Seleb or not Seleb?
Banyak orang bilang “seleb”, tapi aku gak yakin mereka paham bener apa sih terminologi “seleb” itu tadi. Seleb atau selebriti kan asalnya dari celebrity dan celebrate. Perayaan. Pesta. Jadi seleb sebenarnya adalah orang-orang yang senang berpesta. Justru sebenarnya, bukan artis sekalipun kalau senang pesta harusnya ya disebut seleb juga. Ini justru asal populer disebut seleb.
Yang jelas, sejak aku jadi “seleb” – eh, populer, ah apalah! – aku kangen untuk jadi aku yg dulu. Yang bebas bergaya apa aja, yang bebas berpendapat apa aja. Tanpa segala embel-embel. Yang udah tahu seleraku, udah tahu seluruh napasku. Tahu semua minusnya aku: jorok, males, ngomong spontan dan asal. Aku bisa jadi diri aku seutuhnya di depan mereka.
Kenapa sejak orang diberi predikat tertentu lalu masyarakat jadi berharap macam-macam atas pribadi orang itu? Mulai mengomentari kenapa aku penulis tapi kok gak berpembawaan setenang Mario Teguh, kenapa aku lebih seneng pake kaos dan sneakers. Teman lamaku gak akan protes, karena mereka tahu hidupku. Aku gak akan hidup tanpa kaos, jins dan sneakers, terutama kalung coker (bertali hitam) yang terus berganti bandul karena makin usang.
Beda kalo orang diharapkan berbuat sesuatu yang berguna sejak menyandang predikat tertentu. Itu kan masalah tindakan. Ketika Obama dilantik jadi Presiden Amerika, hari pertamanya menjabat langsung ditagih janji-janjinya.
Tapi ini kan masalah kepribadian: cara bersikap, pola pikir, gaya pakaian, gaya bicara. Ini bahkan bukan masalah sopan santun ato etika, apalagi masalah pelanggaran hukum. Jangan-jangan nanti seperti materi dalam infotainment: selera makan dikomentari, cara makan dikomentari. Lama-lama cara mandi pun dikomentari!
Beberapa hari lalu, sobatku yang presenter kondang baru ngeluh karena kaca mata barunya dikritik produsernya. Padahal milih frame-nya aja computerized. Canggih amat! Dan nyatanya di layar tivi memang tetap terlihat ganteng kok. Dan yang penting, dia terlihat nyaman dengan penampilannya.
Kemarin, sobatku yang seorang romo juga dikritik umatnya gara-gara ikut main facebook. Nah, ini apa lagi? Emangnya romo ga boleh main facebook? Suruh kuper terus? Malah canggih banyak romo yang kutemui di facebook. Mewartakan lewat dunia maya. Bagus kan? Aku baru baca bahwa psan Bapa Suci Benediktus XVI menyinggung soal pewartaan di dunia maya. Cocok dong?
Aku dianggap “tidak pantas” pakai kostum kebesaran kalau lagi ngasong buku. Terlihat seperti anak muda, apalagi pembawaanku yang “cuwawakan” (gak bisa diam). Gak heran kalau pembeli selalu kaget, “Ini penulisnya?” Wah, pasti jauh dari harapan nih! Asal jangan sampai ada yang komentar, “Jaim (jaga imej) sedikit dong…” Kalau komen yang ini sudah pasti jawabannya, “Suka-suka gue. Gue nyaman begini kok! Dan gue berkarya lagi.”
Begini salah, begitu salah. Duh, capek deeehh…! Mau ngempanin ego orang banyak? Nurutin semua harapan orang? Ih, ngapain juga! Trus nanti aku gak bisa jadi diri sendiri hanya karena pendapat segelintir orang. Sementara, banyak seleb dadakan yang memanfaatkan popularitas dari gosip negatif tentang dirinya. Selama yang aku lakukan positif tapi menuai kritik, ya biar aja. Ini kan hidupku, bukan hidupnya. Kenapa juga saling mencampuri hidup orang lain? Toh, karya orang lain gak bisa dinilai dari sisi yang kontra aja. Obyektif dong.
Sebenarnya sih berat juga, tapi apa boleh buat, terpaksa aku harus tutup sebelah kupingku. Terlalu banyak kritik yang tidak mendukung dan belum tentu membangun bisa bikin pecah kepala!
Aku ingat cerita katak yang berlomba memanjat pohon. Satu-satunya katak yang berhasil memanjat adalah katak yang tuli! Ya, kadang kita terpaksa harus tutup telinga rapat-rapat supaya tidak mengendurkan semangat yang ada.
Seleb juga kesepian. Sobatku Si Presenter, Si Romo, dan aku, kami kesepian. Tidak mudah jadi orang populer. Capek lho! Harus tampil penuh senyum dalam keadaan apapun. Menyembunyikan perasaan sesungguhnya. Perasaan yang hanya bisa ditunjukkan pada seorang sahabat. Lega rasanya ketika aku bersama Si Presenter atau Si Romo, kami bisa saling menjadi diri sendiri. Lagi jengkel bebas merengut, lagi terlihat bodoh gak takut dianggap gak mutu, lagi senang boleh jingkrak-jingkrak.
Seleb or not seleb, kita semua manusia yang punya isi otak dan isi hati beda-beda. Jadi, tolong, biarkan seleb menjadi diri mereka sendiri…
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Harapan, Ngasong Buku, Sahabat
This entry was posted on Friday, January 30th, 2009 at 7:48 pm and is filed under Seleb or not Seleb. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.








