Pernikahan Kamar Mandi
Sudah lama sekali aku tidak mengisi blog. Ngapain? Macem-macem. Ngurusin buku sendiri, ngasong buku “Berjalan di Air Pasang Surut”, ini-itu, dan yang jelas ya ngurusin keluarga lah…Setelah 6 tahun, rasanya udah ga terlalu kaget2 lagi klo liat Si Ayah yang begitu. Sejak awal pernikahan emang kadarnya bukan nambah, tapi ya sedikit naik dan banyak turunnya. Berantem hampir tiap hari, hal kecil jadi besar, macam2 lah. Rasa kangen juga jaraaaa…ng banget. Bosen? Pasti! Tepatnya: bosen yang diributin itu lagi-itu lagi. Kayaknya kok ga belajar banget dari kesalahan. Demen bener jatuh di lobang yang sama. Udah tau bininya galak n bawel, hal yang ga disukai kok masih aja dikerjain terus? Rasanya ga dihargai deh…
Sampai kadang sempat terpikir untuk pisah. Tapi ga semudah itu kan? Kawinnya aja sok yakin, pisahnya kok gitu aja? Awalnya dramatis, akhirnya ga seru… Belum lagi gimana ngomongin ke semua orang yang dulu jadi tumpuan proses meridnya. Yang paling penting: anak-anak gimana? aku mau tinggal di mana? Rumah ini cuman satu, masa dibagi dua? Wuih… ribet deh…!
Sempet juga aku flirting sama beberapa teman cowok. Hasilnya? Wah, menyedihkan!
Ngapain aja? Chatting aja ato SMS. Mau dating kan ga semudah itu. aku ibu RT tanpa pembantu, masa dating bawa anak2? Gila apa??
Berapa lama? Seumur jagung! Paling lama juga sebulan.
Kok “bubar”? Bukan “bubar”, tapi aku yang kabur. Kualitasnya sama sekali ga layak dibandingin sama Si Ayah. Ada yang dominan, sok ngatur, cemburuan, ga legowo, kurang semangat melayani, emosional, ga berpikiran terbuka, tidak pandai mendengarkan…
Akhirnya, ya balik lagi ke Si Ayah.
Sampai akhirnya pada suatu hari – seperti biasa, ide datang ketika sedang mandi – aku berpikir bahwa pernikahan itu ibarat kamar mandi.
Kok gitu? Ga ada metafora lainnya? Jelek amat…
Kenapa kamar mandi? Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di kamar mandi: mandi, buang air kecil, buang air besar (bahkan untuk yang satu ini, Si Ayah pasti lama karena menghabiskan sebatang rokok belum lagi ngelamunnya…), cuci muka-tangan-kaki, sikat gigi, cukur kumis, macam-macam deh. Konsep kamar mandi di sini tentu aja yang konvensional, misalnya tidak punya wastafel luar. Dalam kondisi apapun – senang, sedih, marah, bahagia – kapanpun pasti kita ke kamar mandi kan? Apa karena lagi senang terus buang air kecilnya di tahan? Atau karena marah maka tidak buang air besar? Tengah malam juga bisa terbangun dan mampir ke kamar mandi, kecuali ingin ranjangnya basah dan berbau tidak sedap…
Aku sendiri sering menemukan ide cemerlang ketika di kamar mandi. Setidaknya, itu waktu yang paling pribadi dan tidak diganggu anak-anak kecuali mereka mendadak mau buang air juga.
Lain lagi dengan Si Ayah, dia bisa hilang selera buang air besarnya di sembarang WC, meskipun senyaman WC hotel. Hasratnya ditahan sampai di rumah. Begitu sampai di rumah langsung terbirit-birit ke kamar mandi. Pemandangan ini beberapa kali terjadi, tapi tetap saja buat anak-anak menjadi pertunjukan komedi segar.
Seorang kawan malah paling senang bergaul dengan BlackBerry-nya ketika buang hajat. Baginya, itulah satu-satunya kesempatan menyendiri.
Pernikahan juga begitu. Dalam kondisi apapun, kapanpun, pada akhirnya aku selalu kembali ke Si Ayah. Justru dengan tidak dibatasinya pergaulanku, makin bisa membandingkan kalau orang lain belum tentu sebaik Si Ayah. Aku orang yang yakin kenapa jodohku Si Ayah. Meskipun sering juga ketika sedang bertengkar merasa menyesal kenapa dulu mau aja kawin lari.
Buatku, orang yang tidak puas dengan “kamar mandinya” tidak akan pernah menemukan “kamar mandi ideal”. Pasti akan selalu ada aja cacatnya. Padahal semua kamar mandi sama: ada perangkat mandi baik berupa bak air, shower maupun bathtub, ada WC entah itu duduk atau jongkok dengan berbagai model, ada gantungan baju/handuk. Mungkin ada wastafel atau cermin, mungkin tidak. Bentuknya beraneka ragam dengan ongkos pembuatan dan perawatan bervariasi tapi tetap mengusung fungsi utama yang sama: mandi dan buang air. Dan yang terpenting lagi, untuk masuk kamar mandi aku tidak harus dalam perasaan tertentu.
Dulu, ketika berpikir untuk berpisah, aku yakin kalau aku tidak akan kawin lagi. Aku yakin bahwa pernikahan kedua dan seterusnya adalah memainkan drama yang sama dengan pemeran dan karakter yang berbeda. Jadi ngapain kawin-cerai? Aku cukup senang dengan kamar mandiku. Sesekali ada kerusakan ya dibetulkan. Selama segala kebutuhanku di kamar mandi itu terpenuhi, kenapa ganti kamar mandi? Jangan-jangan nanti malah menyesal bahwa “kamar mandi” pertamanya yang paling pas buat kita… Hidup kamar mandi!
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Keluarga, Ngasong Buku, Sahabat, Si Ayah
This entry was posted on Wednesday, November 5th, 2008 at 12:10 pm and is filed under Pernikahan Kamar Mandi. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.









1:25 pm on December 1st, 2008
Never heard that someone would think that marriage is like bathroom. I hope it works for me. I’m single but dont know if I want to get married. Hahahahaha….
3:47 pm on December 12th, 2008
Terima kasih untuk cerita kamar mandi-nya, mirip dengan keadaan keluarga saya sekarang, hanya saja saya yang jadi ayah-nya (ya iyalah.. ). Mudah-mudahan saya tidak mengecewakan istri saya lagi dan bisa jadi kamar mandi pilihannya selalu
GBU..
9:09 am on August 6th, 2009
lucuuuuu…analogi pasangan dengan kamar mandi lucu bgt…bikin gw mikir he eh ya,emang berumahtangga suka mikir yg enggak2…makanya yuk komit untuk tetap menjaga kamar mandi kita tetep nyaman dipergunakan…hehe..hidup kamar mandi!!
12:52 pm on August 6th, 2009
oiya mbak…tulisannya boleh aku share?bagus sihhh…biar temen2 pada ikut baca..
12:57 pm on August 6th, 2009
silakan
jangan lupa cantumkan sumbernya ya