Ngalor-ngidul Dini Hari
Ketika aku menulis ini, ada sebuah jendela YM yang terbuka. Aku menulis sambil chatting dengan seorang teman lama.
Ingatanku mundur ke 10 tahun lalu, jaman kuliah dulu. Kami satu teater kampus dulu. Aku yang tidak bisa terikat pada 1 organisasi secara terus menerus tentu saja bak kutu loncat ke sana ke mari. Aku tidak bersahabat dengannya. Hanya sebatas junior-senior di teater kampus. Cuma itu.
Malam ini jadi istimewa buatku. Sejak beberapa hari lalu, ada seorang kawan lain yang menyatakan, “Kamu sekarang TOP MARKOTOP.” Apa maksudnya? Aku biasa aja. Semua yang aku lakukan gak ada yang istimewa. Bukan hal yang patut dibanggakan. Semua masih benih. Masih cita-cita. Pingin punya penerbitan sendiri, ngumpulin temen-temen yang ingin belajar nulis. Apa istimewanya? Buku karyaku juga baru dua. Jauh dibanding Andrea Hirata, Jenar, Ayu Utami, Dee, dsb. “Rumah” Yuk Nulis! yang aku bikin juga masih batita, belum menghasilkan penulis-penulis bestseller. Bahkan teman-teman juga baru satu orang yang bikin e-book dengan jerih payahnya sendiri. Di mana istimewanya?
Jawabannya ada pada malam ini. Teman lama kampusku yang sedang chatting menjelaskannya panjang-lebar.
“Kakak di mataku spesial banget. Berbeda dengan jaman di kampus. Dulu Kakak orangnya asal. Sekarang lebih bijak dan berisi. Sepertinya hidupnya menyenangkan, seimbang dan bahagia. Terlihat menarik. Memiliki anak yang lucu, suami yang baik. Kayaknya harmonis banget.”
Begitukah?
Beberapa hari lalu, seorang teman yang lain juga bilang, “Semangatmu itu seperti orang kaya, tidak pernah merasa kurang. Semangat orang miskin selalu merasa hidupnya kekurangan.”
Begitukah?
Aku bukan orang pemasaran yang paham apa itu personal branding. Bukan orang ahli spiritual yang tau apa itu aura. Aku cuma ibu rumah tangga beranak dua yang senang menulis dengan order artikel untuk media yang hanya sekali-sekali – tidak seperti dulu yang harus setor artikel tiap minggu – dan iseng bikin blog sana-sini.
Mungkin karena aku belajar dari hal-hal yang tidak menyenangkan maka bisa membandingkan dan tahu mana yang lebih mending. The best of the worst.
Mungkin karena aku selalu berusaha bersyukur. Menikmati semua yang ada hari ini. Ada kesel, ada marah, ada kecewa. Dinikmatin aja. Berusaha selalu melihat sisi positif setelah marah reda. Menikmati bahwa menjadi berbeda itu tidak menyenangkan karena dianggap aneh.
Mungkin karena aku selalu berusaha berbuat baik, bahkan pada orang yang baru kukenal sekilas.
Mungkin karena aku selalu ceria. Katanya, orang yang jarang marah kalau sekalinya marah itu luar biasa. Hm… iya sih! Kata Si Ayah, aku kalau marah setan aja takut! Abis marahnya dirapel…
Mungkin karena aku bekerja dengan suka ria. Nothing to lose. Tanpa target. Tanpa arah? Gak laahh…
Semakin banyak pujian yang datang, rasanya aku semakin “off”. Itu kalimat yang sering diungkapkan sobatku. “Kita itu sama, kalau dipuji malah “off”. Maka kita gak boleh saling memuji ya.”
Maksudnya, ketika aku dan sobatku menerima pujian, rasanya malah kosong, gak berarti apa-apa. Malah gak bangga sama apa yang udah dikerjakan.
Tulisan ini emang ngalor-ngidul gak jelas. Karena aku juga merasa ngalor-ngidul ga jelas.
Aku cuma mau bilang, bahwa ternyata semakin kita merasa bukan siapa-siapa, semakin orang melihatnya sebagai apa-apa.
Semakin orang mencari pujian dan perhatian, semakin orang merasa, “Apa sih lo?”
Hukum alam yang terbalik. Tapi sungguh, itulah petualangannya. Terima kasih buat temanku yang mau chatting malam ini. Jangan berhenti nulis ya!
Terima kasih kesekian kalinya pada SEMUA orang yang sudah mau bersahabat sama aku n dengerin curhatku yang ngalor-ngidul, SEMUA teman-teman Yuk Nulis! yang mau-maunya aku komporin untuk gabung n nulis.
Yuk nerusin petualangan baru besok!
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Curhat
This entry was posted on Tuesday, July 14th, 2009 at 1:36 am and is filed under Ngalor-ngidul Dini Hari. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.








