Sahabat, di mana kau bersembunyi?

Sepuluh tahun lalu, saya diberitahu oleh seseorang bahwa tokoh yang cukup dikenal orang itu ternyata senior saya di sebuah lembaga kesenian. Setiap kali melihat wajahnya di media massa, saya hanya berpikir, kapan saya bisa kenal orang ini?

Saya memanfaatkan fasilitas internet untuk mencari segala informasi tentangnya. Akhirnya, saya mendapatinya di sebuah aplikasi social networking yang sedang tren. Hampir semua aplikasi social networking yang dia miliki berisi deretan nama yang panjang. Saya hanya berharap orang ini tidak sebatas menerima friend request saya, tapi kami bisa kontak langsung. Untuk lebih meyakinkan, saya bubuhi juga “suha!” salam khas lembaga kesenian itu.

Ternyata sambutannya luar biasa. Orang ini langsung mengirim private message. Kami pun mulai kontak. Setidaknya, banyak anggota lain lembaga kesenian itu yang juga senang dengan adanya kontak kami dengannya.

Sejak itu kami rajin chatting atau saling membalas postingan di milis bahkan saling telepon. Tak cukup lima menit berbincang dengannya di telepon. Makanya semua nomor pribadinya ada di saya. Saya belum pernah bertemu muka. Selang beberapa hari saja, kami sudah akrab. Bahkan panggilan “Mas” tidak lagi saya gunakan. Kami mulai sering curhat. Malah justru dia yang lebih sering curhat seputar pekerjaannya.

Saya mulai tersanjung. Dicurhati orang sama saja dengan dipercaya orang. Lama kelamaan curhatnya mulai makin serius. Kadang urusan karirnya juga diceritakan. Bukan lagi curhat, tapi sudah mulai minta pendapat. Saya yang suka ceplas-ceplos enak saja melontarkan pandangan-pandangan saya. Anehnya, dia lebih sering memikirkan pemikiran saya yang memang jujur tapi kurang pujian malah cenderung memberi masukan atau kritik. Saya sempat merasa serba salah. Pastilah dari deretan panjang nama yang ada di friend list-nya jauh lebih berkompeten dari saya. Tapi kenapa dia lebih memilih saya, keranjang sampah sekaligus pemberi komentar?

“Lo, kan punya temen banyak, knapa sih gw yang lo mintain pendapat? Pendapat gw kan aneh, ga banyak orang yang bisa dengan mudah terima pendapat gw.”
“Lin, kadang gw bingung mau cerita sama siapa. Emang friend list gw panjang, tapi itu temen seneng-seneng doang. Klo gw susah, ga ada yang bisa dengerin…” Nada suaranya sendu sekali.

Saya trenyuh dengarnya. Bagaimana bisa orang yang dikelilingi banyak sekali yang mengaku “teman” tapi bersembunyi ketika kita membutuhkannya? Lalu, ke mana mereka bersembunyi?

Saya bukan orang yang banyak sekali teman apalagi populer. Saya banyak kenal orang, tapi tidak banyak yang kenal saya. Maka saya agak sulit membayangkan posisi sahabat saya itu. Sahabat saya itu orang yang rendah hati dan baik sekali. Jadi saya sungguh kasihan mendengar ia tak punya teman curhat.

Ketika beberapa hari lalu ia menceritakan sebuah program talkshow, saya mengusulkan, “Buat programnya bahwa lo adalah pendengar setia. Tempat di mana narasumber bisa bercerita apa saja. Lo gak boleh komentar. Lo harus jadi shoulder to cry on narasumber. Jangan buat narasumber kesepian seperti yang lo rasain selama ini.”

Kenyataan ini membuat saya makin sadar. Siapapun dia – selebritis, rohaniwan, politisi – memiliki sisi humanis yang kesepian dan membutuhkan sahabat. Teman yang sungguh ada ketika dia membutuhkan kita. Sahabat yang memperlakukannya hanya sebagai pribadi, bukan status dan jabatan. Di mana dia bisa menjadi dirinya penuh, utuh tak perlu jaim.

Apakah saya sudah menjadi sahabat setia orang lain? Apakah saya sudah memperlakukan orang lain seperti pribadi yang utuh tanpa tuntutan status dan jabatan?
Setidaknya, saya sangat bersyukur punya segelintir teman yang ada ketika saya susah. Segelintir orang yang memperlakukan saya apa adanya. Dan itu membuat saya sangat bahagia…

Selamat ulang tahun, dear AAA. Semoga Tuhan memberikan berkah dan kasihNya. Semoga semakin sedalam samudra dan seluas angkasa. Amin…

Tertarik dengan yang ini?

Tags: , , ,

This entry was posted on Monday, June 16th, 2008 at 1:00 am and is filed under Sahabat di mana kau bersembunyi?. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>