Rumah Sendiri, Kamar Sebelah

Beberapa bulan lalu.

Waktu versi e-book “My Life is An Open Book” beredar, saya omong-omong personal dengan seorang teman yang juga aktivis Panitia Pembangunan Gereja di tempatku.

“Pak, gimana ya. Aku mau bantu PPG. Klo nanti edisi cetak bukuku terbit, kukasi mereka jualan trus keuntungannya boleh diambil semua gimana?”

“Wah, bagus banget niatmu. Tapi saran saya sih, ga usah semua, bagi dua aja. Kan kasian kamu yang nulis masa ga dapet apa-apa.”

“Hm… gitu ya. Nanti kupikirin lagi deh.”

Hanya segitu. Wong bukunya aja masih di negeri antah berantah.

Aku punya niat begitu karena beberapa teman ngeledek, “Bantuin cari dana Paroki Pasang Surut yang jauh heboh, bantuin Stasi sendiri kok ga?”

Hm… ya bener juga. Kenapa ga?

Minggu lalu.

“Pak, kan bukuku tinggal nunggu kelar cetak nih, trus nanti aku masukin toko buku. Gimana soal niatku bantu PPG?”

“Coba aja hubungi PPG. Nanti gimana-gimananya kan biar jelas. Saya sih dukung deh.”

Beberapa hari lalu.

Aku ingat seorang Bapak yang kebetulan duduk di Dewan Paroki Stasi tempatku. Aku coba imel ke Bapak X. Kujabarkan niatku. Memang masih garis besarnya, karena urusan teknis kan harus dibahas bersama. Lagian, maksudku, aku memberi kebebeasan pada PPG untuk menentukan harga jual, metode penjualan, dan sebagainya.

Bapak X menjawab imel saya dengan singkat, “Coba hubungi Bapak Y di nomor 081xxxxxxxxxx.”

Wah, singkat-padat-jelas bagai telegram jaman dulu.

Maka usaha aku lanjutkan menghubungi Bapak Y di ponselnya.

“Siang Pak, saya Lini, umat di sini. Saya mau bantu PPG. Saya baru keluarin buku. Niatnya sih mau kasih ke PPG untuk jualin nanti untungnya sebagian untuk PPG. Yah, maaf cuma itu yang bisa saya bantu.”

“Coba aja kirim lewat imel. Nanti saya teruskan ke Bendahara PPG, karena ini kewenangannya. Tiap rabu malam ada rapat PPG, kalau bisa ikut biar dijelaskan di situ. Kebetulan juga kita lagi ada roadshow, kan bisa masuk ke kategorial. Lagian kan ga pake modal, nothing to lose.”

Aku juga minta alamat imelnya supaya jelas bukuku seperti apa. Memang tanggapannya tidak terlalu antusias. Wajarlah, wong dia juga belum tau buku apa itu dan sebagainya.

Lalu kukirim imel berisi segala sesuatu tentang bukuku dan penjabaran niatku untuk bantu PPG itu. Tidak ada imel balasan. Wah, gimana ini?

Hari Rabu lalu.

Aku ingat, harusnya malam ini ada rapat PPG itu. Kok tidak ada kabar ya? Aku kembali menghubungi Bapak Y menanyakan rapat nanti malam. Jawabannya singkat-padat-jelas. “Rabu malam, jam 20.”

Kembali aku menegaskan, “Confirm, nanti malam ya pak?”

Tidak ada balasan.

Malamnya.

Karena aku janji ketemu Mo Kadi dari Pasang Surut di rumah SCJ, kuusahakan agak sore supaya bisa tetap datang ke rapat PPG.

Singkat cerita, ternyata aku baru bisa sampai di rumah jam 8 lewat. Wah terlambat. Belum lagi Si Ayah yang ban motornya bocor dan belum sampai di rumah. Terpaksa aku membatalkan hadir di rapat PPG.

Kembali aku sms Bapak Y mengabarkan aku tidak bisa hadir. Kembali tidak ada jawaban. Wah, Bapak ini mungkin lagi sibuk, habis pulsa atau apa kali ya?

Setelah anak-anak tidur, seperti biasa aku ngerumpi sama Si Ayah. Aku cerita semua usahaku menghubungi PPG untuk jualan buku. Jengkel memang, kayaknya kok aku yang butuh? Kan niatnya bantuin? Kok jadi pake psikologi terbalik gini?

Dengan enteng Si Ayah komentar, “Ya, mungkin dipikirnya kamu baru keluarin buku, belum dibaca orang dan numpang jualan.”

“Tapi aku udah imel dia soal buku. Dia ga komen.”

“Mungkin aja dia merasa bakalan capek jualin bukunya orang belum tentu laku untungnya sedikit. Coba kalau kamu kemaren bilangnya “Pak, saya habis jualan buku untungnya sekian buat PPG” pasti beda deh…”

Aku melongo.

“Siapa tau, mereka capek, maunya instan?”

Ya memang pemikiran yang ga salah, belum tentu benar juga.

“Padahal aku cerita sama Mo Didik. Kan dia juga baru keluarin buku. Malah kata Mo Kadi bagus. Emang kasih kailnya, jangan ikannya.”

“Yah, kan beda… di sini memang nyentrik kan? Emang masih penasaran biar diterima di sini?”

Iya sih…

Namanya sudah janji – kaul, nazar, apalah namanya – akan ada sebagian yang untuk Gereja, akhirnya balik lagi ke Pasang Surut.

Kok itu? Ya, karena aku lebih berguna di situ. Aku lebih dibutuhkan di situ.

Yang penting kan niatnya.

Apa rasanya kita mau bantu tapi seolah ga berguna? Ada tempat lain yang butuh kita kan?

Nabi aja ga diterima di negerinya sendiri. Apalagi aku yang bukan Nabi?

Boleh aja ada yang bilang, “Bantuin paroki lain terus, paroki sendiri ga diurusin.”

Terserah… Bebas kok.

Selama judulnya melayani untuk Tuhan, apalagi masih satu saudara di Gereja.

Emang Yesus cuma ada di Gereja tertentu?

Rumah sendiri, tapi kamar sebelah. Ga papa kan?

Kalo bantuin rumah tetangga ada yang sewot, itu lebih bisa dimafhumi…

(meskipun ngapain juga sewot?)

Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , ,

This entry was posted on Thursday, November 27th, 2008 at 11:24 am and is filed under Rumah Sendiri Kamar Sebelah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>