aku langsung menelepon Dokter dari ponselku sendiri.

“Dokter lihat dulu dong keadaannya. Apa iya harus induksi?”

“Ya, kalau gitu, kita lihat sampai besok ya?” jawab Dokter singkat.

Sementara itu, semua stasiun televisi menyiarkan tembang pujian Natal. Para Bidan tidak punya pilihan selain menikmati saja. Itu juga menjadi hiburanku yang sangat berarti. Si Sulung terpaksa ikut karena jarak rumah yang di Bekasi dan rumah sakit di Tomang jauh sekali, aku tidak punya pembantu, Tante sudah pasti ke gereja, Mama Mertua di kampung, Mama naik haji. Lengkap sudah. Di ruang bersalin yang seadanya itulah aku dan Si Ayah membuat Si Sulung nyaman. Tengah malam, kami berdoa bersama. Doa Natal sekaligus mohon agar anakku dapat lahir dengan selamat. Si Sulung pun lalu tertidur di pangkuanku dan Si Ayah ketiduran di sofa panjang ruang bersalin itu.

Hari berganti pagi. Saatnya Si Sulung ikut misa Natal anak-anak. Tetapi, Si Ayah merasa lebih penting menemaniku di rumah sakit ketimbang pergi ke gereja. Akhirnya kami bertiga tetap berkumpul di ruang bersalin. Dokter akhirnya datang dan melihat keadaanku. Bukaan jalan lahir tidak bertambah tapi ketuban terus merembes.

“Selamat Natal ya, Bu. Wah Kakak sudah pakai topi santa?” Guraunya.

“Dua jam lagi kalau tidak ada kemajuan kita induksi ya?”

“Kalau gitu, saya berdoa dulu deh, biar jangan diinduksi.” Aku mulai bergidik.

Dua jam kemudian memang tidak ada kemajuan. Maka tablet itupun akhirnya masuk ke liang lahir. Lalu aku tertidur pulas.

Siangnya, aku terbangun karena perutku tiba-tiba mulas sekali. Kebetulan keluarga Tante dan Om singgah menjengukku. Sayang, perutku masih buncit. Menjelang sore, Istri Kakak Ipar mendoakan lewat telepon. Suaranya sayup-sayup terdengar karena mulasku lebih sakit dari waktu melahirkan Si Sulug dulu. Pukul 17.00, Aku merasakan sakit yang hebat. Aku hampir pingsan di kamar mandi. Aku bahkan tak punya tenaga untuk memanggil Si Ayah yang jaraknya hanya beberapa meter dan pintu kamar mandi yang memang kubiarkan terbuka.

Para Bidan segera menyiapkan kelahiran Si Bungsu. Si Ayah di luar menemani Si Sulung. Aku berteriak-teriak bahwa Si Bungsu sudah mau lahir. Sendirian. Aku sudah bisa membedakan mulas sebelum dan menjelang bayi mau lahir. Rasanya seperti ingin buang air besar. Berbeda dengan mulas menunggu pembukaan yang rasanya seperti sakit bulanan. Bidan masih sempat menyatakan agar aku menahannya dulu karena Dokter sedang menuju ruang bersalin. Rasanya lama sekali Dokter datang.

“Sabar ya, Bu. Dokter sedang dalam perjalanan.” Selalu begitu katanya.

Hanya sekejap, Bidan keluar dan kudengar dia berkata dengan lantang, “Telepon Dokter! Bayinya sudah mau lahir!”

Ha?? Jadi dari tadi aku dibohongin? Aku telepon dengan ponselku. Aku yakin aku lebih dulu menghubungi Dokter daripada Bidan.

“Dok, sudah mau lahir… Masa disuruh tahan…?? Dok… sudah nggak tahan…!”

“Ya, ya. Tahan, Bu…”

“Gimana mau ditahan? Masa udah keluar suruh masuk lagi… Udah cepetan, Dok..!”

Aku terbata-bata antara menahan sakit yang amat sangat dan kelelahan. Dokterku ini memang antik. Seorang drummer jazz yang andal. Meskipun jeda usia kami sepuluh tahun, tapi SMA kami bersebelahan. Tak heran dia lebih senang menganggapku teman ketimbang pasien.

Dokter datang, langsung melihat kondisiku. Aku tidak tahu apa yang terjadi.

“Sus, ayo semua bantuin.”

Pembukaan yang tidak sempurna membuat tiga Bidan dan Dokter membantu mendorong agar Si Bungsu lahir. Baru ini aku tahu begitulah proses kelahiran yang perlu dorongan tenaga medis secara harfiah. Layaknya mendorong mobil mogok, mereka mendorong perut buncitku ke arah liang lahir. Tentu saja tak cukup sekali dorong langsung selesai. Rasanya tenagaku sudah habis. Malah para Bidan sempat bercanda asyik sendiri.

“Sus, ayo dong! Malah arisan!”

Aku sempat terhibur juga ditengah kehabisan tenaga begitu. Semangatku muncul lagi. Satu jam berselang sejak sakit yang luar biasa itu, Si Bungsu akhirnya lahir. Waktu menunjukkan pukul 18.00 sore. Di luar, Si Ayah dan Si Sulung tidak sabar ingin melihat wajah adiknya.

“Sabar ya, Kak. Adiknya dibersihin dulu,” kudengar Bidan berkata.

Setelah tali pusat dipotong dan Si Bungsu dibersihkan serta dibungkus seadanya, Si Ayah dan Si Sulung diajak masuk dan diperbolehkan bertemu Si Bungsu.

“Sini, Kakak boleh masuk,” panggil Dokter.

Betapa gembiranya dia. Setelah sembilan bulan melihat adiknya menendang-nendang di dalam rahimku, kini berujud nyata. Berdasarkan prosedur, Si Ayah menemani suster untuk menimbang dan memeriksa Si Bungsu di ruangan lain. Si Sulung tak mau lepas dari adik barunya.

“Kakak ikut!” Begitu bangganya ia menjadi Kakak.

Malam itu aku pindah ke ruang rawat, kami berdoa bersama lagi. Kami sangat gembira atas kelahiran Si Bungsu. Si Sulung lebih bahagia lagi karena dalam benaknya Si Bungsu merupakan sosok “Santa Clause” yang datang di hari Natal. Meskipun tidak melahirkan di kandang, tetap saja aku merasa sebahagia Bunda Maria.

Sungguh menjadi Natal termahal dengan hadiah terindah!

Natal tahun 2008

Natal keenam dalam hidupku. Ulang tahun ketiga Si Bungsu. Mama Mertua terbaring sakit di sebuah rumah sakit di Bandung sejak awal Desember. Sudah beberapa hari aku di sini menemaninya. Tepat ketika aku tiba di Bandung, itulah hari terakhir jari kaki Mama Mertua masih lengkap. Kelingking kaki kirinya terpaksa diamputasi agar diabetes yang dideritanya tidak semakin parah. Bagiku dan Si Ayah, itu jauh lebih baik ketimbang lututnya diamputasi.

Pohon Natal mini titipan kedua anakku sudah terpasang di atas ranjang Mama Mertua. Kufoto sebagai bukti pada mereka. Maklum, anak-anak tidak boleh masuk ke ruang perawatan. Aku tinggal di rumah Kakak Ipar dekat Katedral. Ini kesempatan pertamaku untuk merayakan Misa Malam Natal. Sepulang dari Rumah Sakit, melintasi Katedral menuju rumah, kulihat pohon Natal yang luar biasa besar di pelataran. Pohon berwarna putih gemerlap itu terlihat cantik ketika matahari beranjak pergi. Rasanya tak sabar menanti Misa Malam Natal pertamaku.

Aku memang sangat ingin merayakan Natal di Katedral Bandung itu. Alasannya sangat sentimentil. Ketika masa katekumen dulu, aku terpana dengan tulisan besar di bagian langit-langitnya, “Marilah kepada-Ku kamu yang letih dan menanggung beban”. Detik ketika aku melihat itu, aku sungguh yakin akan tinggal di Rumah-Nya. Hanya itu alasannya.

Malam itu sebelum berangkat, tidak lupa menulis surat untuk Santa Clause. Memasukkannya ke kaus kaki mungil berwarna merah hadiah Si Bungsu waktu lahir menjadi “kotak pos” untuk Santa Clause. Seharusnya mereka segera tidur agar Santa Clause datang tepat waktu. Si Sulung dan Si Bungsu kutitipkan pada Kakak Ipar, aku berjalan kaki menuju Katedral karena jaraknya yang sangat dekat dan justru merepotkan jika membawa kendaraan. Bandung yang dingin di malam hari sangat menyenangkan untuk berjalan kaki.

Dari kejauhan, pohon natal raksasa putih gemerlap itu makin cantik saja. Lampu-lampunya berkedip genit pada umat yang usai dan baru akan misa. Niat datang awal ternyata kurang pagi. Semua kursi di dalam gereja sudah penuh sesak. Alhasil, aku duduk di luar mengikuti Imam dari layar. Tidak apa, kan semangat ikut misanya, bukan posisi duduknya. Kebetulan aku kenal baik dengan Uskup Bandung yang baru menjabat itu. Dengan segala keramahannya, tak heran umat rela berjejal untuk ikut perayaan malam itu.

Tengah malam usai misa, maksud hati mampir ke Rumah Sakit. Apa daya, angkot menuju Rumah Sakit sudah tidak ada. Pulang dulu ambil kendaraan? Bisa-bisa mengganggu seisi rumah yang sudah lelap. Sampai di rumah, tak lupa kuperiksa apakah Santa Clause benar-benar “datang”. Bukti bahwa mereka sudah jadi anak baik tahun ini.

Pagi-pagi, kedua anakku melongok ke kaus kakinya masing-masing. “Horeee… Santa tahu kita nginep di Bandung!!” Pekik dua bocah mungilku sambil membuka hadiah. Sebagai ritual keluarga, pagi itu kami berdoa ulang-tahun-dan-Natal bersama. Meniup lilin di atas sepotong kue mungil.

Sesuai jadwal jaga, aku mengucapkan selamat natal pada Mama Mertua. Dari binar matanya, sungguh terlihat bahwa ia bahagia meskipun belum dibaptis. Natal kedua di Rumah Sakit dengan suasana berbeda.

Santa Clause tahu di mana kita sehingga tidak nyasar mengantarkan hadiahnya. Kristus yang lahir di kandang domba yang hina lebih tahu di mana hati kita ketika Natal dan sepanjang tahun.

Selamat Natal! Semoga kita terus jadi anak Tuhan yang baik sepanjang tahun agar Santa Clause tidak nyasar mengantarkan hadiah berkat dan damai Kristus.

Kisah Natal tahun 2005 diambil dari buku My Life is An Open Book

Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , , , , , , , , ,

This entry was posted on Monday, November 30th, 2009 at 11:14 pm and is filed under Natal Selalu Istimewa. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

16 Responses to “Natal, Selalu Istimewa”

  1. pam
    12:03 am on December 1st, 2009

    perjalanan natal yang mengesankan. selamat mempersiapkan perayaan natal non. salam buat keluarga semua…

  2. fekhi
    7:33 am on December 1st, 2009

    selamat menyambut natal ya lin ^_^

  3. Lini
    8:21 am on December 1st, 2009

    @ Pam: jadi panitia Natal ga, Mas?
    @ Femi: Natalan dah di Jakarta Fem? :D

  4. Maxi
    8:36 am on December 1st, 2009

    LIn, wow… kisah Natal yang indah. Cara kamu menceritakannya membuat kisah ini menjadi sangat menyentuh… Selamat mempersiapkan Natal, berkat Tuhan selalu menyertaimu sekeluarga…

  5. Lini
    9:01 am on December 1st, 2009

    @ Maxi: matur tengkiyu sanjungannya. Selamat mempersiapkan Natal juga :)

  6. Clementina Dewi
    9:11 am on December 1st, 2009

    Terharu bacanya…Gimana rasanya punya anak pas natal yah, sudah pasti natal jadi selalu istimewa. Btw, kalimat “Marilah kepada-Ku kamu yang letih dan menanggung beban” memang punya kekuatan magis. Bikin terenyuh tiap bacanya. Thanks for sharing this.

  7. indra
    10:15 am on December 1st, 2009

    always hepi on christmas, selamat persiapan natal.

  8. shinta miranda
    11:06 am on December 1st, 2009

    Lin, mengesankan, mengharukan, mendebarkan…..aku ga punya je kesan2 natal seperti kamu…apalagi sekrag, rasanya blue x’mas, deh.Tapi hrs tetap bersyukur, ya….Good Luck, Lini…!!

  9. Tina
    11:32 am on December 1st, 2009

    Lini…..thanks for your nice sharing…..! Semangatmu….itulah yg membuatku terkagum-kagum. Percaya Lin…..Christmas is always wonderful rasane……^^

  10. Lini
    11:59 am on December 1st, 2009

    @ Clementina:
    Kembali kasih. Rasanya campur aduk ga karuan deh hehehe

    @ Indra:
    Jadi panitia Natal kah?

    @ Shinta:
    whoaa… ibu yang satu ini. kan ga mesti “White Xmas”, bisa aja “Blue Xmas” yang penting semangatnya tetep sama. selamat persiapan Natal!

    @ Tina:
    matur tengkiyu kagumnya. ngalahin lagunya Eric Clapton “Wonderful Tonight” ya? hehehe

  11. San San
    12:22 pm on December 1st, 2009

    Mengesankan & menyenangkan :) Natal jadi momen super spesial buat keluarga Lini ya?

  12. Lini
    12:53 pm on December 1st, 2009

    @ San San: iya hehehe

  13. Bertha V. Soerijanti
    4:41 pm on December 2nd, 2009

    wow, Lin bagus buanget pengalaman iman Katolik nya, semoga makin dikuatkan oleh Nya dalam berkarya yah…..
    2thumbs up

  14. Lini
    4:47 pm on December 2nd, 2009

    @ Bertha: matur tengkiyu, Cie Bertha :D

  15. thilio christine
    3:43 pm on December 7th, 2009

    Lini… ceritanya… indahnya… smoga doamu terkabul…amin :)

  16. Lini
    3:53 pm on December 7th, 2009

    @ Thilio: amiinn… :D

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>