Satu Tahun Satu Bulan Satu Hari

*Silakan membaca sambil bernyanyi atau berdansa.

Ponsel Riri melantunkan “Ndherek Dewi Maria”. Itu dia! Telepon dari Ray. Hanya telepon dari Ray yang berbunyi begitu. Sambil tetap menatap ke jalan dengan tangan kanan memegang setir, tangan kirinya mengaduk-aduk isi tas. “Duh, di mana sih ponselku!” Ponsel itu tak menggubris gerutu Riri, terus saja melantunkannya.

nDhèrèk Dewi Maria, tamtu geng kang manah.
mBoten yèn kuwatosa, ibu njangkung tansah.
Kanjeng Ratu ing swarga amba sumarah samya.
Sang Dewi, Sang Dewi mangèstonana,
Sang Dewi, Sang Dewi mangèstonana.

Begitu ujung jarinya menyentuh ponsel, langsung diraih dengan asal, membuat tisu, sisir dan beberapa kertas ikut berhamburan ke luar.

“Ya, Mas Ray. Sori lama angkatnya, aku lagi nyupir,” gerutunya berubah menjadi sapaan manja. Laju Morris mini hijaunya melambat.

“Pasti isi tasmu ikut berhamburan?” Ray terkekeh di ujung sana.

“Udah ketawanya?” Riri merajuk manja.

“Hehe… Nduk, sesuk  aku ke Yogya. Surprise!” Nada suara Ray penuh kemenangan.

“Ha?? Jam piro? Kok ndadak? Duh, sesuk kan anak-anak pertunjukan. Aku ndak bisa jemput kamu.” Riri panik campur semangat.

“Lha, ben wae. Wong aku ke sana memang mau ngliatin anak-anakmu tampil kok. Besok kita satu tahun satu bulan satu hari, ingat?”

“Kamu pikir aku lupa? Aku memang pelupa dan ceroboh, tapi yang satu itu mana mungkin aku lupa…”

“Dari San Fransisco kan? Lama ndak di sini?”

“Ho oh. Tapi aku di Yogya cuman dua hari abis itu ke Jakarta tiga hari, ndak apa-apa ya? Arep digawani opo?”

“Cintamu…” Riri ngakak merasa bisa membalas. Skor 1-1.

“Yo wis, kono nyetir sik. Ngko malahan nabrak sapi.” Ray kembali terkekeh.

“Sapimu kuwi barusan lepas, Le.” Riri terbahak makin keras.

“Pasti ketawamu merem… Wis yo, Nduk. See you soon. I lap yu.”

“Lap yu tu, Le.”

Ray, laki-laki yang menemani hari-hari Riri selama setahun ini tidak luntur medhok Jawanya meskipun sudah lima tahun di San Fransisco. Ray memang asli Yogya, ibunya masih tinggal di sini. Sudah lima tahun Ray dipindahtugaskan ke San Fransisco, pusat biro iklan yang dikelolanya berada.

Begitu antiknya hubungan Ray dan Riri hingga bentuk kemesraan pun hanya mereka yang mengerti. Sementara orang memanggil dengan kata “Sayang”, mereka justru memanggil dengan “Genduk” dan “Tholè”, sapaan untuk anak perempuan dan laki-laki.

Pikiran Riri melayang-layang tak tentu. Kecemasan menjelang pertunjukan besok terkikis dengan kebahagiaannya. Sesampainya di studio, fokusnya mulai kabur. Detail yang harus disiapkan untuk besok berusaha keras diamatinya. Gladi resik sudah. Mendata alat musik dan kostum juga sudah. Sepertinya semua sudah siap. Anak-anak berusia 5-15 tahun itu kebingungan melihat Mbak Ririnya tidak galak seperti biasa.

Konser kelompok musik anak-anak itu rutin digelar Riri tiap tahun di studionya. Riri ingin agar anak-anak itu kembali mencintai musik tradisional terutama perkusi. Semua alat perkusi seperti kendhang, djembe sampai gamelan digabung jadi satu untuk menghasilkan lagu-lagu yang lebih meng-Indonesia.

“Adik-adik, besok jam 12 siang sudah ada di sini ya. Makan siang dulu, terus siap-siap. Jam 16.00 kita mulai pertunjukannya. Bagi yang baru pertama kali pertunjukan, santai saja. Anggap seperti latihan. Yang penting, bermainlah dengan hati. Ya?”

“Ya, Mbaak…” Anak-anak itu riang sekali  menyambut pertunjukan besok sore.

Selesai anak-anak bubar, Riri melakukan rapat kecil dengan timnya. “Semua beres ya? Rundown acara, MC, tata lampu, tata rias dan kostum, sie properti? Apa lagi ya? Manajer panggung,  gimana? Ada masalah?”

“Ndak ada, Mbak. Semua beres. Nanti malam backdrop dipasang sekalian ngecek lampu dan sound system. Kemarin lampunya ada yang putus tapi sudah diganti.” Pemuda tanggung berambut gondrong itu memberi laporan.

“Oke, nanti malam kita kumpul di sini lagi. Sekarang semua istirahat dulu. Jangan lupa besok anak-anak dikasih makan siang. Nasi ayam kremes aja yang gampang. Aku naik dulu ya.” Riri naik ke rumahnya di lantai dua. Malam nanti ia harus kembali ke studio. Persiapan yang memakan waktu sebulan lebih membuatnya kurang tidur.

***

Ray membereskan meja kerjanya. Koper dan segala perlengkapannya selama bepergian sudah siap di apartemen. Masih ada waktu untuk berjalan-jalan, pikir  Ray.

Ray mengendarai Ford Mustang merahnya menuju Jembatan Golden Gate. Menikmati matahari terbenam  di jembatan raksasa itu sambil melamun. Ray memarkir mobil di sebuah bukit kecil, tempat favorit untuk menikmati Golden Gate dengan taburan lampunya. Dimatikannya mesin mobil. Ray mengambil laptop-nya. Siapa tahu Riri sedang online. Beberapa menit menunggu, Riri tak juga muncul. Ray menutup lagi laptop-nya.

Hhh… Helaan napas Ray terasa berat. Kangennya pada Riri sudah membuncah, tak sabar menunggu pesawat yang akan membawanya ke Indonesia dalam hitungan jam. Ray mengambil gitarnya di jok belakang dan turun dari mobil untuk meluruskan punggung. Duduk di atas kap mobillnya, memetik gitar pelan-pelan. Memutuskan lagu apa yang hendak dinyanyikannya untuk melepas rindu yang menyesakkan dada. Beberapa nada dimainkan dengan asal. Memandang teluk San Fransisco yang berkelap-kelip memantulkan lampu Jembatan Golden Gate, Ray ingat sebuah lagu, “Lucky”.

Serta-merta bayangan Riri dan anak-anak sekolah musiknya melintas di benak Ray, mengalahkan indahnya pemandangan yang sejak tadi dinikmatinya. Ray memilih untuk memetik gitarnya dengan mata terpejam. Membiarkan semua angannya terbang jauh ke Yogya. Menghadirkan seluruh detil Riri dengan studionya. Menenggelamkan diri dalam mimpi. Bersama Riri dan anak-anak dengan tetabuhan kendhang, beberapa teman lain berdansa berpasangan.

Do you hear me
I’m talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I’m trying
Boy I hear you in my dreams
I feel your whisper across the sea
I keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard
I’m lucky I’m in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again

***

Hari pertunjukan tiba. Semalam setelah lembur membantu timnya mendekorasi studio.  Riri “membubarkan” timnya jam 12 malam supaya cukup istirahat. Pagi ini bangun tidurnya ceria sekali, Riri bermimpi tentang Ray, menyanyikan “Lucky” dan berdansa bersama anak-anak di bukit kecil tempat mereka duduk menikmati Golden Gate di malam hari.

Riri mandi sambil bernyanyi  “Srengenge Nyunar” dengan riang dan bersiap kembali ke studio.

Srengenge nyunar kanthi mulyo
Angine midid klawan rena
Manuk’e ngoceh ono ing wit-witan
Kewane nyrenggut ono ing pasuketan
Kabeh podho muji Allah kang mulyo
Kabeh podho muji Allah kang mulyo

Tak terasa hari makin siang. Riri bolak-balik melirik jam tangan pemberian Ray setahun lalu menjelang keberangkatannya kembali ke San Fransisco. Jam tangan minimalis dengan rantai hitam doft dengan dasar jam berwarna putih. Gerakan jarumnya lembut, tidak berbunyi tik-tok. Sesekali diusapnya jam itu seakan mengusap punggung tangan Ray.

Riri biasanya jarang mengalungkan ponselnya. Kali ini luar biasa. Ponselnya dikalungkan jaga-jaga kalau Ray telepon. Untuk terakhir kalinya, anak-anak mencoba posisi di panggung agar tersorot lampu. Tiba-tiba ponselnya melantunkan lagi “Ndherek Dewi Maria”. Secepat kilat disambarnya, “Ya Mas…”

“Nduk, aku baru sampai di Cengkareng. Sebentar lagi naik pesawat ke Yogya. Sabar ya. Mudah-mudahan aku ndak ketinggalan pertunjukanmu.”

“Ndak apa-apa, Le. Terlambat juga ndak apa-apa. Sing ati-ati aja kamu.”

“Kamu sibuk ya? Ribut bener di situ.”

“Isih jadi mandor. Anak-anak lagi nyobain posisi sama lampu.”

“Wis yo. Duh, ndak sabar nih ketemu kamu.”

“Ati-ati yo, Le.”

“Daa..”

Pertunjukan akan dimulai dalam hitungan menit. Ray belum juga memberi kabar. Profil ponselnya disetel “meneng” (baca: diam). Beberapa menit lagi Riri harus memberi kata sambutan sebagai pemilik sekolah musik anak-anak itu.

Riri memberi sepatah-dua patah kata dengan spontan. Selama tiga tahun, belum sekalipun Riri memberi sambutan dengan teks. Sambutan Riri khas, membuat orang yang mendengarkan tersenyum karena sering diselingi lelucon ringan. Tepuk tangan penonton bergemuruh. Riri turun dari panggung.  Kini waktunya bagi anak-anak sekolah musik menunjukkan kebolehannya. Sesampai di balik layar langsung dilirik ponselnya. Tidak ada miscall. Beberapa lagu mulai dimainkan anak-anak. Pikirannya bercabang. Riri gelisah di tempat duduknya.

Menjelang lagu terakhir, kesempatan di mana Riri selalu ikut bermain bersama anak-anak. Kali ini lagu yang dibawakan “Padang Bulan”. Riri naik ke panggung menghampiri kendhangnya.  Berusaha keras mengumpulkan lagi konsentrasinya yang berceceran. Ray, di mana kamu…? Dengan penuh percaya diri bunyi pertama kendhangnya langsung “memimpin” barisan musik anak-anak itu.

Yo prakonco dolanan ning njobo
Padang bulan padange kaya rina
Rembulane e wis awe awe
Ngelingake ojo turu sore sore…
Yo prokonco yo podho mreneo
Rame rame ing kene suko suko
Langite padang sumebyar lintang
Yo podho dolanan sinambi cangkriman

Usai lagu, penonton bertepuk tangan riuh-rendah. Riri memberi aba-aba salam membungkuk pada anak-anak. Begitu tubuhnya tegak, dilihatnya Ray di barisan paling belakang bertepuk tangan dengan sangat keras sambil berdiri diiringi siulan. Kontan saja membuat penonton lain juga ikut-ikutan. Anak-anak yang mengenali Ray berjingkrak-jingkrak di panggung. Riri tersipu malu. Pipinya merona. Terselamatkan oleh lampu yang meredup lalu mati bersamaan dengan tirai yang menutup. Begitu hilang dari pandangan penonton, Riri menyempatkan diri memberi pelukan kepada setiap anak.

“Aku kebagian dipeluk ndak, Mbak?” Ray berdiri dengan gaya jenaka. Matanya mengerjap-ngerjap, punggung tangannya mengusap-usap hidung. Kaca matanya melorot sedikit.

“Waahh… Mas Ray datang!!” Anak-anak keburu berebut memeluk Ray. Setiap Ray pulang ke Yogya, selalu mampir ke studio Riri untuk sekadar melakukan trik sulap konyol atau melawak. Tentu saja dikangeni anak-anak. Riri antri menanti gilirannya memeluk Ray.

“Sudah dulu, gantian Mbak Riri pingin dipeluk juga tuh…” Anak-anak tertawa riang sambil berlalu menuju orang tua masing-masing yang juga sudah menanti di belakang panggung.

Ray menghampiri Riri lambat-lambat. Ray mengamati kekasihnya. Rambut yang selalu disisir sekadarnya, wajah Riri hanya dihiasi lipstik tipis berwarna oranye, blus batik kuning gading, kalung perak bakar berbandul killer whale, jins coklat kesayangan yang mulai belel,  sandal teplek berhiaskan perak bakar. Sempurna!

Dikecupnya kening perempuan tomboy itu. “Apa kabar, Nduk?”Lengan Ray merengkuh Riri.

“Kangen, Le…” Rasanya Riri enggan melepas pelukannya.

Ray mencium aroma rambut Riri. Aroma yang membuatnya selalu kangen. “Aku ndak bisa napas, Nduk. Pelukanmu kekencengen…” Ray terkekeh.

“Selamat  satu tahun satu bulan satu hari ya, Nduk.” Mata Riri berbinar. “Hadiahnya nanti aja ya…” Ray memainkan matanya. Riri senyum-senyum sumringah.

“Wis kono urus anak-anakmu sik. Dak ngobrol sama yang lain juga. Abis ini kita makan ya? Berdua boleh?”

“Temen-temenku…” Riri bimbang. Riri selalu mengajak makan malam seusai pertunjukan sebagai apresiasi pada kerja keras mereka. Biar saja panggung dibongkar besok.

“Abis itu maksudku.”

“Ooohh… Ya ya.” Riri tersenyum lebar, melangkah ke kerumunan anak murid dan orang tuanya.

***

“Naik motor atau mobil?” Tanya Riri.

“Naik motor aja ya.” Ray mengambil helm.

“Boleh.” Riri memberi kode agar semua teman-temannya berangkat ke kedai Bakmi Jawa langganan.

Di kedai itu Riri sengaja tidak makan banyak. Setelah dirasa cukup melepas penat dan ketegangan, Riri memberi kode pada Ray untuk beranjak. Mereka pamit pada teman-teman Riri.

“Mau makan di mana, Le?”

“Ke Kaliurang aja yuk. Tempat kita kencan dulu.” Riri dan Ray menuju tempat parkir, meninggalkan teman-teman Riri yang masih kongkow-kongkow di kedai Bakmi Jawa itu.

Mereka mengendarai motor bebek Riri menuju Kaliurang. Udara dingin menjadi alasan bagi Riri untuk memeluk Ray lebih erat.

Sampai di Warung Yu Ani, seperti biasa mereka disambut Mas Budi, anak Yu Ani pengelola Warung. Warung itu sederhana dengan banyak ukiran Jepara di sana-sini. Depan pintu masuk dipajang sebuah sepeda kayu tua yang sudah tidak dipakai lagi. Sepeda itu masih mulus terawat. Di pintu masuk bagian dalam terdapat seperangkat gamelan sederhana yang dipakai nembang untuk menyambut tamu. Gending yang dimainkan menciptakan suasana romantisme khas Jawa. Berbagai merek kecap asli lokal ditata rapi dan diberi label sesuai asalnya. Di dekat jajaran botol kecap dengan merek yang asing di telinga orang kota, berderet berbagai merek rokok kretek. Baik kecap maupun rokok kretek itu tidak dijual, meskipun Warung Yu Ani menjual beberapa merek rokok kretek lokal. Di bagian tengah Warung ada beberapa mainan anak-anak seperti congklak, gasing, bekel, mobil-mobilan dari kulit jeruk Bali, topeng, kuda lumping, dan lainnya.

Mereka bercakap sejenak dengan Mas Budi. Mas Budi mengantar mereka ke meja tempat mereka biasa duduk, dekat tempat mainan itu. Tidak terlalu jauh tapi cukup untuk mengamati tingkah polah anak-anak kecil yang asyik bermain. Gending “Jenang Gulo” terdengar syahdu.

jenang gulo
kowe ojo lali
maring aku iki to kang mas
nalikane nyandang susah sopo sing ngancani

Riri memesan kopi jahe, kopi susu dan tempe goreng.  Sambil menunggu pesanan datang, Ray mengeluarkan hadiahnya.

“Matamu tutup dulu, Nduk.” Riri menutup matanya.

“Jangan ngintip! Tutupi pakai tangan.” Riri cengengesan. Ray tahu betul Riri akan ngintip.

“Buka matamu.”

Riri bingung. Apa ya isinya? Dibukanya kertas coklat pembungkus. Di dalamnya ada tas mirip tas laptop. Tas berbahan beludru berwarna hitam pekat. Mirip tas laptop ya?Dibukanya lagi tas beludru itu. Di dalamnya sebuah laptop bergambar buah apel tergigit dengan lapisan titanium hitam mengkilat. Riri membuka laptop-nya. Laptop idamannya, dengan fitur tercanggih yang mampu membantunya mengaransemen lagu. Berlapis titanium pula!

Riri melonjak memeluk Ray. Berulang-ulang mengecup pipi Ray bergantian. “Makasih ya, Le. Dapat dari mana? Emang ada yang berlapis titanium begini?”

“Ada, hanya terbatas sekali. Kemarin, Apple  ingin membuat kampanye iklan. Mereka senang dengan ideku, lalu memberinya satu. Khusus untukmu.”

“Mana mungkin untukku, mereka kan ndak kenal aku.”

“Aku bilang, ada seorang perempuan berbakat yang memajukan musik tradisional Indonesia. Dia tinggal di Yogya. Dia tidak punya laptop untuk mengaransemen musiknya. Makanya dikasih lah untukmu.”

“Huu… ngarang!” Riri memonyongkan mulutnya.

“Setengah. Tapi aku memang mengajukan musikmu ke kantorku supaya bisa go international. Rasanya Apple sudah kepincut waktu aku dengarkan musikmu.”

“Yang mana?”

“Semuanya. Kamu pikir kiriman lagu-lagumu lewat imel hanya terdampar di komputerku begitu saja? Buatku itu demo musik yang layak jual.”

Riri diam. Pura-pura sibuk mempelajari kemampuan laptop barunya.

“Kowe kenapa, Nduk? Meditasi jangan di sini. Mosok aku dianggurin…” Ray membetulkan posisi duduknya.

“Le, sampai kapan kita begini ya?” Riri menerawang.

Ray menghela napas, berat.

“Aku lagi ingat setahun kemarin, Le.” Riri menerawang ke langit cerah berbintang. Rembulan bulat penuh berwarna merah jambu. Tak ada awan sedikitpun.

Di tempat itu setahun kemarin, pertama kalinya Ray mencium Riri. Tanda jadi mereka pacaran? Entahlah.

“Bulan purnama, mating season…” Ray menggoda.

“Emangnya aku satwa? Kawin kok pakai musim…” Tak pelak Riri tersenyum lagi.

“Kamu tau ndak, waktu kopiku tumpah itu panas bener lho!” Ray berusaha menetralisir Riri yang mulai mengharu biru. Ray paling tidak kuat melihat Riri menitikkan air mata.

Riri tersenyum. “Iya lah, makanya ndak langsung dak minum. Kenapa kopimu bisa tumpah?”

“Grogi. Namanya juga kencan pertama.” Ray tersenyum jenaka menunjukkan giginya yang besar-besar. Riri tersenyum simpul.

“Aku bahkan ndak sempat nyicipi kopi jahemu.”

“Sepuluh  tahun kita bersahabat, baru malam itu aku sungguh mengenalmu. Boleh merasakan sisi lembut hatimu.”

Lama mereka terdiam. Menikmati saat-saat tanpa kata dengan kopi tubruk dan camilan hangatnya. Mengenang setahun kemarin yang tak pernah pupus.

***

Setahun lalu.

Malam itu Ray memberanikan diri untuk mengajak Riri kencan. Bedanya, malam itu adalah beberapa hari sebelum konser sekolah musik Riri. Ray memang sering bolak-balik San Fransisco-Yogya. Setiap ada kesempatan ke Jakarta, pasti mampir ke Yogya meskipun hanya satu hari. Malam itu jadi salah satu kunjungan “rutin” Ray.

Biasanya mereka ngopi di angkringan dekat UGM. Entah kenapa tumben Ray ngajak ke Kaliurang. Selama perjalanan ke Warung Yu Ani, mereka sedikit “jinak”. Tawa menggelegar nyaris tidak terdengar. Sama-sama sibuk menutupi perasaan yang menggelora.

Dengan kikuk mereka duduk di kursi dekat tempat mainan anak-anak itu. Memesan kopi jahe, kopi susu, dan tempe goreng. Ray mengamati Riri dengan seksama seakan ingin mengukir segala detil rupa Riri di benaknya. Riri lebih suka memainkan kopi susunya.

Ray menyentuh tangan Riri. Lembut. Riri tak kuasa menolak. Dipasrahkan tangannya diremas Ray. Hangat. Sesekali Riri mencuri pandang ke arah Ray dan membuat Ray makin grogi. Nyanyian tokek dan belalang mengiringi pautan dua tangan itu.

“Nduk…” Itu pertama kalinya Ray memanggilnya “Genduk”.

“Ya, Le…” Riri tak mampu mencari padanan kata lain selain “Tholè”.

“Aku sayang kamu.” Ray menatap Riri lekat.

“Ya, aku tau. Aku juga sayang kamu.” Riri tak mampu membalas tatapan Ray.

“Nduk, liat aku. Liat mataku…” Ray memohon. Riri menatap mata Ray. Baru ini Riri tahu mata Ray bukan hitam tapi coklat tua.

“Riri, Aku sayang kamu.”

“Aku juga sayang kamu, Mas Ray…”

“Jangan pernah tinggalin aku. Kamu mau kan, temenin aku sepanjang hidupku?” Ray nyaris berbisik.

Rasanya Riri ingin segera pergi dari tempat itu menutupi segala kacau-balau perasaannya. Beberapa jenak Riri terdiam. Tatapannya masih tetap jauh ke dalam mata Ray. “Dengan satu syarat, Mas Ray…”

“Apa? Apa?” Ray tidak sabar. Apa ada yang salah dalam diriku selama ini?

“Jangan pernah tinggalin aku selama hayatku, ya…”

Untuk pertama kalinya Ray mengecup bibir Riri. Lekat. Hangat. Basah.

Tak perlu berpanjang-lebar ungkapan kejujuran sebuah hati. Persahabatan selama sepuluh tahun dengan segala warna-warninya sudah cukup bagi mereka untuk saling memahami lahir-batin.

Ray mengambil gitarnya, menyanyikan “I’m Yours”.

Well open up your mind and see like me
Open up your plans and damn you’re free
Look into your heart and you’ll find love love love love
Listen to the music of the moment babay sing with me
I love peace for melody
And It’s our God-forsaken right to be loved love loved love loved

So I won’t hesitate no more, no more
It cannot wait I’m sure
There’s no need to complicate
Our time is short
This is our fate, I’m yours

***

“Le…”

“Ya, Nduk.” Ray mendekatkan wajahnya pada Riri.

“Aku sering tergoda untuk kita bisa lebih jauh…” Riri tertunduk. Dalam.

Ray menghela napas beratnya, lagi. Memilih kata-kata yang tepat agar bendungan air mata Riri tidak jebol. “Katamu ndak mungkin…?”

“Memang ndak mungkin… Kadang berharap ada keajaiban yang bisa mengubah itu, Rayhan…” Betul saja, kata-kata apapun tak mampu menahan bendungan air mata Riri. Rembesan air mata itu mulai terlihat.

Rayhan, seorang duda beranak tiga yang sudah bercerai dengan istrinya lima tahun lalu. Itu sebabnya ia pindah ke San Fransisco. Anak dan mantan istrinya sudah menikah lagi dan masih tetap di Jakarta.

Riri, ibu beranak dua yang sudah pisah dengan suaminya tiga tahun silam memilih untuk membawa kedua anaknya pindah ke Yogya. Mencari suasana yang lebih santai agar kondisinya sebagai orang tua tunggal tidak dijadikan pembenaran atas semua kesibukannya. Suami Riri juga tetap di Jakarta.

“Riri, kamu masih cinta sama suamimu?” Ah… kenapa aku harus menanyakan itu? Pertanyaan bodoh!

“Mas Ray, menurutmu, kenapa aku sampai pindah ke Yogya? Karena aku tidak sanggup lagi jadi istri yang baik untuknya. Dengan segala kondisi yang kualami, aku makin kehilangan diriku. Tiga tahun di Yogya cukup untuk mengumpulkan seluruh diriku utuh lagi. Membuat anak-anakku ceria lagi. Kamu ndak liat kan betapa mengenaskannya mereka melihat Ibunya menangis diam-diam hampir tiap malam?”

Riri mulai menangis.

“Aku hanya ingin menemukan diriku lagi dan itu tidak mungkin bersamanya. Dia suami yang baik. Sangat baik, tapi bukan untuk aku.”

Ray memainkan cangkir kopi. Menyeruputnya sedikit.

“Meskipun aku bisa cerai secara hukum negara, tapi di gereja Katolik tidak dikenal kata cerai. Kamu tau itu kan? Percuma aku resmi menyandang status janda, aku tidak akan bisa menikah lagi.” Riri terisak. Napasnya tak beraturan. Dengan susah payah dicobanya untuk menarik napas panjang.

“Aku menghargai prinsipmu untuk tetap pada keyakinanmu. Makanya aku ndak pernah ngajak kamu nikah di KUA…” Ugh! Kenapa kalimat itu yang terlontar? Aku sangat ingin menikahimu, di manapun itu!

“Dan pernikahan kedua di gereja Katolik tidak sah karena aku bukan cerai mati. Papanya anak-anak kan masih ada…” Riri tercekat. Buru-buru meneguk kopinya dengan asal.

Ray menata gejolak di dadanya. “Anak-anak bagaimana?”

“Sesekali ikut Papa mereka ke Jakarta kalau akhir pekan panjang.”

“Aku kangen mereka. Terakhir aku ketemu waktu kamu pindah ke sini, anakmu yang kecil baru saja masuk SD. Hm… Sudah lama ya.  Memandangi foto mereka di blogmu sudah lebih dari cukup buatku. Cerita-ceritamu tentang mereka menghiburku seakan aku ada di situ. Bercakap-cakap lewat webcam sudah menjadi pelipur laraku. Melihat mereka ikut pertunjukan tadi menyita seluruh perhatianku. Mereka sangat “kamu”, tau kan? Kamu pikir, aku ndak pingin punya anak hasil daging kita?”

Ganti Riri yang menghela napas beratnya. Ya, aku bisa merasakan itu…

“Nduk, kamu boleh ndak percaya, tapi aku sudah “menikahi” hatimu sejak malam itu. Kamu kuanggap istriku. Ingat waktu aku minta kamu tatap aku sambil menyatakan rasa sayangmu? Detik itu, tanpa kamu sadari, hati kita dinikahkan oleh rasa.”

“Le, sejak perpisahanku, aku ndak pernah jatuh cinta lagi sama orang lain. Sepertinya ndak ada laki-laki yang bermutu. Entah kenapa, aku bisa luluh sama kamu.”

“Nduk, aku cukup bahagia dengan keadaan sekarang. Cukup kita aja yang tau, atau kamu butuh pengakuan orang lain? Butuh segala macam predikat itu?”

“Ndak, Le. Cukup kita aja yang tau. Meskipun kita tidak ke mana-mana…” Jalinan kasih kita tidak bisa ke mana-mana, tidak maju dan aku tidak ingin mundur.

“Kita memang tidak ke mana-mana, karena kita selalu di sini,” diraihnya tangan Riri dan didekapkan ke dadanya. “Kamu bisa terbang ke mana saja kamu suka dengan sejuta impianmu. Aku yakin pasti kamu akan pulang ke “rumah” kita. Di sini.” Tangan Riri masih di dekapan dada Ray. Kali ini Ray mendekapkan tangannya ke dada Riri.

“Rumah kita, jauh di dalam hati. Kamu bisa menatanya sesuka hatimu. Bahkan kita tidak perlu berdebat soal segala macam perabotan rumah tangga, pemilihan warna, pengaturan letak furnitur. Kamu juga ndak perlu kuatir akan kehilangan kunci rumah…”

Tak pelak, Riri kembali tersenyum. Kali ini, penuh bahagia.

“Ini malam satu tahun satu bulan satu hari kita, jangan dirusak ya?” Ray mengusap air mata Riri. Menghapusnya.

“Mau berdansa, Nyonya?” Riri mengangguk pasti. Ray bernyanyi “I Will” lembut di telinga Riri.

Who knows how long I’ve loved you
Do you know I love you still
Will I wait a lonely lifetime
If you want me to, I will.

If I ever saw you
I didn’t catch your name
But it never really mattered
I will always feel the same.

Love you forever and forever
Love you with all my heart
Love you whenever we’re together
Love you when we’re apart.

And when at last I find you
Your song will fill the air
Sing it loud so I can hear you
Make it easy to be near you
For the things you do endear you to me
Oh, you know, I will
I will

*Untuk (Alm.) Nieke Lisnafiari Putri (Riri). Fiksi pertama setelah 14 tahun. Silakan bernyanyi sambil membaca. Inspirasinya dari lagu “I Will” The Beatles  yang sering didengarkan Si Sulung dari ponselku dan sering mengagetkan karena kukira ada telepon masuk. Semua lagu yang ada di cerita ini menjadi ringtone di ponselku. Sangat menguras tenaga. Entah apakah masih sanggup membuat fiksi lainnya. Selengkapnya baca Di Balik “Satu Tahun Satu Bulan Satu Hari”.

Tertarik dengan yang ini?

Tags: ,

This entry was posted on Wednesday, September 9th, 2009 at 9:09 am and is filed under Satu Tahun Satu Bulan Satu Hari. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

22 Responses to “Satu Tahun Satu Bulan Satu Hari”

  1. fekhi
    8:04 pm on September 9th, 2009

    Entah apakah masih sanggup membuat fiksi lainnya.
    Ya kalau ada kisah dramatis lagi, harusnya bisa dong, Lin :)
    Lebih menguras tenaga lagi pastinya hehehe…

    Kerennnnnnnnnnnnnnn :)

  2. Lini
    8:09 pm on September 9th, 2009

    whoaaa…
    Femiii…
    ga tau dyeh
    kayaknya lebih gampang nulis yg biasa gw tulis itu
    ;-p

    tengkiyuu Feemm…
    muah muah muah

  3. Angel Li
    8:58 am on September 10th, 2009

    Bagus, Lin. Beneran… Like it! Suasana Jogya-nya kerasa banget :-)

  4. dito
    9:36 am on September 10th, 2009

    Mbak Lini bisa nulis fiksi juga tho?
    Bagus Mbak..
    Dengan sedikit editing, mungkin bisa dikirim ke majalah Hidup? Hehehe….

  5. Lini
    9:57 am on September 10th, 2009

    @ Angel: thx Ngel, kerja keras, nguras seluruh isi otak hehehe
    @ Dito: thx Dit, gitu ya? :D

  6. Martina
    10:44 am on September 10th, 2009

    Lini….jadi ingat Jogya dan segala kenangan manisnya…..hiks….hiks……! Biarpun gak hepi ending tapi jd lebih nyadar bahwa cinta tidak harus memiliki….!

  7. Imelda
    10:53 am on September 10th, 2009

    Kalo lebih panjang dikit lagi aja ceritanya, pasti semaput akunya. Kelamaan tahan nafas hehe … really nice story …

  8. San San
    11:06 am on September 10th, 2009

    Gila Lin, keren abisssss, wahhhh aku harus belajar banyak banget sebelum bisa bikin tulisan kaya gini. Alur cerita, penokohan, setting, sampe detilnya bener-bener mulus. Jadiin novel Lin? ;)

  9. Tjahyana R
    11:33 am on September 10th, 2009

    hebat, asyik bacanya

  10. Leonardus
    11:54 am on September 10th, 2009

    Lini, bagus ekali tulisanmu.
    Aku dulu waktu masih muda juga sering nulis nulis gitu, tapi sekrang rasanya sudah gak bisa , kenapa ya? Mungkin kemampuan menulisku sudah padam.

  11. Leonardus
    11:54 am on September 10th, 2009

    Lini, bagus sekali tulisanmu.
    Aku dulu waktu masih muda juga sering nulis nulis gitu, tapi sekrang rasanya sudah gak bisa , kenapa ya? Mungkin kemampuan menulisku sudah padam.

  12. frans
    1:03 pm on September 10th, 2009

    bagus. saya suka ceritanya. romantis. hi hi hi

  13. Lini
    2:23 pm on September 10th, 2009

    lagunya udah ditambahin 1, “Jenang Gulo”
    mp3-nya juga udah dipasang, biar bisa sambil nyanyi
    :)

  14. Di Balik “Satu Tahun Satu Bulan Satu Hari”
    2:42 pm on September 10th, 2009

    [...] deskripsi dan konflik. Bisa-bisa jadi novel sendiri nih. Sejauh ini, aku sangat puas dengan fiksi “Satu Tahun Satu Bulan Satu Hari” meskipun gatal untuk mengembangkannya [...]

  15. Lini
    4:09 pm on September 10th, 2009

    @ Tina: serasa aku tinggal di Yogya ya? hiks hiks juga
    @ Imelda: jangan semaput dulu, Bu Dokter :D
    @ San San: hiyaa… kerja keras meras otak biar bisa detil
    @ Tjahyana: tengkiyu…
    @ Leonardus: tengkiyu. klo dilatih juga bisa lagi kok :)
    @ Frans: hihi *merona*

  16. Maria
    2:03 pm on September 15th, 2009

    aku kok terharu banget yaa….hik hik..
    Boleh dicopy ga sih??pengen share ke temen-temen

  17. Lini
    2:41 pm on September 15th, 2009

    Maria,
    boleh aja, jangan lupa sumbernya :)

  18. dhie
    4:23 pm on September 17th, 2009

    yea… i like that…

  19. Dewi Febrina
    7:08 am on September 18th, 2009

    Keren Lin..very inspiring..
    Kapan ya aku bs nulis jg seperti kamu.. ^_^

  20. Lini
    11:38 am on September 18th, 2009

    @ Dhie: matur tengkiyu
    @ Dewi: ayo ngumpul di Yuk Nulis! kita sama2 belajar. ditunggu ya di http://www.YukNulis.com :)

  21. Pavo
    8:27 pm on September 20th, 2009

    Sangat menyentuh, amat mirip dengan kenyataan di sekitar kita….
    thanx ya…

  22. Lini
    4:16 pm on September 21st, 2009

    @ Pavo: matur tengkiyu ya :)

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>