Risol
“Mbak, pesenan risolnya besok datang.” Begitu yang tertera di instant messenger-ku.
“Ok, besok aku juga bawa singkongnya,” jawabku.
Ta ini satu ruangan kantor dengan suamiku. Pengantin baru belum punya anak. Istrinya buka warung di rumahnya jualan risol.
“Istriku bikin sendiri. Enak lho!” Begitu katanya beberapa waktu lalu ketika kami ngobrol di instant messenger.
“Jualan di kantor dong. Emang kalo di warung harganya berapa?”
“Yah, namanya di kampung, harganya Rp 500 aja.”
“Kalau gitu, risolnya dibesarin, isinya dibanyakin terus jual di kantor Rp 1000 atau Rp 1500. Kan di kantor nggak ada tukang cemilan. Mau cari ke mana di ruko begitu?”
“Nggak tahu juga nih, soalnya kan musti mikirin tenaga sama modalnya.”
“Yah, daripada cuman di warung, kan lumayan bisa buat nambah.”
“Kan belum pada tahu?”
“Ya dikasih tahu dong. Buatin dummy-nya.” Dummy, kadang disebut mock-up atau artwork, adalah istilah dalam dunia disain grafis untuk model suatu karya. Biasanya berbentuk buku, brosur, majalah, dan sebagainya.
“Makanan ada dummy-nya juga?”
“Ya dong. biar orang tahu itu contoh. Aslinya besok.”
“Ya deh nanti dibicarain sama istri.” Mungkin kawanku ini di seberang sana sedang manggut-manggut.
“Ya gitu dong. Dibicarain aja dulu. Lagian kamu kan naik motor, nggak repot lah bawa risol segitu. Kan bantuin istri.”
“Ya sih.”
Maka perbincangan pun berakhir.
Suatu sore, seperti biasa aku bekerja sambil menjelajah dunia maya.
“Ta, kemarin katanya ada selapanan anaknya Kur. Coba kamu udah promosi, kan bisa pesen di kamu daripada pesen sama orang. Lagian di kantor kan sering ada seminar, lumayan kalo pesen sama istrimu.”
Mungkin Ta di seberang sana sedang merenungi segala peluang yang ada.
“Ta, aku jumat besok mau bikin dummy singkong goreng.”
“Ya deh, nanti kita barter ya?”
“Ok.”
Jumat pagi itu, aku bergegas untuk mengantarkan si Sulung dan si Ayah. Tiba-tiba ponsel si Ayah berbunyi. Ada pesan singkat. “Mas, tolong bilang Mbak Lini hari ini saya nggak masuk jadi pesanan risolnya saya antar ke rumah besok atau lusa.”
“Yah, bilangin risolnya kapan-kapan aja nggak apa-apa,” ujarku.
Maka begitulah isi pesan singkat yang dikirimkan si Ayah pada si kawan ini. Singkong goreng jatah barteran juga urung dibawa serta.
Sorenya, seperti biasa ketika aku bekerja sambil menjelajah dunia maya, ada kawan lain yang menyapaku lewat instant messenger.
“Kamu pesan apa sama Ta?” ujar Ra.
“Ada deh, kenapa sih?”
“Nanti malam tidur jam berapa?”
“Kenapa sih? Jadi curiga nih?”
“Begini, tadi pagi Ta telepon saya minta tolong antarin risol ke rumahmu. Saya kasihan karena istrinya sudah capek bikin. Jadi nanti pulang kantor saya ke rumahnya terus antar risol ke rumahmu. Aku jadi delivery hari ini.”
Saya terhenyak.
Kantor si Ayah di Kelapa Gading. Rumah Ta di Tambun. Rumahku di Harapan Indah (antara Bekasi dan Cakung). Itu sungguh rute yang tidak pendek, memakan bensin, waktu dan tenaga.
“Bilang aja sama Ta, besok-besok aja nggak apa-apa. Lagian katanya besok mau diantarin sendiri ke sini.”
“Besok-besok udah basi kaliii…”
“Ya terserah deh. Emang berapa banyak?”
“Katanya ada 20.”
“Haa?? Banyak benerr…?”
“Itu sedikit. Tadinya udah dibikin 40, udah dimakanin sisa tinggal 20.”
Kawan yang hendak mengantarkan risol ini juga satu ruangan kerja. Di jendela chat sebelah aku tanya pendapat si Ayah.
“Wah, kasian bener tuh Ta. Mana belum gajian. Kemarin denger-denger dia bokek. Mana risolnya banyak gitu lagi. Gimana ya? Aku bingung,” jawab si Ayah.
“Aku ga bisa ngomong apa-apa. Kasian Ta, kasian Ra. Mana tanggal tua bener gini. Kita aja bokek, gimana mereka?”
Aku dan si Ayah sama-sama bingung.
“Nggak usah deh Ra. Kasian kamu kan juga capek.”
“Aku justru kasian sama Ta, istrinya kan udah capek bikin.”
“Ya gini deh. Aku kan mau jemput. Aku bawa singkongnya, nanti kasih ke Ta ya. Tunggu aku ke situ,” ujarku pada Ra mengakhiri obrolan karena memang sudah saatnya aku jemput si Ayah di kantornya.
Sepanjang perjalanan aku termenung. Orang macam apa yang tanggal tua begini rela membuat risol 40 buah untuk dijadikan tester. Belum lagi ternyata niat tak sampai malah dimakan sendiri dan dikasih ke aku banyak begitu? Jika sebuah risolnya dijual di warungnya seharga Rp 500 maka setidaknya dia sudah mengeluarkan biaya Rp 20.000 yang seharusnya menjadi keuntungan.
Orang macam apa pula yang rela menolong kawannya menyisihkan bensin, waktu, dan tenaganya menempuh jarak Kelapa Gading-Tambun-Harapan Indah demi 20 buah risol?
Aku kasihan sama Ta dan Ra. Ta merasa bertanggung jawab padaku. Ra kasihan pada Ta. Jadilah lingkaran saling mengasihani di tengah tiga orang ini.
Malamnya, tumben baru jam 10 aku ngantuk sekali. Aku tertidur. Si Ayah masih menunggu kiriman risol yang diantar Ra. Ra tiba di rumahku jam 12 malam dengan 20 buah risol yang ditempatkan wadah plastik.
Pagi ini baru aku bisa menikmati risol yang penuh perjuangan dan semangat mengasihi. Rasanya mungkin biasa, sensasi memakannya yang luar biasa.
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Harapan, Kasih, Si Ayah, Si Sulung
This entry was posted on Saturday, April 26th, 2008 at 3:21 pm and is filed under Risol. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.








