Sahabat Pena

Dengar kata itu rasanya kok antik banget ya? Sahabat pena. Kapan terakhir kali dengar kata itu? 10 tahun lalu? Atau lebih? Kapan terakhir kali aku punya sahabat pena? Rasanya waktu SMP, sekitar  20 tahun lalu. Udah lama banget ya.

Sebenarnya, surat dan surat elektronik (e-mail) kan sama aja. Surat, ya surat. Beda dengan SMS atau aplikasi ngobrol seperti YM, Gtalk, atau Meebo. Isinya pendek  tapi instan, seketika. Surat dan imel butuh waktu untuk sampai di tujuan, dibaca lalu dibalas. Itupun kalau mau dibalas.

Ikutan milis rasanya bukan bentuk dari sahabat pena. Milis itu tempat umum yang kita tidak bisa cerita leluasa. Seperti halnya curhat pada banyak orang di arisan keluarga, meskipun tidak seheboh pasar.

Jaman dahulu ketika surat masih konvensional, orang menulis sampai berlembar-lembar. Lihat saja Kahlil Gibran dengan May Ziadah atau RA. Kartini dengan sahabat-sahabatnya. Sekarang orang menulis surat isinya singkat, padat, jelas. Entah karena kebiasaan orang menulis yang menurun atau tidak punya waktu untuk menulis karena sibuk.

Menulis, apapun itu – blog, surat, apa saja – tentu membutuhkan waktu. Kadang berhenti untuk berpikir apa yang akan ditulis kemudian. Ditambah lagi kecepatan jari beradu di papan ketik yang berbeda pada tiap orang. Untuk menulis `200 kata saja bisa butuh waktu 15 menit. Kebayang kan berapa waktu yang harus disisihkan?

Seminggu ini aku punya sahabat pena. Awalnya memang dia rajin mengirimkan tulisan-tulisannya ke imelku. Beberapa kali kubalas singkat. Tulisannya bisa panjang seperti laporan utama majalah. Tapi aku tidak pernah bosan. Justru suratnya yang kubalas singkat itu dibalas dengan yang lebih panjang. Anggaplah dia memang pandai menulis sehingga tidak bosan membacanya.

Dalam setiap suratnya, aku seperti tersihir. Aku bukan orang yang mudah tertawa ketika membaca sebuah tulisan. Dia bukan orang yang menulis dengan kosa kata berbunga-bunga dan puitis, tapi istilah-istilah ilmiah dengan sedikit penjelasan. Caranya menuturkan kejengkelan pada lingkungan sekitar membuatku bisa tertawa. Surat-suratnya yang sering diselipi kata-kata sinis, penuh celaan dan kritikan pada lingkungan justru terasa seperti surat cinta penuh rayuan gombal. Suratnya mengajakku ikut tertawa pada pahit getirnya hidup tanpa harus menyalahkan siapa-siapa.

Setelah beberapa kali saling berkirim surat, aku baru sadar betapa indahnya  memiliki sahabat pena. Rasanya seperti kembali ke masa kecil, menemukan seorang sahabat melalui tulisannya. Pun ketika tulisannya itu bukan dikirimkan untukku, membacanya seperti dia memang bercerita padaku.

Setiap malam, aku selalu menanti suratnya. Hanya sekali dalam sehari dia mengirim surat. Itupun tidak setiap hari. Jika semalam suratnya hanya berisi singkat, “Gw lagi sibuk, nanti gw kasi komentar.” Artinya penantianku harus ditambah satu-dua hari lagi. Artinya sehari ini aku harus sabar menanti suratnya malam nanti atau besok.

Kangen? Hm… bisa dibilang begitu. Padahal aku nyaris gak tau apapun tentang dia kecuali latar belakang pendidikan yang ditulis dalam suratnya, itu juga karena kutanya. Yang jelas, dia orang yang cerewet dengan isi suratnya yang panjang begitu.

Dini hari ini, aku kasmaran. Aku jatuh cinta pada sahabat penaku. Tak sabar untuk menunggu suratnya. Membaca suratnya lebih menyenangkan daripada menulis padanya. Tiba-tiba saja otakku macet, tak tahu harus menulis apa. Jariku tak bisa beradu dengan papan ketik karena tak ada sinyal dari otak. Hatiku berbunga-bunga… ehm… :)



Tertarik dengan yang ini?

Tags:

This entry was posted on Tuesday, October 6th, 2009 at 6:00 pm and is filed under Sahabat Pena. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

31 Responses to “Sahabat Pena”

  1. shinta miranda
    7:32 pm on October 6th, 2009

    Sahabat pena…jaman sekolah menengah atas deh, aku suka banget koresponden dengan sahabat pena, baik di dalam maupun di luar negeri. Bahkan dari sahabat pena, oomku bisa menetap di Danmark..!!
    Dan jaman itu, kalau melihat tukang pos dan mendapat surat, senangnya bukan main..!!
    Cerita ini rada-rada unik juga..sahabat pena yang ngangenin karena cerita-ceritanya…wow….bagus banget !!

  2. Emilia
    8:02 pm on October 6th, 2009

    Aku rindu untuk menulis surat panjang lebar yang berlembar2 mengungkapkan isi hati dan bercerita banyak hal kepadanya….tapi kemudian kita terputus karena pindah alamat yang tak terlacak. setelah bertahun2 akhirnya bertemu kembali…masih terekam dalam memori kami berapa banyak surat yang kami kirimkan bahkan apa isinya, ternyata masih ingat juga….dan sudah hampir 17 tahun surat itu masih aku simpan dengan baik ….Miss u my friend…

  3. Lini
    10:01 pm on October 6th, 2009

    @ Shinta: masih kangen karena suratku blm terbalas sejak dua hari lalu :D
    @ Emilia: masih saling berkirim surat sama sahabatnya?

  4. Fonny
    10:57 pm on October 6th, 2009

    gw juga punya sahabat pena zaman masih kuliah, temen gw itu di Spore. sekarang, sama-sama di Spore malah lost contact :( hampir gak pernah kontak sama sekali…
    tapi gw tau yang elo maksud, Lin… keterlibatan emosionalnya, kerinduan menerima kabarnya…I wish to have the same feeling too!:)

  5. Lini
    11:06 pm on October 6th, 2009

    @ Fonny: hehehe

  6. Si Toing
    11:19 pm on October 6th, 2009

    Aku punya sahabat pena pertama kali umur 8 thn, dapetnya dr majalah HIDUP, Ruang Tunas Muda. Namanya Liliana. Kita surat-suratan sampe SMP rasanya, setelah itu nggak tau kenapa, tiba-tiba aja terputus … hilang tak tentu rimbanya. Selain dia, aku punya sekitar 8 -10 sahabat pena sejak SD sampai SMA. Semua bubar ketika aku mulai punya pacar …. ;) Gag ada waktu bo!!

    Belakangan, sejak ada imel, aku sering imel2 an dengan sahabat2 SMA, sama spt dulu, isinya cerita2an. Sampai sekarangpun, ada beberapa teman yg suka bertukar cerita via imel.

    Terakhir, aku ‘menemukan’ Liliana di FB. Seneng banget!! Tapi setelah beberapa kali bertukar cerita di inbox FB, melempem lagi … kayaknya gag tau mau ngomongin apa lagi. Padahal dulu ya itu, bisa nulis berlembar-lembar, tulis tangan pula …..!!!

    Rasanya bersahabat pena via elektronik ‘ngak dapet’ emosionalnya ya. Beda dengan baca surat yg tulisan tangan. Kayaknya kita bisa bayangin emosi dia saat dia nulis.

    CMIIW ….;)

  7. Lini
    11:29 pm on October 6th, 2009

    @ Intan: hm.. mungkin juga ya Tan. kebayang surat yang pake coretan2 gitu hihihi…

  8. emilia
    11:29 pm on October 6th, 2009

    Tu lah…sekarang karena kemajuan teknologi sudah ada email…jadi gak pernah nulis surat via pos lagi…padahal yang berkesan selain beritanya juga justru “menunggu” nya itu loh…yang bikin kita “deg-deg an ” hehehe betul…

  9. Lini
    12:12 am on October 7th, 2009

    @ Emilia: yep, ini aja masih menunggu deg2an hehehe

  10. rere
    7:51 am on October 7th, 2009

    Iya memang.. surat-suratan pake tulis tangan rasanya lebih mengena di hati. Dulu waktu pernah pacaran jarah jauh, waktu belum ada hape, belum kenal internet.. tiap minggu selalu berkirim kabar lewat surat. Jadi tiap minggu nungguin pak posnya lewat.. kalo gak bawa surat dari si dia.. rasanya sedih banget hehehehe.

  11. Lini
    8:58 am on October 7th, 2009

    @ Rere: jadi inget lagunya The Beatles – Mr. Postman hehehe

  12. liana
    1:35 pm on October 7th, 2009

    dulu sahabat pena gue lebih kali dari 50 orang. waktu perangko ke luar negeri belum naik. semua sahabat pena dari luar. gue ketemu 4 dari mereka. yang 2 waktu gue ke perancis, 1 orang perancis (yang dateng juga ke jakarta), 1 orang spanyol yang ke perancis buat ketemuan ma gue. 2 lagi dateng ke jakarta, 1 orang polandia, 1 orang chad. seru banget… emang indah masa2 punya sahabat pena, pak pos tuh orang yang ditunggu-tunggu tiap hari. ada beberapa dari sahabat pena gue yang bikin gue berbunga-bunga juga kalo nerima suratnya. jadi inget…

  13. Lini
    2:32 pm on October 7th, 2009

    @ Liana: sambil nyanyi Mr. Postman – the Beatles ga?
    :-p

  14. anita
    9:13 pm on October 7th, 2009

    jadi kangen nulis surat lagi…

  15. Ronaldo Rozalino
    8:44 am on October 8th, 2009

    Sahabat adalah teman yang terbaik dalam suka dan duka

  16. Grace
    11:15 am on October 8th, 2009

    Wah sayang ya , udah ga pny lagi tuh . . semua uda pada ketemuan dan jadi jarang menulis digantikan dengan hp sih . . .hikz

  17. Lini
    11:59 am on October 8th, 2009

    @ Anita: tulis dong…

  18. Lini
    12:00 pm on October 8th, 2009

    @ Ronaldo: ya bener :)

  19. Lini
    12:00 pm on October 8th, 2009

    @ Grace: hiks…

  20. martina
    12:25 pm on October 8th, 2009

    Lini….kalo aku sekarang ya kayak tulisanmu terakhir itu….lebih suka membaca suratnya…..tapi pas giliran mau mbales….otakku macet….kalaupun nggak macet aku males ngeposinnya…ujung2nya surat yg sudah kutulis berlembar-lembar ttp tersimpan rapi di laci….hiks….:(

  21. Lini
    12:43 pm on October 8th, 2009

    @ Tina: hiks… mbok ditaro di blog? wkwkwk

  22. Angel Li
    9:05 pm on October 8th, 2009

    eh, kalo surat2 lewat email aku juga punya tuh belakangan ini. Emang menyenangkan banget, Lin. Tiap hari buka email dapat surat dari dia n bercerita ttg macem2… Lagi membalas suratnya aku juga jadi bercerita macem2. Baru sadar kalo aku juga punya sahabat pena…hehehe :-)

  23. Lini
    9:35 pm on October 8th, 2009

    @ Angel: akhirnya dapet juga orang yang masih punya sahabat pena :D

  24. osaunguvespa
    9:42 pm on October 12th, 2009

    sahabat penaku pas kelas 4 SD.. bukan hanya bertukar cerita, tp jg bertukar cindera mata… kudapat alamat-nya dari tabloid putera harapan. namun tiba-2 dia menghilang, petunjuk terakhir dia ikut pindah keluarga yang kebetulan ayah-nya adalah seorang polisi… miss yuuu ” seseorang yang kulupa nama-nya”

  25. Lini
    10:05 pm on October 12th, 2009

    @ Osa: so sweett..
    mudah2an ketemu lagi sama sahabat penanya :)

  26. Aif
    5:02 pm on November 22nd, 2009

    adduhh .. ajari aku donk .. !!!
    caranya dapet alamat gimana?
    trus caranya agar alamat kita diketahui gimana?

  27. Aif
    5:04 pm on November 22nd, 2009

    adduhh .. ajari aku donk .. !!!
    caranya dapet alamat untuk mendapatkan seorang sahabat pena gimana?
    trus caranya agar alamat kita diketahui gimana?

  28. masyha
    4:51 am on May 28th, 2010

    sahabat pena
    aduuuuuuuh aq kaga’ mudeng!!!

  29. Lini
    4:46 pm on May 28th, 2010

    @ Masyha: ga mudeng kenapa, sist? :)

  30. dani sukma
    10:27 pm on July 15th, 2010

    wahh jadi igt ms lalu… pengen punya sahbat pena lagi..

  31. Lini
    10:31 pm on July 15th, 2010

    @ Dani: kemana sahabat penanya?

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>