Stop Media Bullying!

- http://bit.ly/oI8LlL
Saya alumni SMA 6, Mahakam, Jakarta. Saya (pernah jadi) jurnalis, penulis, pengajar lepas, dan mendidik anak saya di rumah bukan di sekolah. Saya orang yang melawan segala macam bullying dan plagiarisme.
Awalnya, saya tidak terlalu mengikuti pemberitaan seputar tawuran siswa SMA 6 dengan wartawan. Lama kelamaan, gatal juga ingin tahu, ada apa sih? Beberapa teman di Blackberry Messenger dan beberapa social media mulai mengganti foto profil dengan logo SMA 6. Rasa penasaran saya mulai mendominasi.
Saya buka situs pencarian. Seperti bisa ditebak, pemberitaan seputar tawuran itu membanjir. Saya buka beberapa situs berita yang menurut saya berkompeten. Hasilnya sungguh menyedihkan. Berita disajikan dengan jorok, berat sebelah, dan dibumbui opini (meskipun implisit).
Saya ingin menulis, entah kenapa saya tidak langsung menulis. Ini bukan kebiasaan saya ketika mulut mercon saya tidak bisa dikendalikan, mungkin karena ada hal yang lebih penting menyita perhatian saya.
Subuh tadi, saya terbangun karena televisi lupa saya matikan. Di situ sedang penayangan ulang News Maker di sebuah stasiun televisi. Saya menyempatkan untuk menyimak sebelum memutuskan untuk mematikannya. Kebetulan sekali, berita tentang tawuran SMA 6 versus wartawan. Di akhir berita itu, lagi-lagi saya serasa ditonjok dengan keras. Ada kalimat yang diucapkan narator yang intinya bahwa tawuran akan jadi tradisi karena dilindungi sekolah dan mempertanyakan apakah tawuran merupakan ekskul (ekstra kurikuler). Bukannya mematikan televisi, saya malah bangun.
Saya buka lagi situs pencarian. Syukurlah, mediasi antara SMA 6 dan wartawan sudah berjalan dengan baik difasilitasi Dewan Pers. Rasa syukur saya terusik ketika mendapati sebuah berita daring yang masih saja berat sebelah (kalau tidak mau disebut provokatif). Di situs berita MetroTVnews.com, kenapa foto yang dipajang bertentangan dengan isi berita? Terpampang dengan jelas adegan saling tunjuk hidung. Tidak sepenuhnya bertentangan karena si penulis MI/IKA seolah tidak ikhlas menerima perdamaian itu. Baca saja paragraf penutupnya, “Sayangnya pihak SMA 6 menegaskan tidak akan menanggapi usaha-usaha untuk membuka kembali tawuran tersebut. Video tersebut tidak akan diproses.” Seseorang jika sudah ikhlas, tidak akan mengungkit lagi sebuah masalah. Jika memang merasa belum tuntas, katakan saja belum. Toh, dalam hal ini individu yang berseteru yang harusnya paling perlu didengarkan.
Dari berbagai pemberitaan tersebut, saya melihat nuansa bullying yang sangat pekat. Diberitakan bahwa wartawan bengep kena bogem siswa SMA 6. Kalau wartawan tidak membalas, masa iya ada juga anak SMA 6 yang ikutan bengep? Ini kan aneh! Jika si A memukul, lalu menurut si B tidak balas memukul, bagaimana si A dapat memar? Memukul diri sendiri?
Mungkin secara kuantitas, hanya sedikit hal-hal yang tidak dimuat di media. Dari sedikit itu, secara kualitas jelas ini mempengaruhi opini publik. Jika keseluruhan cerita dimuat, wartawan bukan tidak mungkin turut dianggap salah di mata publik. Ini merugikan, maka tidak usah dicantumkan.
Ketika sebuah berita yang dianggap layak konsumsi masyarakat disajikan tidak dengan utuh, buat saya ini merupakan arogansi. Orang yang congkak tidak mau mengakui kekurangannya.
Empat belas tahun yang lalu, pertama kali saya terjun ke dunia jurnalistik dan kepenulisan, hal mendasar yang didoktrin pada saya adalah keseimbangan berita. Harus ada opini dari kedua belah pihak dan menyajikan fakta bukan opini. Hal lain yang juga perlu ditaati adalah etika jurnalistik macam etika mencari berita bukan sebagai pencuri.
Saya sangat paham betapa murkanya siswa SMA 6 melihat sekolahnya diinjak oleh seorang wartawan tanpa ijin demi “mendapatkan gambar yang bagus”. Dalam hal ini, Ibu Kadarwati yang notabene alumni juga tentu memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Bagaimana jika rumah wartawan tersebut diperlakukan sama oleh orang lain? Tidak marah? Iris telinga saya!
Menjadi seorang wartawan bukan berarti berhak semena-mena dalam mencari berita bahkan bertingkah seperti pencuri. Ada beberapa cerita tentang oknum wartawan yang bertingkah seperti pencuri. Mentang-mentang wartawan lalu boleh seenaknya? Itu juga termasuk bullying. Ketidakseimbangan berita ini menurut saya melebihi pemberitaan para koruptor yang merugikan seluruh rakyat Indonesia. Oknum tawuran tentu tidak bisa disamakan dengan institusi sebuah sekolah atau seluruh siswa SMA 6, begitu juga seluruh wartawan. Oknum ya tetap oknum, tidak perlu label negatif terhadap profesi atau institusinya.
Media, bisa mencerdaskan kehidupan bangsa, juga bisa membodohi masyarakat. Tergantung bagaimana si penulis dan redaktur yang bertanggung jawab atas pemberitaan itu.
Hentikan media bullying. Hentikan tingkah mentang-mentang wartawan. Mata penamu memang tajam, Kawan. Akan lebih baik kalau tingkah laku dan kualitas beritamu juga mencerminkan itu. Beritakan sesuatu untuk memperbaiki bukan memperkeruh. Jadilah pahlawan seperti jaman ketika bangsa Indonesia melawan penjajahan melalui mata pena, bukan seperti pengecut.
Referensi:
Beberapa artikel yang ditulis oleh siswa/alumni SMA 6
- Indraswari Pangestu: Sulutan Api di Bumi Mahakam
- Rae Hutapea: SMA 6 Vs Wartawan
- Bayu Maitra: Cara ‘Melihat’ Bentrok SMA 6 dan Wartawan
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Etika, Gerundelan, Prihatin
This entry was posted on Saturday, September 24th, 2011 at 8:16 am and is filed under Stop Media Bullying!. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.









8:54 am on September 24th, 2011
sudah di kirim ke redaksi metro Lin?
8:56 am on September 24th, 2011
@anton: belum
10:59 am on September 24th, 2011
tulisan yang cerdas. seperti biasanya. apa kabar non?
9:49 pm on September 24th, 2011
Sebagai outsider, tulisan ini bisa menjadi salah satu yang membantu untuk lebih seimbang. Beri pencerahan agar citra murid tidak selamanya jelek. Selama ini yang selalu dipersalahkan adalah selalu murid. Padahal ini adalah efek dari pepatah guru kencing berdiri murid kencing berlari.
9:15 am on September 25th, 2011
Good Job !
5:42 pm on September 26th, 2011
“…Mata penamu memang tajam, Kawan. Akan lebih baik kalau tingkah laku dan kualitas beritamu juga mencerminkan itu.”
Suka dengan kalimat ini mbak. Pemilik ‘senjata’ sudah semestinya berhati-hati dan bijak dalam menggunakannya.
12:22 am on October 1st, 2011
@ mas Pam: hehe… piye kabare Mas? kangen je
@ mbak Moi: yup! “guru” dalam hal ini juga tidak melulu soal tenaga pengajar di sekolah kok
@ Jonny: tengkiyu om
@ Bayu: makasih Bayu. dalam hal ini, lidah wartawan ga lebih tajam dari mata penanya