Pasutri VS Istri
”Rasa kasih sayang dalam rumah tangga memerlukan satu poros utama, dan ia adalah wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna.
—-
Sorang ibu rumah tangga harus berpuas hati dengan pasangannya, demikian juga sebaliknya. Mereka harus menanamkan kesetiaan dalam kehidupannya. Seorang ibu rumah tangga sepatutnya tahu kesenangan suami. Menyediakan segala keperluan yang disukainya terlebih dahulu, sebelum meminta sesuatu darinya. Seorang ibu rumah tangga harus berupaya menumbuhkan rasa suka dan duka bersama keluarganya. Dan rahmah, berarti seorang ibu rumah tangga harus senantiasa mendasarkan setiap perilaku dan aktivitasnya di dalam rumah kepada akhlak yang mulia, serta tahu bersyukur atas nikmat yang diperoleh.Namun demikian, menjadi ibu rumah tangga yang mendapat kehormatan dan kemuliaan memerlukan kelayakan yang cukup. Wanita yang berhati batu, tidak pandai menaati suami, sering menuntut hak dan mengada-adakan masalah, tetapi gagal menunaikan tanggung jawab, tidak layak mendapat tempat terhormat dan mulia itu. Apalagi ia tidak mampu mewujudkan kehormatan anak-anaknya yang bakal menyambung kehidupan rumah tangga dan mewujudkan peradaban mulia. Kini, dengan catatan daftar kehormatan ibu rumah tangga, masih adakah yang menyebut bahwa ibu rumah tangga sebagai profesi terhina?”
(Sumber: Aa Gym/Syam/MQ. Disunting.)
Tapi gw merasa, klo tulisan itu terlalu emansipasi wanita. Padahal kan peran bapak juga besar. Pada paragraf kedua, tanggung jawab keharmonisan rumah tangga seolah-olah dibebankan pada istri. Bagi kami yang menganut paham “Kepala Keluarga/Rumah Tangga adalah pasutri, bukan istri”, maka hal tersebut kurang tepat. Kecuali tulisan tersebut ditujukan bagi mereka yang menganut paham sebaliknya.
Bagaimana dengan para istri yang sangat patuh pada suaminya, sangat mencintai suaminya, mengalami KDRT baik fisik maupun psikis? Bukankah membahagiakan, mencintai dan menghargai itu adalah kata kerja yg harusnya timbal balik? Bukan kata benda atau kata sifat.
Bagaimana dengan para istri yang berjuang memberi pendidikan moral pada anaknya tanpa figur bapak sebagai role model?
Seperti kedua kaki yang berjalan beriringan, begitu idealnya pasutri menjaga rumah tangganya. Suami atau istri yang memiliki PIL/WIL pasti ada sebabnya. Lack of communication bukan semata-mata ga nyambung. Biasanya justru lack of listening, walaupun ada kasus lack of speaking. Tidak ada asap jika tidak ada api.
Sementara para perempuan masih sibuk dengan emansipasi wanitanya, para laki-laki harusnya mulai juga memperjuangkan emansipasi pria dalam hal rumah tangga. Masa mau dilayani terus? masa mau ngatur terus? Kan enak juga saling mengatur dan melayani…
“Perkawinan itu terdiri dari 1 orang tuan, 1 orang nyonya dan 2 orang pelayan.”
“Losing him does not matter. It is you who will be found–and cherished.”
Tertarik dengan yang ini?
This entry was posted on Monday, July 30th, 2007 at 3:12 pm and is filed under Pasutri VS Istri. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.








2:10 pm on December 1st, 2008
I just said that to my boyfriend!