Semangat Pak Tino Sidin
Bagi mereka yang berusia 30 tahun ke atas pasti ingat sosok Pak Tino Sidin. Bersahaja dengan topi khasnya, berkaca mata besar dengan tangkai plastik hitam, gigi yang tak beraturan menghiasi senyum sumringahnya, berambut ikal, kebapakan sekali. Pak Tino Sidin selalu membawakan acara Gemar Menggambar di TVRI era 1980an.
Satu hal yang tidak bisa dilupakan dari seorang Tino Sidin, beliau selalu mengatakan, “Bagus!” Satu kata sederhana yang dulu tidak bermakna apa-apa ketika aku kecil. Setelah dewasa, baru paham bagaimana rasanya dipuji meskipun karyaku bukan main jeleknya.
Di sekolah Si Sulung, Guru Menggambarnya berbanding terbalik dengan Pak Tino Sidin. Warna harus naturalis sehingga imajinasi anak terhambat. Aku sangat menyayangkan guru seni yang tidak keluar dari kotaknya. Aku bicara tentang imajinasi anak TK dan SD. Jika imajinasi saja dibatasi, bagaimana besar nanti?
Sore tadi, seorang teman di Facebook bertanya, “Apakah semua artikel yang masuk diedit dulu?”
“Tidak. Semua aseli karya penulisnya.”
“Disortir?”
“Nggak. Semua boleh dimuat. Kenapa?”
“Tulisannya relatif rapi, bersih.”
Mungkin maksudnya bersih dari tanda baca yang jorok, maksudnya jelas spasi terletak di mana atau penggunaan huruf kapital yang secara umum baik.
“Menurutmu, itu bakat alam?”
“Iya. Aku gak apa-apain, mereka bisa berkembang sendiri dengan gayanya masing-masing.”
Lalu ia menjelaskan beberapa kekurangan artikel-artikel di Yuk Nulis!.
“Pak, Yuk Nulis! itu seperti TK, bahkan bukan SD. Aku membiarkan para Nuliser bermain sambil belajar menulis. Hal-hal seperti itu bisa dipelajari ketika SD. Anak TK tidak dituntut untuk bisa membaca, menulis dan berhitung, hanya dikenalkan pada konsepnya. Membuat mereka mau menulis dan percaya diri bahwa karyanya bagus saja sudah sulit setengah mati, bagaimana kalau banyak dikritik?”
“Ya, saya paham betul. Ternyata ada komunitas bermutu yang sembunyi.”
“Kami gak sembunyi. Mungkin teman-teman yang belum bergabung yang sembunyi. Justru saya bertanya pada mereka, sembunyi di mana selama ini?”
Dulu.. ketika membangun Yuk Nulis!, aku ragu akan jadi apa nanti. Semua mengalir begitu saja diiringi doa. Tidak pernah sedikitpun para penulis pemula yang kukumpulkan dengan gayanya yang khas akan memiliki fans masing-masing. Dengan komentar dari segelintir orang menyiratkan bahwa tulisan-tulisan di dalamnya berbobot.
Penulisnya atau artikelnya, semua tidak penting bagiku. “Rumah” Yuk Nulis! dengan penghuninya yang seperti murid TK akan tetap begitu, bermain sambil belajar menulis. Tidak ada yang berubah. Semua tetap sama.
Satu hal yang berubah, aku harus lebih menjadi “Pak Tino Sidin” dengan satu kata ajaibnya, “Bagus!”
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Kasih, Motivasi, Yuk Nulis!
This entry was posted on Monday, August 24th, 2009 at 7:20 pm and is filed under Semangat Pak Tino Sidin. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.









8:08 pm on August 24th, 2009
Thank u, Lini…!
Kata ‘Bagus’, sudah menjadi hal yang ajaib juga buat aku, sebagaimana pertemuan dengan Lini en anak2 Yuk Nulis lainnya.
Emang amazing! And bagoesss…:)
8:15 pm on August 24th, 2009
thank you, Fon!
10:59 pm on August 24th, 2009
Ssseeeeennnnnaaaaannnnnggggg dibilang bagus!!
“jadi aku bisa menulis ya bu guru?” *gaya anak TK
mode on*
muach lini . . dan teman2 lainnya.
8:55 am on August 25th, 2009
@ Grace: sudah pandai kok, bagus!
5:35 pm on August 25th, 2009
kan Ibu kost selalu siap ngacungin jempol….
9:12 am on August 26th, 2009
@ Angel: sayang di sini ga ada jempolnya ya
11:58 am on August 26th, 2009
memang kata “bagus” bersama kata “indah”,”pintar” dan “hebat” adalah kata sakti, karena secara tidak sadar tertanam di otak yg dipuji, bisa meningkatkan kepercayaan diri.
kata-kata ini berlawanan dengan “jelek”, “payah”, “bodoh”, “goblok” yang bila dikatakan terus menerus kepada seseorang akan mengurangi kepercayaan diri.
5:21 pm on August 30th, 2009
Dear Lini,
You write something especial for parents and educators. Thank you so much. You spread nice inspiration to all readers. Praise God!
I have wroten something the same as you do. You may compare with this quote:
“Dari sepuluh soal matematika yang diberikan dalam ulangan, seorang siswa hanya berhasil benar satu, sembilan salah. Guru A berkomentar. “Masak dari sepuluh soal kamu salah sembilan. Kamu keterlaluan sekali bodohnya. Dasar otak udang! Seharusnya kamu tidak sekolah di sini. Kamu hanya memalukan guru dan sekolahmu. Kamu anak tidak berguna!” Demikian guru A menanggapi hasil belajar siswa. Berbeda dengan komentar guru B. “Dari sepuluh soal kamu sudah benar satu. Semua dimulai dari angka satu. Besok kamu akan benar dua, dan akhirnya hasilmu akan sempurna. Percayalah, kamu akhirnya akan berhasil. Kapan pun kamu membutuhkan bantuan, bapak siap membantu untuk setiap kemajuanmu, OK? Tuhan selalu memberkati seluruh usahamu.” Demikian tanggapan guru B yang membangkitkan optimisme seorang pelajar yang sedang berusaha menjadi pandai. (Baca: “Aku Jadi Mengerti” dari St. Theresia; “Kelemahlembutan” dari St. Don Bosco)
If you want to read more, you can open “Paroki Facebook Indonesia”.
Lini, may I put your composition in my website?
your regard
Y. Agus H
1:19 am on September 1st, 2009
tdk sengaja, tadi sore habis nulis berita untuk acara news Gerbang Madura’ saya iseng mau buka FB ku. ternyata akunnya gk bisa dibuka. Mungkin ada yg syirik. Aneh, Akhirnya saya add Anny Djati sang Penulis Dilema Perempuan. Tanpa sengaja saya liat perempuan berkacamata yang keliatan energik dan genius..sy add. siapa tau menerima pertemananku. Ya…saya berpikir..syirik orang lain, bisa mengantarkan pertemuan saya dengan seorang jurnalis senior G. Lini Hanafiah. Meski beda agama, saya betah berteman dengan orang yg lebih pinter menghargai nilai-nilai estetika dan kemanusiaan. saya sepakat dengan isi postingan yg tertera di Semangat Pak Tino Sidin…..menulislah ddengan gaya apapun. Karena padan endingnya, kita akan “BAGUS” juga…..! salam hangat…!
9:20 am on September 2nd, 2009
@ Gus: boleh banget pak! dengan senang hati
@ Ferry: terima kasih banyak atas pujiannya. saya merasa tidak layak mendapatkan pujian sedemikian. salam damai,