Review: Sandal Jepit Gereja

Judul Buku: Sandal Jepit Gereja
Penulis: Anang YB
Penerbit: OBOR
Ukuran: 11 x 17 cm
Tebal: xvi + 206 hal

Saya orang yang pemilih dalam memilih bacaan terutama buku. Orang yang kenal baik dengan saya sudah tahu bahwa saya adalah penulis kuper yang tidak melahap buku sebanyak para penggila buku. Saya tidak bisa membiarkan otak saya mencerna bahan bacaan yang tidak menarik minat saya apalagi tidak sesuai standar “aneh” saya. Berbeda dengan seorang sahabat yang rela menjejalkan otaknya dengan bacaan apapun dan membuatnya jadi jenius.

Kamis malam takbiran Idul Adha kemarin, saya ada pertemuan dengan beberapa penulis, yaitu Anang YB, Panjikristo PX dan Rini Giri. Seorang lagi yang seharusnya hadir karena berdomisili di luar kota maka akan diajak diskusi lewat telepon. Sejak jauh hari, kami sudah meledek supaya Mas Anang membawa bukunya. Pada kesempatan itu, akhirnya saya barter buku dengan Mas Anang bonus tanda tangan dengan pesan “Sempurnakan dunia, awali dengan menjadi ‘sandal jepit’. Salam, Anang YB.” Namanya barter buku tidak bisa disamakan nominal harga jualnya. Yang bisa disamakan itu upaya penulisannya, hehehe… Saya dan Mas Anang juga sempat “menagih” Mas Panjikristo atas resensi yang dijanjikannya. “Antri dong!” Singkat, padat, jelas.

Karena besoknya memang libur panjang, saya dengan sangat yakin akan bisa menghabiskan buku itu. Setidaknya, saya baru saja melatih lagi otak kecil saya untuk terbiasa membaca hingga akhir. Malam itu juga menjelang tidur, saya mulai membaca. Besoknya, saya lanjutkan lagi. Hari ketiga baru kelar. Sebetulnya tidak tiga hari karena terpotong tidur malam, bepergian, mengurus ini-itu. Jadi kalau ditotal hanya butuh sekitar enam jam dengan porsi terbesar di perjalanan tadi sore.

Saya sendiri tidak begitu kenal baik dengan seorang Anang YB. Saya hanya tahu ia seorang “murid” dari seorang teman yang menjadi guru dari komunitas menulis Agenda 18 dan jurutulis.com. Saya malah sempat “mendepak” Mas Anang ketika ingin bergabung dengan komunitas saya Yuk Nulis! karena ketahuan sudah pernah menulis buku. Belakangan, saya baru tahu dari Mas Panjikristo bahwa kami semua satu Dekenat Bekasi, Keuskupan Agung Jakarta. Itupun karena rayuan seorang teman agar saya kembali membantu Buletin Tahun Imam Keuskupan Agung Jakarta saya tolak lantaran kapok.

Bagi saya, penting mengenal sosok penulis untuk memahami apa yang ingin disampaikan lewat tulisannya. Apakah gaya penulisannya cerminan dari karakternya atau tidak. Itu sebabnya saya cerita ngalor-ngidul gak juntrung di awal tulisan ini sekadar memberi prolog urusan saya dengan Mas Anang dan sekelebat sosoknya yang saya kenal.

Penulis  yang sederhana menyampaikan cerita-cerita sederhana seputar hidup menggereja yang konkret. Pada awal tiap judul cerita diberikan tema yang dikutip dari Kitab Suci. Hubungan kutipan ayat dan cerita ini menjadi urusan ide dan realisasinya. Ide yang indah tertulis di Kitab Suci jadi prasasti omong kosong yang indah di dalam misa dan katekisasi tapi menguap di kehidupan nyata. Tidak ada yang salah dengan isi Kitab Suci, yang ada hanyalah umat yang tidak memiliki cukup keberanian untuk merealisasikan hal-hal besar dalam Kitab Suci sesederhana apapun itu. Penulis membuktikan bahwa setidaknya ada 23 ayat Kitab Suci yang dapat direalisasikan dengan sederhana meskipun penuh tantangan dan petualangan.

Saya memiliki Keling yang payah sampai akhirnya Keling yang baru terpilih jauh lebih modern. Penulis tidak mengajarkan cara menjadi Keling yang baik dan disayang umatnya. Penulis sebatas bercerita apa yang (seharusnya) ia jalankan dan apa yang menjadi ide gila untuk direalisasikan. Cerita-cerita yang bersifat curhat atau gerundelan juga sangat manusiawi mengingat seorang Keling adalah manusia yang berdarah dan berdaging. Justru dalam kedarah-dagingan itu seorang Keling menjadi hidup dan utuh sebagai manusia. Bayangkan jika seorang Keling tidak pernah marah, saya justru curiga bahwa Keling itu tidak seutuhnya manusia. Pak Keling dalam buku ini justru memiliki banyak akal bulus yang mengingatkan saya pada tokoh Si Kancil dan Naga Bonar.

Sebutlah saya congkak karena sering merasa tidak ada hal baru yang saya ketahui dari sebagian besar apa yang saya baca. Buku ini beberapa kali membuat saya berpikir, “Saya memang sudah tahu. Tapi saya baru tahu kalau gagasan sinting itu sungguh bisa dijalankan!” Atau, “Kenapa saya tidak berpikir ke situ?” Dan banyak kali saya menggumamkan “hm..” sebagai tanda “iya juga ya”.

Saya akan angkat sedikit dari beberapa cerita yang sangat berkesan bagi saya.

Pada Lektor Tanpa Huruf “R”, upaya Pak Keling untuk memanusiakan umat yang artikulasinya tidak sempurna sungguh menyentuh. Bahwa cacat bukan dosa, bahkan dosa saja sudah dibayar lunas oleh Kristus. Jadi tak ada alasan bagi umat dengan keterbatasan artikulasi untuk menjadi Lektor.

Pada Lupakan Sinterklas, saya terpaksa manggut-manggut tanda “ya, seharusnya memang begitu dan tidak terpikir olehku”. Bagaimana setiap Natal kita lebih menanti “yang gondrong dan tua” ketimbang “yang gondrong dan muda”, hanya karena si “gondrong tua” membawa hadiah kasat mata sementara “gondrong muda” memberi hadiah bagi jiwa dengan segala keindahan Surga.

Pada Pondok untuk Pak Totok dan Koin untuk Yesus, di sinilah saya baru sadar bahwa sebuah ide gila sungguh bisa dijalankan. Hanya orang sinting yang bisa menjalankan ide gila. Ajaibnya, ide gila yang dijalankan orang sinting membuat pengikutnya juga tanpa sadar melakukan hal gila itu tadi.

Dari keseluruhan isi buku yang mampu membuat saya manggut-manggut berhasil membungkam mulut saya untuk protes pada beberapa hal kecil seperti “cerita yang itu kan bisa lebih deskriptif” atau ”kok akhirnya gitu aja?” Sangat tidak adil buat saya mempersoalkan hal remeh dan teknis berbanding “ide gila yang direalisasi” itu tadi.

Setelah membaca halaman terakhir buku ini, saya bersyukur menjadi orang sinting. Karena kalau tidak, saya terancam ikutan sinting akibat terinspirasi untuk melakukan hal-hal gila seperti dalam buku ini. Jika Anda masih waras dan normal, hati-hati kalau berakibat tertular sinting ikut-ikutan melakukan yang dilakukan Pak Keling.

Bekasi, 29.11.2009, 04.37 subuh.

Dari terantuk-antuk karena mengantuk malah sekarang harus berjuang jadi ngantuk.

Tertarik dengan yang ini?

Tags:

This entry was posted on Sunday, November 29th, 2009 at 4:54 am and is filed under Review: Sandal Jepit Gereja. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

15 Responses to “Review: Sandal Jepit Gereja”

  1. Sofie Ellien
    7:03 am on November 29th, 2009

    hahaha….jujur banget
    sptnya kebnyakan penulis kaya gtu kali ya?

  2. ita
    7:07 am on November 29th, 2009

    Lin,….terima kasih atas tulisannya ini, ini sangat memberi manfaat dalam usaha yang baru kami rintis, untuk mengajak teman2 yang suka menulis, atau yang baru belajar menulis, untuk belajar bersama. Bahwa untuk memulai sesuatu itu apalagi di dunia maya, perlu sekali pendekatan yang lebih banyak. Apapun yang menjadi komentar atau pertanyaan dari pihak2 yang terkait bisa membuat kami lebih sabar dan bersedia menjadi ’sandal jepit’. Aku akan beli deh bukunya “Sandal Jepit”, biar kami2 bisa lebih banyak lagi belajar untuk menjadi sedikit “sinting”….:)

  3. Lini
    8:23 am on November 29th, 2009

    @ Sofie: mbuh e ;-)

    @ Ita: oh ya, komunitasnya namanya apa? aku mau baca ceritanya boleh?

  4. fekhi
    10:08 am on November 29th, 2009

    karena udah diresensi sama Lini, jadi layak baca deh hehehe

  5. Henry
    8:14 pm on November 29th, 2009

    kayaknya bagus nih..judulnya apa ya?

  6. Henry
    8:15 pm on November 29th, 2009

    hehehe…salah2..udah tahu judulnya. kalau mau baca di mana ya?

  7. PANJIKRISTO
    9:22 pm on November 29th, 2009

    Review buku ini juga bisa dibaca di HIDUP,
    Trims dah melengkapi

  8. Angel Li
    9:38 pm on November 29th, 2009

    jarang2 Ibu Kos referensi buku… Boleh pinjem ga Bu…qiqiqiqi

  9. Lini
    11:51 pm on November 29th, 2009

    @ Fekhi: baca yo baca…

    @ Henry: hehehe…

    @ Panjikristo: aku ga langganan e Mas, kepiye kal?

    @ Angel: jarang resensi, wong jarang baca wkwkwk

  10. anang yb
    7:35 am on November 30th, 2009

    Kamsiah Cik, udah mau menguliti buku aku.
    Tulisan Cik Lini membuatku sadar untuk terus menjaga agar kesintinganku tidak lekas memudar.
    (boleh, tulisan inspiratif ini aku publish lewat milis dan fesbuk?)

  11. Lini
    8:19 am on November 30th, 2009

    @ Anang: hadoh! disuruh ga boleh pake Mbak malah pake Cik. selain sinting, dirimu juga ngeyel ya? monggo kerso, Mas

  12. Maria
    10:44 am on November 30th, 2009

    wah…kyknya bagus jg nih buku..tks ulasannya Lin.
    harus cari nih buku..

  13. Lini
    8:09 pm on November 30th, 2009

    @ Maria: siipp :D

  14. Paroki Santo Arnoldus Janssen, Bekasi » Blog Archive » Antara Petugas Tatib dan Ketua Lingkungan Sinting
    8:27 am on December 21st, 2009

    [...] Lini G Hafaniah, seorang sahabat saya yang tidak terkenal dan tidak penting menyebut saya sebagai seorang ketua lingkungan sinting dengan gagasan gila. Bahkan dia wanti-wantibila nanti berdekatan dengan saya, “…Jika Anda masih waras dan normal, hati-hati kalau berakibat tertular sinting ikut-ikut… [...]

  15. Lini
    10:59 am on December 21st, 2009

    senang sekaligus jengkel nih

    enangnya dulu deh,
    di doa ibu… eh salah hehehe
    dalam artikel ini, ada namaku disebut…

    jengkelnya,
    namaku ditulis Lini G. Hafaniah
    G itu Genevieve
    emang nama baptis letaknya di tengah ya? ;p
    Hafaniah, harusnya HANAFIAH
    whoaa.. Papa, jangan bangkit dari kubur karna namamu salah ketik yaa…
    hiks…

    eniwei, keep the sinting Keling alive!

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>