Sahabatmu Bukan Sahabatku, atau Kamu Bukan Sahabatku?
Beberapa waktu lagi aku baru saja “berantem” dengan seorang sahabat. Paling tidak, sampai detik berantem itu, aku masih menganggap kami bersahabat. Kenapa aku menggunakan kata “berantem”? Untuk menunjukkan bahwa yang diributkan memang kemudian jadi gak mutu. Urusan penghargaan sebagai sahabat jadi terkubur dengan prinsip “urusan masing-masing”.
Semua manusia pasti punya jejaring sahabat sendiri kan? Tidak mesti seorang sahabat mengenal sahabat lain dari sahabatnya itu. Seandainya si Sahabat adalah si X, lalu aku si Y, dan sahabatnya si Sahabat adalah si Z, maka aku sebagai si Y tidak mesti kenal dengan si Z meskipun ada banyak alasan untuk si Y kenal dengan si Z bahkan juga bersahabat. Karena “terminalnya” adalah si X, maka si X bersahabat dengan si Y dan si Z. Sudah cukup jelas kan, ya?
Ceritanya begini. Pada suatu hari, si Sahabat minta aku mengirimkan bukuku “My Life is An Open Book” ke dua orang sahabatnya yang tidak kukenal, si Penerima dan seorang lagi. Meskipun, ada banyak alasan untuk aku bisa kenal dan mungkin saja bersahabat dengan mereka. Setelah mendapat alamat lengkap tanpa nomor telepon, kukirim dua paket buku itu ke alamat masing-masing. Sekitar dua hari kemudian, pihak kargo menelepon.
“Bu, di alamat itu nama penerima tidak dikenal. Mungkin salah alamat? Boleh saya minta nomor teleponnya?”
“Oh gitu ya? Ok, nanti saya telepon balik. Saya akan mintakan alamat lengkap dan nomor teleponnya.”
“Nanti, silakan ibu telepon ke nomor sekian-sekian.”
Lalu saya menelepon si Sahabat. Memberi tahu bahwa alamatnya salah dan meminta nomor telepon si Penerima. Setelah diberikan, saya telepon si Penerima bermodal “siapa tau aku bisa berteman dengannya”. Padahal ngapain repot-repot, kasih aja nomor teleponnya ke pihak kargo supaya dihubungi. Beres kan?
“Selamat siang, dengan Z?” Jurus andalan bak layan pelanggan pun dikerahkan. Mungkin karena justru seperti layan pelanggan atau bagian penjualan, apa yang kuterima?
“Ya, siapa nih??” Sebetulnya, dalam menuliskan ini saja aku bingung memberi tanda baca. Karena nadanya mirip kalimat seru ketimbang kalimat tanya. Mungkin harusnya menggunakan tanda seru bukan tanda tanya.
“Saya Lini.”
“Lini mana??” Lagi-lagi, harusnya tanda seru bukan tanda tanya!
“Lini temannya X.”
“Oh ya, ada apa??” Duh Gusti… urusan bahasa tulis dan bahasa tutur ini jadi ruwet gara-gara kalimat tanya yang dilafalkan dengan penyeruan! Gimana sih menuliskannya?
“Saya diminta X untuk mengirimkan buku ke kamu. Tapi alamatnya salah.”
“Ibu kirimnya ke mana??” Kesabaranku mulai menipis. Rasanya mau teriak, “Gue bukan ibu lu dan gak sudi punya anak judes kayak lu!”
“Jalan Ini-itu nomor 34.”
“Oh, salah! Harusnya Jalan Ini-itu I nomor 34!” Buseeettt… ini orang apa bukan sih?? Gak ada manis-manisnya! Foto di fesbuknya aja terlihat manis. Manis sedikit kalau ga mau disebut sepat. Padahal si Sahabat paling jengkel kalau minum teh yang manisnya nanggung begitu.
“Oh, kurang “satu” ya. Jl. Ini-itu SATU nomor 34?”
“Ya!”
“Ok! Terima kasih!” Langsung aja kututup telepon.
Tarik napas dulu. Jangan sampai pihak kargo kena semprot juga nih.
Setelah agak tenang, kutelepon pihak kargo. Nomor sekian-sekian yang dikasih itu tak kunjung tersambung, sesorean sampai jam bubar kantor. Besoknya, pagi-pagi kutelepon lagi. Sama aja. Kutelepon semua nomor yang tertera di brosur daftar harga pengiriman. Sia-sia belaka. Menjelang siang, aku mulai putus asa. Masa seharian cuma ngurusin paket tak sampai ini? Akhirnya kutelepon kantor tempat kukirim kemarin. Untung nyambung. Kusampaikan alamat yang benar. Tapi, tanpa nomor telepon si Penerima! Dasar… dasar… Sudah jengkel ya begini, malah gak juntrung.
Kutinggalkan pesan di dinding fesbuk si Penerima menyampaikan terima kasih konfirmasi alamatnya dan akan disampaikan ke pihak kargo. Kukirimkan juga SMS pada si Sahabat bahwa urusan salah alamat ini sudah jelas dan kedongkolan atas sikap si Penerima di telepon. “Gue dongkol dengan cara Z menjawab telepon. Itu gak alasan buat manusia apalagi yang dewasa.”
Sehari. Dua hari. Tak berbalas. Tapi kulihat jelas si Penerima online dan memutakhirkan statusnya. Kusampaikan keluhan ini pada si Sahabat. Di sinilah kami “berantem”.
“Z itu manusia macam apa sih? Waktu lu kasih nomor teleponnya temen lu itu, gue udah telepon dan tinggalin pesan di dinding fesbuknya. Gue gak suka cara dia jawab telepon gue. Kok gue jadi kayak sales?” Kutirukan gaya bicara si Penerima di telepon. “Terus gue tinggalin pesan di dinding fesbuknya. Gak dibalas. Padahal dia pake iPhone. Masa dia ga tau ada pesan di dindingnya? Kenapa dia ga balas?”
“Dia emang gitu, sama semua orang judes.”
“Termasuk sama gue yang ga dikenal?”
“Sama yang dikenal aja judes.”
“Sama yang dikenal justru bebas untuk judes. Namanya juga udah kenal. Salah apa gue sampe dia merasa berhak untuk judes? Kenal aja kagak! Ini urusan sopan-santun.”
“Makanya, lu kan ga kenal dia. Gue kenal banget sama dia. Emang gitu orangnya!” Si Sahabat mulai meninggi.
“Ok. Itu soal terima telepon. Soal gak balas pesan di dinding? Dia kan pake iPhone, pasti tau ada pesan di dindingnya?” Wah, harusnya Apple kasih honor penyebutan merek nih!
“Dia itu orang sibuk, gak sempet balas-balas pesan di dinding! Gue aja kalau telpon atau SMS berkali-kali juga suka ga dibales!” Si Sahabat marah. Padahal, sahabatku si Seleb selalu punya waktu untuk membalas pesan dan telpon. Manusia yang tiap minggu muncul di tipi dan seabreg kesibukan lainnya aja punya waktu buat aku. Karena si Seleb dan aku sungguh bersahabat? Karena perbedaan konsep persahabatan? Gak tau deh.
“Jadi, karena sibuk dan pemilik perusahaan, boleh judes dan gak perlu santun untuk balas pesan orang?”
“Kenapa lu ceritain urusan pesan lu di dinding dia ke gue? Itu kan urusan lu sama si Z! Bukan urusan gue!” Bagai disambar petir, aku terdiam sesaat. Itu urusan si Lini dengan si Z ya? Ngapain melibatkan si X?
“Itu emang urusan gue. Dan, gue gak suka dengan cara Z yang gak sopan. Jangan-jangan Z cemburu sama gue? Liat gue suka kasi komentar di fesbuk lu?”
“Gak mungkin!”
“Kenapa gak mungkin?”
“Gue kenal banget sama dia!”
“Emang lu tau setiap jengkal perasaannya? Kan gue bilang dia cemburu sama gue, bukan elu! Kenapa lu yang bantah?”
“Gue gak suka temen gue lu sebut begitu!”
“Itu urusan lu sama si Z, bukan urusan gue!” Puas rasanya bisa membalikkan kalimatnya sendiri. Maka detik ini, semua jadi urusan masing-masing.
“Tau gini, ngapain amat gue ngurus itu paket ke pihak kargo. Biar aja gue suruh kirim balik. Bikin capek aja!” Lalu kututup telepon.
Luka? Banget!
Berdarah? Iya!
Siapa yang gak sakit diperlakukan begitu oleh “sahabatnya”? Manusia yang mengumandangkan “seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi saudara dalam kesukaran”. Rasanya, kalimat itu cuma indah jadi prasasti dalam Kitab Suci doang. Bukankah sahabat berbagi beban? Berbagi urusan juga pastinya. Dalam hal ini, kalimat indah itu jadi sangat kontradiktif.
Ketika urusan kesantunan yang mengganggu kenyamanan seseorang terkubur dengan “urusan masing-masing”, rasanya benar kata si Sahabat, “Verbalitas menggugurkan apa yang ada.” Mungkin penggunaannya tidak tepat benar. Setidaknya, detik itu aku merasa tidak bersahabat yang penuh kasih dan berbagi kesukaran.
Aku jadi merenungkan lagi persahabatanku dengan si Sahabat pada khususnya, dan sahabat-sahabatku yang lain pada umumnya. Paling tidak, aku bukan orang yang senang berebut persahabatan. Kalau si Sahabat lebih merasa si Penerima adalah sahabatnya karena sudah lebih lama dan lebih banyak melewati suka-duka, ya monggo kerso. Silakan aja. Tapi rasanya gak perlu ada kalimat “itu urusan lu, bukan urusan gue”. Jangan-jangan selama ini aku hanya ge-er merasa bersahabat dengan si Sahabat padahal sebetulnya tidak?
Pagi tadi, kutumpahkan kekesalanku pada seorang sahabat lainnya. Dia bilang, “Justru kepribadian orang itu baik atau buruk dapat dilihat ketika dia pertama kali bertemu dengan orang yang belum dikenalnya. Penilaian pada pandangan pertama sangat menentukan kelanjutan sebuah komunikasi.”
Ini soal kesantunan. Itu prinsip buatku. Kesantunan jadi salah satu modal terbesar manusia bertahan hidup, apalagi bersahabat. Setidaknya, aku yang jauh dari kemewahan hanya bisa mewariskan sopan-santun pada anak-anakku. Gak mau dong, anak-anakku ketika remaja dan dewasa nanti disebut “cantik dan ganteng sih, berkecukupan lagi, tapi gak sopan”. Amit-amiiitt…
Dengan pilu, kupandangi permintaan pertemanan Z di fesbuk. Ya, setelah insiden telepon itu memang kuhapus dia dari daftar pertemananku. Wong memang ga kenal dan pingin kenal tapi malah jadi runyam. Sempat kulihat balasan pesanku di dindingnya tertanggal dua hari lalu. Butuh waktu dua hari untukmu membalas, itupun setelah bukuku kamu terima. Rasanya kok jadi pamrih ya? Sudah tau aku penulis buku bukan penjaja buku, baru kamu bilang terima kasih dan maaf? Dikira posting salah alamat? Kenapa tidak tanya langsung? Manusia macam apa kamu sampai aku terluka begini? Haruskah kamu kuterima?
Lebih baik kuresapi dulu kalimat “seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi saudara dalam kesukaran” sebelum aku sanggup bersahabat dengan manusia-manusia macam kalian.
Buat HL yang bukan Hanafiah Lini, yu’r nde bes!
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Buku My Life is An Open Book, Curhat, Etika, Gerundelan, Kasih, Luka Batin, Maaf, Sahabat
This entry was posted on Monday, December 7th, 2009 at 2:42 pm and is filed under Sahabatmu Bukan Sahabatku atau Kamu Bukan Sahabatku?. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.









3:09 pm on December 7th, 2009
hhhmmmm….
3:12 pm on December 7th, 2009
Sahabat lebih dari segalanya!
3:35 pm on December 7th, 2009
@ Anie: hhmm… juga
@ Ronaldo: yep, setuju!
4:50 pm on December 7th, 2009
wah…wah jadi seru ya. Kalo waktu awal nelpon langsung dijelasin bahwa lini bukan penjaja buku apa bakal gini gak yah? tapi ketauan tidak tulus-nya ya.Apa dibiarkan aja dulu beberapa waktu permohonan pertemanan itu? Ampe natal mungkin..hehehe..siapa tau ada kejadian yang bisa menghapus kekesalan lini. Dikecewakan sahabat emang nyakitin sih.
5:09 pm on December 7th, 2009
Ya kalau sama sales juga bukan berarti boleh gak sopan


Ya kalau sama kurir juga bukan berarti boleh jutek
Ya kalau emang sudah jutek bukan berarti boleh bangga sama jutek
Coba aja perusahaannya gak ada sales, kurir, emang bos jutek bisa hidup gitu :p
Tapi kalau sudah minta maaf ya sutralah…
Maaf hanya berlaku untuk menyembuhkan hatimu, Lin…
Bukan berarti kamu memaklumi kondisinya, biarlah yang jutek tetap jutek kalau memang maunya begitu, kan EGP
5:19 pm on December 7th, 2009
@ Clementina:
kayaknya musti nanya rumput yang bergoyang atau angin yang bertiup deh
@ Femi:
naaahh… kaca mata SMOOTH Marketer beda nih…
gue menanti Sales berhati malaekat
halah!!
8:48 pm on December 7th, 2009
pelajaran yang bisa diraih : to be more patient, masing-masing punya pribadi yang berbeda.
9:08 pm on December 7th, 2009
sabaaaar yaaakk
9:52 pm on December 7th, 2009
Curahan hati yang sangat mengena, akupun pernah mengalaminya. Namun sampai kini aku masih tetap GeeR untuk menganggap sahabatnya sahabatku sebagai sahabatku juga, KARENA AKHIRNYA DIA SADAR. Tapi,,,,,sahabatku telah kulenyapkan dari peredaran orbit persahabatan kami karena akhirnya DIA TAK PERNAH SADAR bahkan sampai kini, telah cukup pemakluman yang kuberikan sebelum aku benar-benar melenyapkannya dari orbit persahabatanku.
10:07 pm on December 7th, 2009
@ Tarso & Karina: matur tengkiyu
@ Wahyu: hiks
10:45 pm on December 7th, 2009
haha.. seru tuh.. tapi memberi pelajaran untuk yg baca.. maaf kalo komentar saya ini kurang berkenan tapi menurut saya sebuah masalah yg melibatkan satu/lebih pihak, masing2 pihak punya andil salah dan punya andil benar. Tdk ada yg 100% salah, dan lainnya 100% benar. Lain kali kalo ‘sahabat’ kita sudah menaikkan nada suara, lebih baik kita yg menahan diri sebelum hubungan baik jadi rusak. Setelah itu, seperti yg Lini lakukan, merenungkan arti persahabatan itu sendiri, ‘apakah dia sahabatku?’ Pemahaman saya atas tulisan dalam kitab suci itu adalah penuntun untuk kita, agar kita selalu menjadi sahabat yg menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi saudara dalam kesukaran.. kita tidak bisa mengatur orang lain mjd sprti yg kita inginkan, tapi kita bisa mengatur diri dan mendidik anak2 kita mjd pribadi yg baik
11:04 pm on December 7th, 2009
@ Dhien: yuk jadi sahabat yang baik
8:42 am on December 8th, 2009
hm…..susah ya mencari seorang sahabat yang bener2 sahabat…..
tapi tuh orang model bgtu nggak tahu sopan santun emang perlu di ajar adat!!!! (kok gue jadi emosi…heheheheh)..
tp berpikir positif mungkin nada bicaranya bgtu…cuma yg diseslakan harusnya “sahabat” yang menjadi perantara bisa menjembatani supaya lebih baik…chayooo linn
9:13 am on December 8th, 2009
@ Nita: chayo tuh apa sih? kuper deh gue hehehe
1:31 pm on December 8th, 2009
Wah…wah…soal sahabat itu tak ada habisnya dalam rentang kehidupan..; saya juga punya sahabat yang memenuhi buku harian ku…, aku jadi pingin berbagi tulisan….tentang sahabat
1:02 am on December 9th, 2009
kunjungan pertama dan langsung terkesan….like this…
emang harusnya si x jadi penengah bukan malah perunyam[halah bahasanya..]
tapi buatku [kalo buatku looo...buatku...gak maksa buat yang lain], once a friend always a friend…kalo si z gak bisa jadi “friend” ya si x kan gak mesti jadi mantan friend kan [emang ada gitu mantan sahabat...hehehe]..jadi sok teu dh…hehehe..tapi yang paling gak suka ya itu,gak menghargai author banget. jadi gak yakin kalo si z pecinta buku. ya, jadi panjang dh…tapi makasih dh berbagi tulisannya…jadi punya bahan bacaan n dapet “sesuatu” dari tulisannya…o ya, salam kenal…hehehe…
11:14 am on December 9th, 2009
@ Rita: ditunggu cerita tentang sahabatnya
@ Yoan: salam kenal juga. matur tengkiyu kalo terkesan. emang harusnya jadi jembatan bukan perunyam ya? hehehe
11:34 am on December 13th, 2009
aduh……Lini kok marah-marah dng hal2 yg remeh temeh begini sih ??? memang aku gak tahu persis peristiwa yg sebenarnya dan gak tahu persis suasana hati Lini saat itu. Tapi apapun, aku malah bingung…..soal marahpun klo di tulis Lini jadi cerita yg ciamiik….Oya, lain kali buku Lini dikirim ke aku saja, pasti sampai deh…. Maturnuwun Lini.
6:08 am on December 14th, 2009
@ Rachmat: hahahaaa… matur tengkiyu pak. kan menulis bagian dari terapi emosi. daripada disimpen jadi jerawat?
9:06 am on January 13th, 2010
hm…
9:08 am on January 13th, 2010
gw…gak baca critanya mpe selesai, tertarik karena judulnya, soalnya gw sring bermasalah dengan yang namanya teman, en..gw sepaham ama elo..
10:03 am on January 13th, 2010
@ Cindra: thx buat komentarnya
8:24 pm on January 22nd, 2010
aku salut Lin, kalau aku cepet tutup telpon ngga usah ngomong apa2, bye..! aku se7 judulnya, memang susah cari sahabat sejati yang selalu ada buat kita padahal kita selalu ada buat dia…jutek, sibuk, overload, sungkan sama yang lain, apalagi kata2 …”itu urusan lu bukan urusan gue”…he…nggak pantas diucapkan seorang yang mengaku sahabat, nyakitin banget. Jaman sekarang susah cari temen apalagi sahabat sejati, gampang untuk berkata sulit untuk komit, gampang memulai sulit menjaganya. Aku kira kita semua pernah punya pengalaman yang kurang lebih sama, jarang yang tulus, biasanya pasti udang dibalik batu, atau kita juga begitu tanpa disadari??? Tapi bukan berarti nggak ada kan? Selamat menjadi sahabat!
9:04 pm on January 22nd, 2010
@ Yuan: matur tengkiyu. emang susah jadi sahabat. tapi dengan kejadian kayak gini kan malah jadi seleksi alam, mana sahabat yang bener dan yang ga bener. selamat menjadi sahabat juga
2:41 pm on March 19th, 2010
ternyata nyari sahabat yang seJati ntu suSSah bGeud yaa..itu ss hRz dd di Dlam diri kita gmN kita jdShbat yg baIk tuk oRg lain
4:56 pm on March 19th, 2010
@ Ochie: ya bener. emang susah jadi sahabat yang baik. semoga kamu bisa jadi sahabat yang baik ya
8:37 pm on April 20th, 2010
hm..kalo aku liat sech sebenarnya pertengkaran kamu itu gak penting bgt,,maaf lho ya,,kalo aku liat kamu ini type orang tempramental,kurang mempunyai kesabaran,Piss..ne buat kebaikan kamu.kalo kamu muslim tlg kamu liat bentar tauladan yang diberikan para rasul.
8:59 pm on April 20th, 2010
@ Kakka: terima kasih atas sarannya