Public Listening
Seorang sahabat, kekasih maupun pasangan tentu akan lebih membuat kita tersinggung jika belum apa-apa penilaian langsung dijatuhkan. Cerita yang digulirkan baru sebagian, tapi reaksi atau umpan balik seketika dikemukakan. Ya kalau yang dimaksud tepat, kalau salah pemahaman?
Seseorang yang sangat akrab dengan kita tentu akan lebih mudah langsung bicara tanpa bertanya lebih lanjut ketimbang orang yang baru kita kenal. Mengapa? Karena orang yang akrab dengan kita merasa sudah kenal betul dengan diri kita, pemikiran kita, dan perasaan kita. Oleh karena itu, secara spontan merespon perkataan kita.
Banyak pasangan suami istri yang perkawinannya dianggap tidak sejalan hanya karena kurang mendengarkan. Komunikasi sendiri terdiri dari pengiriman dan penerimaan pesan. Artinya dalam komunikasi ada dua kegiatan yang dilakukan secara aktif, yaitu berbicara dan mendengarkan. Komunikasi seyogianya tidak hanya sebatas mengemukakan apa yang kita pikir dan rasa, tapi juga mendengarkan dengan hati dan empatik. Pertengkaran pasutri umumnya bukan karena inti kalimatnya, tapi justru karena tanggapan yang dilontarkan tidak tepat. Pertengkaran kemudian melenceng jauh dari topik awal pembicaraan.
Tidak mudah menjadi orang yang menahan diri untuk tidak terus bicara ketika orang lain menyatakan pemikiran dan perasaannya. Banyak juga orang yang seharusnya menjadi mediator tapi tidak banyak membantu karena lemah dalam hal mendengarkan. Dalam hal kurang mendengarkan, seorang mediator tidak akan menengahi pertikaian dengan baik, seorang pemimpin tidak akan berhasil membawa timnya ke puncak kesuksesan.
Secara akademis, fakultas public speaking sudah diakui oleh pemerintah baik secara formal maupun nonformal. Secara hubungan interpersonal baik bisnis maupun personal, apakah kita mampu menyeimbangkan kemampuan mendengarkan dan berbicara?
Kemampuan mendengarkan dan bertanya lebih lanjut memberi kita kesempatan untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya untuk kemudian memberi respon yang tepat. Lebih jauh lagi, memberi kita kesempatan untuk menambah ilmu pengetahuan kita, menyehatkan jiwa karena tidak mudah stres, menyehatkan tubuh karena kita tidak sakit yang disebabkan oleh stres seperti tekanan darah tinggi dan serangan jantung.
Pameo yang mengatakan, “Sedikit bicara banyak bekerja” tentu dapat dimodifikasi menjadi “Sedikit bicara, banyak bekerja dan mendengarkan, pangkal banyak ilmu dan kawan”.
Tertarik dengan yang ini?
This entry was posted on Sunday, January 6th, 2008 at 6:46 pm and is filed under Public Listening. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.








