Surat untuk Sahabat Pena
Hei…
Butuh waktu beberapa jenak untukku menulis ini untukmu. Aku harus meredakan sesak dan mataku yang basah. Ketika aku menulis ini, pasti kamu sudah terlelap. Mataku masih basah sedikit.
Tiba-tiba saja malam menjelang dini hari ini aku teringat kamu. Tepat beberapa saat sebelum aku tidur. Aku “nonton film” kamu lagi. Biasanya yang muncul hanya adegan kita duduk diam. Hanya diam. Atau, sesekali adegannya adalah kamu berdiri sendirian, terlalu gengsi untuk memanggilku. Aku yang jatuh iba melihatmu nelangsa pol menghampiri dan memelukmu erat sampai kamu menangis. Aku memelukmu terus sampai tangismu berhenti. Juga tanpa kata-kata.
Kali ini lain. Meskipun sama, selalu tidak jelas kita berada di tempat apa. Kali ini, setelah kamu membaca suratku yang terakhir, kamu menanggalkan gengsimu dan datang padaku. Kali ini, kamu bicara. Singkat. Padat. Jelas. Seperti jargon telegram jaman dulu. Kamu hanya bilang, “Kamu betul, aku ODHA.” Kali ini, kamu yang memelukku. Kamu juga menangis. Kali ini tangismu sesenggukan. Rasanya ingin kamu tumpahkan segala bebanmu. Mungkin karena selama ini kamu tidak menemukan manusia yang kamu anggap pantas dan layak untuk mendengar pengakuan ini? Aku gak tahu. Kamu dan Dia yang tahu.
Baru beberapa jam yang lalu, baru saja kita bicara soal royalti buku jika aku mendadak sinting untuk membukukan hidupmu, manusia antah berantah. Kamu minta supaya royalti buku itu disumbangkan ke panti. Kamu tidak spesifik, panti asuhan atau panti jompo? Aku malah menanggapi dengan, “Jangankan royalti buku. Warisan dari Neneknya anak-anakku yang konon akan diberikan aja akan kujadikan wakaf. Nanti kubuat panti khusus untuk mengenangmu.”
Pembicaraan itu hanya berawal dari sepetik kalimatku, “Aku tidak akan bilang kamu orang baik karena aku akan jadi orang ke-1016 yang mengatakan itu. Aku akan bilang jika kamu pergi ke Surga nanti, lingkaran di atas kepalamu akan ada dua.”
Kamu sempat menjawab, “Aku akan jadi santo. Kamu harus mengumpulkan relikwi milikku.”
“Aku akan jadi orang pertama yang mengusulkannya pada Sri Paus. Lalu aku akan menerbitkan buku kumpulan surat-menyurat kita.” Itulah awal pembicaraan yang berakhir dengan urusan royalti buku dan panti itu tadi.
Ide membukukan surat-menyurat kita muncul begitu saja beberapa hari lalu ketika aku asyik keramas. Mandi adalah waktu paling privat buatku. Usai mandi aku mengirimkan surat singkat bertanya, “Bolehkah surat-suratmu kupublikasi? Teruslah menulis padaku.” Besoknya kamu membalas, “Ya udah, pake aja.”
Aku segera mengumpulkan surat-suratmu. Dari surat yang tidak banyak itu, ternyata menghasilkan lebih dari 20 halaman. Kamu orang yang cerewet. Suratmu bisa sepanjang berita utama di majalah berita tanpa bosan untuk dibaca berulang kali.
Sempat kukirimkan naskah yang sama sekali belum rampung itu. Kamu bertanya, “Akan dipublikasi di mana?” Aku membalas lewat pesan singkat, “Akan kujadikan buku dan akan kuterbitkan jika salah satu dari kita RIP (Rest in Peace – meninggal).”
Siang tadi, di telepon kamu sempat bilang, “Aku terinspirasi untuk hidup lebih lama membaca pesan singkatmu supaya terbitnya buku itu juga makin lama.” Aku tertawa. Kamu tertawa. Kita tertawa.
Hei…
Katakan padaku bahwa kamu sehat. Aku selalu berdoa agar kamu sehat. Agar kamu berhenti bercerita tentang para dokter yang harus kamu bayar ocehannya dan membawa oleh-oleh penitensi obat. Agar kamu berhenti bercerita untuk menabung di apotek. Agar kamu berhenti bercerita rekondisi segala organ tubuhmu. Aku sangat percaya kamu jujur. Aku hanya tidak percaya bahwa kamu sakit “biasa”. Semua sakit “biasa” yang kamu ceritakan tidak cukup meyakinkanku.
Ketika kamu bercerita, “Aku akan mati karena telah berusaha hidup sehat yang semua itu menggerogoti pundi-pundi duitku,” aku merasa jadi manusia paling dungu dan bebal menjalani semua hidup yang sangat tidak sehat. Kamu yang penyakitan dan bertubuh ringkih masih diberi keajaiban untuk tetap hidup dan bekerja. Aku salut – kata salut, bangga dan sejenisnya tidak cukup untuk menggambarkan itu – melihatmu masih sanggup menceracau panjang lebar, bekerja segala macam bahkan kamu rajin Misa mingguan dan Misa Jumat Pertama. Kamu rajin berdoa malam dan pagi. Kamu jadi anak Tuhan yang baik meskipun kamu sangat kecewa dengan sekelilingmu. Lagi-lagi, aku malu karena aku jarang ke gereja akhir-akhir ini.
Hei…
Aku bisa merasakan kesepianmu, kesedihanmu, kesakitanmu, kegeramanmu, keceriaanmu, kecerdasanmu, semangatmu. Dari surat yang butuh waktu lebih dari 15 menit untuk dibaca saking panjangnya, aku bisa dengan fasih menceritakan pada orang lain seperti apa kamu. Jadi, jangan heran kalau aku sangat bisa merasakan perasaanmu yang nyata itu tanpa perlu kamu jelaskan. Kamu seperti kepiting, keras di luar tapi dalamnya nikmat untuk disantap. Kamu seperti durian yang berkulit tajam tapi rasanya enak.
Apapun yang kamu tutupi, setidaknya kamu harus menutupinya sampai akhir hayatmu. Entah kenapa, aku jelas sekali mencium apapun yang kamu tutupi.
Tadi adalah kesempatan pertama kita bisa chatting. Kenyataan bahwa itulah satu-satunya kesempatan kita bisa chatting adalah hal terakhir yang aku inginkan dari sekian juta keinginanku yang bahkan tidak mampu ditampung di tempat pembuangan akhir sampah manapun.
Hei…
Aku selalu menitipkanmu pada-Nya sejak pertama kali kita bicara di telepon. Itu terjadi setelah kuterima beberapa suratmu. Setelah aku begitu yakin harus menitipkanmu pada-Nya. Kamu harus sehat. Kamu harus sembuh. Kamu harus berumur panjang supaya buku kumpulan surat-menyurat kita baru akan terbit 50 tahun lagi. Ketika itu pasti aku sudah jompo dan mungkin akan jadi buku terakhir yang kutulis dan kuterbitkan. Ketika itu yang mengurus royaltinya adalah ahli warisku yang kuwasiatkan untuk membangun panti dengan namamu.
Saat pemakamanmu 50 tahun lagi itu, akan kupenuhi janjiku untuk menuliskan di nisanmu “Laki-laki pejalan kaki”. Semoga mataku tidak jauh lebih bolor dari sekarang agar aku bisa memastikan tertulis begitu.
Hei…
Berjanjilah padaku untuk terus hidup seribu tahun lagi. Berjanjilah padaku untuk terus menceracau. Mencela apa saja sesukamu. Berjanjilah padaku untuk terus membaca agar otak kecilmu terlatih. Aku lebih rela kamu mati mengenaskan karena otak kecilmu tidak mengijinkan untuk berhenti bekerja begitu saja. Berjanjilah padaku untuk terus menulis. Apa saja yang membuatmu mangkel dan layak mendapatkan cercaan pedasmu dengan cabe sekilo gram. Berjanjilah padaku untuk terus pergi ke gereja ketika kau senang. Berjanjilah padaku untuk terus memandang label “hospitality” yang tadi siang kau tempelkan di jidatku. Mentertawakan mereka yang membuatmu sakit kepala karena tingkahnya padaku. Berjanjilah padaku untuk terus tertawa bersamaku.
Biarkan aku membantumu untuk tidak menyerah pada dirimu sendiri. Biarkan aku membantumu untuk hidup dalam segala kesintinganmu. Biarkan aku menemanimu mentertawakan diri sendiri dan terlihat konyol.
Hei…
Kamu tetap di situ kan?
Aku tetap di sini.
Liang lahatmu kupesan untuk 50 tahun lagi. Begitu kan, Tuhan? Tolong katakan, “Ya.” Agar aku bisa tidur nyenyak dini hari ini.
Take care, Dear. I love you more than you know.
Bukan cerpen. Bukan fiksi. Ini surat yang ditulis Jumat, 30 Oktober 2009, 04.14 WIB dan akhirnya dibacakan lewat telepon pada Sabtu, 14.04 WIB.
Tertarik dengan yang ini?
Tags: Doa, Harapan, Kasih, Luka Batin, Malaikat, Motivasi, Sahabat, Surat, Syukur
This entry was posted on Friday, October 30th, 2009 at 4:14 am and is filed under Surat untuk Sahabat Pena. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.









4:37 am on October 30th, 2009
Jadi terharu Lin…
Persahabatan yang anggun.
Dia pasti akan memelihara sampai kapanpun walaupun salah satu sudah dipanggil-Nya ya…
Salam buat sahabat penanya
7:05 am on October 30th, 2009
@ Femi: makasi Fem, gue blum tenang sebelum telp dia pagi ini menanyakan “mimpi” gue itu. jangan2 lu tau tersangkanya hehehe
7:42 am on October 30th, 2009
Persahabatan bagai kepompong!!!
7:52 am on October 30th, 2009
Wah… musti investigasi lagi nih
8:06 am on October 30th, 2009
@ Ronaldo: begitulah…
@ Femi: hayoo…
8:20 am on October 30th, 2009
Lin, ceritanya mengharu biru diriku, tapi dialirkan dengan sebuah ketegaran….hebat…!!
8:40 am on October 30th, 2009
@ Shinta: matur tengkiyu sanget… malu dong, orangnya penyakitan gitu aja tegar, masa nyeritainnya ga tegar
9:23 am on October 30th, 2009
Walau berjuangan bergulat hebat dengan pendertiaannya tetapi masih mempunyai sebuah harapan tulus untuk membagi kasihnya kepada sesama. Makasih Lin kiriman ceritanya, ini merupakan sebuah renungan untuk menambah khasanah inspirasi hidupku.
10:00 am on October 30th, 2009
hmmm…bagus dan mengharukan. Gw rasa mungkin gw tau sahabat penamu itu ntar japri aje ye…ketularan mbak sotoy-nya Femi xixixi…But, may God bless you and your sincere friendship, my dear friend!
10:32 am on October 30th, 2009
salam buat sahabat penamu non. salam dengan segenap hati dari lelaki peziarah di pinggiran cibinong.
12:57 pm on October 30th, 2009
bagus sX
1:41 pm on October 30th, 2009
@ Ignatius: kembali kasih
@ Fonny: may be yes, may be no. japrinya ditunggu
GBU full
@ Pam: nanti kusampaikan salamnya ya Mas
@ Agung: matur tengkiyu
3:46 pm on October 30th, 2009
temetes rintik-rintik sak jeroning ati…
5:58 pm on October 30th, 2009
Semoga aku diberi kesempatan untuk punya sebuah persahabatan yang indah banget sepertimu, Lin.
9:52 pm on October 30th, 2009
Wah, indah banget persahabatannya yea…
Uhmmm… Jd cemburu sm persahabtn itu…
100 senyum buat Lini…
1:43 am on October 31st, 2009
terpaksa aku katakan,”aku suka ceritamu!” ringan dan lepas tanpa beban namun berarti. keren!………
6:52 am on October 31st, 2009
@ Indra: perlu tisu?
@ Imelda: gue doain, Mel
@ Awan: wah bikin cemburu ya? 100 senyumnya nanti buat dia deh
@ Amin: matur tengkiyu
btw,
ini bukan cerpen. ini suratku yang sudah kubacakan tadi siang padanya
8:50 pm on October 31st, 2009
Mungkin aku punya banyak teman
Mungkin aku punya lebih banyak musuh
Tapi kalau aku punya seorang sahabat seperti itu, maka itu adalah anugerah yang tak terhingga.
11:27 pm on October 31st, 2009
@ Olyvia: seperti aku ato seperti dia?
6:23 pm on November 1st, 2009
jadi trenyuh aku membacanya, & mencoba membayangkan sosok sahabatmu itu. Sepertinya kenal deh, kok jdi ikut2an sotoy nih…
10:40 pm on November 1st, 2009
Jadi terharu . . .
Semoga aku jg dpt menjd salah satu
org yg beruntung mempunyai sahabat
spt kalian berdua . . .
8:49 am on November 2nd, 2009
@ Ratna: siapa hayooo…
@ Grace: udah nemu kah? pasti udah punya harusnya
11:43 pm on November 2nd, 2009
Lin,
jadi ingat tulisanku di http://www.withhenny.com/2009/04/surat-kematianku/
5:40 am on November 3rd, 2009
@ Henny: iya ya… hiks…
11:00 am on November 11th, 2009
Baru sempat baca, Lin. Bukan jd pengen nangis, ini uda nangis beneran
8:26 pm on November 11th, 2009
@ Angel: