Pokoknya, Saya Gak Mau Tahu!
Dua minggu ini, kata-kata itu begitu populer di telingaku. Berawal niat baik membantu pembuatan buku kenangan sekolah Si Sulung, alhasil malah bersitegang dengan seorang Ibu dari Sie Dana, Ny. Gak Mau Tau. Entah gimana, Ny. Gak Mau Tauyakin betul kalau dirinya memiliki posisi yang lebih tinggi dari Sie-sie lainnya seperti Penanggung Jawab Buku Kenangan.
Maaf, kalau pengalaman berorganisasi sejak SMP ditambah pengalaman kerja selama 13 tahun ternyata membuatku jadi keminter atau sok tau. Yang aku tahu ya itu, bukan yang selama ini terjadi dalam proses produksi buku kenangan ini. Maklumlah, aku kan nyaris gak pernah nongol di sekolah. Jemput di menit terakhir supaya tidak berjubel dengan para Ibu dan para Mbak lainnya. Tiba-tiba muncul, menerapkan aturan a la kantoran dan institusi resmi lainnya. Siapa yang tidak kaget? Apalagi bagi Ny. Gak Mau Tahu.
Sebetulnya, sejak awal aku berusaha menahan diri. Termasuk atas sikapnya yang memerintah seperti aku pembantu rumah tangganya. Itu sih gak perlu makan tenaga dan pikiran. Tapi begitu bagian layout buku dijadikan pemeran kambing hitam, dagelan ini mulai gak lucu.
Pertama, Ny. Gak Mau Tau merasa paling dibutuhkan. Setidaknya, ketika beberapa hari lalu dibongkar habis-habisan semua boroknya oleh Ibu Ketua Panitia di depan Suster, dia menangis dan mengundurkan diri. Dikiranya, semua orang jatuh pingsan dan mengiba-iba agar dia kembali. Nyatanya? Nyaris semua Ibu panitia – termasuk aku yang setengah panitia – malah sorak-sorak bergembira!
Kedua, Ny. Gak Mau Tau merasa dirinya yang paling berkuasa hanya karena menjadi Sie Dana. Merasa “menafkahi” rangkaian hajatan membuatnya harus dimintai persetujuan, bukan hanya pendapat. Sialnya, ketemu dengan aku yang sudah kenyang dengan urusan penerbitan (buku atau majalah). Dari awal aku merasa bekerja untuk Suster dan Ibu Ketua, terutama sekolah. Kebakaran jenggotlah dia! Eh, kok aku ga perhatikan dia punya jenggot ga ya? Kenal suaminya aja kagak!
Ketiga, Ny. Gak Mau Tau tanpa sadar semakin hari semakin menunjukkan kebodohannya yang akut dan kronis (duh, dimarahin para dokter nih, akut dan kronis kan beda…). Salah satu dari sekian kebodohannya adalah ditanya A dijawab B. Semakin aku tunjukkan pada orang banyak semua kebodohannya, semakin dia melakukan hal bodoh. Seandainya direkam semua yang terjadi, bisa jadi satir seperti film-film Charlie Chaplin.
Apa sih yang terjadi? Ricuh! Kacau! Chaos!
Kericuhan pertama.
Aku menyerahkan semua iklan yang sudah dilayout sesuai dengan “order” Ny. Gak Mau Tau. Jangankan diperiksa, ditolak mentah-mentah hanya karena halaman iklan tidak bernomor halaman! Rasanya aku mau tertawa terpingkal-pingkal. Majalah terkemuka mana yang menaruh nomor halaman di halaman iklan? Esquire? Times? “Tahun lalu kan ada nomor halaman, kenapa ini gak dikasih?” Yah, kan yang nge-layout beda. Emang layout-nya harus sama? Ny. Gak Mau Tau diam-diam ke ruang kerja Suster. Tiba-tiba Suster datang dengan emosi.
“Layout kenapa? Ada masalah apa?” Lalu kami – aku, Ibu Penanggung Jawab Buku dan Ibu Dokter (sie Dana lainnya) – menjelaskan dengan detil.
“Karena ada iklan Susu yang minta bersebelahan dengan foto bersama TK B, maka halaman balik iklan Susu itu otomatis harus “diganjal”. Diisi apa? Ya iklan juga dong!”
“Gak bisa!” Katanya setengah teriak.
“Kenapa gak bisa?”
“Susu minta bersebelahan dengan foto bersama!”
“Lha kan dipenuhi? Baliknya yang dikasih iklan lain.”
“Pokoknya gak bisa!” Duh ga nyambung nih!
“Kalau mau, Susu beli juga halaman baliknya.”
“Pokoknya gak bisa! Susu minta sebelahan dengan foto bersama TK B!”
“Lha, trus diisi apa?”
“Ya terserah!”
“Lha ya ga bisa gitu dong, masa kosong?” Suster mulai berpartisipasi.
“Ya gak tau! Pokoknya saya gak mau tau kalo nanti Susu komplain!”
“Ibu aja gak mau periksa materi yang masuk betul atau salah.”
“Karena tidak ada nomor halaman! Masa begini?”
“Memang begini. Mana ada majalah ngasih nomor halaman di iklan? Majalah internasional juga gak.”
“Bu, sekarang Ibu periksa. Sampai selesai ya!” Terpaksa Suster kasih perintah. Duh, memalukan deh!
“Maaf ya, Suster. Mulut saya memang tidak tau aturan. Saya mau bilang, kok kayak anak kecil sih ngadu dan minta bantuan Suster? Malu dong sama anak-anak…”
Suster cuma bisa mesem penuh arti.
Aku mulai curiga, Ny. Gak Mau Tau punya otak ga ya? Jawab pertanyaan kok gak nyambung? Ini letusan pertama. hal-hal menyebalkan lainnya udah gak aku hitung lagi.
Kericuhan kedua.
Kemarin Suster telpon aku. “Gimana caranya supaya baliknya iklan Susu itu diganti?”
“Suster, saya sudah menyerah. Sudah maksimal. Sekarang dibalik, Ny. Gak Mau Tau yang atur, saya yang nunut.”
Harapanku, supaya Suster dan Ny. Gak Mau Tau juga ikut merasakan “bermain puzzle halaman isi buku”. Siapa sangka memindahkan 1 halaman bisa mengubah banyak halaman? Sinkronisasi halaman kiri dan kanan?
Dengan gagah berani, dia baru mengoreksi seluruh materi iklan yang masuk sejak lama. Hari Senin ini sudah mulur 2 hari dari jadwal naik cetak. Baru hari ini juga dia komplain berbagai materi yang tidak sesuai. Ternyata Suster sudah memerintahkan pada Ny. Gak Mau Tau agar membuat dummy dari print yang aku kasih.
“Coba Suster, saya dikasih print sekecil ini!” Ya, memang itu print thumbnail yang 1 lembar A4 berisi 16 halaman isi buku.
“Karena, Suster, saya tidak melihat kepentingan Ny. Gak Mau Tau atas seluruh isi buku. Seperti bagian Salam Anak maupun Foto Kegiatan. Makanya saya print iklan saja dan print thumbnail ini. Print thumbnail kan gunanya sebagai “peta” bahwa urutannya sudah sesuai order.”
“Ini Pak Arif mana??”
“Ini sudah sesuai dengan tulisan tanganmu sendiri! Silakan periksa!”
“Ini!” Dia menunjukkan sebuah kertas dengan tulisan tangannya.
“Kapan ini dibuat?”
“Ini baru mau ditambah! Masa nambah gak boleh??”
“Kalo baru mau nambah, ya jangan ditagih dong!!” Orang ini bodoh atau gila. Aku mulai gak yakin…
Bagai kebakaran di rumah petak, api cepat sekali menjalar ke ubun-ubun. Ny. Gak Mau Tau semakin ngotot tak tentu arah dan tak berdasar. Iklan Susu yang “wajib” ada di sebelah foto bersama, toh akhirnya juga tidak begitu. Aku semakin terjepit.
“Suster, kalau Ny. Gak Mau Tau masih bersikukuh demikian, saya yang mundur. Monggo Suster cari gantinya yang bisa menyelesaikan.”
“Ya memang! Kamu kan bukan bagian dari panitia! Gak ada nama kamu di panitia!”
“Justru itu! Saya tau diri, makanya mengundurkan diri! Seluruh berkas akan saya serahkan segera.” Aku langsung berdiri sambil mengambil tas. Bersiap meninggalkan setumpuk kertas yang berantakan di meja Suster. Suster menjelaskan asal mula kenapa aku terlibat.
“Ok, sekarang kita buat contoh buku betulan supaya jelas.” Lalu kami sibuk mencari gunting, cutter, selotip dan sebagainya. Dikira semudah itu menyusun isi buku? Mari kita saksikan kebodohanmu.
Pada bagian tertentu, Ibu Penanggung Jawab Buku dan Ibu Dokter siap membuka mulut bahwa susunan yang dibuat Ny. Gak Mau Tau itu salah.
“Tenang dulu.” Nada pelanku cukup tegas.
Sudah selesai semua, baru kukatakan, “Puisi di mana? Foto Guru di mana?” Dia panik. Ulang dari awal. Potong lagi. Tempel lagi.
Selesai versi kedua. “Suster, Foto Guru tidak bersebelahan,” kutunjukkan segala kejanggalan isi buku. Bongkar lagi. Pasang lagi. Tempel lagi.
“Jadi iklan Susu tidak bersebelahan dengan Foto Bersama TK B?”
“Gak apa-apa deh!” HAH?? Gak apa-apa katanya?? Dari dua minggu lalu itu yang diributkannya, sekarang gak apa-apa?? Hhhh….!!!
Belum lagi urutan iklan yang katanya harus seusai ordernya, diacak-acak tanpa alasan.
Selesai menempel versi ketiga, aku minta lagi Suster untuk memeriksa dan langsung ditanda tangan.
Sorenya, aku ditelepon Ibu Ketua Panitia. “Tenang, Dik. Biarin aja dia begitu.”
“Tenang, Kak. Aku gak ngambek kok. Cuma aku kembali ke kebiasaan lama, tidak muncul di sekolah. Kalau mau cari aku kan tau di mana rumahku, berapa teleponku. Aku gak pernah matiin hp kok.”
Aduuhh… Tiga minggu ini terasa lambat dan melelahkan. Kata seorang sahabatku, “Kamu itu salah habitat. Kamu sudah pembalap profesional dia baru tingkat kecamatan. Jelas aja dia panik ketemu kamu. Pulang ke habitatmu deh!” Wah, kalau begitu, mending menghilang lagi seperti dulu deh! Jangan sampai juga Suster merasa butuh aku dan Si Ayah karena terpana dengan hasil karya kami. Nanti semakin banyak orang frustasi karena karirnya di sekolah terancam…
Mendadak pengalaman kerja 13 tahunku hangus dengan segala dalil Ny. Gak Mau Tau. Menurutnya, Sie Dana lebih tinggi dari Sie Buku Kenangan karena Sie Dana mengurusi intern dan ekstern, Sie Buku Kenangan hanya intern.
Kalau gitu, kurir dan OB lebih tinggi dari Direktur Keuangan karena kurir dan OB mengurusi segala sesuatu sementara Direktur Keuangan hanya mengurusi jurnal dan cashflow…
Sudahlah…
Cyber, I’m home!
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Curhat
This entry was posted on Monday, May 18th, 2009 at 7:42 pm and is filed under Pokoknya Saya Gak Mau Tahu!. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.








