Romo Paroki: Gembala di Tengah Kawanannya

Dimuat di Kuasa Doa Vol. 4, No. 11, Januari 2010

Artikel ini awalnya dibuat untuk Buletin Refleksi Tahun Imam KAJ.  Artikel  utamanya adalah Menjadi Imam: Panggilan Penuh Tantangan.
Karena satu dan lain hal, artikel ini tidak jadi dimuat maka saya muat di sini. Dibuang sayang…

Ada banyak sekali persoalan mulai dari tingkat Paroki sampai keuskupan yang menjadi PR bagi para Imam dan umat. Para umat – bagaimanapun juga – memiliki andil dalam apapun yang terjadi. Ada sebab dan akibat. Ada beberapa contoh kasus yang menarik untuk diamati dan direnungkan bersama.

Contoh menarik yang pertama coba diangkat adalah sebuah “kasus” seorang umat yang bukan lulusan seminari tapi hendak menjadi Imam. Dalam kenyataannya, selain umat ini harus berjuang dan bergumul dengan batinnya, ia juga harus meyakinkan pihak keluarga yang menentang keras. Dalam etnis Tionghoa kebanyakan, prestise tertinggi adalah ketika seseorang bisa memiliki usaha sendiri meskipun sekelas warung minuman ringan. Menjadi seorang Imam adalah jalan terakhir bahkan mungkin sama sekali tidak ada dalam daftar. Kalau awam mengalami “kawin lari”, umat ini berusaha tidak “imamat lari” dan perjuangannya meluluhkan hati orang tua masih berjalan menjelang detik kepindahannya dari dunia awamnya ke seminari.

Contoh lain adalah peranan umat dalam Gereja. Di satu pihak, Gereja kekurangan partisipasi umat. Di pihak lain, umat merasa “tidak memiliki” peran yang besar karena semua sudah diatur oleh Gereja. Analogi yang dipakai oleh responden adalah jika seandainya organisasi dalam gereja adalah sebuah perusahaan di mana umat sebagai pemegang saham dan para Imam adalah direksi, tentu direksi akan memberikan keuntungan pada pemegang saham. Dalam hal ini diasumsikan bahwa pekerjaan dalam Gereja dan komunikasi terjadi satu arah dari Imam ke umat dan bukan dua arah.

Kaul kemiskinan yang seyogianya dijalani oleh para Imam juga menjadi kendala. Banyak seminaris, frater dan Imam yang senang hura-hura. Bahkan ada yang setiap hari liburnya diisi dengan pergi ke bioskop atau taman hiburan. Malangnya, jika Romo Paroki yang terbiasa diisikan pulsanya oleh umat kemudian dipindahkan ke pedesaan atau ke seminari, otomatis hidupnya langsung berubah drastis.

Pada beberapa Paroki, ada “aturan” tidak baku yang menetapkan harga untuk pelaksanaan sakramen pernikahan di gereja. Pakai koor A biaya sekian, koor B biaya sekian. Belum lagi pelaksanaan penerimaan komuni pertama yang juga menarik biaya. Untuk hal kedua ini, jika panitia menyatakan “dipungut biaya sekian oleh panitia” masih bisa dimaklumi. Tapi umat kadung menganggap bahwa ini adalah kebijakan Romo Paroki sebagai gembala.

Masih urusan finansial yang memang sensitif, ada lagi “kasus” sebuah stasi yang mencari dana untuk pembangunan gerejanya. Umat ini menawarkan Panitia Pembangunan Gereja (PPG) untuk menjual buku karyanya karena sebagai umat Paroki tersebut umat ini merasa terpanggil untuk berpartisipasi aktif. Ternyata tawaran tersebut menguap dan berubah menjadi kotak sumbangan yang diletakkan di sebuah pasar swalayan. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah Romo Paroki mengetahui hal ini? Apakah keuskupan mengetahui hal ini? Apakah tidak ada cara yang lebih elegan ketimbang meletakkan kotak sumbangan di pasar swalayan? Dalam hal ini dapat diasumsikan yang berperan besar adalah mental PPG yang ingin mencari dana tanpa capek tanpa pertimbangan nama gereja yang bisa saja tercoreng.

Romo Paroki berada di garis depan yang bersentuhan dan bergesekan langsung dengan umat. Ada banyak sekali hal yang menjadi sandungan antara umat dan Imam. Dalam beberapa hal, ada sikap-sikap Imam yang tidak dapat diterima oleh umat dan “berlebihan”dan tidak simpatik yang juga menjadi persoalan. Tengok saja pada sebuah Paroki yang sedang membangun Gereja. Transparansi dana justru disembunyikan oleh Romo Paroki dengan dalih “takut dicuri” atau “otoritas Romo Paroki”. Bukankah dana pembangunan gereja diproyeksikan untuk kepentingan umat? Semua orang juga tahu, menyimpan uang sedemikian besar tentu tidak di bawah kasur.

Ada seorang responden yang ketika pertama kali pindah ke sebuah Paroki dan ingin berkenalan langsung dengan gembalanya malah dibentak. “Sudah lapor ketua lingkungan? Sudah bikin kartu keluarga? Apa lagi? Ada masalah apa? Hubungi ketua lingkungan saja.” Wajar jika umat ini merasa di tengah semua yang datang pada gembalanya selalu membawa masalah dan gembalanya tidak ingin bersentuhan dengan umatnya. Wajar juga ketika umat ini menjadi kapok berdekatan dengan Romo parokinya sendiri dan meminta pendampingan pada Romo Paroki tetangga atau Romo lain. Jika mau jujur, “aturan” tersebut juga tidak diterapkan secara adil. Pasti ada saja umat tertentu yang bisa dengan leluasa berdekatan dengan Romo Paroki.

Di pihak lain, Romo Paroki yang ketergantungan pada umatnya juga memancing pandangan sinis. Kalau mau pergi ke mana-mana minta diantar umat bahkan untuk urusan pribadi. Si umat yang senang-senang saja tentu tidak memikirkan efeknya secara keseluruhan. Umat yang “tersisih” lalu menjadi kecil hati.

Secara manusiawi, sikap Romo Paroki yang “mentang-mentang” membuat umat kecewa lalu lebih suka ke Paroki tetangga untuk misa. Seolah-olah gereja (baca: Paroki) tersebut adalah milik Romo, bukan umat. Sehingga esensi mendasar sosok Kristus yang penuh kasih dan melayani justru berbalik menjadi penguasa dan pengatur. Tidak sedikit “aturan” yang didalihkan dengan “aturan dari dulu sudah begitu”. Akan berbeda jika aturan yang menjadi perselisihan itu sungguh dari ketentuan dasar Gereja Katolik, meskipun seluruh umat Katolik yakin sepenuhnya tidak ada aturan Gereja Katolik yang benar-benar menyudutkan dan memberatkan umat. Jika aturan dasar seperti Konsili Vatikan II dan lain-lain saja tidak menyulitkan, kenapa aturan aplikatif sehari-hari justru menyulitkan?

Secara acak, di Keuskupan Agung Jakarta ternyata persoalan gesekan dengan Romo Paroki lebih sering ketimbang memajukan gereja seperti yang terjadi di daerah-daerah lain seperti Jayapura, misalnya. Rumput tetangga memang lebih hijau, tetap saja harus dipangkas. Tidak ada yang sungguh-sungguh lebih ringan beban salibnya.

Semua bergantung pada seberapa kebesaran hati para Romo Paroki untuk kembali menjadi gembala dan pelayan Gereja. Jika umat kembali dihargai dan seiring sejalan bersama Romo Paroki, tentu Yesus di atas sana juga akan tersenyum sumringah karena itulah keinginan-Nya. Gembala yang baik adalah gembala yang berada di tengah-tengah umatnya.

Tertarik dengan yang ini?

Tags: , ,

This entry was posted on Monday, September 7th, 2009 at 3:05 pm and is filed under Romo Paroki: Gembala di Tengah Kawanannya. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

30 Responses to “Romo Paroki: Gembala di Tengah Kawanannya”

  1. olive
    1:13 am on September 8th, 2009

    kayaknya ini beneren uda gw rasain d…..waktu mo nikah..waktu mau baptis anak-anak…dan banyak lagi waktu-waktu lainnya

  2. anang yb
    7:00 am on September 8th, 2009

    tanya kenapa #1: romo, kenapa kami disebut putri sankristi dan bukannya putri altar? dan kenapa hanya putra altar yang boleh naik ke panti imam sedangkan kami hanya sebagai pelengkap dan tidak berhak melayani imam saat misa?

    tanya kenapa #2: romo kenapa cover charge yang harus kami bayarkan untuk menyelenggarakan misa perkawinan menjadi 2 juta? dulu sewaktu perkawinan anak pertama masih 500 ribu “saja” ?

  3. Lini
    8:34 am on September 8th, 2009

    @ Olive: sudah klasik kayaknya ya?
    @ Anang: udah nemu jawabannya? :)

  4. Angel Li
    10:43 am on September 8th, 2009

    Renungan bagus untuk para tokoh dalam gereja. Sebagai manusia biasa penuh dengan kekurangan. Tapi selayaknya jangan dijadikan alasan, karena tokoh-tokoh itu membawa nama Tuhan dan gereja itu sendiri dalam hal ini. Semoga ada perubahan.

  5. Lini
    11:16 am on September 8th, 2009

    @ Angel: yuk kita doain
    :)

  6. Menjadi Imam: Panggilan Penuh Tantangan
    6:37 pm on September 8th, 2009

    [...] awalnya dibuat untuk sebuah media rohani dalam rangka Tahun Imam 2009.  Artikel tambahannya adalah Romo Paroki: Gembala di Tengah Kawanannya. Karena satu dan lain hal editannya tidak sesuai lagi dengan maksud awal penulis. Maka versi [...]

  7. Alex
    7:18 am on September 14th, 2009

    itulah ironi yang kita bersama hadapi. Marilah kita doakan para romo kita, dan juga dengan tulus hati kita boleh berikan pendapat dan masukan yang membangun. Bu Lini, bagaimana kalau pandangan umat thd sosok Imam sekrang ini dan thd panggilan imamat? Maksud saya pernah ada nggak survey spt itu? Menurut anda perlu tidak?
    Trims

  8. Alex
    7:35 am on September 14th, 2009

    Suatu ironi ya. Mari kita doakan para romo, juga dengan tulus kita berikan pendapat dan masukan yang membangun. Bu Lini, bagaimana kalau pandangan umat thd sosok Imam sekrang ini dan thd panggilan imamat? Apakah pernah ada survey spt itu?
    Trims

  9. Alex
    7:39 am on September 14th, 2009

    Maaf kekirim dobel ya, sy tdk tahu yg I udah terkirim. Maksudnya mau di edit lagi sebelum kirim… :-) Tks

  10. Lini
    8:23 am on September 14th, 2009

    @ Alex: klo perlu ga perlu, menurut saya ga perlu. yang perlu itu para Romo memeriksa batin dan sikapnya. meskipun “oknum” tetep aja merusak citra “jubah”nya
    :)

  11. sisca
    8:07 pm on September 15th, 2009

    di parokiku, banyak umat yg blomba-lomba untuk bisa dekat dengan Pastor paroki – mencukupi kebutuhan Pastor, mulai dari pulsa handphone, barang-barang keperluan pribadi, sampai bersedia mengantar kemanapun Pastor pergi. Tapi akhirnya malah menjadikan Pastor sebagai milik perseorangan bukan milik umat paroki. Bahkan berlanjut ke hubungan yang tidak sehat.
    Sebagai umat yang sayang dengan Pastornya, seharusnya tidak dengan cara demikian. Mari kita doakan Pastor Paroki kita. Tuaian banyak, tapi pekerja hanya sedikit.

  12. Lini
    8:28 pm on September 15th, 2009

    @ Sisca: padahal bersahabat dengan para Imam itu menyenangkan jika persahabatannya tulus ya :)

  13. A. Sudarman
    11:53 pm on September 15th, 2009

    Terima kasih dan saya setuju dengan tulisanmu. Bagus Lin… Jarang ada yang mau menulis seperti ini, banyaknya cuma bergosip saja.

    Fenomena lain yang harus dibahas adalah tren “sikap hidup” yang TIDAK MAU REPOT…….. Misal: Untuk mengurus perkawinan di gereja, calon penganten tdk mau ngurus sendiri. Sekarang para calon penganten pakai jasa EO untuk mengurusnya. EO punya tarif sendiri… Setahu saya, di paroki saya tinggal, tidak ada tarif, kecuali ingin gereja dihias dengan bunga yang spesial….

    Hal lain: kadang pengurus gereja memang bersikap berlebihan… main kuasa. Padahal, ‘bahasa kekuasaan’ itu yanh sering jadi bahan perpecahan…

    Masih banyak hal lain yang harus diperbaiki ….. Maka, marilah kita perbaiki bersama…
    “Ecclesia semper reformanda” = Gereja selalu memperbaiki diri…

  14. Lini
    9:55 am on September 16th, 2009

    matur tengkiyu atas komentarnya :)

  15. panjikristo
    2:26 pm on September 16th, 2009

    Lin, nanti dibantu ya dekenat bekasi dalam penerbitan Buletinnya.
    maturnuwun

  16. Narsela Asis
    2:29 pm on September 16th, 2009

    kayanya aku emang prihatin dengan kondisi romo sekarang….di kota-kota besar, para romo sudah bersikap “jet set” terhadap umatnya,ditambah stipendium yang membuat mereka semakin terlihat mewah. Romo-romo di kota besar sudah jarang mengunjungi umatnya….hanya dilakukan kepada umat yang merasa dia kenal…Sekarang juga ada aturan tidak boleh merayakan ekaristi di hari minggu, yang diperbolehkan hanya ibadat sabda (kadang tanpa kehadiran romo). Kalo kita melihat keadaan romo waktu aku masih SD, romo siap membantu keadaan umatnya, baik batin maupun finansial (karena kebetulan romo-romo barat didukung dana yang memadai. Keadaan ini membuat posisi romo semakin jauh dari hati umat yang kurang mampu. Kalo kita lihat di daerah…kondisi alam yang sulit tidak menghalangi mereka untuk mengunjungi dan melayani umat. Saya mengalami waktu mertua yang tinggal di NTT, sangat mudah meminta pertolongan romo untuk melakukan sakramen orang sakit. Itulah yang saya rasakan….kotbah-kotbah mereka saat ini sudah sangat tidak menggigit…mungkin terlalu banyak pastur muda ya.. Prihatin ya…ada solusi???

  17. Lini
    4:05 pm on September 16th, 2009

    Waduh, mohon maap Mas
    barusan juga Mekar ngerayu dan ga berhasil
    proyek lain deh :)

  18. Lini
    4:08 pm on September 16th, 2009

    Para Pastor tukar nasib dengan umat atau Pastor di pedalaman
    kayak acara tukar nasib itu :-p

  19. Onggo Lukito
    5:11 pm on September 16th, 2009

    Saya maunya no comment. tapi gatel juga. hahahahaha…

    Yang diuraikan di atas bisa dibilang ulah oknum. Saya gak tau kenapa gak jadi dimuat, kalo menurut saya karena menonjolkan ulah oknumnya ini. Siapapun yang baca tulisan kalau jadi dimuat akan banyak berkomentar seperti komentar2 sebelum saya. Masih mending kalau dimuat di sini bisa jadi diskusi, kalau dimuat di media cetak tidak akan ada diskusi, yang ada malah mungkin menimbulkan ketidakpercayaan umat kepada romo parokinya.

    Masalah utama di KAJ adalah banyak keragamannya:ras, adat, tingkat pendidikan, ekonomi, dll. Kadang2 jurang pembeda terlalu jauh, sehingga gesekan2 lebih banyak terjadi. Tidak mungkin romo yang tiap paroki rata2 cuma ada 2 atau 3 bisa memenuhi keinginan seluruh umat paroki yang ribuan jumlahnya.

    Dulu di tempat saya pernah ada rame2, sampai main kubu2an, yang satu bela romo, yang satu lagi minta romonya segera dipindah. Kemudian minta romo muda karena selalu dapet romo tua/senior. Setelah dikasih romo muda terus2an, ada yang komentar gak seneng sama romo muda karena masih meledak-ledak, kurang sabar, kurang pengalaman, kotbah tidak menarik dan cenderung romosentris.

    Mari kita doakan saja supaya karya mereka semakin berkembang, semakin menguatkan umat, semakin dapat lebih memahami umat, semakin mencintai dan menghayati panggilannya. Doakan juga supaya anak-anak kita bisa jadi pastor atau suster. Minimal doakan anak saya jadi pastor deh. Hahahaha.

    Mohon maaf jika ada salah2 kata.

  20. Jus Soekidjo
    11:21 pm on September 16th, 2009

    Saya lagi mikir bagaimana kalau artikel seperti ini dimuat di Kuasa Doa pada rubrik gaya hidup. Mengritisi seorang imam kan artinya kita mencintai mereka, agar mereka hidup sesuai regulanya. Mereka sudah bersumpah untuk taat kepada pimpinan (kaul ketaatan), hidup sederhana (kaul kemiskinan), dan hidup suci (kaul kemurnian). Ketiga kaul ini menjadikan imam (pastor) hidup sederhana, kudus, serta taat kepada superior mereka. Jadi kalau umat memberikan kritik, jangan buru-burudiartikan umat tidak sayang, justru sebaliknya agar para pastor hidup dalam track yang sebenarnya. God bless and love you full.-**

  21. Lini
    2:18 pm on September 17th, 2009

    Itok,
    matur tengkiyu untuk masukannya. sebenarnya, artikel ini masuk rubrik “Tantangan” dari seluruh isi media itu. jadi tidak sampai 10% dari porsi isi. yang membuat kecewa adalah jika memang hal2 miring ini dianggap gosip dan ulah oknum sehingga perlu diluruskan justru akan jadi baik. tapi menutupinya dengan hal lain justru membuat umat juga makin kehilangan kepercayaan para Imamnya :)

    btw, tak doain anakmu jadi pastor, dulu juga ada kecurigaan klo anakku mau jadi suster :-p

  22. Lini
    2:19 pm on September 17th, 2009

    Pak Jus,
    wah matur tengkiyu banget kalo mau dimuat. nanti di sini tak kasi kredit “telah dimuat di Kuasa Doa”
    salam prihatin,

  23. Maria
    3:06 pm on September 17th, 2009

    hmm..jd pengen comment jg :)
    Yaa..emg sering denger cerita2 seperti itu dr temen2ku terutama yg ada dikota2 besar..tp yaaa..gimana ya? susah juga..
    Mungkin kita doakan saja semoga yg “melenceng2″ itu bisa kembali lurus..
    Puji Tuhan diparoki kita salatiga ngga seperti itu..yaa..mungkin krn umat disala3 kebanyakan menengah kebawah…jd tidak ada “dana” untuk itu.. hehe..apalgi kita juga masih berjuang untuk mengembalikan hutang ke KAS krn kita beli tanah sblh gereja u/ perluasan..dan puji Tuhan lagi cara2 kita u/ cari dana jg masih bagus..seperti : AMplop tiap bulan u/ tiap keluarga, ada jg tabungan tiap bulan ( tapi bunganya untuk gereja, dan ini sdh berjalan hmpr 2th) ada jg sistem obligasi (yg dananya bisa diambil sewaktu2)
    Trus jg cuma ada 1 paroki disala3 dgn 3 orang Romo..jadi Romo2 sudah sibuk dgn berbagai aktivitas jadi tdk sempet “macam-macam” hehe..

  24. Lini
    3:17 pm on September 17th, 2009

    @ Maria: senang ya di daerah Romonya berada di tengah kawanannya
    GBU full

  25. kristiadi
    5:10 pm on September 17th, 2009

    ehm…
    ini adalah keprihatinan lama tentang kondisi para imam gereja katholik, terutama di Indonesia. Sejauh yang saya tahu, pendidikan di seminari itu minim dengan pengetahuan tentang menajemen, baik itu pribadi ataupun ekonomi, jadi kadang ada imam yang secara emosi tidak terkontrol, dan bahkan keadaan ekonomi sebuah paroki bisa hancur karena pelaporan yang tidak tertata.

    Perbekalan ilmu para imam itu sebenarnya masih kurang, tapi seringnya mereka itu sok pintar, jadinya malah hancur. Umat yang sebenarnya ada niat untuk membantu perkembangan paroki dan imamnya, terkadang tersandung juga oleh pandangan sesama umat ataupun oleh imam itu sendiri tidak diberi kesempatan.

    Ada fakta bahwa profesi imam, dijadikan sebagai salah satu profesi yang dapat mengentaskan kemiskinan. Beberapa orang yang saya tahu, mereka memilih tetap berada di jalur studi Seminari sebenarnya karena mereka merasa tidak bisa terpenuhi kebutuhan hidup (uang) jika mereka keluar dari Seminari. Di dalam Seminari, mereka nyaman, karena biaya semua sudah ditanggung dan mereka hanya diminta untuk belajar (mata kuliah filsafat & teologi), berdoa, dan lainnya yang sekiranya mendukung panggilan imamat mereka. Mendengar alasan tersebut sebenarnya saya miris, karena sudah saya pastikan bahwa dia akan menjadi imam yang tidak berkualitas jika dia diterjunkan di paroki. Benar ternyata, dia berat sebelah dalam melayani umat, lebih memilih melayani umat yang memiliki uang banyak (kaya) daripada umat yang biasa atau tidak kaya.

    Semoga para imam bisa lebih terbuka untuk belajar dan melakukan pelayanan dengan baik dan benar.

  26. Lini
    5:44 pm on September 17th, 2009

    @ Kristiadi: matur tengkiyu atas komennya :)

  27. Alexander L.
    8:16 pm on October 19th, 2009

    Kaau kita mau jujur , sikap kita pada Gembala kita juga harus disalahkan .
    Menjadi seorang Imam tidak mudah . Dalam menempuh pendidikan dan dalam menjaga kemurnian panggilan itu sendiri .
    Sikap umat juga perlu diperbaiki saya kira .
    Coba kita lihat 1 contoh .
    Di Paroki tertentu , sebelum Imam bertugas , sudah ada ‘panitia’yg menanyakan minta mobil dinas apa .
    Belum lagi kiriman ke Pastoran . Tidak salah memang kalau kita punya sesuatu dan dibagikan ke Gembala kita .
    Belum lagi undangan2 kunjungan ke keluarga tertentu .
    Kadang2 sikap kita yg memanjakan Gembala kita ,juga jadi merusak kemurnian panggilan itu sendiri .
    Tapi anyway memang semua perlu mempunyai niat untuk berubah , menjadi lebih baik dan lebih baik lagi .
    GBU all friend

  28. Lini
    10:22 pm on October 19th, 2009

    @ alex: GBU full :)

  29. Juswan
    8:15 am on December 17th, 2009

    1. Imam sbg Direksi. Dulu relasi gembala dam umat bersifat piramidal; belakangan bersifat konsentris. Tidak pernah menjadi relasi mutual simbiosis sebagai sesama stakeholders. Dalam sistem theokrasi tidak pernah dikenal yang namanya demokrasi; termasuk aspirasi-aspirasi demokratis yg bakal dipertimbangan sbg dasar pengambilan keputusan paroki.
    2. Kaul kemiskinan memang dapat – tetapi tidak harus, menjadi masalah. Pemanjaan umat kepada pastor tergantung sifat pastornya juga. Pastor yang ja-im dijauhi umat sedangkan yg terlalu ikrib bisa menjadi “korban” wanita STW yang putus asa mencari jodohnya.
    3. Biaya pelayanan. Ada biaya yg benar-benar fixed seperti listrik. Tetapi yg variabel seperti bunga/dekorasi altar dan koor [profesional atau lokal/amatir]. Juga stipendium yg agak “peka” karena ada pastor yg menyindir seperti: “Kalau untuk dekorasi budget 5 juta, mosok untuk pastor hanya 100 ribu?” Artinya secara halus menuntut jut-jut juga…
    4. PPG. Bukan rahasia bahwa di beberapa paroki terjadi penglarian dana PPG oleh panitia dan biasanya diselesaikan Out of Court Settlement [entah atas dasar dalih apa shg yg melarikannya keenakan, termasuk oleh Romo seperti dulu terjadi di MBK]. Cek yg tidak dimasukkan ke kas PPG spt terjadi di B*jg.
    5. Arogansi. Ada pastor yg mentang-mentang dosen kemudian menganggap semua orang bodoh. Sikapnya yg elitis dan angkuh menyebabkan umatnya menjauh dan mendoakan biar cepat-cepat dipindahkan uskup… Sebaliknya pastor yg merakyat disukai umat walaupun nasibnya juga hanya sebatas 3 tahunan.

  30. Lini
    2:42 pm on December 17th, 2009

    @ Mang Iyus: Mang, urusan PPG itulah yang terjadi di stasiku… hiks… matur tengkiyu yes :)

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>